Criticizing WHO Publications that “Mislead” about Palm Oil

  • English
  • Bahasa Indonesia

Palm oil has been transformed into a useful food for all humans all around the world. The application of palm oil into food products is not only in the form of palm cooking oil, but there are many variations such as margarine, shortening, chocolate, biscuits, ice cream, instant noodles, creamer, yoghurt, breast milk substitution until vitamins. Processed food consumption of palm oil which has become a daily basis is also not only enjoyed by people in Indonesia, Malaysia, Asia, but throughout the world community. Even people in West Africa have been consuming palm oil since 5000 years ago.

However, behind the large contribution of palm oil that is able to provide food that is nutritious, healthy, cheap and affordable to all people in the world, black campaigns and hoax that says palm oil is harmful to human health are still occured since the 1970s until now.

Recently, we were surprised by the statement of the World Health Organization (WHO) East Mediterranean region to publish a news article and flyer entitled “Nutrition Advice for Adults during Covid-19“. The news article contains recommendations to “consume foods containing unsaturated fats (e.g found in fish, avocados, nuts, olive oil, rapeseed oil, sunflower oil and corn oil), rather than saturated fats (e.g found in meat fat, palm oil, coconut oil, cream, cheese, ghee and lard)”.

WHO publications

Meanwhile, the European regional WHO also published an article entitled “Food and Nutrition Tips During Self Quarantine“. In the article there are also recommendations for “reducing foods such as red and fatty meat, butter and full-fat dairy products, palm oil, coconut oil, solid shortening and lard.

The recommendations made by the WHO Eastern Mediterranean and European region aim to providing information to the public regarding the importance of consuming nutritious and healthy food products both during the Covid-19 pandemic and in the long term. However, by singling out palm oil as an example of fats to be avoided is a form of information that misleads the public and does not even correlate with the Covid-19 outbreak that is currently happening in the world.

 

This information is not in accordance with the results of scientific studies that have been conducted by academics and nutritionists around the world, where the experts have a relatively similar conclusion that palm oil is a healthy vegetable oil and not harmful to health. The content of saturated and unsaturated fatty acids that are relatively balanced is needed by the human body. Suggestion of omitting saturated fats from our diet could adversely deteriorate human health. Consumption in some degree of saturated fats needed for human metabolism.

The high content of vitamins A and E makes the consumption of palm oil can help boost immunity to against the Corona virus especially during the current pandemic. The research by Prof. Sri Raharjo from UGM also mentioned that Virgin Red Palm Oil (VRO) contains palmitic acid (saturated fat), which has plays an important role in providing protection against healthy lungs.

Palmitic acid is the main component about 60% phospholipid compound that lines the inner walls of the alveoi of the lungs. This phospholipid acts as a surfactant that can help facilitate the exchange of gases (oxygen and carbon dioxide) from the alveoli cavity to blood vessels or vice versa. This components is very needed in the body to fight Covid-19 which attacks the lungs.

Palm oil also does not contain trans fats which are harmful to health, so it is suitable to substitute other vegetable oils such as soybean oil. Ironically, some vegetable oils promoted by WHO in its publication such as soybean oil, rapeseed oil and sunflower oil, actually contain trans fats because the processing requires a partial hydogenation process. Campaigns or promotions conducted by WHO by recommending foods that contain trans fats can actually cause health problems such as cardiovascular disease and diabetes.

WHO publications that discredit palm oil have also received responses and protests from palm oil producing countries. The Indonesian Ministry of Foreign Affairs has sent an official objection letter to WHO representatives in Jakarta. Separately, the Indonesian Palm Oil Board (DMSI) and the Indonesian Palm Oil Society (MAKSI) along with the SEAFAST and IAFT-PATPI institutions also sent objections to the publication that published by WHO which were sent directly to Dr. Tedris Adhanom as WHO Director in Geneva.

In general, the protest points raised by various institution were that WHO was asked to improve the content of publication by providing information with a balanced perspective on the health benefits of palm oil based on the result from independent and valid research. This must be done immediately because the misleading information provided by WHO will affect the image of palm oil and have a large and longlasting negative impact involving the entire supply chain and all global business actors, including oil palm farmers.

Thus, it is hoped that no more parties will spread hoax news and black campaigns about palm oil. Instead information is needed on the benefits of palm oil as a food source that is beneficial to health at a price that is relatively affordable and easily accessible to people around the world in a lockdown during the Covid-19 pandemic.

Minyak sawit telah menjelma menjadi bahan pangan yang berguna bagi seluruh manusia di bumi. Aplikasi minyak sawit menjadi produk pangan tidak hanya dalam bentuk minyak goreng sawit saja, namun sangat banyak variasinya seperti margarin, shortening, cokelat, biskuit, ice cream, mie instan, krimer, youghurt, subsitusi ASI hingga vitamin A. Konsumsi pangan olahan minyak sawit yang telah menjadi daily basis juga tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di Indonesia, Malaysia, Asia, namun seluruh masyarakat dunia. Bahkan masyarakat di Afrika Barat telah mengkonsumsi minyak sawit sejak 5000 tahun yang lalu.

Namun, dibalik besarnya kontribusi minyak sawit yang mampu menyediakan bahan pangan yang bergizi, sehat, murah dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat dunia, black campaign dan berita hoax yang menyebutkan minyak sawit berbahaya bagi kesehatan manusia masih saja marak beredar sejak tahun 1970-an hingga saat ini.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pernyataan World Health Organization (WHO) region Mediaterania Timur mempublikasikan artikel berita dan flyer yang berjudul “Nutrion Advice for Adults during Covid-19”. Artikel berita tersebut berisi rekomendasi untuk “konsumsilah pangan yang mengandung lemak jenuh (saturated fats) seperti yang ditemukan pada ikan, alpukat, kacang, minyak zaitun, minyak rapeseed, minyak bunga matahari dan minyak jagung, dibandingkan pangan yang mengandung lemak tak jenuh (unsaturated fats) seperti yang ditemukan pada lemak daging, minyak sawit, minyak kelapa, krim, keju, ghee dan lemak babi”.

Sementara itu, WHO regional Eropa juga mempublikasikan artikel berjudul “Food and Nutrition Tips During Self Quarantine”. Dalam artikel tersebut juga terdapat rekomendasi untuk “mengurangi makanan seperti daging berlemak dan mentah, butter, produk full-fat dairy products, minyak sawit, minyak kelapa, solid shortening dan lemak babi.

Rekomendasi yang disampaikan oleh WHO region Mediteranian Timur dan Eropa tujuan untuk menyediakan informasi kepada publik terkait pentingnya mengkonsumsi produk pangan yang bergizi dan bernutrisi baik selama pandemi Covid-19 maupun dalam jangka panjang. Namun, dengan mendefinisikan minyak sawit sebagai salah satu contoh pangan berlemak yang harus dihindari adalah bentuk informasi yang menyesatkan publik bahkan tidak menjukkan korelasi dengan wabah Covid-19 yang sedang dunia alami.

Informasi tersebut tidak sesuai dengan hasil studi ilmiah yang telah dilakukan oleh para akademisi dan nutrisionist di seluruh dunia, dimana para ahli tersebut memiliki kesimpulan yang relatif sama yakni minyak sawit adalah minyak nabati yang sehat dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Kandungan asam lemak jenuh dan tak jenuh yang relatif seimbang sangat diperlukan tubuh manusia. Menyarankan untuk menghilangkan lemak jenuh pada makanan yang dikonsumsi justru dapat menimbulkan resiko buruk bagi kesehatan. Konsumsi lemak jenuh dalam kadar tertentu juga dibutuhkan untuk metabolisme manusia.

Kandungan vitamin A dan E yang tinggi menjadikan konsumsi minyak sawit dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus khsusnya virus Corona di saat pandemi seperti sekarang. Penelitian Prof. Sri Raharjo dari UGM juga menyebutkan bahwa Virgin Red Palm Oil (VRO) mengandung asam palmitat (lemak jenuh) yang berperan penting dalam memberikan perlindungan terhadap paru-paru yang sehat.

Asam palmitat merupakan komponen utama terdiri dari sekitar 60% senyawa fosfolipida yang melapisi dinding bagian dalam rongga alveoli paru-paru. Fosfolipida ini berfungsi sebagai surfaktan yang dapat membantu memudahkan pertukaran gas (oksigen dan karbondioksida) dari rongga alveoli ke pembuluh darah atau sebaliknya. Senyawa tersebut sangat diperlukan dalam tubuh untuk melawan Covid-19 yang menyerang paru-paru.

Minyak sawit juga tidak mengandung lemak trans yang berbahaya bagi kesehatan, sehinga cocok untuk mensubsitusi minyak nabati lain seperti minyak kedelai. Ironisnya, beberapa minyak nabati yang dipromosikan oleh WHO dalam publikasinya seperti minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari, justru mengandung lemak trans karena pengolahannya membutuhkan proses hidogenasi parsial. Kampanye atau promosi yang dilakukan oleh WHO dengan merekomendasi pangan yang mengandng lemak trans justru dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kardiovaskuler dan diabetes.

Publikasi WHO yang mendiskreditkan minyak sawit juga telah mendapat tanggapan dan protes dari negara produsen minyak sawit. Kementerian Luar Negeri RI, telah mengirim surat keberatannya kepada perwakilan WHO di Jakarta secara resmi. Secara terpisah, Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) dan Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI) beserta lembaga SEAFAST dan IAFT-PATPI juga mengirimkan surat keberatan terhadap publikasi yang diterbitkan WHO yang dikirimkan langsung kepada Dr. Tedris Adhanom selaku Direktur WHO di Geneva.

Secara umum, poin protes yang disampaikan oleh berbagai lembaga tersebut adalah WHO diminta untuk memperbaiki konten publikasi dengan memberikan informasi dengan perspektif yang berimbang mengenai manfaat minyak sawit bagi kesehatan yang berdasarkan hasil penelitian yang independen dan valid. Hal tersebut harus segera dilakukan karena informasi menyesatkan yang diberikan oleh WHO tersebut akan mempengaruhi citra minyak sawit dan berdampak negatif yang besar dan berkepanjangan yang melibatkan seluruh rantai pasok dan seluruh pelaku usaha global, termasuk petani sawit.

Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi pihak yang menyebarkan berita hoax dan black campaign mengenai minyak sawit. Sebaliknya, dibutuhkan informasi mengenai manfaat minyak sawit sebagai sumber pangan yang bermanfaat bagi kesehatan dengan harga yang relatif terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat di seluruh dunia dalam kondisi lockdown di masa pandemi Covid-19.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *