Oil palm plantations are the main trigger for conversion of forests to non-forests in Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit merupakan pemicu utama konversi hutan menjadi non hutan di Indonesia.

  • English
  • Indonesian

Conversion of forests into non-forest areas (deforestation) is a normal phenomenon development that happens in every country all over the world. In the European region, deforestation took place before the 17th century while in the United States it lasted from 1620 until 1950.

No country in the world, including Indonesia, prohibits deforestation and each country sets its own rules and procedures for deforestation. Conversion of forest into non-forest is one of the ways to meet demand for space for development. Demand for space continues to rise in line with the growth of population and expansion of development in all sectors to improve the welfare of the people. Is there any land on Earth that has never been covered by forests?

In Indonesia conversion of forest into non-forest has taken place for a long time in line with the need for space for development. Deforestation in Indonesia cannot be separated from the logging era, which resulted in neglected and degraded land that was later used by the government for the development of transmigration areas or for extending agriculture and plantations. Expansion of oil palm plantations came later by utilizing logged areas, which had been converted by the government into cultivation areas.

Discussing the history of deforestation, Koh and Wilcove (2008) mentioned that 67 percent of oil palm plantations are on areas converted from forest. However, a study by Gunarso et al (2012) made a different conclusion from the accusation made by Koh and Wilcove. They concluded the land for oil palm development in Indonesia was mostly originally farmland and degraded land and some was converted from secondary forest (Casson 2000; McMorrow & Talip 2001; Gunarso et al, 2012). The massive logging era before 1990 left neglected areas and ghost towns. The development of oil palm plantations only started later, especially after 2000.

An analysis of the history of the conversion of forest into non-forest areas shows that the expansion of oil palm plantations is not the main driver (Figure).

In 1950 there was162.3 million ha of forested land in Indonesia. From 1950 to 1985 the conversion of forest into non-forest areas reached 68.1 million ha, while expansion of oil palm plantation in the same period was only about 0.6 million ha, 0.9 percent. Then, total conversion of forest into non-forest areas until 2000 reached 84.4 million hectares, so that the forest areas declined to 103.3 million ha. Meanwhile, oil palm plantation areas expanded to only 4.2 million ha.

In other words, from 1950 to 2014, conversion of forest into non-forest areas in Indonesia accumulatively totaled 99.6 million hectares, compared to 10.8 million ha of oil palm plantation areas developed during the period. This data shows that out of 99.6 million ha of forests converted into non-forest areas, oil palm plantation areas in Indonesia were relatively small, growing by 10.8 percent only. Therefore, oil palm cultivation is not the main driver of deforestation in Indonesia.

Konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan (deforestasi) merupakan fenomena normal pembangunan yang terjadi disetiap negara-negara dunia. Di kawasan Eropa deforestasi berlangsung sebelum abad ke-17. Sementara di Amerika Serikat deforestasi mulai berlangsung tahun 1620 sampai tahun 1950.

Tidak satupun negara di dunia dan termasuk di Indonesia yang melarang deforestasi tentunya dengan prosedur yang ditetapkan disetiap negara. Konversi hutan menjadi non hutan merupakan jalan untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi pembangunan. Pertumbuhan penduduk dan perluasan pembangunan disegala sektor untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk memerlukan tambahan ruang yang makin meningkat. Apakah ada daratan di bumi yang dahulunya bukan berasal dari hutan?

Di Indonesia konversi hutan menjadi non hutan sudah lama berlangsung seiring dengan kebutuhan ruang bagi pembangunan. Deforestasi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan era logging yang melahirkan lahan-lahan terlantar/terdegradasi yang kemudian oleh pemerintah digunakan untuk pengembangan daerah-daerah transmigrasi maupun ekstensifikasi pertanian/perkebunan. Ekspansi perkebunan kelapa sawit datang kemudian dengan memanfaatkan lahan-lahan eks logging yang dikonversikan pemerintah menjadi kawasan budidaya.

Jika sejarah deforestasi didiskusikan, Koh dan Wilcove (2008) menyebutkan 67 persen kebun sawit adalah dari konversi hutan. Namun studi Gunarso, dkk (2012) mengungkapkan kesimpulan yang berbeda dengan tuduhan Koh dan Wilcove tersebut. Asal-usul lahan pengembangan kebun sawit di Indonesia sebagian besar berasal dari lahan pertanian dan lahan terlantar (degraded land) dan sebagian dari konversi secundary forest (Casson 2000; McMorrow & Talip 2001; Gunarso dkk, 2012). Era logging yang masif sebelum tahun 1990 telah meninggalkan daerah-daerah terlantar dan mati (ghost town). Pengembangan perkebunan kelapa sawit baru berlangsung kemudian khususnya setelah tahun 2000.

Analisis perkembangan historis konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan dikaitkan dengan perkembangan luas perkebunan sawit di Indonesia menunjukkan fakta bahwa ekspansi kebun sawit bukan pemicu (driver) utama konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan (Gambar).

Pada tahun 1950 luas hutan di Indonesia adalah 162,3 juta ha. Pada kurun waktu 1950-1985 luas konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan mencapai 68,1 juta ha, sementara perluasan perkebunan sawit pada periode yang sama hanya sekitar 0,6 juta hektar atau hanya 0,9 persen. Kemudian akumulasi konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan sampai tahun 2000 menjadi 84,4 juta ha, sehingga luas hutan menurun menjadi 103,3 juta ha. Dari total konversi tersebut, luas perkebunan sawit secara akumulatif baru mencapai 4,2 juta hektar.

Dengan kata lain selama kurun waktu 1950-2014, konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan di Indonesia secara akumulasi sebesar 99,6 juta ha. Sedangkan akumulasi luas perkebunan sawit Indonesia pada periode yang sama hanyalah 10,8 juta ha. Data ini menunjukkan bahwa dari 99,6 juta hektar konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan, ekspansi perkebunan sawit Indonesia relatif kecil yakni 10,8 persen. Dengan demikian ekspansi perkebunan kelapa sawit bukanlah pemicu utama konversi kawasan hutan menjadi non hutan (deforestasi) di Indonesia.


Figure Oil palm plantations in land use change in Indonesia

Oil palm plantations in land use change in Indonesia

Source : Hanibal, 1950; Gunarso, et al, 2012; Forestry Ministry, processed data

Share this Article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

You May Also Like These Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *