And It Happened Again…. Chocolate Products from Bali use the “Palm Oil Free” Label

  • English
  • Bahasa Indonesia

Anti-palm oil campaigns are more intensive and massive all over the world. This movement is also more varied, from demonstration, the spread of hoaxes on social media to the use of the Palm Oil Free label on consumer products. The labeling of Palm Oil Free (POF) on consumer products, both food and non-food products, is considered no longer an ordinary anti-palm oil movement. The labeling is already in the realm of boycotting palm oil and even “banning” the use of palm oil as a raw material for a product.

Products with the POF label are not only found in western countries which often discriminate against palm oil due to trade competition, but it’s also begun to be found on products produced by Indonesian MSMEs. Around 2019, the POF label was found on the packaging of cheese sticks product with the Rella’s Kitchen brand sold at Kem Chicks Jakarta outlets. In early 2021, the Pod Chocolate from Bali was found using packaging labeled Palm Oil Free.

This information was originally raised by the Majalah Sawit Indonesia on February 22, 2021, in this article, the editor also quoted the article on the official Pod Chocolate website as follows: “In 2017, we started to look beyond choclate bars to other chocolate products. Popular chocolate contained more than 50% sugar, uses animal milk, and contains palm oil. Distribution of this cocoa product contributes to the loss of habitat for orangutans, elephants, and tigers”.

However, when traced back to the POD Chocolate website (31/5), their manager changed the text to “In 2017 we started to look beyond chocolate bars to other chocolate products and cacao derivatives starting with chocolate spread. Popular chocolate spreads can be over 50% sugar and animal milk. We want to create chocolate in line with our philosophy of being plant-based, sustainable, healthy, and delicious”.

Although the POD Chocolate producer has revised the information written on its website by removing the word “palm oil” and the sentence of “Distribution of this cocoa product contributes to the loss of habitat for orangutans, elephants, and tigers” which is replaced with the phrase “We want to create chocolate in line with our philosophy of being plant-based, sustainable, healthy, and delicious”, however, the Editor of Majalah Sawit Indonesia again received photos sent by readers regarding the existence of POD Chocolate products labeled No Palm Oil at the Brastagi Tiara Supermarket, North Sumatra on May 29th, 2021.

palm oil free

The information was then followed up by BPOM RI who also coordinated with BPOM Medan to further take several steps such as supervision, guidance, and enforcement. The steps taken by BPOM are considered appropriate because the inclusion of the POF label on products sold in Indonesia has violated the regulation, especially in BPOM Regulation No. 31/2018 concerning Processed Food Labels, Article 67 Point 1, namely “business actors are prohibited to writing statements, descriptions, word/sentence, images, logos, claims and/or visualizations that directly or indirectly demeans the goods and/or services of other parties”.

In the Regulation of Head BPOM No. 13/2016 concerning Supervision of Claims on Labels and Processed Food Products, article 10, also states that food products that naturally do not contain certain components are prohibited from claiming such component-free content. This means that food products that do not contain natural components of palm oil as their raw material are not allowed to include claims on the “Palm Oil Free” label. For example, dairy products with low-fat claims are allowed because manufacturers have used technology to reduce the natural fat content of milk.

The legal basis for labeling food products in Indonesia is Law no. 12 of 2012 and BPOM Regulation No. 31/2018, as well as international standards such as Codex General Standard for the Labeling of Prepackaged Food, also state that labeling food products should aim to provide true and clear information to the public/consumers and should not provide misleading information. Therefore, claims or information showing the characteristics of the product must be re-tested in an accredited laboratory.

Besides violating the regulations regarding food product labels in Indonesia, the use of the Palm Oil Free label on products that are produced by domestic producers also detrimental to Indonesia as the largest palm oil producer country as well as tarnishes the struggles of palm oil industry actors, including millions of smallholders and the Indonesian government that actively defends palm oil and oppose the use of the Palm Oil Free label in the global market. The damage to the image of palm oil due to the use of the POF label is also feared to have implications for reducing competitiveness so that it will affect the Indonesian economy.


Therefore, it needs socialization efforts to supervise and strict action from the Indonesian government including BPOM, the Ministry of Trade, and other relevant stakeholders so that the same thing does not happen again.

Ideally, as fellow Indonesians, we should all collaborate to create and promote local resource-based processed products, without bringing each other down. Chocolate producers in Bali can promote and sell their products, without having to use the Palm Oil Free label that will damage the image of Indonesian palm oil. That way, Indonesia’s economic sector will be stronger to create prosperity for its people.

Kampanye anti sawit semakin intensif dan masif terjadi di seluruh dunia. Gerakan anti sawit juga semakin bervariasi dari mulai demonstarasi, penyebaran hoax di media sosial hingga penggunaan label Palm Oil Free pada produk konsumen.  Labelisasi Palm Oil Free (POF) pada produk konsumen baik produk pangan maupun non pangan, dinilai bukan lagi gerakan anti sawit biasa. Labelisasi tersebut sudah berada pada ranah boikot minyak sawit bahkan “mengharamkan” penggunan minyak sawit sebagai bahan baku suatu produk.

Produk dengan label POF tidak hanya ditemukan di negara-negara barat yang sering melakukan diskriminasi terhadap sawit karena persaingan dagang, tetapi label POF juga sudah mulai banyak ditemukan pada produk yang diproduksi oleh UMKM Indonesia. Sekitar tahun 2019, ditemukan label POF pada kemasan produk cheese sticks dengan merk Rella’s Kitchen yang dijual di gerai Kem Chicks Jakarta. Di awal tahun 2021, kembali ditemukan lagi produk cokelat dengan merk Pod Chocolate yang diproduksi di Bali dengan menggunakan kemasan yang diberi label Palm Oil Free.

Informasi ini awalnya diangkat oleh Majalah Sawit Indonesia pada tanggal 22 Februari 2021, dalam artikelnya tersebut redaktur juga mengutip tulisan dalam website resmi Pod Chocolate yaitu sebagai berikut “Pada tahun 2017, kami mulai memproduksi berbagai jenis coklat, bukan hanya coklat batangan biasa. Coklat yang digemari masyarakat biasanya memiliki kandungan lebih dari 50% gula (gula pasir), menggunakan susu hewani, dan mengandung minyak kelapa sawit. Persebaran coklat semacam itu ikut serta menyebabkan hilangnya lahan habitat orangutan, gajah, dan harimau”.

Namun ketika ditelusuri kembali halaman website POD Chocolate (31/5), pengelola sudah merubah tulisan menjadi “Pada tahun 2017 kami mulai memproduksi berbagai jenis coklat, bukan hanya coklat batangan biasa. Coklat yang digemari sebagian besar masyarakat biasanya memiliki kandungan lebih dari 50% gula (gula pasir) dan menggunakan susu hewani. Kami ingin menciptakan coklat yang sesuai filosofi kami yaitu Plant base, berkesinambungan (suistainability), sehat, dan lezat”.

Meskipun produsen atau perusahaan POD Chocolate sudah merevisi informasi yang tertuliskan dalam websitenya dengan menghilangkan kata “minyak sawit” dan kalimat “Persebaran coklat semacam itu ikut serta menyebabkan hilangnya lahan habitat orangutan, gajah, dan harimau” yang diganti dengan kalimat “Kami ingin menciptakan coklat yang sesuai filosofi kami yaitu Plant base, berkesinambungan (suistainability), sehat, dan lezat”, namun Redaktur Majalah Sawit Indonesia kembali menerima foto yang dikirimkan pembaca terkait adanya produk POD Chocolate yang berlabel No Palm Oil di Supermarket Brastagi Tiara Sumatera Utara pada tanggal 29 Mei 2021.

cokelat palm oil free

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh BPOM RI yang juga berkoordinasi dengan BPOM Medan untuk selanjutnya melakukan beberapa langkah seperti pengawasan, pembinaan dan penindakkan. Langkah yang diambil BPOM dinilai sudah tepat karena pencantuman label POF pada produk yang dijual di Indonesia telah menyalahi aturan khususnya pada Peraturan BPOM No. 31/2018 tentang Label Pangan Olahan, Pasal 67 Poin 1 yaitu “pelaku usaha dilarang mencantumkan pernyataan, keterangan, tulisan, gambar, logo, klaim dan/atau visualisasi yang secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa pihak lain”.

Dalam Peraturan Kepala BPOM No. 13/2016 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklam Pangan Olahan, pasal 10, juga menyebutkan bahwa produk pangan yang secara alami tidak mengandung komponen tertentu maka dilarang untuk memuat klaim kandungan bebas komponen tersebut. Artinya produk pangan yang tidak mengandung komponen minyak sawit secara alami sebagai bahan bakunya maka produk tersebut tidak boleh mencantumkan klaim pada label “Palm Oil Free”. Misalnya, produk susu yang menuliskan klaim low fat diperbolehkan karena produsen telah menggunakan teknologi untuk mengurangi kandungan lemak yang secara alami terkandunng pada susu.

Dasar hukum pemberian label pada produk pangan di Indonesia seperti UU No. 12 tahun 2012 maupun Peraturan Peraturan BPOM No. 31/2018, maupun standar internasional yaitu Codex General Standart for the Labelling of Prepackaged Food juga menyebutkan bahwa pemberian label pada produk pangan seharusnya bertujuan untuk memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat/konsumen serta tidak boleh memberikan informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, klaim atau keterangan yang menunjukkan karakteristik produknya harus diuji kembali kebenarannya di laboratorium yang terakreditasi.

Selain melanggar aturan terkait label produk pangan di Indonesia, penggunaan label Palm Oil Free di produk yang diproduksi oleh produsen dalam negeri juga menimbulkan kerugian bagi Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar sekaligus menodai perjuangan para pelaku industri sawit termasuk didalamnya jutaan petani sawit dan pemerintah Indonesia yang giat membela sawit sebagai produk strategis Indonesia dan menentang pencantuman label Palm Oil Free di pasar global. Rusaknya citra sawit akibat penggunaan label POF juga dikhawatirkan akan berimplikasi pada menurunnya daya saing sehingga akan mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Oleh karena itu, dibutuhkan upaya sosialisasi hingga pengawasan dan penindakkan dari yang tegas dari Pemerintah Indonesia meliputi BPOM, Kementerian Perdagangan dan stakeholder terkait lainnya agar hal serupa tidak terjadi lagi.

Idealnya sebagai sesama anak bangsa, kita semua harus berkolaborasi untuk menciptakan dan mempromosikan produk olahan berbasis sumberdaya lokal, tanpa saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Produsen cokelat di Bali bisa mempromosikan dan menjual produknya, tanpa harus menggunakan label Palm Oil Free yang akan merusak citra sawit Indonesia. Dengan begitu, sektor ekonomi Indonesia akan semakin kuat untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *