Contribution of Palm Oil Industry on Generating Greater Indonesia’s Net Trade Surplus in Q3-2020

  • English
  • Bahasa Indonesia

The Central Statistics Agency (BPS) was released data on Indonesia’s economic growth (GDP) in the Q3-2020 period. When compared against the third quarter of the previous year, GDP in Q3-2020 contracted by -3.49 percent (YoY). Indonesia’s economic growth in the previous quarter also contracted by -5.32 percent (YoY). This shows that the Indonesian economy has officially entered recession, because of its minus economic growth for two consecutive quarters.

The economic recession experienced by Indonesia is not a new thing. History records that Indonesia entered into a recession in 1963 and 1998. As a result of the Covid-19 pandemic, Indonesia has entered economic recession after 22 years since the monetary crisis that occurred in 1998. The impact of the pandemic which caused negative economic growth in Q3-2020 and recession was not only felt by Indonesia but also other countries such as the United States, Singapore, South Korea, Hong Kong, and the European Union.

Although annually (YoY) has negative growth, Indonesia’s GDP in this quarter has positive growth compared to the previous quarter of 5.05 percent (q-to-q), or successfully improved from the minus of quarter GDP (q-to-q) in the previous quarter which amounted to -4.19 percent. GDP growth (q-to-q) in the third quarter was due to an increase in almost all components of GDP, especially from the expenditure approach.

palm oil

Export is one of the components of GDP (expenditure approach) which has the second-largest growth after government expenditure, where Indonesia’s export growth in this quarter was 12.14 percent. Compared to the previous quarter, Indonesia’s export performance has negative growth of -12.83 percent, however, export performance has again improved and resulting in positive growth in this quarter. The increase in the export performance of palm oil products as a strategic commodity and a leading export commodity,  also be one of the factors driving Indonesia’s export growth this quarter.

Based on PASPI calculations using BPS data, the volume of exports of palm oil products (palm oil, biodiesel, and oleochemicals) increased from 7.85 million tons (Q2-2020) to 8.58 million tons (Q3-2020). Not only the volume, the export value of palm oil products also increased from USD 4.74 billion to USD 5.44 billion in that period. This is due to an increase in China’s demand  for palm oil products, as a result of fast economic recovery due to the pandemic. In addition, the increase in the export performance of palm oil products was also due to the price (CIF) of CPO in this quarter showed has increasing from USD 656 per ton to USD 738 per ton during the July-September 2020 period.

The increase in the export performance of palm oil products also had an impact to increasing on net trade surplus in the non-oil and gas sector which more than doubled from USD 3.39 billion in Q2-2020 to USD 9.13 billion in Q3-2020. If the net trade calculation of the non-oil and gas sector eliminates the contribution of exports of palm oil products, then this sector will experience a deficit of USD 1.35 billion in Q2-2020 and the trade surplus in Q3-2020 will be lower by only USD 3.69 billion.

Not only contributing to the creation of a net trade surplus in the non-oil and gas sector, but palm biodiesel with implementation of mandatory B30 policy also contributes to saving foreign exchange. Even though there was a decrease in domestic absorption as a result of the Large-Scale Social Restrictions (PSBB) policy that was implemented in the second quarter, along with the re-opening of economic activity by implementing the New Normal protocol by the Indonesian Government, it caused an increase in the absorption of biodiesel to 2.12 million kiloliters.

This causes that the oil and gas net trade deficit in Q3-2020 was successfully reduced to USD 1.1 billion, as a result of the implementation of B30 which was able to saving foreign exchange of USD 792 million. If the B30 policy is wasn’t implemented, Indonesia will import imported diesel to meet its needs, which has implications for the large deficit in the oil and gas sector, amounting to USD 1.89 billion in Q3-2020.

Palm oil products export foreign exchange and the implementation of the mandatory B30 policy were able to increase Indonesia’s total net trade surplus from USD 2.89 billion (Q2-2020) to USD 8.03 billion (Q3-2020). Without the it’s contribution, Indonesia would has deficit total net trade in the second quarter of USD 3.9 billion and the trade surplus enjoyed in the third quarter was also very small, only USD 1.8 billion. This shows that the palm oil industry through exports foreign exchange of palm oil products and the implementation of B30 mandatory policy has a large contribution to Indonesia’s total trade balance (net trade) in the period 2020.

Even accumulatively during Januari-September 2020, the contribution of palm oil industry was able to create a total trade balance surplus of USD 13.51 billion which is equivalent to IDR 198 trillion or more than three times the Covid Pandemic handling fund from the State Budget which is only around IDR 75 trillion. This further confirms that palm oil products are a strategic product that have contribute greatly to Indonesia’s trade balance and the economy amid the pandemic and economic recession.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia periode Q3-2020. Jika dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun sebelumnya, GDP Q3-2020 mengalami kontraksi sebesar -3.49 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal sebelumnya juga mengalami kontraksi sebesar -5.32 persen (YoY). Hal ini menunjukkan Indonesia mengalami resesi karena minusnya pertumbuhan GDP-nya selama dua kuartal berturut-turut.

Resesi ekonomi yang dialami Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejarah mencatat, Indonesia pernah masuk ke jurang resesi pada tahun 1963 dan 1998. Akibat pandemi Covid-19, Indonesia kembali mengalami resesi ekonomi setelah 22 tahun semenjak krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Imbas pandemi yang menyebabkan negatifnya pertumbuhan ekonomi pada Q3-2020 dan resesi ekonomi juga tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga turut dirasakan oleh negara lain seperti Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Hong Kong dan Uni Eropa.

Meskipun secara tahunan (YoY) mengalami petumbuhan negatif, namun GDP Indonesia pada kuartal ini mengalami pertumbuhan positif terhadap kuartal sebelumnya yakni sebesar 5.05 persen (q-to-q), atau berhasil mengalami perbaikan dari minusnya GDP kuartal (q-to-q) pada kuartal sebelumnya yakni sebesar -4.19 persen. Pertumbuhan GDP (q-to-q) pada kuartal ketiga ini disebabkan akibat peningkatan yang terjadi pada hampir semua komponen GDP khusus dari sisi (pendekatan) pengeluaran.

palm oil

Ekspor merupakan salah satu komponen GDP (menurut pengeluaran) yang mengalami pertumbuhan terbesar kedua setelah konsumsi pemerintah, dimana pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal ini sebesar 12.14 persen. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, kinerja ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan negatif sebesar -12.83 persen, namun kinerja ekspor kembali mengalami perbaikan yang menghasilkan pertumbuhan positif pada kuartal ini. Peningkatan kinerja ekspor produk sawit sebagai komoditas strategis dan unggulan ekspor menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal ini.

Berdasarkan perhitungan PASPI dengan menggunakan sumber data BPS, volume ekspor produk sawit (minyak sawit, biodiesel dan oleokimia) mengalami peningkatan yakni dari 7.85 juta ton (Q2-2020) menjadi 8.58 juta ton (Q3-2020). Tidak hanya volume, nilai ekspor produk sawit juga mengalami peningkatan dari USD 4.74 miliar menjadi USD 5.44 miliar pada periode tersebut. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan demand untuk produk sawit sebesar 65.9 persen, sebagai dampak dari recovery perekonomian China yang relatif cepat akibat pandemi Covid-19. Selain itu, peningkatan kinerja ekspor produk sawit juga disebabkan karena harga (CIF) CPO yang mengalami peningkatan dari USD 656 per ton menjadi USD 738 per ton selama periode Juli-September 2020.

Peningkatan kinerja ekspor produk sawit Indonesia juga berdampak pada meningkatnya surplus net trade sektor non-migas lebih dari dua kali lipatnya dari USD 3.39 miliar pada Q2-2020 menjadi USD 9.13 miliar pada Q3-2020. Jika pada perhitungan net trade sektor non migas menghilangkan kontribusi ekspor produk sawit, maka sektor ini akan mengalami defisit sebesar USD 1.35 miliar pada Q2-2020 dan surplus perdagangan pada Q3-2020 akan lebih rendah hanya sebesar USD 3.69 miliar.

Tidak hanya berkontribusi terhadap terciptanya surplus net trade sektor non migas, produk yang dihasilkan oleh industri sawit nasional yaitu biodiesel dengan kebijakan mandatori B30-nya juga mampu berkontribusi terhadap penghematan devisa sektor migas. Meskipun mengalami penurunan penyerapan domestik sebagai dampak dari kebijakan PSBB yang diberlakukan pada kuartal kedua, namun seiring dengan pembukaan kembali aktivitas ekonomi dengan menerapkan protokol New Normal oleh Pemerintah Indonesia menyebabkan terjadinya peningkatan penyerapan biodiesel oleh pasar domestik menjadi 2.12 juta kiloliter pada Q3-2020.

Hal ini menyebabkan defisit net trade migas pada Q3-2020 berhasil ditekan menjadi USD 1.1 miliar, akibat dari implementasi kebijakan mandatori B30 yang mampu menghemat devisa solar impor sebesar USD 792 juta. Jika kebijakan B30 tidak dilaksanakan maka Indonesia akan mengimpor solar impor untuk memenuhi kebutuhannya yang berimplikasi pada besarnya defisit sektor migas yakni USD 1.89 miliar pada Q3-2020.

Devisa ekspor sawit dan implementasi kebijakan mandatori B30 mampu meningkatkan total surplus net trade Indonesia dari USD 2.89 miliar (Q2-2020) menjadi USD 8.03 miliar (Q3-2020). Jika tanpa kontribusi sawit dan B30, Indonesia akan mengalami defisit total net trade pada kuartal kedua sebesar USD 3.9 miliar dan surplus perdagangan yang dinikmati pada kuartal ketiga juga  sangat kecil yakni hanya sebesar USD 1.8 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa industri sawit melalui devisa ekspor produk sawit dan implementasi B30 memiliki kontribusi yang besar terhadap total neraca perdagangan (net trade) Indonesia pada periode tahun 2020.

Bahkan secara akumulatif selama periode Januari-September 2020, kontribusi sawit melalui devisa ekspor dan penghematan devisa akibat implementasi B30 mampu menciptakan surplus total neraca perdagangan sebesar USD 13.51 miliar yang setara dengan Rp 198  triliun atau lebih dari tiga kali lipat dana penangan Pandemi Covid dari APBN yang hanya sekitar Rp 75 triliun. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa produk sawit sebagai produk startegis yang berkontribusi besar terhadap neraca perdagangan dan perekonomian Indonesia di tengah pandemi dan kondisi resesi ekonomi.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *