Collaboration Between Smallholders and Researchers to Compile Academic Paper Relating to Oil Palm as a Forest Plant

  • English
  • Bahasa Indonesia

As a strategic commodity in Indonesia whose development is quite revolutionary, palm oil is often hit with various environmental issues. One of the environmental issues that is always associated with palm oil as a driver of deforestation in Indonesia.

The deforestation allegation was not only published by anti-palm oil NGOs but also became the basis for the formulation of policies in importing countries, such as the  European Green Deal (EGD) by the European Union Commission or the policy Forest Risk Commodities (FRC) by the United Kingdom Government. In addition to being considered to discriminate against palm oil, this policy has the potential to phase out palm oil and its derivative products (especially biodiesel) from the global market.

The issue of deforestation is also closely related to the problem of land legality faced by oil palm plantation business actors in Indonesia. The Ministry of Environment and Forest has identified and the results indicate an area of ​​3.37 million hectares, both oil palm plantations owned by corporations and smallholders. Among this area of ​​oil palm plantations indicated to be in forest areas, APKASINDO estimates that around 2.78 million hectares are smallholder oil palm plantations.

oil palm

The Indonesian government has made serious efforts to improve the legality of oil palm plantations through the Presidential Instruction on Moratorium on Palm Oil No. 8/2018, but until the end of this regulation, there has been no concrete solution. Through Job Creation Law and its law derivative products, which are expected to be a solution to the legality issue of smallholder oil palm plantations in forest areas. But, Gulat Manurung as the chairman of APKASINDO, considered that this regulation has not been able to solve the legality problem of smallholder oil palm plantations in forest areas as a whole but demands that this legality issue must be completed within 3 years.

To fight for the interests of smallholders in solving the legality problem of their oil palm plantations, APKASINDO collaborated with academics from IPB to compile a paper academic related to oil palm plantations as forest plants. 

 

Looking back, the Indonesian government through Permenhut No. 62/2011 already categorizes palm oil as a forest plant, but in line with pressure from various environmental NGOs, this regulation has been revoked.

The Faculty of Forestry of IPB has actually prepared an academic paper related to oil palm as a forestry plant since 2016-2018. Due to the enthusiasm of smallholders from Sabang to Merauke, the preparation of this academic manuscript has been voiced again this year. They are also working together to finance this study in the hope of solving the problem of managing oil palm smallholder plantations that are claimed to be in the forest area. Not only as a solution to solving legal problems, this academic paper is also expected to be a counter to the issue of deforestation and other environmental issues that have often been accused of oil palm plantations.

The academic paper will be carried out by a multidisciplinary team. There are five parts of focus that will be studied in an academic paper. First, identify, analyze and compare the biological, ecological and agronomic/silvicultural characteristics of oil palm plantations with forest plantations. Second, analyze and estimate the area and distribution of land (forest and non-forest areas) that have land suitability for productive oil palm plantations.

Third, estimate and compare the rate of absorption/emission of CO2 and other GHGs in various age classes of oil palm plantations with forest plantations. Fourth, estimate and compare the diversity of wild plant and animal species in various age classes of oil palm plantations with forest cover types. And finally, comparing the economic analysis of oil palm plantation business with natural forest and plantation forest.

This academic paper also criticizes the FAO criteria that define forest plants, namely having a stem height of at least 5 meters, having an area cover of 10%-20%, a minimum area of ​​0.5 meters and a path width of more than 20 meters. According to FAO’s criteria, oil palm is the only type of Palmae that is not included in the forest category. Even though all of these criteria exist in oil palm plants.

The collaboration between APKASINDO-IPB regarding an academic manuscript that examines oil palm plantations as forest plants is hoped to address the statement by the Director General of Forestry Planning and Environmental Management of the Ministry of Environment and Forestry, Ruandha Agung, in a webinar stating that oil palm plants are not categorized as forest plants and are not a trees because they do not have a cambium.

This statement is deeply regretted by Prof. Sudirman Yahya, Professor of IPB. According to him, plants that do not have a cambium are more accurately called monocot plants. If oil palm is not included in the category, then why are sugar palms and coconuts categorized as forest plants? This clearly indicates that there is an inconsistency.

A similar response was also made by Prof. Dr. Yanto Santosa at an open debate said that not categorizing oil palm as a forest plant was one of discrimination. Many empirical studies and studies show that oil palm plantations have a role similar to forest plants, such as photosynthetic functions and hydrological conservation. Oil palm plants even have a higher photosynthesis rate than tropical forests.

According to him, if palm oil is recognized as a forest plant, forest area in Indonesia will increase drastically, there will be an increase in the contribution of GHG absorption, the resolution of problems in oil palm plantations in forest areas will be easier, and it will make it difficult for anti-palm oil parties to carry out black campaigns using the issue of deforestation.

Sebagai komoditas strategis di Indonesia yang perkembangannya cukup revolusioner, kelapa sawit kerap kali dihantam dengan berbagai isu lingkungan. Salah satu isu lingkungan yang selalu dikaitkan dengan perkebunan sawit adalah sawit sebagai driver deforestasi hutan di Indonesia.

Tudingan deforestasi tersebut tidak hanya dipublikasikan oleh LSM anti sawit tetapi juga turut menjadi dasar formulasi kebijakan di negara importir seperti  European Green Deal (EGD) oleh Komisi Uni Eropa atau kebijakan Forest Risk Commodities (FRC) oleh Pemerintah Inggris Raya.  Selain dinilai mendiskriminasi kelapa sawi, kebijakan tersebut berpotensi mem-phase out minyak sawit maupun produk turunannya (khususnya biodiesel) dalam pasar global.

Isu deforestasi juga berkaitan erat dengan permasalahan legalitas lahan yang dihadapi oleh pelaku usaha perkebunan sawit di Indonesia. KLHK telah melakukan identifikasi lahan perkebunan sawit dan terindikasi areal seluas 3.37 juta hektar baik perkebunan sawit milik korporasi maupun rakyat yang masuk ke dalam kawasan hutan. Diantara luasan perkebunan sawit yang terindikasi berada di dalam kawasan hutan, APKASINDO memperkirakan sekitar 2.78 juta hektar merupakan perkebunan sawit rakyat.

oil palm

Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk memperbaiki permasalahan legalitas perkebunan sawit melalui Inpres Moratorium Sawit No. 8/2018, namun hingga masa berakhirnya Inpres tersebut belum ada penyelesaian yang konkret. Melalui UU Cipta Kerja dan produk turunannya yang diharapkan juga mampu menjadi solusi bagi kemudahan penyelesaian masalah legalitas perkebunan sawit rakyat yang terindikasi berada dalam kawasan hutan. Namun, Gulat Manurung selaku ketua DPP APKASINDO, menilai bahwa UUCK dan produk turunannya belum mampu menyelesaikan masalah legalitas perkebunan sawit rakyat dalam kawasan hutan secara keseluruhan tetapi juga menuntut masalah legalitas ini harus selesai dalam kurun waktu 3 tahun.

Untuk memperjuangkan kepentingan petani sawit rakyat dalam penyelesaian masalah legalitas perkebunan sawitnya, APKASINDO menggandeng akademisi dari IPB untuk menyusun naskah akademik terkait tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hutan.

Jika menilik kebelakang, Pemerintah Indonesia melalui Permenhut No. 62/2011 sudah mengkategorikan kelapa sawit sebagai tanaman hutan, namun seiring dengan desakan berbagai LSM Lingkungan menyebabkan Permenhut tersebut dicabut.

Fakultas Kehutanan IPB sebenarnya sudah mempersiapkan penyusunan naskah akademik terkait tanaman kelapa sawit sebagai salah satu tanaman kehutanan sejak tahun 2016-2018. Atas semangat para petani sawit dari Sabang hingga Merauke yang menggelora, penyusunan naskah akademik ini kembali disuarakan pada tahun ini. Bahkan para petani sawit tersebut juga bergotong royong untuk membiayai studi ini dengan harapan dapat menyelesaikan masalah pengelolaan sawit rakyat yang diklaim masuk kawasan hutan. Tidak hanya menjadi solusi penyelesaian masalah legalitas, naskah akademik ini juga diharapkan menjadi counter atas isu deforestasi maupun isu lingkungan lainnya yang selama ini sering dituduhkan kepada perkebunan sawit.

Naskah akademik tersebut akan dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari multidisiplin ilmu. Terdapat lima fokus yang akan dikaji dalam naskah akademik. Pertama, mengidentifikasi, menganalisis dan membandingkan karakteristik biologi, ekologi dan aspek agronomi/silvikultur tanaman sawit dengan tanaman hutan.  Kedua, menganalisis dan memperkirakan luas dan sebaran lahan (kawasan hutan dan non hutan) yang memiliki kesesuaian lahan untuk tanaman sawit secara produktif.

Ketiga, menduga dan membandingkan laju serapan/emisi CO2 dan GRK lainnya pada berbagai kelas umur tanaman sawit dengan tanaman hutan. Keempat, menduga dan membandingkan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar pada berbagai kelas umur tanaman sawit dengan tipe tutupan hutan. Dan terakhir, membandingkan analisis ekonomi usaha perkebunan kelapa sawit dengan pengusahaan hutan alam dan hutan tanaman.

Naskah akademik ini juga mengkritisi atas kriteria FAO yang mendefinisikan tanaman hutan yaitu mempunyai tinggi batang minimal 5 meter, memiliki tutupan kawasan 10%-20%, luasan kawasan minimal 0.5 meter dan lebar jalur di atas 20 meter. Menurut kriteria FAO tersebut, tanaman kelapa sawit menjadi satu-satunya jenis tanaman kelapa (Palmae) yang tidak dimasukkan kedalam kategori hutan. Padahal semua kriteria tersebut ada pada tanaman kelapa sawit.

Kerjasama antara APKASINDO-IPB terkait usulan penyusunan naskah akademi yang mengkaji tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hutan ini juga diharapkan dapat menjawab pernyataan Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan Kementerian LHK, Ruandha Agung, dalam sebuah webinar yang menyebutkan bahwa tanaman kelapa sawit tidak dikategorikan sebagai tanaman hutan dengan alasan bahwa kelapa sawit bukan pohon karena tidak memiliki kambium.

Pernyataan tersebut sangat disayangkan oleh Prof. Sudirman Yahya, Guru Besar IPB. Menurutnya, tanaman yang tidak memiliki kambium lebih tepat disebut tanaman monokotil. Jika sawit tidak masuk kategori, namun mengapa aren dan kelapa dapat dikategorikan tanaman hutan? Hal ini jelas menandakan bahwa adanya ketidakkonsistenan.

Tanggapan serupa juga dilontarkan Prof. Dr. Yanto Santosa pada acara debat terbuka yang menyebutkan tidak dikategorikannya sawit ke dalam tanaman hutan merupakan salah satu diskriminasi. Banyak studi dan kajian empiris yang menunjukkan bahwa perkebunan sawit memiliki peran mirip tanaman hutan seperti fungsi fotosintensis dan konservasi hidrologis, bahkan tanaman kelapa sawit memiliki kemampuan laju fotosintesa lebih tinggi daripada hutan tropika.

Menurutnya jika sawit diakui sebagai tanaman hutan maka luas areal berhutan Indonesia akan meningkat drastis, adanya peningkatan kontribusi serapan GRK, penyelesaian permasalahan kebun sawit dikawasan hutan menjadi lebih mudah, serta akan menyulitkan pihak anti sawit melakukan kampanye hitam dengan menggunakan isu deforestasi.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *