Challenges on Increasing Indonesian Palm Oil Production in 2021

  • English
  • Bahasa Indonesia

Growth production of Indonesian palm oil in 2021 is estimated to has increased with higher than growth production in 2019-2020. Although palm oil production in last year slightly increased by only 0.43 percent, the increase in production in the second half of 2020 was quite significant and is expected to continue to increase until 2021.

palm oil
Source: infopublik.id

GAPKI Vice Chairman III, Togar Sitanggang, projects that Indonesia’s palm oil (CPO) production in 2021 will reach 49 million tons, or will increase by 3.5 percent from 47.4 million tons of CPO production in 2020.

In line with Togar Sitanggang, IOPRI’s researchers  also estimate that CPO production in 2021 will increase to 48.40 million tons. This production’s projection was accomodated assumptions such as crop composition, land suitability class, climatic conditions, fertilization, and other assumptions (oil extract rate).

One of the factors that are driving the growth of Indonesia’s palm oil production, which is estimated to be higher than previous year is due to the favorable climate.

 

La Nina climate anomaly, which is indicated by high rainfall intensity, has occurred in Indonesia since the end of 2020 and is expected to end in May 2021. Even though La Nina occurred at the beginning of the year, the climate in Indonesia is predicted to be normal because the IOD is in the normal range.

The Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMKG) predicts that several regions in Indonesia such as North Kalimantan, parts of Sulawesi, parts of Maluku & North Maluku, northern West Papua, and central Papua will enter the dry season in May – July 2021. In line with BMKG, season and climate projection data by North American Multi-Model Ensemble (NMME) predicts that dry season (normal cycle) in Indonesia’s climate since July 2021.

Agro-climate Researchers in IOPRI also predict that Indonesia will experience a wet-dry season, where there is a dry season but the rainfall intensity is still high as a impact of La Nina. These conditions are a favorable climate for oil palm plants due to sufficient water availability and solar radiation needed by plants. The implication of this climate condition is increasing productivity.

Although climatic conditions with relatively high rainfall are favorable for oil palm plant, this is also a challenge faced by oil palm plantation actors. Damaged road infrastructure that connects the plantation and mill, hampered fruit harvesting activities, and floods that occur in the plantation have the potential to reduce palm oil production.

Other challenges in palm oil production in this year with wet climate conditions related in fertilization activities. The high price of palm oil in the second half of 2020 and the estimated to continue until the first quarter of 2021 is an incentive for oil palm plantation actors to improve technical culture, such as increasing the use of fertilizers. However, due to a constrained by high rainfall, the fertilization process must be delayed and even required modification of fertilizer application method to avoid carrying fertilizer with rainwater in plantations (surface run-off).

The outbreak of pests and diseases that attack oil palm plants is also a challenge in increasing palm oil production in 2021. Agus Eko Prasetyo M.Si, one of IOPRI’s researcher in the plant protection grup, revealed that Ganoderma is still the most frightening specter for oil palm plantations in Indonesia. Because until now it has not been able to be controlled massively due to soil-borne pathogens are difficult to control and only depends on preventive efforts such as stem decomposition, root stem sanitation, and biological control. In addition, Oryctes Rhinoceros is also predicted to still be a deadly threat to oil palm plants in the replanting phase.

Agus also advised that oil palm plantation actors must also be aware of the attack of Rhynchophorus spp and Sparganobasis subcruciata (muzzle beetle), which in the larval phase bores the stems of plants and can cause plant death. A plant disease that must also be watched out is sprear rot disease that attacks in the immature plant and early mature plant phases and have a much more severe impact than Ganoderma.

The solution needed to answer the challenges, especially those related to outbreak of pests and diseases attack oil palm plants, is to carry out an early warning system continuously with an economically and ecologically appropriate pest and disease management program. In addition, applying technical culture according to standards (Good Agricultural Practices) is also the key to maintaining plant health. However, if there has been an attack by pests or diseases, it is necessary to introduce integrated pest management (IPM) technology based on agroecosystems.

Other PPKS researchers, Dr. Winarna, on the same webinar Klinik Sawit, also mentioned other challenges that are faced by oil palm plantation actors in the order to increasing Indonesian palm oil production in 2021, namely the problem of low fruitset, decreased soil quality, and availability of labor, especially labour in harvest period.

It is expected, that oil palm plantation actors both companies and oil palm farmers, have prepared strategies to face and mitigate challenges in increasing palm oil production. Support from the Indonesian Government, especially related ministries and institutions such as the Ministry of Agriculture and BPDPKS, is needed by oil palm farmers to answer these production challenges. So that these mitigation efforts can have implications for an increase in the volume of palm oil production in 2021, which is as predicted, or even higher than the prediction.

Pertumbuhan produksi minyak sawit Indonesia tahun 2021 diperkirakan mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan growth peningkatan produksi tahun 2019-2020. Meskipun produksi minyak sawit tahun lalu naik tipis hanya sekitar 0.43 persen dari produksi tahun 2019, namun peningkatan produksi minyak sawit di semester kedua tahun 2020 cukup signifikan dan diperkirakan terus meningkat hingga tahun 2021.

palm oil
Source: infopublik.id

Wakil Ketua Umum III Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang memproyeksikan produksi minyak sawit (CPO) Indonesia tahun 2021 mencapai 49 juta ton, atau meningkat sebesar 3.5 persen dari 47.4 juta ton produksi CPO tahun 2020.

Senada dengan Togar Sitanggang, peneliti dari PPKS juga memperkirakan produksi CPO di tahun 2021 meningkat menjadi 48.40 juta ton. Proyeksi produksi minyak sawit tersebut juga telah mengakomodir asumsi seperti komposisi tanaman, Kelas Kesesuaian Lahan (KKL), kondisi iklim, pemupukan, dan asumsi lainnya (rendemen minyak).

Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan peningkatan produksi minyak sawit Indonesia yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan produksi tahun sebelumnya disebabkan karena iklim yang mendukung.

Anomali iklim La Nina yang ditunjukkan dengan intensitas curah hujan yang tinggi terjadi di wilayah Indonesia sejak akhir tahun 2020 dan diperkirakan akan berakhir pada Mei 2021. Meskipun terjadi La Nina diawal tahun, namun iklim Indonesia diperkirakan normal karena IOD berada dalam kisaran range yang normal.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan beberapa wilayah di Indonesia seperti di Kalimantan Utara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku & Maluku Utara, Papua Barat bagian utara, dan Papua bagian tengah akan memasuki musim kering pada Mei – Juli 2021. Senada dengan BMKG, data proyeksi musim dan iklim North American Multi-Model Ensemble (NMME) juga memprediksikan Indonesia akan memasuki siklus bulan kering sesuai siklus normal mulai Juli 2021.

Peneliti Agroklimat PPKS juga memperkirakan Indonesia akan mengalami kemarau basah dimana terjadi musim kering namun curah hujan tetap tinggi sebagai dampak dari terjadinya La Nina. Kondisi iklim yang demikian merupakan favourable climate bagi tanaman kelapa sawit karena ketersediaan air dan radiasi matahari cukup. Implikasinya dari kondisi iklim yang demikian adalah peningkatan produktivitas tanaman.

Meskipun kondisi iklim dengan curah hujan yang masih relatif tinggi menguntungkan bagi tanaman kelapa sawit, namun hal ini juga menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku perkebunan sawit. Rusaknya infrastruktur jalan yang menghubungkan kebun dan PKS, terhambatnya aktivitas pemanenan buah hingga bencana banjir yang terjadi di kebun berpotensi akan menurunkan produksi minyak sawit.

Tantangan lain dalam produksi minyak sawit di tahun ini dengan kondisi iklim basah terkait aktivitas pemupukkan. Tingginya harga minyak sawit di semester kedua tahun 2020 dan diperkirakan berlanjut hingga kuartal 1 tahun 2021 menjadi insentif para pelaku perkebunan sawit untuk melakukan perbaikan kultur teknis, salah satunya adalah peningkatan penggunaan pupuk. Namun, dikarenakan terkendala kondisi curah hujan yang tinggi, proses pemupukkan tersebut harus tertunda bahkan dibutuhkan modifikasi metode pengaplikasian pupuk yang tepat untuk menghindari terbawanya pupuk bersama air hujan yang mengguyur kebun (surface run-off).

Mewabahnya hama dan penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit juga menjadi tantangan dalam peningkatan produksi minyak sawit tahun 2021. Agus Eko Prasetyo M.Si, salah satu peneliti di PPKS bidang proteksi tanaman mengungkapkan bahwa penyakit ganoderma masih menjadi momok yang paling menakutkan bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hal ini dikarenakan hingga saat ini belum dapat dikendalikan secara masif karena soil borne pathogen sulit dikendalikan dan hanya mengandalkan upaya preventif diantaranya seperti dekomposisi batang, sanitasi batang akar, dan pengendalian hayati. Selain itu, hama Oryctes Rhinoceros juga diprediksi masih menjadi ancaman yang mematikan bagi tanaman kelapa sawit di fase replanting.

Agus juga berpesan para pelaku perkebunan sawit juga harus mewaspadai serangan hama kumbang moncong (Rhynchophorus spp dan Sparganobasis subcruciata) yang pada fase larvanya akan menggerek batang tanaman dan bisa menyebabkan kematian tanaman. Penyakit tanaman yang harus diwaspadai juga adalah penyakit busuk pucuk (sprear rot) yang menyerang pada fase TBM dan TM Muda dan bisa berdampak jauh lebih parah dibandingkan ganoderma.

Solusi yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan khususnya terkait dengan hama dan penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit adalah dengan menjalankan early warning system secara berkesinambungan dengan program pengelolaan hama dan penyakit yang tepat secara ekonomi dan ekologi. Selain itu, mengaplikasikan kultur teknis yang sesuai standar (Good Agricultural Practices) juga menjadi kunci untuk menjaga kesehatan tanaman. Namun, Jika sudah terjadi serangan hama atau penyakit, maka perlu introduksi teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) berbasis agroekosistem.

Peneliti PPKS lainnya yaitu Dr. Winarna dalam kesempatan yang sama yaitu Klinik Sawit juga menyebutkan beberapa tantangan lainnya yang dihadapi oleh pelaku perkebunan sawit dalam rangka peningkatan produksi minyak sawit Indonesia tahun 2021 yakni masalah fruitset rendah, penurunan kualitas tanah dan ketersediaan tenaga kerja khususnya yang dibutuhkan pada saat pemanenan.

Diharapkan para pelaku perkebunan sawit baik perusahaan maupun petani sawit telah menyiapkan strategi untuk menghadapi dan memitigasi tantangan dalam peningkatan produksi minyak sawit. Dukungan dari Pemerintah Indonesia khususnya kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian Pertanian dan BPDPKS dibutuhkan oleh petani sawit untuk menjawab tantangan produksi tersebut. Sehingga dengan upaya-upaya mitigasi tersebut dapat berimplikasi pada peningkatan volume produksi minyak sawit tahun 2021 yang sesuai prediksi bahkan produksinya dapat lebih tinggi melampui prediksi.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *