Oil palm plantations create agrarian conflicts.

Perkebunan kelapa sawit menciptakan konflik agraria di daerah-daerah perkebunan kelapa sawit.

  • English
  • Indonesian

The reform era that has taken place in Indonesia since 2000 has provided enough space for people in every region to convey their aspirations and fight for their rights in accordance to the prevailing laws and regulations in Indonesia. It is therefore normal for people to express their aspirations, including in terms of the agrarian rights that are believed to be part of their life.

In reality, agrarian conflicts occur in almost every region in Indonesia, not exclusively in the oil palm plantation areas. Of course, as a law-based country, the settlement of agrarian conflicts is and will be resolved through the prevailing laws and regulations.

Based on a 2015 report of the Agrarian Affairs and Spatial Planning Ministry and the National Land Agency, there were approximately 4,223 cases of agrarian conflicts occurring in almost every province (Table). Those conflicts are being settled in accordance with the applicable laws and regulations.

If we take a look at the distribution of those agrarian conflicts, we see almost all provinces have agrarian conflicts. The 10 largest provinces with agrarian conflicts are South Sulawesi, Bali, West Java, West, Sumatra, Central Java, East Java Lampung, NTB, Southeast Sulawesi and Maluku.

Table:            Number of agrarian conflicts in Indonesia

ProvinceNumber of agrarian conflictsProvinceNumber of agrarian conflicts
South Sulawesi*477Banten*86
Bali*396Riau79
West Java *364West Sulawesi63
West Sumatra353South Sumatra49
Central Java *329North Maluku45
East Java *287Bengkulu42
Lampung*180West Papua*40
NTB*173Central Sulawesi37
Southeast Sulawesi*161Gorontalo*32
Maluku*157West Kalimantan26
NTT*147Jambi24
North Sulawesi *117East Kalimantan22
North Sumatra110South Kalimantan17
Jakarta*103Riau Islands*14
Yogyakarta*100Papua*13
Aceh91Bangka Belitung*2
Central  Kalimantan87Total/Indonesia4, 223

Source:    Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency, 2015 *non oil palm plantation centers

 

Bali, West Java, East Java, South Sulawesi and NTB are not centers of oil palm plantations. West Sumatra, Lampung and Southeast Sulawesi provinces do have palm oil plantations, although they are very small. Major palm oil areas such as North Sumatra, South Sumatra, Riau, Central Kalimantan, East Kalimantan see some agrarian conflicts, but fewer than provinces without oil palm plantations.

Based on these data, correlations between oil palm plantations and the number of agrarian conflicts are very weak they are not even systematically associated. Agrarian conflicts are happening in almost all provinces, both in oil-palm plantation centers and non oil-palm centers. The largest number of agrarian conflicts actually occur in provinces that do not have oil palm plantations.

Era reformasi yang berlangsung di Indonesia sejak tahun 2000, memberikan ruang yang cukup luas bagi masyarakat di setiap daerah untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu adalah hal yang lumrah jika masyarakat menyampaikan aspirasinya termasuk dalam hal hak-hak agraria yang diyakini bagian dari kehidupannya.

Dalam realitasnya, tuntutan hak-hak agraria baik kepada pemerintah maupun lembaga lain terwujud dalam konflik agraria yang banyak terjadi pada hampir setiap daerah di Indonesia. Tentu saja sebagai negara berdasarkan hukum, penyelesaian konflik agraria sedang dan akan diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku.

Berdasarkan laporan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (2015), terdapat sekitar 4.223 kasus konflik agraria yang terjadi pada hampir setiap provinsi (Tabel). Konflik agraria tersebut sedang diselesaikan oleh pemerintah sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

Bila diperhatikan distribusi jumlah konflik agraria di Indonesia tersebut, menunjukkan bahwa hampir seluruh provinsi terdapat konflik agraria. Sepuluh provinsi terbesar terjadinya konflik agraria adalah Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Barat, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, NTB, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

Tabel.   Jumlah Konflik Agraria di Indonesia

ProvinsiJumlah Konflik AgrariaProvinsiJumlah Konflik Agraria
Sulawesi Selatan*477Banten*86
Bali*396Riau79
Jawa Barat*364Sulawesi Barat63
Sumatera Barat353Sumatera Selatan49
Jawa Tengah*329Maluku Utara45
Jawa Timur*287Bengkulu42
Lampung*180Papua Barat*40
NTB*173Sulawesi Tengah37
Sulawesi Tenggara*161Gorontalo*32
Maluku*157Kalimantan Barat26
NTT*147Jambi24
Sulawesi Utara*117Kalimantan Timur22
Sumatera Utara110Kalimantan Selatan17
DKI Jakarta*103Kepulauan Riau*14
D.I Yogyakarta*100Papua*13
Aceh91Bangka Belitung*2
Kalimantan Tengah87Jumlah/Indonesia4.223

Sumber :         Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, 2015 *bukan sentra kebun sawit

Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan NTB bukanlah sentra perkebunan kelapa sawit. Provinsi Sumatera Barat, Lampung dan Sulawesi Tenggara memang memiliki perkebunan kelapa sawit meskipun sangat kecil. Daerah sentra sawit utama seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur memang juga terdapat konflik agraria, namun lebih sedikit dibandingkan dengan provinsi yang tidak memiliki perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan data tersebut, hubungan antara perkebunan kelapa sawit dengan jumlah konflik agraria yang terjadi di Indonesia sangat lemah bahkan tidak berhubungan secara sistematis. Konflik agraria merupakan fenomena hampir pada semua provinsi baik sentra sawit maupun bukan sentra sawit. Jumlah konflik agraria terbesar justru terjadi pada provinsi-provinsi yang tidak memiliki perkebunan kelapa sawit.

Share this Article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

You May Also Like These Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *