Pros-Cons of Emission Savings Calculating Method from Palm Oil Biodiesel

  • English
  • Bahasa Indonesia
palm oil biodiesel
Source: Ekonomi Bisnis.com

Indonesia has been developing palm oil biodiesel since 2009, but the development has become even more significant since there are CPO Supporting Fund (CSF) managed by the Palm Oil Plantation Fund Management Agency (BPDPKS) in mid-2015. The purpose of the development of palm oil biodiesel is not only to reduce dependence on the use of imported fossil fuels and realizing national energy security but also as a strong commitment to contribute to reducing GHG emissions in accordance with the Paris Agreement.

In that multilateral agreement, Indonesia is one of the countries that have ratified and also plays an active role in preventing climate change through reducing GHG emissions, which is targeted to be 29 percent (Business as Usual) up to 41 percent with international support by 2030. One sector targeted in this national commitment is the energy sector with a reduction target of 314-398 million tons of CO2. Renewable energy development such as biodiesel is energy sector’s efforts to achieve this target.

The commitment of the Indonesian government to achieve the GHG emission saving target through the development of biodiesel is suitable with their expectations. In line with the increase in domestic absorption and the blending rate of biodiesel, it made implications for a greater reduction in emissions from 592 thousand tons of CO2 (2010) to 22.3 million tons of CO2 (2020).

The calculation method of emission reduction due to the implementation of biodiesel policy is carried out by the Ministry of Energy and Mineral Resources. In the #LetsTalkAboutPalmOil Webinar (28/01/21), representatives of the Ministry of Energy and Mineral Resources present the method of calculating the emission reduction. In this calculation, the Ministry of Energy and Mineral Resources in collaboration with the Ministry of Environment and Forestry uses a reference to the AMS-III.AK method which is modified according to national conditions. Due to data limitations, the calculation of emission reduction only includes utilities of biodiesel are used by various sectors.

This method used by government has triggered cons from various parties who claim that the calculation does not cover emissions generated from oil palm plantations. So it is assumed that the volume of emission reduction due to biodiesel calculated by the Ministry of Energy and Mineral Resources is too large or over-estimated.

Although the method of calculating GHG emission reduction due to the use of palm biodiesel that is used by the Indonesian government has limitations, the ability of palm oil biodiesel to reduce emissions has been proven. Even, this ability has also been tested and proven by many studies both on national and international scale that used a comprehensive approach such as Life Cycle Analysis by calculating emissions from the plantation to production and consumption of palm oil biodiesel.

The European Union Commission through The European Council’s Directive 2009/28/EC calculates the emission savings from various feedstocks. The results indicate that palm biodiesel production (without a specific product process) can savings emissions by 36 percent. Meanwhile, palm biodiesel production that its feedstock comes from plantations that have implemented methane capture technology in processing its POME has the ability to higher emission savings reaching 62 percent. In fact, this ability of palm oil biodiesel (with methane capture) is higher than the ability of rapeseed biodiesel, soybean biodiesel, and sunflower biodiesel to GHG emissions saving.

In line with EU Commision’s results, the study by Mathews and Ardiyanto in 2015 that is published in the Malaysian Palm Oil Council (MPOC) journal also prove the same fact. Palm oil biodiesel whose feedstocks are supplied from plantation with methane capture technology has a higher ability to saving GHG emissions reaching 66.9 perscent.

 

Apart from the pros and cons of the emission calculation method used by the Indonesian Government, we need to encourage and support the efforts of ministries to synergize and collaborate each other in complementing the data, so that the calculation of emission reduction due to the transition from fossil diesel use to biodiesel is more comprehensive, able to reflects the actual “number”, and can proving the fact that palm oil biodiesel is an alternative low-emission renewable energy source.

 

palm oil biodiesel
Source: Ekonomi Bisnis.com

Indonesia sudah mengembangkan biodiesel berbasis minyak sawit sejak tahun 2009, namun perkembangannya semakin signifikan sejak adanya dukungan dana CPO Supportirng Fund (CSF) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di pertengahan tahun 2015. Tujuan pengembangan biodiesel sawit ini tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan penggunaan BBM fosil impor dan mewujudkan ketahanan energi nasional, namun juga sebagai komitmen kuat untuk berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK sesuai dengan amanat Paris Agreement.

Dalam kesepakatan multilateral tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah meratifikasi dan juga turut berperan aktif untuk mencegah terjadinya perubahan iklim melalui penurunan emisi GRK yang ditargetkan sebanyak 29 persen dengan kemampuan sendiri (Business as Usual) sampai dengan 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Salah satu sektor yang ditargetkan dalam komitmen nasional tersebut adalah sektor energi dengan target penurunan emisi sebesar 314-398 juta ton CO2. Pengembangan energi terbarukan seperti biodiesel merupakan upaya sektor energi untuk mencapai target tersebut.

Komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi GRK melalui pengembangan biodiesel sesuai dengan harapan. Seiring dengan meningkatnya volume penyerapan domestik dan blending rate biodiesel berimplikasi pada penurunan emisi yang semakin besar yakni dari 592 ribu ton CO2 pada tahun 2010 meningkat menjadi 22.3 juta ton CO2 tahun 2020.

Perhitungan penurunan emisi akibat implementasi pengembangan biodiesel dilakukan oleh Kementerian ESDM. Dalam Webinar #LetsTalkAboutPalmOil (28/01/21), perwakilan KemenESDM menyampaikan metode perhitungan penurunan emisi tersebut. Dalam perhitungan tersebut, KemenESDM bekerjasama dengan Kementerian LHK menggunakan referensi metode AMS-III.AK yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi nasional. Namun, karena adanya keterbatasan data membuat perhitungan penurunan emisi hanya mencakup pada utilitas biodiesel yang digunakan oleh berbagai sektor.

Metode yang digunakan oleh pemerintah Indonesia tersebut memicu kontra dari berbagai pihak yang mengklaim bahwa perhitungan tersebut belum meng-cover emisi yang dihasilkan dari perkebunan sawit. Sehingga diduga volume penurunan emisi akibat pengembangan biodiesel yang dihitung oleh KemenESDM terlalu besar atau over-estimate. 

Meskipun metode perhitungan penurunan emisi GRK akibat penggunaan biodiesel sawit yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia memiliki keterbatasan, namun kemampuan biodiesel sawit untuk mengurangi emisi telah terbukti. Bahkan kemampuan biodiesel sawit dalam menurunkan emisi juga telah diuji dan dibuktikan oleh banyak penelitian baik dalam skala nasional maupun internasional yang menggunakan pendekatan komprehensif yaitu Life Cycle Analysis dengan menghitung emisi dari tingkat perkebunan hingga produksi dan penggunaan biodiesel sawit.

Komisi Uni Eropa melalui The European Council’s Directive 2009/28/EC melakukan perhitungan penghematan emisi dari biodiesel dengan feedstock yang berbeda. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa produksi biodiesel sawit (tanpa proses produk yang spesifik) mampu menghemat emisi sebesar 36 persen. Sedangkan produksi biodiesel sawit yang feedstock-nya berasal dari perkebunan yang telah mengimplementasikan teknologi methane capture dalam pengolahan POME-nya memiliki kemampuan dalam emission saving lebih tinggi yakni mencapai 62 persen. Kemampuan biodiesel sawit (dengan methane capture) tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan biodiesel rapeseed, biodiesel kedelai dan biodiesel bunga matahari dalam menghemat emisi GRK.

Sejalan dengan hasil perhitungan Komisi Uni Eropa, hasil studi Mathews dan Ardiyanto tahun 2015 yang dipublikasikan pada Jurnal Malaysian Palm Oil Council (MPOC) juga membuktikan hal yang sama. Biodiesel sawit yang feedstock-nya disuplai dari perkebunan dengan teknologi methane capture memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam menghemat devisa mencapai 66.9 persen.

Terlepas dari pro-kontra terhadap metode perhitungan emisi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, kita perlu mendorong dan mendukung upaya kementerian terkait untuk saling bersinergi dalam melengkapi data sehingga perhitungan penurunan emisi akibat peralihan penggunaan diesel fosil ke biodiesel lebih komprehensif dan mampu mendekati “angka” sebenarnya, serta dapat membuktikan fakta bahwa biodiesel sawit adalah alternatif sumber energi terbarukan yang rendah emisi.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *