Developed Countries Try to Creating Synthetic Palm Oil to Compete with The Authentic One

  • English
  • Bahasa Indonesia

Palm oil has become the primadonna because of its superior characteristics such as rich and balanced nutritional content, stability at high temperatures, and relatively competitive prices so that it becomes a versatile raw material where the application to a derivative product is very wide. Almost all consumer goods in supermarket aisles ranging from food products such as cooking oil, biscuits, chocolate; various kinds of toiletries and personal care products such as soap, shampoo, makeup, skincare; to energy products that low-emission and eco-friendly. This means that for 24 hours, from waking up to going back to sleep, consumers around the world is consuming palm oil.

palm oil

This has made palm oil win by successfully shifting the dominance of soybean oil, which has dominated the vegetable oil market for a century. Currently, share’s of palm oil in the global vegetable oil market about 45 percent. Corley’s research (2009) also states that along with the increase in population and consumption per capita will increase demand of global vegetable oil reach 240 million tons in 2050, and most of the vegetable oil consumed is palm oil. It is even estimated that palm oil consumption in 2050 will reach 120-156 million tons. This shows that the dominance of palm oil will continue in the future.

The large consumption of palm oil in the global market is also a threat to other vegetable oils. The various characteristic advantages possessed by palm oil are difficult to beat by other vegetable oils so that anti-palm oil parties (NGOs affiliated with other vegetable oil-producer countries) carry out various “dirty” methods such as black campaigns using environmental issues, social issues, and health issues to hinder the trade of palm oil on the global market. However, the issue of the black campaign has now been disputed by using valid research results.

If these methods (black campaigns and policies to discriminate against palm oil) continue to be used, then the trade competition between palm oil and other vegetable oils will always be like “changing wickets” or not ending. Therefore, today many developed countries provide a fund for research and invest in start-up that develop synthetic vegetable oils with characteristics similar to palm oil, with the goals to replacing or substituting the role of palm oil.

One of them is the Breakthrough Energy Ventures company led by Bill Gates. This US company is currently developing research to produce synthetic palm oil, through investing of USD 20 million in a start-up called C16 Biosciences. This start-up that able to produce synthetic palm oil using exclusive yeast which is fed with food waste containing carbon from supermarkets and homes or industrial by-products such as glycerol from the biodiesel/biofuel industry. In addition from Bill Gates’s company, the start-up also received investment funds from other investors such as Jeff Bezos (Amazon), Richard Branson (Virgin Group), and Michael Bloomberg.

Besides the C16, there is another start-up, namely California Kiverdi Inc. which uses microbes to convert carbon dioxide into an alternative to palm oil. Revive Eco, a start-up from Scotland, also extracts coffe waste to produce oil as an alternative to palm oil. There is also a start-up from Indonesia, Biteback, which invented alternative palm oil from insects.

Dr. Ir. Purwayitno Hariyadi, PhD, revealed that research to produce natural materials in a laboratory has been carried out for a long time and related to laboratory research to produce synthetic palm oil has been developed since 2015. Meanwhile, Prof. Dr. Nuri Andarwulan, M.Si, as Director of SEAFAST, said that the chemical characteristics contained in palm oil have not been matched because the fraction is very rich in micronutrients such as Vitamin A, Vitamin E, tocotrienols, and sitosterols, so to produce microbes that resemble palm oil still needs research which more costly and requires a long process.

What is being done by these developed countries to produce synthetic oil that can compete and substitute palm oil, or black campaigns, and other discrimination  against palm oil, are efforts to block the superiority of palm oil in the global food sector until energy sector. These developed countries do not want Indonesia, Malaysia, and palm oil-producer countries, which are developing countries, will succeed in controlling global food and energy sector, so that they can control the world.

In line with this, the American politican and diplomat, Henry Kissinger, has also made a speech and said that “Control oil and you control nations, control food and you control the people”, and this speech has become the political economy paradigm of the United States until this day.

So, what should Indonesia, as the world’s largest palm oil producer do, to face various black campaigns, crop-apartheid policies that discriminate against palm oil, and research on synthetic oil that resembles palm oil?. The dynamics of the global market and trade competition must serve as a challenge for the national palm oil industry to maintain its existence, sustainability, and competitiveness in the global market. This can be achieved through three main strategies, namely intensification (increasing productivity), developing the downstreaming, and improving governance, including strengthening palm oil research and adoption/dissemination of this inovation research.

Minyak sawit telah menjadi primadona karena karakteristiknya yang unggul seperti kaya akan kandungan nutrisi dan gizi seimbang, stabilitas pada suhu tinggi, harga yang relative kompetitif, sehingga menjadi bahan baku yang sangat versatile dimana pengaplikasian untuk menjadi produk turunan sangatlah luas. Hampir seluruh consumer goods yang ada di lorong-lorong supermarket dari mulai produk pangan seperti minyak goreng, biskuit, cokelat; berbagai macam produk toilleteries dan personal care seperti sabun, shampoo, make up, skincare; hingga produk energi yang rendah emisi dan ramah lingkungan. Artinya selama 24 jam, dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur, konsumen di seluruh dunia mengkonsumsi minyak sawit.

palm oil

Hal tersebut menjadikan minyak sawit menjawarai pasar minyak nabati dunia dengan berhasil menggeser dominasi minyak kedelai yang sejak satu abad lalu menguasai pasar minyak nabati. Saat ini, kelapa sawit menguasai sekitar 45 persen pangsa pasar minyak nabati dunia. Penelitian Corley (2009) juga menyebutkan seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan konsumsi per kapita akan meningkatkan demand minyak nabati dunia mencapai 240 juta ton pada tahun 2050, dan sebagian besar minyak nabati yang dikonsumsi adalah minyak sawit. Bahkan diperkirakan konsumsi minyak sawit di tahun 2050 mencapai 120-156 juta ton. Hal ini menunjukkan dominasi minyak sawit akan terus berlanjut di masa depan.

Besarnya konsumsi minyak sawit di pasar global juga menjadi ancaman bagi minyak nabati lainnya. Berbagai keunggulan karakteristik yang dimiliki oleh minyak sawit sulit dikalahkan oleh minyak nabati lainnya, sehingga pihak anti sawit (LSM yang berafiliasi dengan negara produsen minyak nabati lain) melakukan berbagai cara “kotor” seperti black campaign dengan menggunakan isu lingkungan, isu sosial dan isu kesehatan untuk menghambat perdagangan minyak sawit di pasar global. Namun, isu kampanye hitam tersebut saat ini sudah banyak yang terbantahkan dengan menggunakan hasil riset penelitian yang valid.

Jika cara-cara (black campaign dan kebijakan mendiskriminasi sawit) tersebut terus digunakan, maka akan persaingan dagang minyak sawit dengan minyak nabati lainnya akan selalu seperti “pindah gawang” atau tidak berkesudahan. Oleh karena itu, saat ini banyak negara maju yang membiayai penelitian dan berinvestasi pada start up yang mengembangkan minyak nabati sintesis dengan karakteristik menyerupai minyak sawit dengan tujuan untuk menandangi minyak sawit.

Salah satunya adalah perusahaan Breakthrough Energy Ventures yang dipimpin Bill Gates Perusahaan Amerika Serikat. Perusahaan tersebut sedang mengembangkan riset untuk menghasilkan minyak sawit sintetis melalui investasi sebanyak USD 20 juta pada start up yang bernama C16 Biosciences. Start-up tersebut menghasilkan minyak sawit sintesis dengan menggunakan ragi eksklusif yang diberi makan dengan limbah makanan yang mengandung karbon dari supermarket dan rumah atau produk samping industri (by product industry) seperti gliserol dari industri biodiesel/biofuel. Selain dari perusahaan pimpinan Bill Gates, start-up tersebut juga menerima dana investasi dari investor lain seperti dan para investor lain seperti Jeff Bezos (Amazon), Richard Branson (Virgin Group) dan Michael Bloomberg.

Selain C16, ada start-up lain yaitu California Kiverdi Inc. yang menggunakan mikroba untuk mengubah karbon dioksida menjadi alternatif minyak sawit. Revive Eco sebuah start-up asal Skotlandia juga mengekstrasi limbah kopi untuk menghasilkan minyak alternatif minyak sawit. Terdapat juga start-up asal Indonesia yaitu Biteback yang menemukan minyak alternatif sawit dari serangga.

Dr. Ir. Purwayitno Hariyadi, PhD, mengungkapkan bahwa riset memproduksi bahan alam secara laboratorium sudah sejak lama dilakukan dan terkait riset lab untuk menghasilkan minyak sawit sintesis sudah mulai dikembangkan sejak tahun 2015. Sementara itu, Prof. Dr. Nuri Andarwulan, M.Si selaku Direktur SEAFAST menyebutkan bahwa karakteristik kimia yang terkandung dalam minyak sawit terbukti belum ada yang bisa menandingi karena fraksi sawit sangat kaya akan mikronutrien seperti Vitamin A, Vitamin E, tocotrienol, dan sitosterol, sehingga untuk menghasilkan mikroba yang menyerupai minyak sawit masih harus memerlukan riset penelitian yang memakan dana besar dan memerlukan proses yang lama.

Apa yang dilakukan oleh negara maju tersebut untuk menghasilkan minyak sintesis yang dapat menyaingi dan mensubsitusi minyak sawit atau black campaign dan tindakan diskriminasi sawit lainnya adalah bentuk upaya untuk menghadang keunggulan minyak sawit di bidang pangan hingga energi global. Negara maju tersebut tidak ingin Indonesia, Malaysia dan negara produsen minyak sawit yang notabenenya negara berkembang berhasil menguasai pangan dan energi global sehingga dapat mengontrol dunia.  Senada dengan hal tersebut, politikus dan diplomat Amerika Serikat, Henry Kissinger, juga pernah berpidato dan mengucapkan menyebutkan “Control oil and you control nations, control food and you control the people”, dan pidato tersebut telah menjadi paradigma politik ekonomi Amerika Serikat hingga saat ini.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghadapi berbagai black campaign, kebijakan yang crop-apharteid dan mendiskriminasi sawit hingga riset minyak sintesis yang menyerupai minyak sawit?. Dinamika pasar global dan persaingan perdagangan tersebut harus dijadikan sebagai tantangan bagi industri sawit nasional untuk tetap menjaga eksistensi, sustainability dan daya saingnya di pasar global. Hal tersebut dapat dicapai melalui tiga startegi utama yaitu intensifikasi (peningkatan produktivitas), pengembangan hilirisasi dan perbaikan tata kelola termasuk penguatan riset sawit nasional dan adopsi/diseminasi inovasi riset tersebut.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *