The Business of Palm Oil-Based Vitamins A & E Have a Great Potential

  • English
  • Bahasa Indonesia

Currently, the utilization of palm oil and biomass/waste through three downstream channels, namely oleofood, oleochemical, and biofuel, has quite rapid development. However, along with continuous research innovation, it has succeeded in revealing other potentials contained in oil palm plants. One of them is the potential for phytochemical or phytonutrients contained in palm oil.

palm oil vitamin A & E

Many empirical studies that have been tested both nationally and internationally state that palm oil is a source of vitamin A and vitamin E. The beta carotene content in palm oil (CPO) is quite high, which is around 6700 μg retinol eq/100g edible portion, which have a role as a precursor to vitamin A in the body. This makes palm oil as the largest source of Vitamin A compared to carrots, oranges, bananas, and tomatoes.

Palm oil also contains Alpha-tocopherol or vitamin E reaching 1,172 ppm or higher than other vegetable oils such as soybean oil, corn oil, sunflower seed oil, olive oil, and coconut oil. And most of them consists of Tocotrienols, which can only be found in certain plant sources such as cereals crops.

 

The great potential of vitamin A and vitamin E contains in palm oil can be used as consumer products that have higher utility and economic value such as health products (supplements), food and beverage products as well as in cosmetic and personal care products. Various product market analysis institutes also show global market projection data in 2024 for vitamin A of USD 900 million and vitamin E to reach USD 2.14 billion.

The market potential for these products is expected to be even brighter, considering that the latest consumer trend for natural products (such as palm oil-based vitamins A and E) is being popular as an implication of the increasing consumer awareness of health. Moreover, the current situation of the Covid-19 pandemic which has made global consumers more concerned about their health is also a huge market potential for these natural vitamin A and E products from palm oil. However, the market potential for this product has not been touched by industry in Indonesia. Even though this country is the largest palm oil producer in the world.

In a webinar initiated by Agrina in December 2020, one of the speakers, Rapolo Hutabarat from the Indonesian Oleochemical Producers Association (APOLIN), explained that the volume of palm oil produced by Indonesian plantations which are around 45 million tons of CPO/year are saving very large potential of raw materials for vitamin A and E, which is around 13.5 thousand-22.5 thousand tons of beta carotene (for a content of 300-500 ppm) and around 27-45 thousand tons of Tocopherol (for a content of 600-800 ppm).

With this great potential, Indonesia also loses economic value due to the domestic industry’s untapped extraction of the two phytonutrients, which is USD 4.7 billion-USD 7.8 billion for Beta carotene and USD 2.7 billion-USD 4.5 billion for Tocopherol, where the price for natural carotenoid is USD 350/kg and natural tocopherol is USD 100/kg.

The large economic potential from the extraction of the two phytonutrients contained in palm oil is expected to be a stimulus for the domestic industry to develop vitamin A products based on beta carotene contains in palm oil and vitamin E products based on tocopherol contains in palm oil. Besides that, the development of these products also expected to be able can fulfill the domestic needs, which have been most of them sourced from imports.

Actually, the potential of palm oil to produce vitamin has been a topic discussed among palm oil stakeholders, both business actors, researchers, and the government. However, this discussion has yet to be realized. One of the inhibiting factors for the development of the palm oil-based phytonutrients industry is extraction technology.

In the Agrina Webinar, Prof. Nuri Andarwulan, explained the various phytonutrient extraction methods from palm oil. These extraction methods are preceded by a pretreatment method which is divided into: dilution method, transesterification method, saponification method, and hydrolysis method. After doing the pretreatment method, the extraction method is carried out which is divided into: Membrane Process, Molecular Destillation, Adsorption, Supercritical Fluid Extraction (SFE), Solvent Extraction, Solvolytic Micellization, Emulsion Liquid Membrane (ELM), and Integration and Combination of Extraction Methods.

At the end of his presentation, a lecturer in Food Science and Technology of IPB and she also as researchers at the SEAFAST institute concluded that in choosing an extraction method it is important to understand the characteristics of phytonutrients that are adjusted to the selection of appropriate extraction techniques by considering factors such as capital and utility costs, chemical toxicity, length of extraction, environmental impact, and scalability of operations.

If we compared to Malaysia as a competitor country, Indonesia is too late to developing an industry that produces phytonutrient products from palm oil. Malaysia with Excelvite as one of companies that has been producing palm nutraceutical products in the form of Tocotrienol (vitamin E) and mixed carotene from Virgin Crude Red Palm Oil since 2013.

However, as the the foreign proverb says, “Better Late Than Never”, which is this proverb is very suitable to motivate government, business actors, and others stakeholder to developing of the palm oil-based phytonutrients industry in Indonesia. Therefore to encourage this industry, one of which require support from Indonesian governement in the form of policies and funding incentives to downstream industries that produce palm oil-based vitamin A and E products.

Saat ini, pemanfaatan minyak sawit dan biomassa/limbah sawit melalui tiga jalur hilirisasi yaitu oleofood, oleochemical dan biofuel telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun, seiring dengan perkembangan riset inovasi berbasis sawit yang terus digalakan telah berhasil mengungkap potensi lain yang terkandung dalam tanaman kelapa sawit. Salah satunya adalah potensi senyawa fitokimia atau phytonutrients yang terkandung dalam minyak sawit.

palm oil vitamin A & E

Banyak studi empiris yang telah teruji baik skala nasional maupun internasional menyebutkan bahwa minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan vitamin E. Kandungan beta karotene yang terdapat dalam minyak sawit (CPO) cukup tinggi yaitu sekitar 6700 μg retinol eq/100g edible portion yang dapat berperan sebagai prekusor vitamin A dalam tubuh. Hal ini menjadikan minyak sawit sebagai sumber Vitamin A terbesar dibandingkan wortel, jeruk, pisang dan tomat.

Minyak sawit juga mengandung Alfa tochoferol atau vitamin E mencapai 1,172 ppm atau lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak zaitun dan minyak kelapa. Sebagian besar vitamin E dalam minyak sawit  terdiri Tocotrienols, dimana senyawa ini hanya dapat ditemukan pada sumber tumbuhan tertentu seperti tanaman serelia.

Besarnya potensi vitamin A dan vitamin E dalam minyak sawit dapat dimanfaatkan menjadi produk konsumen yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi yang tinggi seperti produk kesehatan (suplemen), produk makanan dan minuman maupun pada produk kosmetik dan personal care. Berbagai lembaga analisis pasar produk juga menunjukkan data proyeksi pasar global pada tahun 2024 untuk vitamin A sebesar USD 900 juta dan vitamin E mencapai USD 2.14 miliar.

Potensi pasar untuk produk-produk tersebut diperkirakan akan semakin cemerlang, mengingat saat ini tren konsumen untuk produk alami (seperti vitamin A dan E yang dihasilkan oleh minyak sawit) sedang digemari sebagai implikasi faktor consumer awareness terhadap kesehatan yang terus meningkat. Terlebih situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini yang menjadikan konsumen global lebih concern terhadap kesehatannya, juga menjadi potensi pasar yang besar untuk produk vitamin A dan E dari minyak sawit. Namun, potensi pasar produk vitamin A dan E berbasis minyak sawit ini sepertinya belum disentuh oleh industri di Indonesia. Padahal negara ini menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Dalam webinar yang diinisiasi oleh Agrina pada Desember 2020, salah satu narasumber yaitu Rapolo Hutabarat dari Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memaparkan bahwa dengan volume minyak sawit yang dihasilkan oleh perkebunan Indonesia sekitar 45 juta ton CPO/tahun menyimpan potensi bahan baku untuk vitamin A dan E yang sangat besar yakni sekitar 13.5 ribu-22.5 ribu ton Beta carotene (untuk kandungan 300-500 ppm) dan sekitar 27-45 ribu ton Tocopherol (untuk kandungan 600-800 ppm).

Dengan besarnya potensi tersebut, Indonesia juga kehilangan nilai ekonomi akibat belum tergarapnya ekstraksi kedua senyawa phytonurients tersebut oleh industri domestik yakni sebesar USD 4.7 miliar-USD 7.8 miliar untuk Beta carotene dan sebesar USD 2.7 miliar-USD 4.5 miliar untuk Tocopherol, dimana tingkat harga untuk natural caretonoid sebesar USD 350/kg dan harga natural tocopherol sebesar USD 100/kg.

Besarnya potensi ekonomi dari ekstraksi kedua komponen phytonutrients yang terkandung dalam minyak sawit tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi industri dalam negeri untuk mengembangkan produk vitamin A berbasis Beta Carotene sawit dan produk vitamin E berbasis Tocopherol sawit. Selain itu, dikembangkannya produk vitamin A dan E berbasis minyak sawit juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selama ini sebagian besar bersumber dari impor.

Sebenarnya potensi minyak sawit yang menghasilkan produk vitamin tersebut telah menjadi pembahasan yang sudah lama didiskusi pada kalangan stakeholder sawit baik pelaku usaha, peneliti maupun pemerintah. Namun, pembahasan tersebut hingga saat ini belum mampu direalisasikan. Salah satu faktor penghambat dari berkembang industri phytonutrients berbasis minyak sawit tersebut adalah teknologi ekstraksi.

Dalam Webinar Agrina tersebut, Prof. Nuri Andarwulan juga memaparkan berbagai metode ekstraksi phytonutrient dari minyak sawit. Metode ekstraksi tersebut didahului dengan metode pretreatment yang terbagi menjadi: metode pengenceran, metode transesterifikasi, metode saponifikasi dan metode hidrolisis. Setelah melakukan metode pretreatment kemudian dilakukan metode ekstraksi yang terbagi: Membrant Prosessing, Molecular Destillation, Adsoprtion, Supercritial Fluid Extraction (SFE), Solvent Exctractio, Solvolytic Micellization, Emulsion Liquid Membrane (ELM), dan Integration and Combination of Extraction Methods.

Di akhir paparannya, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB sekaligus salah satu peneliti di lembaga SEAFAST juga menyimpulkan bahwa dalam memilih metode ekstraksi penting untuk memahami karakteristik fitonutrien  yang disesuaikan dengan dengan pemilihan teknik ekstraksi yang sesuai dengan mempertimbangkan faktor faktor seperti modal dan biaya utilitas, toksisitas bahan kimia yang digunakan, lama ekstraksi, dampak terhadap lingkungan, dan skalabilitas operasi.

Jika dibandingkan dengan Malaysia sebagai negara kompetitor, Indonesia telah kalah start untuk memulai mengembangkan industri yang menghasilkan produk phytonutrient dari minyak sawit. Malysia dengan Excelvite sebagai salah satu perusahaan di negara tersebut yang telah lebih dahulu dalam memproduksi produk palm nutraceutical berupa Tocotrienol (vitamin E) dan mixed carotene dari Virgin Crude Red Palm Oil sejak tahun 2013.

Namun, seperti kata pepatah asing “Better Late Than Never”, dimana peribahasa tersebut sangat cocok untuk memotivasi pemerintah, pelaku usaha dan stakeholder terkait dalam pengembangan industri phytonutrients berbasis minyak sawit di Indonesia. Oleh karena itu, untuk mendorong perkembangan industri tersebut salah satunya dibutuhkan dukungan dari pemerintah baik dalam bentuk kebijakan maupun insentif pendanaan untuk mendukung industri hilir yang menghasilkan produk vitamin A dan E berbasis minyak sawit.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *