Spotlighting African Market Potential for Palm Oil Export

  • English
  • Bahasa Indonesia

As the largest palm oil exporter country that also dominates the global vegetable oil market, Indonesia faces many trade barriers. Protectionism is undertaken by developed countries such as the European Union, Britain, and the United States on their vegetable oils, causing these countries implement trade policies that inhibit and discriminate against palm oil.

These trade dynamics will threaten the existence of palm oil in the global market and will also cause a deficit in Indonesia’s trade balance, given that palm oil products have been proven as one of the main contributor to net trade surplus. Therefore, the Indonesian government and palm oil industry players must mitigate trade policies that hinder palm oil products, which are predicted more intensive in the future.

Diversification of the export market for palm oil (and its derivative products) to non-traditional markets is the right strategy to reduce the dependence of Indonesian exporters on traditional markets that apply trade barriers to palm oil products. The African market is one of the potential markets as export destination for Indonesian palm oil products.

Africa’s fast-growing population and estimated will reach 1.34 billion people in 2020 and with the growth of vegetable oil consumption per capita are signals that show the huge potential market for palm oil. Even though the palm oil plant originates from Africa, but to fulfill their high demand, it;s mainly sourced from imports, one of which is from Indonesia.

palm oil; africa

The Trademap data shows that during the last five years, exports of Indonesian palm oil (CPO and RPO) to African showed positive growth with an average volume of 3.35 million tons with export value of USD 2.15 billion per year. The main export destinations in this region are Egypt (3.9%), Tanzania (1.3%), and South Africa (1.1%), while the share of other African countries is below 1 percent.

 

Among the three main destination countries, only South Africa has shown an increase in the export performance of Indonesian palm oil both in terms of export volume and value during the pandemic. The BPS data shows that the export volume for Indonesian Refined Palm Oil (RPO) products to South Africa for the January-November 2020 period is 308.63 thousand tons with export value reaching USD 200.7 million. When compared to the same period in 2019, the export volume of RPO was slightly lower around 306 thousand tons with a value of USD 158.75 million.

Meanwhile, the export volume of Indonesian RPO to Egypt has decreased by 12.6 percent, but in line with the increase in palm oil prices, the export value also has increased by 10.8 percent. In contrast to Tanzania, there was a decrease in the volume and value of Indonesia’s RPO exports by 24.7 percent and 9.84 percent, respectively. Although the performance of Indonesia’s palm oil exports to these countries has decreased due to the Covid-19 pandemic, the difference is not too large and it is hoped recovery will soon be possible.

Founder/Chief Strategist of 3XG UK Consulting Ltd., Aban Ofon, in the Virtual Indonesia Palm Oil Conferences 2020 webinar held by GAPKI in December last year, said that Indonesia has opportunistic potential to export to several countries, i.e Alajzair, Sudan, Liberia, Cameroon, and Sierra Leone. Meanwhile, the constructive export potential is in Egypt, Kenya, South Africa, Tanzania, Ethiopia, Djibouti, Mozambique, Mauritania, the Democratic Republic of the Congo, and Rwanda.

Joko Supriyono, chairman of GAPKI, also agreed with Ofon’s statement. He also stated that the export growth to African countries is quite good every year, even though the trade volume is in small packs of 200 tons or 500 tons. This correlates with one of the obstacles that they dont have large tanks at ports to store palm oil stocks. This condition can be used by Indonesia to export processed palm oil in liquid form with packaging measuring 25 kilograms.

However, until now, the market potential for packaging products has not been utilized by Indonesia. Currently, Indonesian palm oil exports to Africa are still in bulk form with container tanks or not yet in the form of packaged palm oil or jerry cans. The challenge of their need for packaged palm oil as a solution to the lack of tanks in African countries is actually answered by Middle Eastern countries through their packaging industries which then they export packaged cooking oil to the African market.

Another strategy that must be taken by Indonesian palm oil players to more “stick our claws” in the African market is to diversify products, especially palm oil-based food products according to consumer preferences. Just like Indonesia, African people also have an eating habit that prefers deep-fried food, which causes palm cooking oil consumption in this region is continuing to increase. However, their taste not match with palm cooking oil which is widely sold in Indonesia, they prefer natural palm oil that has minimal processing.

With these market characteristics, a strategic approach is needed to engage the African market. Aban Ofon again advised that Indonesia needs to take a value chain approach and build partnerships through technology development. The role of the Indonesian government is also needed in building trade cooperation, for example in the framework of the Joint Trade Committee (JTC) or PTA agreements with African countries in the African region to facilitate trade in palm oil commodities and other products. Regarding trade agreements, currently, Indonesia has just had the first trade agreement with a country in the African region, namely Mozambique, namely the Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (IM-PTA).

In addition, the Indonesian government must also make a serious effort to reduce domestic export constraints, such as the quality of export port infrastructure, so that it can reduce logistics costs which have implications for increasing its competitiveness. Related to this, the Executive Director of GIMNI, Sahat Sinaga, suggested that Indonesia should take advantage of the geographical conditions by using ports on the coast of West Sumatra to be developed as points of palm export to the African market. This will save around USD 8-10 per ton in logistics costs when compared to exporting from Riau ports.

Sebagai negara eksportir minyak sawit terbesar yang juga sekaligus mendominasi pasar minyak nabati dunia, Indonesia menghadapi banyak hambatan perdagangan. Proteksionisme dilakukan oleh negara-negara maju seperti Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat terhadap minyak nabati yang diproduksinya, menyebabkan negara-negara tersebut menerapkan kebijakan perdagangan yang menghambat dan mendiskriminasi minyak sawit.

Dinamika perdagangan tersebut akan mengancam eksistensi minyak sawit di pasar global dan juga akan menyebabkan defisit neraca perdagangan Indonesia, mengingat produk sawit telah terbukti sebagai menjadi salah satu kontributor utama dari surplus net trade. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia dan pelaku industri sawit harus memitigasi kebijakan perdagangan yang menghambat produk sawit yang diprediksi akan semakin intensif di masa depan.

Diversifikasi pasar ekspor minyak sawit (dan produk turunannya) ke pasar non-tradisional merupakan strategi yang tepat untuk mengurangi ketergantungan eksportir Indonesia terhadap pasar tradisional yang menerapkan trade barrier terhadap produk sawit. Pasar Afrika menjadi salah satu pasar yang cukup potensial sebagai tujuan ekspor produk sawit Indonesia.

Pertumbuhan populasi penduduk Afrika yang besar dan diperkirakan mencapai 1.34 miliar orang pada tahun 2020 dan pertumbuhan konsumsi minyak nabati per kapita yang terus meningkat menjadi signal yang menunjukkan besarnya potensi pasar minyak sawit di Afrika. Meskipun tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika, namun tingginya kebutuhan minyak sawit di kawasan tersebut maka untuk memenuhinya lebih banyak bersumber dari impor, salah satunya dari Indonesia.

palm oil; africa

Data Trademap menunjukkan bahwa selama periode lima tahun terakhir, ekspor minyak sawit (CPO dan RPO) Indonesia ke negara-negara di kawasan Afrika menunjukkan pertumbuhan positif dengan rata-rata volume sebesar 3.35 juta ton dengan nilai ekspor sebesar USD 2.15 miliar per tahun. Negara kawasan Afrika yang menjadi tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia diantaranya adalah Mesir (3.9%), Tanzania (1.3%) dan Afrika Selatan (1.1%), sedangkan pangsa negara-negara Afrika lainnya dibawah 1 persen.

Diantara ketiga negara tujuan utama tersebut, hanya Afrika Selatan yang menunjukkan peningkatan kinerja ekspor minyak sawit Indonesia baik dari segi volume maupun nilai ekspor di masa pandemi. Eksim perdagangan BPS menunjukkan bahwa volume ekspor untuk produk Refined Palm Oil (RPO) Indonesia ke Afrika Selatan periode Januari-November 2020 sebesar 308.63 ribu ton dengan nilai mencapai USD 200.7 juta. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019, volume ekspor RPO ke negara tersebut sedikit lebih rendah yakni sebesar 306 ribu ton dengan nilai mencapai USD 158.75 juta.

Sementara itu, volume ekspor RPO Indonesia ke Mesir mengalami penurunan sebesar 12.6 persen, namun seiring dengan meningkatnya harga minyak sawit menyebabkan nilai ekspornya meningkat sebesar 10.8 persen. Berbeda dengan Tanzania, dimana terjadi penurunan volume dan nilai ekspor RPO Indonesia masing-masing sebesar 24.7 persen dan 9.84 persen. Meskipun kinerja ekspor minyak sawit Indonesia ke ketiga negara tersebut mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19, namun selisihnya tidak terlalu besar dan diharapkan segera pulih pasca-pandemi.

Founder/Chief Strategist 3XG UK Consulting Ltd., Aban Ofon dalam webinar Virtual Indonesia Palm Oil Conferences 2020 yang diadakan oleh GAPKI pada awal Desember tahun lalu, mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang oportunistik untuk ekspor ke sejumlah negara, yaitu Alajzair, Sudan, Liberia, Kamerun dan Sierra Leone. Sedangkan, potensi ekspor yang konstruktif ada di Mesir, Kenya, Afrika Selatan, Tanzania, Ethiopia, Djibouti, Mozambique, Mauritania, Republik Demokratik Kongo dan Rwanda.

Joko Supriyono juga mengamini hal tersebut. Ketua umum GAPKI ini juga menyebutkan pertumbuhan ekspor ke negara kawasan tersebut cukup bagus setiap tahunnya meskipun volume perdagangannya dalam partai kecil atau small pack dalam bentuk 200 ton atau 500 ton. Hal tersebut berkorelasi dengan salah satu hambatan yang dimiliki oleh negara di kawasan Afrika yang tidak memiliki tanki besar di pelabuhan untuk menyimpan stok minyak sawit. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mengekspor minyak sawit olahan dalam bentuk cair dengan pengemasan dengan ukuran 25 kilogram.

Namun, hingga saat ini potensi pasar produk kemasan belum dimanfaatkan oleh Indonesia. Ekspor minyak sawit Indonesia ke Afrika saat ini masih dalam bentuk curah dengan tanki kontainer atau belum dalam bentuk kemasan atau jerigen. Tantangan kebutuhan minyak sawit kemasan sebagai solusi dari minimnya tanki di negara-negara Afrika justru dijawab oleh negara-negara Timur Tengah melalui industri pengemasanya yang kemudian mengekspor minyak goreng sawit kemasan ke pasar Afrika.

Strategi lainnya yang harus dilakukan oleh para pelaku industri sawit Indonesia untuk semakin “menancapkan cakarnya” di pasar Afrika adalah dengan melakukan diversifikasi produk khususnya produk pangan berbasis minyak sawit sesuai dengan preferensi konsumen di negara tersebut. Sama seperti Indonesia, masyarakat Afrika juga memiliki eating habit yang lebih menyukai makanan yang digoreng (deep fried), sehingga menyebabkan konsumsi minyak goreng sawit di kawasan negara tersebut terus meningkat. Namun, konsumen di kawasan negara Afrika kurang cocok “lidahnya” dengan minyak goreng sawit yang banyak dijual di Indonesia, mereka lebih menyukai minyak sawit alami yang minim proses pengolahan.

Dengan karakteristik pasar yang demikian, dibutuhkan strategi pendekatan untuk menggandeng pasar Afrika. Aban Ofon kembali berpesan bahwa Indonesia perlu melakukan pendekatan value chain dan membangun kemitraan melalui pembangunan teknologi. Dibutuhkan juga peran Pemerintah Indonesia dalam membangun kerjasama perdagangan misal dalam kerangkan Joint Trade Commitee (JTC) atau perjanjian PTA dengan negara-negara kawasan Afrika untuk memperlancar perdagangan komoditas minyak sawit dan produk lainnya. Terkait perjanjian perdagangan, saat ini Indonesia baru memiliki perjanjian perdagangan pertama dengan negara di kawasan Afrika yaitu Mozambique yaitu Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (IM-PTA).

Selain itu, Pemerintah Indonesia juga harus berupaya untuk mengurangi hambatan ekspor di dalam negeri seperti kualitas infrastruktur pelabuhan ekspor sehingga dapat menekan biaya logistik yang berimplikasi pada meningkatnya daya saing. Terkait dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, menyarankan bahwa Indonesia harus memanfaatkan kondisi geografis dengan menggunakan pelabuhan di pesisir Sumatera Barat untuk dikembangkan sebagai titik ekspor sawit menuju pasar Afrika. Hal tersebut akan menghemat biaya logistik sekitar USD 8-10 per ton, jika dibandingkan dengan mengekspor dari pelabuhan Riau.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *