Export of Oleochemical Products Increased During The Covid-19 Pandemic

  • English
  • Bahasa Indonesia

The Covid-19 pandemic, which has shocked the entire world community, has not yet shown its end. Despite the decline in Covid-19 confirmation cases in several countries, but these conditions have not yet occurred in Indonesia even though the Government of Indonesia has implemented a Large-Scale Social Restrictions (PSBB) policy. Until Wednesday (5/22/2020), the number of positive confirmed cases of Covid-19 has reached more than 20 thousand cases.

Although the curve of the Covid-19 case in Indonesia has not shown a flatten curve, there is a discourse by the Government to loosen the PSBB policy that is widely discussed by the public. This means that people must be ready to enter the era of new normal life in the pandemic. According to President Jokowi, the new normal era was marked by returning to productive activities while still implementing health protocols. The health protocol indicated by maintain physical distance, wear masks and regularly wash hands (hygiene).

The activity of maintaining hygiene as one of the required health protocols in the pandemic has implications for increasing the needs of various surfactant products (daily care) to maintain body hygiene such as soap, hand sanitizer and detergent. Increased demand for various surfactant products (daily care) also has an impact on increasing raw materials to produce that products.

Palm oil as a raw material for biosurfactant products (daily care) which produces personal care products has also increased. With the ability of palm biosurfactants to bind fats and oils, the use of biosurfactants is quite extensive as a cleanser and has been widely used in daily life such as soaps, shampoos, detergents and other cleaning agents.

oleochemical palm oil

Palm oil as an alternative solution for biosurfactant raw materials that is effective in maintaining hygiene, killing germs, and also being environmentally friendly. Another advantage of palm oil as a raw material of  biosurfactant product is the ability of palm oil, especially lauric oil contained in Palm Kernel Oil which can produce a lot of foam effect and has broad spectrum of microbial properties that are effective in killing bacteria and viruses but still maintain healthy skin.

Increased demand for palm oil as a raw material for biosurfactant products (daily care) during the Covid-19 pandemic did not only occur in Indonesia, but also occurred in various countries. This causes the export of palm oil as an oleochemical (biosurfactant) product also increased. Referring to the Central Statistics Agency data that the performance (volume) of Indonesian oleochemical exports is increased about 31.7 percent and 14.4 percent in Januari and Februari 2020 when compared to the same period in 2019.

In fact, the Association of Indonesian Oleochemical Producers (APOLIN) also estimates that the export performance of oleochemical products in 2020 will increase and positive growth both of the export volume reach 3.4 – 3.7 million tons and the export value reach USD 2.5-2.6 billion.

The palm oil based oleochemical industry is also optimistic in the pandemic Covid-19, because the export market for oleochemical products will not be disrupted even though the country implements a lockdown policy. The main port facilities and distribution channels will continue to operate because oleochemical products needed to produce biosurfactant products (daily care) have been classified as basic needs in the pandemic era, as are food products and medicines.

Pandemi Covid-19 yang menggemparkan seluruh masyarakat dunia seperti belum menunjukkan akan berakhir. Meskipun terjadi penurunan kasus konfirmasi Covid-19 di beberapa negara, namun kondisi tersebut belum terjadi di Indonesia padahal Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hingga hari Rabu (22/5/2020), jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 telah mencapai lebih dari 20 ribu kasus.

Meskipun kurva kasus Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan curva yang melandai, muncul wacana Pemerintah untuk melonggarkan kebijakan PSBB yang marak dibicarakan oleh publik. Artinya masyarakat harus siap memasuki era kehidupan new normal di tengah pandemi. Menurut Presiden Jokowi, era New Normal ditandai dengan kembali produktif melakukan berbagai aktivitas namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan yang dimaksud adalah tetap menjaga jarak, memakai masker ketika berpergian dan rutin mencuci tangan.

Kegiatan menjaga higenitas sebagai salah satu protokol kesehatan yang diwajibkan di tengah pandemi, hal ini akan berimplikasi pada peningakatan kebutuhan berbagai produk surfaktan untuk menjaga higenitas tubuh seperti sabun, hand sanitizer dan deterjen. Peningkatan permintaan berbagai produk surfaktan (daily care) tersebut juga berdampak pada peningkatan bahan baku untuk memproduksi produk tersebut.

Minyak sawit sebagai bahan baku produk biosurfaktan (daily care) yang menghasilkan produk-produk higenitas atau personal care tersebut juga mengalami peningkatan. Dengan kemampuan biosurfaktan sawit dalam mengikat lemak dan minyak membuat penggunaan biosurfaktan cukup luas sebagai pembersih dan telah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti sabun, shampo, deterjen dan bahan-bahan pembersih lainnya.

Minyak sawit hadir sebagai solusi alternatif bahan baku biosurfaktan yang efektif menjaga higenitas, membunuh kuman, dan juga ramah lingkungan. Keunggulan lainnya dari minyak sawit sebagai bahan baku produk biosurfaktan adalah kemampuan minyak sawit khususnya minyak laurat yang terkandung dalam Minyak Inti Kelapa Sawit (Palm Kernel Oil) yang dapat menghasilkan efek busa yang banyak dan memiliki sifat mikroba spektrum luas yang efektif mematikan bakteri dan virus namun tetap menjaga kesehatan kulit.

Peningkatan permintaan minyak sawit sebagai bahan baku produk biosurfaktan (daily care) di masa pandemi Covid-19 ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di berbagai negara. Hal ini menyebabkan ekspor minyak sawit sebagai produk oleokimia (biosurfaktan) juga mengalami peningkatan. Merujuk kepada data Badan Pusat Statistik bahwa kinerja (volume) ekspor oleokimia lndonesia mengalami peningkatan sebesar 31.7 persen dan 14.4 persen pada Januari dan Februari 2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

Bahkan, Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) juga memperkirakan kinerja ekspor produk oleokimia pada tahun 2020 menunjukkan peningkatan dan tumbuh positif  pada tahun 2020 baik dari volume ekspor produk oleokimia Indonesia berkisar 3.4 juta – 3.7 juta ton maupun nilai ekspor antara USD 2.5 miliar sampai USD 2.6 miliar.

Industri oleokimia berbasis sawit juga semkain optimis di tengah pandemi ini, karena pasar ekspor produk oleokimia tidak akan terganggu meskipun negara tersebut mengimplementasi kebijakan lockdown. Fasilitas pelabuhan utama dan jalur distribusi akan tetap beroperasi karena produk oleokimia yang dibutuhkan untuk memproduksi produk biosurfaktan (daily care) sudah tergolong menjadi kebutuhan dasar di era pandemi, sama halnya dengan produk pangan dan obat-obatan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *