Fighting Discrimination Against Palm Oil Sustainability

  • English
  • Bahasa Indonesia

Nobody likes to be discriminated against. The treatment of discrimination on any grounds is opposed by the UN because it is against modern civilization principles, contradicts the law and human equality. Discrimination is another form of colonialism and exploitation.

In the trading world, it is also prohibited to discriminate. In the WTO rules, it is prohibited to discriminate between domestic and imported goods (national treatment) and to ban imported goods between countries (the most favored countries).

Sustainability of development, either economically, socially or environmentally, is a good thing and no one refuses it. The sustainability is a holistic concept that covers the whole country, aspects of development, all sectors and the whole industry. It is impossible for sustainability to be realized only by the state, or a specific sector of commodity. To measure or verify the fulfillment of the principles of sustainability, it can be done through sustainable certification instruments (certification of sustainability, CS).

The problem is that CS is only applicable to one certain commodity, while this CS does not apply for the other commodities, industries, and sectors so that the discrimination happened here. Palm oil is requested and obligated to apply the CS, but this CS does not apply for the other commodities, industries, and sectors. In this context, we have practiced discrimination.

Fossil fuel (oil, coal, natural gas, etc.) is non-renewable energy, proven to be the world’s largest carbon emitter, the cause of global warming and the climate change, is clearly unsustainable. But why the fossil doesn’t require CS? Similarly, all industrial sectors; offices, buildings, banking, transportation, are also carbon emitters, so why doesn’t CS apply? While oil palm plantations are crops that produce food, oxygen and absorb carbon (clean the air) across generations, the words demands them to apply for CS. Have we failed to understand? Do we misunderstand sustainability? Are petroleum, coal, natural gas, mining minerals more sustainable compared to oil palm plantations?

Then the world crop farming ranging from rice, wheat, soybean oil, rapeseed oil, sunflower oil, wood, livestock products, fishery products and so on are not obligated to apply for CS, because they are basically sustainable. If so why are oil palm plantations demanded to have CS?

Why does the RSPO only impose CS on palm oil, and not demand the same thing worldwide? And ISPO only requires CS in agriculture sector while for other sectors do not need to apply for CS? There is no strong reason to justify the compulsory of CS in palm oil plantations except for discriminating palm oil. Please remember that there are 2.6 million palm farmers and about 4.4 million workers in our oil palm plantations and 12 million indirect workers of oil palm plantations. So with the discrimination against oil palm plantation, we also have discriminated against farmers and workers who depend on the palm oil.

 

We have made a big mistake to have unjust practices in the oil palm plantation. Discrimination that is opposed by the trade justice (WTO), conflicts with God’s principles of justice and equality. When will we stop doing injustice on oil palm plantations?

Siapapun tidak senang diperlakukan diskriminasi. Perlakuan diskriminasi atas dasar apapun ditentang oleh PBB karena bertentangan dengan prinsip peradaban modern, bertentangan dengan keadilan dan kesetaraan kemanusiaan. Diskriminasi merupakan bentuk lain dari penjajahan dan pemerasan.

Dalam perdagangan dunia juga dilarang melakukan kebijakan diskriminasi perdagangan barang/jasa. Dalam aturan WTO dilarang melakukan diskriminasi antara barang produksi domestik dengan asal impor (national treatment) dan melarang diskriminasi kebijakan barang impor antar asal negara (most favored nations).

Keberlanjutan (sustainability) pembangunan baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan adalah hal yang baik dan tidak ada yang menolaknya. Keberlanjutan tersebut merupakan konsep holistik yang mencakup seluruh negara, aspek pembangunan, seluruh sektor dan seluruh industri. Tidak mungkin sustainability terwujud jika hanya dilakukan oleh suatu negara, atau suatu sektor apalagi satu komoditas. Untuk mengukur atau memverifikasi terpenuhinya asas-asas sustainability antara lain dapat dilakukan melalui instrumen sertifikasi berkelanjutan (certified sustainability, CS).

Menjadi masalah ketika CS hanya diberlakukan pada satu komoditi sementara untuk komoditi, industri, sektor lain tidak diberlakukan CS, sehingga terjadi diskriminasi perlakuan. Pada saat ini minyak sawit dituntut dan diwajibkan CS, sementara komoditi, industri, sektor lainnya tidak diberlakukan CS. Pada konteks ini kita telah melakukan praktek diskriminasi.

Energi fosil (miyak bumi, batu bara, gas alam, dan lain-lain) merupakan energi tidak dapat diperbaharui (non renewable), terbukti penghasil emisi karbon terbesar dunia, penyebab pemanasan global dan perubahan iklim dunia, jelas tidak berkelanjutan (unsustainable). Namun mengapa sektor energi fosil dunia tersebut tidak diberlakukan CS? Demikian juga seluruh sektor-sektor industri, kantor-kantor, gedung-gedung, perbankan, transportasi darat, laut, udara yang juga penghasil emisi karbon, mengapa tidak diberlakukan CS? Sementara perkebunan kelapa sawit yang adalah tanaman yang menghasilkan bahan pangan/industri, menghasilkan oksigen dan menyerap karbon (membersihkan udara) secara lintas generasi, justru diberlakukan dan dituntut CS. Bukankah kita sudah gagal paham dan keliru tentang sustainability? Apakah tambang minyak bumi, batubara, gas alam, tambang mineral lebih sustainable dibandingkan dengan kebun sawit?

Lalu komoditas pertanian dunia mulai dari beras, gandum, minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari, kayu, produk peternakan, produk perikanan dan seterusnya. Semua komoditi tersebut di negara manapun tidak dituntut dan memberlakukan CS, karena pada dasarnya semua tanaman adalah relatif paling sustainable dan telah terbukti secara lintas generasi. Jika demikian mengapa tanaman kelapa sawit dituntut dan diberlakukan CS?

Mengapa RSPO hanya memberlakukan CS pada minyak sawit dan tidak menuntut hal yang sama pada komoditas yang lain di seluruh dunia? Dan ISPO mengapa hanya mewajibkan CS pada sawit sementara untuk komoditas lain yang ada di sektor pertanian, tidak kita berlakukan dan tuntut CS?

Tak ditemukan alasan yang kuat untuk membenarkan diskriminasi kewajiban CS pada kebun sawit kecuali alasan menzalimi sawit. Mohon diingat bahwa terdapat 2.6 juta pekebun sawit, 4.4 juta tenaga kerja di perusahaan perkebunan sawit negara dan swasta serta 12 juta tenaga kerja tidak langsung dalam perkebunan sawit. Maka dengan diskriminasi kebun sawit kita juga telah melakukan diskriminasi pada petani dan pekerja yang hidupnya tergantung ekonomi sawit.

Kita telah melakukan kesalahan besar melakukan praktek diskriminasi pada kebun sawit. Diskriminasi yang bertentangan dengan keadilan perdagangan (WTO), bertentangan dengan prinsip-pinsip keadilan dan kesetaraan ciptaan Tuhan. Sampai kapan kita berhenti melakukan kezaliman pada kebun sawit?

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *