Government Policy to Maintain Good Performance of Indonesian Oleochemical Industry

  • English
  • Bahasa Indonesia

Along with the big push to encourage downstream palm oil in the country, this has implications for the development of the oleochemical industry from year to year. This is indicated by the increasing demand for palm oil by the domestic oleochemical industry, as well as the export performance of oleochemical products.

oleochemical

Especially during the COVID-19 pandemic in 2020, when the slogan is “New Normal” by implementing health protocols”, governments around the world have begun to appeal to their people, where demand global for hygiene products/toilleteries (soap, detergent, hand sanitizer) has increased as an effort to break the chain of the spread of the Covid virus. This condition also has implications for the increasing demand for palm oil-based oleochemical products as raw materials for these hygiene products (surfactants).

A blessing in disguise is a proverb that was suitable to describe the domestic oleochemical industry, which continues to grow and provide positive performance during the pandemic. GAPKI data shows that there is an increase in demand for palm oil by the oleochemical industry from 1.05 million tons in 2019 to 1.7 million tons in 2020.

 

The export performance of oleochemicals also increased from 3.27 million tons (USD 2.1 billion) to 3.87 million tons (USD 2.63 billion) during that period. APOLIN also estimates that Indonesia’s oleochemical export performance in 2021 will be greater with an export volume of more than 4 million tons and export valued at USD 3.8 billion. Such performance shows that the oleochemical industry is one of the manufacturing industries that has the potential to contribute more to  economic recovery in Indonesia.

The positive growth of the oleochemical industry during this pandemic is inseparable from the support of the Indonesian government, which has also strengthened the competitiveness of the industry amid increasing global demand. The manufacturing sector is included in the category of high tech, high investment, so it is necessary to support a conducive business climate and ensure the level of industry profitability at an attractive level.

In the web conference initiated by APOLIN and Majalah Sawit Indonesia, the Indonesia government has a set of policies related to the development of downstream industries, especially during the pandemic. Emil Satria (Director of Forest and Plantation Products Industry, Ministry of Industry) explained the government’s policy support for the oleochemical industry.

A policy that is quite crucial for the development of downstreaming is the guarantee of the supply of raw materials through the application of progressive tariffs for export levies in accordance with PMK 191/2020 jo. PMK 76/2021, where the tariff for export levies on raw materials (CPO/CPKO) is higher than downstream products. In addition, the harmonization of export duty rates is also carried out through a cooperation scheme for international market access to ensure the availability of auxiliary materials.

In addition to fiscal policy instruments, the Indonesian government also provides tax incentives for the palm oil-based oleochemical industry, namely; (1) Superdeduction Tax for R&D and Vocational; (2) exemption from import duty for capital goods for the oleochemical industry (Regulation of Ministry of Finance No. 188/2015, Regulaltion of Ministry of Industry No. 19/2010); (3) tax incentives for the industrial sector affected by the pandemic (Regulation of  Ministry of Finance No .188/2015), including the oleochemical sector; and (4) Tax allowance (Regulation of  Ministry of Finance No. 96/2020, Government Regulation No. 78/2019) for new investment/expansion of the oleochemical industry.

The Indonesian government’s policy also focuses on strengthening industrial competitiveness through a gas price discount policy (Presidential Regulation No. 121/2020). The oleochemical industry is also included in the industrial sector that gets this policy, namely the purchase price at the plant gate of around USD6/MMBTU.

This facility has been received by around 20 oleochemical factories from 11 companies and is considered very effective in terms of production cost efficiency, industrial performance improvement and increasing the competitiveness of the oleochemical industry’s export products through the creation of an equal playing field with other producing countries. This natural gas price discount policy is also effective in encouraging new investment or expansion of the oleochemical industry in Indonesia. This is indicated by the new investment of the oleochemical industry in Sei Mangke.

The Indonesian government also granted permission to issue and monitor the Industrial Activity Mobility Operational Permit (Izin Operasional Mobilitas Kegiatan Industri/IOMKI) for the oleochemical industry to continue operating during the pandemic by implementing strict health protocols. The oleochemical industry is also a critical sector that can continue to operate to meet the needs of society. Another incentive during the pandemic is the exemption of import duties for active cleaning ingredients that are still imported as supporting materials for the industry’s personal care.

The changing trend of global consumers preferring renewable and environmentally friendly products, increasing awareness of personal and environmental sanitation, and competitive prices are the right momentum to increase the market potential of palm oil-based oleochemical products. Therefore, the Indonesian Ministry of Industry has drawn up strategic steps to increase the competitiveness of the palm oil-based oleochemical industry in Indonesia amid this momentum. The strategic steps in question are the Certain Natural Gas Price Policy, segregation the quality of palm oil as a raw material for the oleochemical industry, and commercializing new technologies with pilot plants.

These various government policy instruments are expected to encourage the development of a competitive, inclusive and sustainable domestic palm oil-based oleochemical industry, so as to create higher added value and produce a multiplier effect and become the foundation of national economic recovery.

Seiring dengan terus didorongnya hilirisasi sawit di dalam negeri berimplikasi pada berkembangnya industri oleokimia dari tahun ke tahun. Hal tersebut ditunjukkan dari peningkatan demand minyak sawit oleh industri oleokimia dalam negeri maupun kinerja ekspor produk oleokimia.

oleochemical

Terlebih di masa pandemi Covid-19 tahun 2020, ketika slogan “New Normal” dengan melaksanakan protokoler kesehatan mulai dihimbau pemerintah diseluruh dunia kepada masyarakatnya, dimana demand global terhadap produk higenitas/toilleteries (sabun, deterjen, hand sanitizer) mengalami peningkatan sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran virus Covid. Kondisi ini juga berimplikasi pada meningkatnya permintaan produk oleokimia berbasis minyak sawit sebagai bahan baku dari produk higenitas (surfaktan) tersebut.

A blessing in disguise adalah pepatah asing yang teat untuk menggambarkan industri oleokimia domestik yang terus tumbuh dan memberikan kinerja positif di masa pandemi. Data GAPKI menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan demand minyak sawit oleh industri oleokimia dari 1.05 juta ton tahun 2019 menjadi 1.7 juta ton tahun 2020.

Kinerja ekspor oleokimia juga mengalami peningkatan dari 3.27 juta ton (USD 2.1 miliar) menjadi 3.87 juta ton (USD 2.63 miliar) selama periode tersebut. APOLIN juga memperkirakan kinerja ekspor oleokimia Indonesia tahun 2021 lebih besar dengan volume ekspor lebih dari 4 juta ton yang bernilai sebesar USD 3.8 miliar. Dengan kinerja yang demikian menunjukkan bahwa industri oleokimia menjadi salah satu industri manufaktur yang berpotensi besar untuk berkontribusi dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

Menggeliatnya industri oleokimia di masa pandemi ini juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Indonesia yang turut memperkuat daya saing industri ditengah meningkatnya demand global. Sektor industri pengolahan termasuk dalam kategori high tech, high investment sehingga perlu didukung iklim usaha yang kondusif dan menjamin tingkat profitabilitas industri pada level yang menarik.

Dalam webinar yang digagas oleh APOLIN dan Majalah Sawit Indonesia, Pemerintah Indonesia memiliki seperangkat kebijakan terkait pengembangan industri hilir khususnya di masa pandemi. Emil Satria (Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin RI) memaparkan terkait dukungan kebijakan pemerintah untuk industri oleokimia.

Kebijakan yang cukup krusial untuk perkembangan hilirisasi adalah jaminan pasokan bahan baku melalui penerapan tarif progresif pungutan ekspor (levy) sesuai dengan PMK 191/2020 jo PMK 76/2021, dimana dimana tarif pungutan ekspor bahan baku (CPO/CPKO) lebih tinggi dibandingkan produk hilirnya. Selain itu, dilakukan juga harmonisasi tarif Bea Keluar hingga melalui skema kerjasama akses pasar internasional untuk menjamin ketersediaan bahan penolong.

Selain instrumen kebijakan fiskal, Pemerintah Indonesia juga memberikan insentif perpajakkan bagi industri oleokimia berbasis sawit yaitu; (1) Superdeduction Tax untuk Litbang dan Vokasi; (2) pembebasan bea masuk untuk barang modal untuk industri oleokimia (PMK 188/2015, Permenperin 19/2010); (3) insentif perpajakkan untuk sektor industri yang terdampak pandemi (PMK 188/2015), termasuk sektor oleokimia; dan (4) Tax allowance (PMK 96/2020, PP 78/2019) untuk investasi baru/perluasan industri oleokimia.

Kebijakan pemerintah Indonesia juga berfokus pada penguatan daya saing industri melalui kebijakan diskon harga gas (Perpres 121/2020). Industri oleokimia juga termasuk dalam sektor industri yang mendapat fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yaitu harga beli di plant gate sekitar USD6/MMBTU.

Fasilitas ini telah diterima oleh sekitar 20 pabrik oleokimia dari 11 perusahaan dan dirasakan sangat efektif dalam untuk efisiensi biaya produksi, peningkatan kinerja industri untuk mengimbangi peningkatan demand dan mendukung daya saing produk ekspor industri oleokimia melalui terciptanya level equal playing field dengan negara produsen lainnya. Kebijakan diskon harga gas bumi ini juga efektif untuk mendorong investasi baru atau perluasan industri oleokimia di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dengan dengan investasi baru industri oleokimia di Sei Mangke.

Pemerintah Indonesia juga memberikan izin penerbitan dan monitoring Izin Operasional Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) bagi industri oleokimia untuk tetap beroperasi di masa pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Industri oleokimia juga termasuk dalam sektor kritikal yang dapat tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Insentif lainnya dimasa pandemi adalah pembebasan bea masuk untuk bahan aktif pembersih yang masih diimpor sebagai bahan penolong industri personal care.

Perubahan trend konsumen global yag lebih memilih produk terbarukan dan ramah lingkungan, meningkatnya kesadaran akan sanitasi diri pribadi serta lingkungan, dan harga yang kompetitif menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan potensi pasar produk oleokimia berbasis minyak sawit. Oleh karena itu, Kementerian Perindustri RI telah menyusun langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri oleokimia berbasis minyak sawit di Indonesia ditengah momentum tersebut. Langkah strategis yang dimaksud adalah Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu, segerasi kualitas minyak sawit sebagai bahan baku industri oleokimia, dan komersialisasi teknologi baru dengan pilot plant.

Berbagai instrumen kebijakan pemerintah tersebut diharapkan dapat mendorong perkembangan industri oleokimia berbasis sawit di dalam negeri yang berdaya saing, inklusif dan berkelanjutan sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi dan menghasilkan multiplier effect dan menjadi tumpuan pemulihan ekonomi nasional.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *