Climate in 2021: Friendly for Palm Oil Production

  • English
  • Bahasa Indonesia

Geographically, Indonesia is located in a tropical area that is crossed by the equator and is located between two continents (Australia and Asia) and the two oceans (Indian and Pacific). This makes the dynamics of Indonesia’s climate affected by the El Nino Southern Oscillation (ENSO) and Indian Ocean Dipole (IOD).

ENSO is a natural phenomenon in the form of fluctuations in sea surface temperature around the central and eastern equatorial Pacific Ocean that interacts with changes in atmospheric conditions above it. In contrast to ENSO in the Pacific Ocean, IOD occurs in the Indian Ocean. These climate phenomena are one of the factors that controlling climate both in Indonesia and the world.

After passing 2020, in that year there was a La Nina climate anomaly in Indonesia which had an impact on climate-friendly with minimal forest and land fires. In 2021, the climate phenomenon that will occur in Indonesia is ENSO Neutral, which is a normal condition or no climate anomaly (La Nina or El Nino).

This was confirmed by Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA. as the Head of Climate Change Information Center at the Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG) in the Webinar Ngobrol Bareng GAPKI, which stated that BMKG predicts a neutral climate phenomenon will occur from May to November 2021. In these conditions, the dry season in several regions in Indonesia is predicted to start in May and June 2021, and then peak in August and September.

Despite entering the dry season, the forecast for increased rainfall in this period is still occurring. This can be seen from the SST condition which shows water availability for the rainfall. In addition, it is estimated that rainfall conditions in most areas are generally still normal and above normal.

Talking about climate, all agricultural commodities depend on the climate for their productivity. Likewise for the oil palm commodity, where the climate is one of the factors that affect the productivity of oil palm. The neutral climate that will occur in 2021 is still considered conducive to palm oil production.

 

Dr. Hasan Hasril Siregar as a senior agro-climate researcher in IOPRI explained that the dry season in 2021 is estimated to be in normal conditions and for a shorter period. Seeing this, he also predicts that this condition won’t cause drought so that it won’t have a significant impact on palm oil production. The IORI Agro-Climatology Team also projects palm productivity in 2021, the potential production of palm oil in conditions without drought will reach 55.69 million tons, with a production ratio for S1 and S2 respectively 47% and 53%.

climate
Source: lesanesagilles.com

Although dry conditions in a neutral climate phenomenon are still relatively safe for palm oil production, Dr. Hasan still emphasized remaining vigilant against forest and land fire disasters by making various prevention efforts, one of which is by following IPOA’s guidelines for preventing and controlling forest and land fires.

With a climate-friendly forecast for palm oil production this year, it is hoped that this will boost the enthusiasm of producers both corporates and smallholders to maximize the increase in productivity and production of palm oil. Their producers must also use this climate forecast to determine the time for fertilization, map potential attacks by pests and diseases, develop supporting infrastructure, and map fire-prone areas as a preventive measure.

Secara geografis, Indonesia terletak di daerah tropis yang dilewati oleh garis ekuator dan berada diantara dua benua yaitu Australia dan Asia serta dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Hal tersebut membuat dinamika iklim Indonesia terpengaruh El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD).

ENSO merupakan fenomena alam yang berupa fluktuasi suhu muka laut di sekitar bagian tengah dan timur ekuator Samudera Pasifik yang berinteraksi dengan perubahan kondisi atmosfer di atasnya. Berbeda dengan ENSO yang berada di Samudera Pasifik, maka IOD berada di Samudera Hindia. Kedua fenomena tersebut menjadi salah satu faktor pengendali iklim baik di Indonesia, maupun di dunia.

Setelah melewati tahun 2020 dimana pada tahun tersebut terjadi anomali iklim La Nina yang berdampak menciptakan iklim bersahabat di Indonesia dengan minim terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Memasuki tahun 2021, fenomena iklim yang terjadi di Indonesia adalah ENSO Netral, dimana terjadi kondisi normal atau tidak terjadi anomali iklim La Nina maupun El Nino.

Hal tersebut terkonfirmasi oleh Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA. selaku Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG dalam sesi Webinar Ngobrol Bareng GAPKI yang menyatakan bahwa BMKG memperkirakan fenomena iklim netral akan berlangsung dari Mei hingga November 2021. Dalam kondisi tersebut, sebagian daerah di Indonesia diprediksi akan mengalami awal musim kemarau pada bulan Mei dan Juni 2021, kemudian puncak kemarau terjadi pada bulan Agustus dan September.

Walaupun akan memasuki musim kemarau, namun prakiraan pertumbuhan hujan pada periode tersebut masih mendukung. Hal tersebut terlihat dari kondisi SST yang menunjukan masih dalam kondisi cukup air dalam curah hujan. Selain itu, kondisi curah hujan pada sebagian besar daerah juga diperkirakan umumnya masih normal dan diatas normal.

Berbicara tentang iklim, semua komoditas pertanian pasti menggantungkan nasib produktivitasnya pada iklim. Begitu juga pada komoditas kelapa sawit, dimana iklim menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi naik turunnya produktivitas sawit. Iklim netral yang terjadi pada tahun 2021 juga masih dinilai cukup kondusif untuk produksi kelapa sawit.

Dr. Hasan Hasril Siregar memaparkan bahwa musim kemarau pada tahun 2021 diprediksi dalam kondisi normal dan periodenya lebih singkat. Melihat hal tersebut, peneliti senior agroklimat PPKS ini juga memprediksi bahwa kondisi tersebut tidak mengakibatkan kekeringan sehingga tidak berdampak signifikan terhadap produksi kelapa sawit. Tim Agroklimatologi PPKS juga memproyeksikan produktivitas sawit tahun 2021, dimana potensi produksi minyak sawit pada kondisi tanpa kekeringan mencapai 55.69 juta ton, dengan perbandingan produksi untuk S1 dan S2 masing-masing 47% dan 53%.

climate
Source: lesanesagilles.com

Meskipun kondisi kemarau dalam fenomena iklim netral masih terbilang aman bagi produksi minyak sawit, namun Dr. Hasan tetap menekankan untuk tetap waspada terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan dengan melakukan berbagai upaya pencegahan, salah satunya dengan mengikuti pedoman pencegahan dan pengendalian karhutla GAPKI.

Dengan adanya prakiraan iklim yang juga cukup bersahabat untuk produksi minyak sawit pada tahun ini, diharapkan dapat menggenjot semangat para pelaku perkebunan sawit maupun petani sawit untuk memaksimalkan kenaikan produktivitas dan produksi minyak sawit. Prakiraan iklim tersebut juga harus dimanfaatkan oleh produsen minyak sawit baik perusahaan perkebunan maupun petani untuk menentukan waktu pemupukan, memetakan potensi serangan hama dan penyakit, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga memetakan wilayah rawan kebakaran sebagai upaya preventif.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *