D100 Become New Hope for National Energy Sector

  • English
  • Bahasa Indonesia

Nowadays fuel oil is one of the important aspects for human life. Along with the increase in economic growth, population growth, increasingly active transportation and the number of mechanization in various fields that require fuel in its operation, it is not surprising that the need for fuel consumption (BBM) will always increase. One of them is diesel, which is fuel that is currently generally used for industry and public transport vehicles. It was noted that diesel consumption in the first semester of 2019 reached 7.56 million kiloliters or 52% exceeding the specified quota.

The availability of fossil energy which has been the raw material for fuel oil cannot always fulfill the needs that always increasing. Fossil fuels are also non-renewable natural resources, so that if they are used continuously, the supply will also be depleting and not enough to fulfill the increasing needs.

Pertamina has predicted that Pertamina’s oil reserves can only able to last nine more years, if there is no new exploration. This means that to fulfill the needs of fuel, Indonesia will be increasingly dependent on imports, causing a greater foreign exchange import burden. This condition will have negative implications for Indonesia’s trade balance which is increasingly unhealthy and will further spread others macroeconomic problems.

In addition to causing foreign exchange to be drained, Indonesia’s high dependence on diesel or other fossil fuels is an increase in the contribution of CO2 emissions as the main GHG emitter. Even though Indonesia is one of the countries that ratified the Paris Agreement and National Determined Contribution (NDC) in order to reduce carbon emissions.

Based on this, the development of renewable energy sources based on local resources that are environmentally friendly is now very necessary as an effort to reduce dependence on fossil fuels while creating national energy security.

Palm oil can be considered as a incredible tree, because all parts of the plant can be utilized. The oil content in both CPO and CPKO contains carbon elements that resemble fossil oil. The fatty acids contained in palm oil have very similar characteristics to the composition of hydrocarbons in fossil oils. This means that the palm oil industry has great potential as an alternative fuel energy in the future.

At present, an alternative energy from palm oil that has been successfully developed is FAME (Fatty Acid Methyl Esther). FAME has been blended with fossil diesel to produce biodiesel. Indonesiam government has the mandatory policy of biodiesel is the main factor that encourages the absorption of palm oil-based alternative energy, so that it can produce benefits for the economy such as saving foreign exchange imports to be able to become the locomotive of the Indonesian economy during a pandemic.

Given the succes story of the biodiesel mandatory policy, palm oil stakeholders consisting of the government, researcher and associations are developing another alternative energy from palm oil, namely Green diesel. Green diesel or palm oil is an alkane compound resulting from the processing of vegetable oil by hydrogenation which has properties similar to diesel fuel. In its processing, green diesel is known to be environmentally friendly because it does not produce waste and the emissions of combustion are much smaller than other diesel oil.

As the discovery of the Katalis Merah Putih, recently Pertamina together with the researchers from Institut Teknologi Bandung (ITB) succeeded in developing and producing pure green diesel (D100) based on palm oil at the Dumai refinery. The results of this diesel oil trial are considered quite satisfying and show advantages compared to fossil fuel or diesel such as high cetane number reaching 79, or higher than cetane number’s Pertamina Dex (53) or Dexlite (51) and far above the fossil diesel’s cetane number (48). Another advantage of this diesel is lower sulfur content, better oxidation stability and a clearer color.

d100 energy
Produk Bahan Bakar Sawit (BBS) Pertamina (Source: Industri-Kontan)

Besides the developing palm oil, Pertamina is also conducting a fuel mix performance test consisting of 20 percent palm oil based diesel (D100), 50 percent Dexlite and 30 percent FAME. The performance test results state that the cetane number of the fuel mixture reached at least 60 or higher than the current diesel fuel. Vehicle emission test results also show the opacity or concentration of exhaust fumes dropped to 1.7 percent from 2.6 percent (when not mixed with D100). Vehicle performance testing using the type of MPV with diesel fuel in 2017 which distance of 200 km, also produced good quantitative values ​​and vehicle users also still feel comfortable such as the absence of excessive noise when driving, engine pull is more powerful and exhaust fumes remain clean even at high RPMs.

With the results of the palm oil based diesel (D100) performance which is quite satisfying from a technical perspective, it provides optimism for Indonesia in the context of reducing diesel imports and realizing energy security that is low in emissions and environmentally friendly. However, further studies are needed in particular relating to the economic aspects that can be as the platform of the Government of Indonesia’s policy to produce renewable energy at competitive prices.

Saat ini bahan bakar minyak menjadi salah satu aspek penting bagi kehidupan manusia. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk, transportasi yang semakin aktif serta banyaknya mekanisasi diberbagai bidang yang membutuhkan bahan bakar minyak dalam pengoperasiannya, tidak heran bahwa kebutuhan akan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akan selalu mengalami peningkatan. Salah satunya adalah diesel/solar, yakni bahan bakar yang saat ini umumnya digunakan untuk industri dan kendaraan.  Tercatat bahwa konsumsi solar sepanjang semester I-2019 mencapai 7.56 juta kiloliter atau 52% melebihi dari kuota yang ditetapkan.

Ketersediaan energi fosil yang selama ini menjadi bahan baku untuk bahan bakar minyak tidak selamanya dapat memenuhi kebutuhan yang terus bertambah. Bahan bakar fosil juga merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable), sehingga jika penggunaannya dilakukan secara terus menerus maka persediaannya juga akan semakin menipis dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Pertamina sudah memprediksi bahwa cadangan minyak Pertamina hanya mampu bertahan sembilan tahun lagi, jika tidak ada ekplorasi baru. Artinya untuk memenuhi kebutuhan BBM, Indonesia akan semakin ketergantungan terhadap impor sehingga menyebabkan semakin besar beban devisa impor. Kondisi ini akan berimplikasi negatif terhadap neraca perdagangan Indonesia yang semakin tidak sehat dan lebih lanjut lagi akan menyulut permasalahan makroekonomi lainnya.

Selain menyebabkan devisa terkuras, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap diesel atau BBM fosil lainnya adalah peningkatan kontribusi emisi CO2 sebagai emitter utama GRK. Padahal Indonesia termasuk salah satu negara yang meratifikasi Paris Agreement dan National Determined Contribution (NDC) dalam rangka mengurangi emisi karbon.

Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan sumber energi terbarukan berbasis sumberdaya lokal yang ramah lingkungan saat ini sangat diperlukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil sekaligus menciptakan ketahanan energi nasional.

Kelapa sawit dijuluki sebagai “pohon ajaib” atau incredible tree, karena semua bagian tumbuhannya dapat dimanfaatkan. Salah satu keunggulan minyak sawit adalah kandungan minyak baik pada CPO dan CPKO mengandung elemen karbon yang menyerupai minyak fosil. Asam lemak yang terkandung dalam minyak sawit memiliki karakter yang sangat mirip dengan susunan hidrokarbon pada minyak fosil. Artinya industri kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai alternatif energi BBM di masa depan.

Saat ini, alternatif energi berbasis minyak sawit yang cukup berhasil dikembangkan yakni FAME (Fatty Acid Metil Ester). FAME mengalami blending dengan solar fosil sehingga dihasilkan biodiesel. Kebijakan mandatori biodiesel dari pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong penyerapan alternatif energi berbasis kelapa sawit sehingga mampu menghasilkan manfaat bagi perekonomian seperti penghematan devisa impor hingga mampu menjadi lokomotif ekonomi Indonesia di saat pandemi.

Mengingat keberhasilan program biodiesel tersebut, para stakeholder sawit yang terdiri dari pemerintah, peneliti dan asosiasi mengembangkan alternatif lain energi berbasis minyak sawit yaitu Green diesel. Green diesel atau solar sawit merupakan senyawa alkane hasil dari pengolahan minyak nabati dengan cara hidrogenasi yang memiliki sifat-sifat mirip bahan bakar diesel. Dalam pengolahannya, green diesel dikenal ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah dan emisi hasil pembakarannya jauh lebih kecil dibanding minyak diesel yang lainnya.

Seiring ditemukannya Katalis Merah Putih, PT. Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan dan memproduksi green diesel murni (D100) berbasis minyak sawit di kilang Dumai. Hasil uji coba diesel sawit ini dinilai cukup memuaskan dan menunjukkan sejumlah keunggulan dibandingkan dengan diesel fosil. Keunggulan dari D100 yang diproduksi oleh Pertamina tersebut menunjukkan performa kendaraan yang lebih baik karena memiliki spesifikasi Cetane number yang sangat tinggi hingga mencapai 79, atau lebih tinggi dari cetane number Pertamina Dex (53) atau Dexlite (51) dan jauh diatas cetane number diesel/solar fosil (48). Keunggulan lainnya dari diesel sawit ini adalah sulfur content yang lebih rendah, oxidation stability yang juga lebih baik dan warnanya yang lebih jernih.

d100 energy
Produk Bahan Bakar Sawit (BBS) Pertamina (Source: Industri-Kontan)

Selain mengembangkan diesel sawit, Pertamina juga melakukan uji perfoma campuran bahan bakar yang terdiri dari 20 persen diesel sawit (D100), 50 persen Dexlite dan 30 persen FAME. Hasil uji perfoma tersebut menyebutkan bahwa cetane number dari campuran bahan bakar tersebut mencapai angka 60 atau bisa lebih tinggi dari bahan bakar diesel saat ini. Hasil uji emisi kendaraan juga menunjukkan opacity atau kepekatan asap gas buang turun menjadi menjadi 1.7 persen dari 2.6 persen (saat tidak dicampur dengan D100). Uji perfoma kendaraan dengan menggunakan jenis MPV berbahan bakar diesel keluaran tahun 2017 yang menempuh jarak 200 km juga menghasilkan nilai kuantitatif yang bagus dan pengguna kendaraan juga tetap merasa nyaman seperti tidak adanya excessive noise saat berkendara, tarikan mesin yang lebih bertenaga dan asap buang knalpot tetap bersih meski pada RPM tinggi.

Dengan hasil uji perfoma diesel sawit (D100) yang cukup memuaskan dari segi teknis, memberikan optimistik bagi Indonesia dalam rangka mengurangi impor solar serta mewujudkan ketahanan energi berbasis energi yang rendah emisi dan ramah lingkungan. Namun, dibutuhkan kajian lebih lanjut lagi khususnya terkait dari segi ekonomi yang dapat menjadi landasan kebijakan Pemerintah Indonesia untuk menghasilkan energi terbarukan dengan harga yang kompetitif.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *