3-MCPDE and GE in Palm Oil and Mitigation to Ensure Food Safety

  • English
  • Bahasa Indonesia

Palm oil is the most traded and consumed vegetable oil in the world. This is confirmed by the USDA (2021) states that around 40 percent of vegetable oil consumed in the world is palm oil. Most of the use of palm oil is currently used for food products. This fact can also be proven from more than 50 percent of packaged food products sold in supermarkets around the world are containing palm oil. This shows that the role of palm oil as global source of foodstuff.

Behind the great role of palm oil in feeding the world, there are challenges that must be faced, one of which is related to food safety. In international discussions and regulations, food safety is the first and main requirement for declaring a product as a food product. As in the campaign that was promoted by FAO is “if it isn’t safe, it isn’t food”.

Indonesia as the largest palm oil producer in the world has a moral responsibility to ensure that palm oil-based food products meeting food safety standards. One of the references to international safety standards is CODEX ALIMENTARIUS.

In 2019, the latest CODEX standard adopted Code of Practices for reduction of 3-MCPD Ester and Glycidol Ester (GE) in refined oil and food products made with refined oils. MCPDE and GE contaminants are found in all food products including vegetable oils, which are processed at high temperatures.

In palm oil, these contaminants are formed during the refining process from CPO to RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil), especially in the deodorization process to remove free fatty acids, odors, and colors, that is using temperatures of more than 225oC, as well as in the degumming and bleaching process to remove sap and other impurities using phosphoric acid and bleaching earth.

3-mcpde; palm oil
Source: bpdp.or.id

The 3-MCPD and Glycidol compounds are resulting from the hydrolysis of 3-MCPDE and GE which have a negative effect on the kidneys, central nervous system, and reproductive system in experimental animals. According to the International Agency for Research on Cancer (IARC), these compounds have the potential to be carcinogenic or can trigger cancer. It cause many institutions have limited their consumption by implementing tolerable daily intake (TDI) 3-MCPDE and GE in foodstuffs. For example, BPOM Indonesia has set a maximum limit of 3-MCPD contamination for foods that containing hydrolyzed vegetable protein in liquid (20 micrograms/kg) and solid (50 micrograms/kg) since 2009, however this egulation has not been applied to vegetable oils including palm oil.

The European Food Safety Authority (EFSA) as food safety authority proposing 3-MCPDE and GE limits of a maximum of 2.5 ppm and 1 ppm, respectively. This proposal has been approved by the European Union Commission and stipulated in the Commission Regulation (EU) 2020/1322 which will be implemented starting January 2021 or in several food components that will be applied in June 2021.

European Union’s regulation has potential to hamper the palm oil trade. Because based on EFSA research states that the content of 3-MCPDE and GE in palm oil is the highest among other vegetable oils, which is 3-7 ppm and 3-11 ppm, respectively. In addition to inhibiting the trade in palm oil, the contaminant limit in EU regulation is also considered to discriminate against palm oil because the 3-MCPDE level for vegetable oil produced by European Union countries is lower, specifically 1.25 ppm. Discrimination on the difference in safety level between vegetable oils has received a rejection response from the CPOPC which accommodates the global palm oil producer countries.

Apart from the issue of palm oil discrimination in that EU regulations, Prof. Purwayitno Hariyadi in a webinar initiated by the Majalah Sawit Indonesia recommends systematic efforts to reduce the content of 3-MCPDE and GE by carrying out Good Agricultural Practices (GAP), Good Manufactural Practices (GMP), and also modification of a process and selection in the use of palm oil for food products.

Professor of Food Engineering of IPB University who also serves as Vice-Chair of the Codex Alimentarius Commission also revealed that the Indonesian government’s efforts to control 3-MCPDE and GE content in palm oil in accordance with the Code of Practices have not been seen until now, even though the implementation of EU regulations related to these contaminants are starting to be implemented.

Even though there has been no serious step from the Indonesian Government about the content of 3-MCPDE and GE in palm oil, BPDPKS through Program Grant Riset Sawit provides research funding support to mitigate this issue.

 

One of the studies referred to research  is chaired by Prof. Nuri Andarwulan from IPB University succeeded in preparing the Standard Operational Procedure (SOP) for CPO production as an effort to reduce the precursors of 3-MCPDE and GE in palm oil as well as surveillance for the preparation of safety monitoring procedures. Meanwhile, Dr. Elvy Restiawaty from ITB has successfully developed a 3-MCPDE and GE removal process in palm oil (RBDPO) by utilizing the performance of a solid adsorbent commonly used to remove chlorine compounds. The adsorbent used is made from the activated synthetic zeolite.

The results of this research are expected to be a solution in reducing the contaminant content and be immediately followed up by the government and palm oil stakeholders in developing mechanisms for mitigating standards and regulations on 3-MCPDE and GE content in palm oil. So that the implementation of these regulation is a Indonesia’s responsibility as the largest palm oil producer in the world to provide and ensure the safety of palm oil-based food products (feeding the world).

Minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak diperdagangkan dan dikonsumsi di seluruh dunia. Hal tersebut terkonfirmasi dari USDA (2021) yang menyebutkan bahwa sekitar 40 persen minyak nabati yang dikonsumsi dunia adalah minyak sawit. Sebagian besar pemanfaatan minyak sawit saat ini digunakan untuk food product. Fakta tersebut juga dapat dibuktikan dari lebih dari 50 persen produk makanan kemasan yang dijual di supermarket seluruh dunia mengandung minyak sawit. Hal tersebut menunjukkan bahwa peranan minyak sawit sebagai sumber bahan pangan dunia.

Dibalik besarnya peranan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia, terdapat tantangan yang dihadapi salah satunya terkait keamanan pangan (food safety). Dalam diskusi dan regulasi dunia internasional, keamanan pangan menjadi sebuah prasyarat pertama dan utama untuk menyatakan suatu produk tersebut sebagai produk pangan. Seperti dalam kampanye yang digalakan oleh FAO terkait hal tersebut yaitu “if it isn’t safe, it isn’t food”.

Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral untuk menjamin produk pangan berbasis sawit telah memenuhi standar keamanan pangan. Salah satu referensi standar keamanan internasional adalah CODEX ALIMENTARIUS.

Pada tahun 2019, standar CODEX baru mengadopsi Code of Practices untuk mengurangi kandungan 3-MCPD Ester dan Glycidol Ester (GE) dalam refined oil dan produk pangan berbasis minyak rafinasi. Kontaminan MCPDE dan GE ditemukan pada seluruh produk pangan termasuk minyak nabati yang proses pengolahannya melibatkan suhu tinggi.

Pada minyak sawit, kontaminan tersebut terbentuk selama proses pemurniannya dari CPO menjadi RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil), terutama pada proses deodorisasi untuk menghilangkan asam lemak bebas (ALB), bau, dan warna yang menggunakan suhu lebih dari 225oC, serta pada proses degumming dan bleaching untuk menghilangkan getah dan impurities lainnya yang menggunakan asam fosfat dan bleaching earth.

3-mcpde; palm oil
Source: bpdp.or.id

Senyawa 3-MCPD dan Glisidol merupakan senyawa hasil hidrolisis 3-MCPDE dan GE memiliki efek negatif terhadap ginjal, sistem syaraf pusat, dan sistem reproduksi pada hewan percobaan. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), senyawa tersebut berpotensi sebagai karsinogenik atau dapat memicu terjadinya kanker. Sehingga banyak lembaga telah membatasi konsumsinya dengan menerapkan tolerable daily intake (TDI) 3-MCPDE dan GE dalam bahan pangan. Seperti BPOM Indonesia sejak tahun 2009 telah menetapkan batas maksimum cemaran 3-MCPD untuk makanan yang mengandung protein nabati terhidrolisis dalam bentuk cair (20 mikrogram/kg) dan padat (50 mikrogram/kg), namun regulasi BPOM tersebut belum diterapkan kepada minyak nabati termasuk minyak sawit.

European Food Safety Autority (EFSA) sebagai otoritas keamanan makanan Eropa mengusulkan batas 3-MCPDE dan GE masing-masing maksimal 2.5 ppm dan 1 ppm. Usulan ini telah disetujui Komisi Uni Eropa dan dituangkan dalam Commission Regulation (EU) 2020/1322 yang akan diimplementasikan mulai Januari 2021 atau pada beberapa komponen pangan akan diterapkan pada Juni 2021.

Regulasi Uni Eropa tersebut berpotensi menghambat perdagangan minyak sawit. Hal ini dikarenakan berdasarkan penelitian EFSA menyebutkan bahwa kandungan 3-MCPD Ester dan GE dalam minyak sawit merupakan yang tertinggi diantara minyak nabati lainnya, yakni sebesar 3-7 ppm untuk 3-MCPDE dan 3-11 ppm untuk GE. Selain menghambat perdagangan minyak sawit, batasan kontaminan dalam regulasi Uni Eropa tersebut juga dinilai mendiskriminasi minyak sawit karena batasan 3-MCPDE untuk minyak nabati yang diproduksi oleh negara Uni Eropa lebih rendah yakni 1.25 ppm. Diskriminasi atas perbedaan safety level antar minyak nabati ini mendapatkan respon penolakkan dari CPOPC yang mewadahi negara-negara produsen minyak sawit dunia.

Terlepas dari isu diskriminasi minyak sawit dalam regulasi Uni Eropa tersebut, Prof. Purwayitno Hariyadi dalam webinar yang digagas oleh Majalah Sawit Indonesia merekomendasikan upaya sistematis untuk mengurangi kandungan 3-MCPDE dan GE dengan melakukan Good Agricultural Practices (GAP), Good Manufactural Practices (GMP), serta modifikasi proses dan seleksi dalam penggunaan minyak sawit untuk penggunaan produk pangan.

Guru Besar Teknik Pangan IPB yang juga menjabat sebagai Vice-Chair od Codex Alimentarius Commission juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini upaya pemerintah Indonesia dalam mekanisme pengendalian kandungan 3-MCPDE dan GE pada minyak sawit sesuai dengan Code of Practices belum terlihat, padahal implementasi regulasi EU terkait kontaminan tersebut mulai diberlakukan.

Meskipun belum ada langkah serius dari Pemerintah Indonesia yang cukup concern terhadap kandungan 3-MCPDE dan GE pada minyak sawit, namun BPDPKS melalui Program Grant Riset Sawit memberikan dukungan dana penelitian untuk memitigasi isu tersebut.

Salah satu penelitian yang dimaksud adalah penelitian yang diketuai oleh Prof. Nuri Andarwulan dari IPB berhasil menyiapkan Prosedur Operasional Baku (POB) produksi CPO sebagai upaya untuk menurunkan prekursor pembentuk 3-MCPDE dan GE pada minyak sawit serta surveilan untuk penyusunan prosedur monitoring keamanannya. Sementara itu, Dr. Elvy Restiawaty dari ITB berhasil mengembangkan proses penyingkiran 3-MCPDE dan GE dalam minyak kelapa sawit (RBDPO) dengan mamanfaatkan kinerja adsorben padat yang biasa digunakan untuk menyingkirkan senyawa klorin. Adsorben yang digunakan berbahan dasar zeolite sintetis yang diaktivasi.

Hasil riset tersebut diharapkan dapat dapat menjadi solusi dalam meminimalkan kandungan kontaminan tersebut dan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah dan stakeholder sawit dalam menyusun upaya mekanisme dalam standar mitigasi dan regulasi kandungan 3-MCPDE dan GE dalam minyak sawit. Sehingga dengan diimplementasikan regulasi tersebut menjadi bentuk tanggung jawab Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia untuk menyediakan dan menjamin keamanan produk pangan berbasis minyak sawit atau feeding the world.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *