Development policy in Indonesia has no concerns about biodiversity conservation.

Kebijakan pembangunan di Indonesia tidak memiliki ruang dan keperdulian pada pelestarian keanekaragaman hayati.

  • English
  • Indonesian

World economies should learn a lesson from Indonesia on life spatial planning. As stipulated in Law No. 41/1999 on Forestry and Law No. 26/2007 on Spatial Planning, Indonesia has set a minimum of 30 percent land use as forests. Land use in each region is split intoconservation zones and non-forest/cultivation zones. Indonesia adopted a policy that allows the harmonious coexistence of non-forest areas (town centers and residential areas, industry, agriculture and farming areas, etc.) and conservation areas (protected and conserved forests) (Figure).

Forestsare maintained for natural biodiversity (animal, plants and endemic microorganisms), as natural barriers and as nature preserves. Meanwhile, the majority of the remaining 70 percent is designated for all development sectors such as agriculture, plantations, husbandry, urban areas, residential areas and other purposes.

According to 2015 data(Forestry Statistics, 2015), for example, out of 187 million hectares of land in Indonesia, satellite imaging shows 88 million hectares of forests, or 47 percent of total land, which is above the minimum requirement as stipulated by law. More than half of the existing forests are primary forests and the natural habitats of elephants, tigers, orangutans, rhinoceroses, lions, bears, various birdspecies and other faunaacross the archipelago.

Farming and village areas cover 55 million hectares, or 29 percent of total land. Meanwhile, an urban area, which includes residential area, business districts, etc., is 43 million hectare, or 23 percent oftotal land. Included in the farming and village areasare palm oil plantations, which accountfor 10.7 million hectares, or 5 percent of the total land of Indonesia.

Urban areas, agriculture/plantation zones and forestscoexist and grow on Indonesia land. Forests, as the natural habitat for diverse biological life, must be maintained, because their existence hasa unique function that cannot be replaced by the function assumed by agriculture/plantation and urban areas. On the other hand, urban areas, as the center of society’s life activities, also have its own space and functionsthat cannot be replaced by forests or agriculture/plantation zones.

The same argument applies to agriculture/plantation zones as the producer of food, energy and biomaterials, which also has its own space and function that cannot be replaced by urban area or forests. Residential/urban areas, agriculture/plantation zones and forests each havetheir own indispensable function within an ecosystem, and they must therefore exist in harmony withintheir designated spaces.

In other words, “Malls, Oil Palms, and Orangutans” coexist in harmony within their own spaces. Thisslogan describes the spatial planning policy for a sustainable ecosystem in Indonesia

Negara-negara dunia patut belajar dari Indonesia tentang pengelolaan ruang bagi kehidupan. Melalui UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang, Indonesia sudah menetapkan minimum 30 persen dari luas daratan telah ditetapkan sebagai hutan. Ruang daratan dibagi atas Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Sehingga Indonesia mengadopsi suatu harmoni dimana kawasan buidaya (sektor perkotaan/pemukiman, industri, sektor pertanian/perkebunan dan lain-lain) dan kawasan lindung (hutan lindung/konservasi) hidup berdampingan secara harmoni pada ruang masing-masing (Gambar).

Hutan tersebut dialokasikan untuk rumahnya biodiversity (satwa, flora dan mikroba asli), benteng alam dan konservasi alam. Sedangkan maksimum 70 persen sisa daratan diperuntukkan untuk semua sektor pembangunan seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perkotaan, perumahan dan lainnya.

Menurut data tahun 2015 misalnya dari sekitar 187 juta hektar luas daratan Indonesia, berdasarkan data citra satelit (Statistik Kehutanan, 2015) terdapat sekitar 88 juta hektar hutan di Indonesia. Berarti sekitar 47 persen daratan masih hutan (masih di atas syarat minimal yang ditetapkan Undang-Undang). Hutan tersebut lebih dari separuhnya merupakan hutan primer sebagai habitat alamiah biodiverstiy satwa dan tumbuhan liar seperti Gajah, Harimau, Orang Utan, Mawas, Badak, Singa, beruang, berbagai jenis unggas dan lain-lain yang tersebar diseluruh daratan Indonesia.

Untuk areal pertanian-pedesaan sekitar 55 juta hektar atau 29 persen dari luas daratan. Sedangkan untuk sektor perkotaan (termasuk pemukiman, perkantoran, bisnis center, dan lain-lain) mencapai sekitar 43 juta hektar atau sekitar 23 persen daratan. Termasuk dalam pertanian-pedesaan tersebut adalah perkebunan sawit yang luasnya sekitar 10,7 juta hektar atau sekitar 5 persen dari luas daratan Indonesia.

Perkotaan, pertanian/perkebunan dan hutan, hidup dan berkembang dalam ruang daratan Indonesia. Hutan sebagai tempat biodiversity harus tetap ada karena memiliki fungsi tersendiri dan tidak dapat digantikan oleh fungsi pertanian/perkebunan maupun perkotaan. Sebaliknya, perkotaan sebagai aktivitas kehidupan masyarakat juga memiliki tempat dan fungsi tersendiri yang tidak dapat digantikan baik oleh hutan maupun pertanian/perkebunan.

Demikian juga pertanian/perkebunan sebagai penghasil pangan, energi dan biomaterial juga memiliki ruang dan fungsi tersendiri yang tidak dapat digantikan oleh perkotaan maupun hutan. Kawasan pemukiman/perkotaan, pertanian/perkebunan dan hutan masing masing memiliki fungsi dalam ekosistem yang tidak saling tergantikan sehingga harus hidup harmoni secara berdampingan pada ruang yang ditetapkan.

Dengan kata lain, “Mall, Sawit, dan Orang Utan” hidup dan berkembang berdampingan secara harmoni pada ruang masing-masing. Itulah kebijakan tata ruang dalam ekosistem berkelanjutan di Indonesia.

Figure The Co-existence of Modern Sectors, Agriculture/Plantation Sectors and Conservation Zones/Protected Forest Sectors in Indonesia

The Co-existence of Modern Sectors, Agriculture/Plantation Sectors and Conservation Zones/Protected Forest Sectors in Indonesia

Share this Article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

You May Also Like These Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *