LOGO PASPI WEB

Harga Pupuk Non-Subsidi Semakin Mahal, Apa Dampaknya Terhadap Industri Sawit?

Daftar Isi

Bak jatuh tertimpa tangga adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan nasib industri sawit Indonesia saat ini, khususnya petani sawit. Selain karena anjloknya harga TBS petani pasca larangan ekspor sementara yang terus berlanjut hingga saat ini, kenaikan harga pupuk non-subsidi juga semakin membebani petani sawit. Peningkatan harga pupuk non-subsidi ini sudah dikeluhkan oleh petani sawit Indonesia sejak pertengahan tahun 2021 dan terus berlanjut hingga saat ini.

Merujuk pada CNBC (14/6/2022), kenaikan harga pupuk non-subsidi yang sering digunakan oleh petani sawit mencapai 50-70 persen. Harga pupuk NPK saat ini mencapai Rp. 540,000 per sak, harga pupuk Urea Rp. 520,000 per sak dan harga pupuk KCL Rp. 930,000 per sak.

Di kutip dari Bisnis.com (9/1/2022) mengungkapkan posisi harga pupuk non-subsidi pada kondisi normal (pada akhir tahun 2020) hanya sebesar Rp. 265,000 – Rp. 285,000 per sak untuk pupuk Urea, Rp. 400,000 per sak untuk pupuk NPK Mutiara dan Rp. 170,000 per sak untuk pupuk NPK Phonska.

Harga pupuk
Foto Gudang Pupuk Indonesia (Dok: Bisnis.com)

Apa yang Menyebabkan Harga Pupuk Non-Subsidi Melonjak Tinggi?

Kenaikan harga bahan baku menjadi faktor yang menyebabkan melonjaknya harga pupuk non-subsidi. Industri pupuk di Indonesia mendapatkan sebagian besar bahan baku pupuk berasal dari impor. Meskipun Indonesia bisa menghasilkan Nitrogen terbaik dan Urea yang cukup besar, namun tanpa Fosfat dan Kalium impor dari China dan Rusia maka industri pupuk dalam negeri tidak bisa menghasilkan pupuk NPK. Selain China dan Rusia, Indonesia juga mengimpor bahan baku pupuk (khususnya Fosfat dan Kalium) dari Jerman, Kanada dan Belarusia.

Bahan baku pupuk seperti Fosfat dan Kalium merupakan bahan baku yang tidak tersedia dan tidak dapat diproduksi di dalam negeri karena produk tersebut merupakan hasil tambang yang terdapat di luar negeri. Sebenarnya Indonesia memiliki sumber-sumber fosfat dari alam seperti rock phosphate, fosfat alam, dan fosfat guano. Namun kandungan P2O5 pada bahan-bahan tersebut relatif kecil (kurang dari 20 persen). Sehingga sumber Fosfat yang sesuai dengan spesifikasi untuk menghasilkan pupuk berkualitas tinggi (kadar P2O5 yang tinggi dan mudah larut seperti MAP, DAP dan TSP) diperoleh dari negara lain melalui impor.

Hal ini menunjukkan bahwa industri pupuk Indonesia memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pasar impor. Artinya jika terjadi dinamika eksternal di negara-negara sumber (eksportir) bahan baku pupuk maupun dinamika global, maka akan mengguncang industri dan pasar pupuk Indonesia.

Korelasi tersebut menjelaskan fenomena peningkatan harga pupuk non-subsidi yang terjadi di Indonesia dalam satu tahun terakhir. Dilansir dari berbagai sumber, PASPI merangkum beberapa penyebab kenaikan harga bahan baku pupuk dunia yang mengakibatkan lonjakan harga pupuk non-subsidi di Indonesia, adalah sebagai berikut:

1.        Moratorium Ekspor oleh China

China merupakan eksportir bahan baku pupuk terbesar di dunia, diantaranya adalah Fosfat dan Urea. Selain memenuhi kebutuhan negara lain sebagai eksportir, China juga memiliki prioritas untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri yang sangat besar. Oleh karena itu, Pemerintah China memberlakukan moratorium ekspor sementara bahan baku pupuk (seperti Fosfat) sejak akhir Juli 2021 hingga Juli 2022. Tujuan diimplementasikannya kebijakan tersebut adalah untuk menjamin ketersediaan pupuk di dalam negeri dengan harga yang terjangkau. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian mitigasi Pemerintah China di tengah peningkatan harga pupuk di dalam negeri akibat peningkatan demand ekspor dan tingginya harga produk energi dunia.

Moratorium Ekspor
Foto Pekerja Pelabuhan China yang akan Mengekspor Pupuk (Dok: Bloomberg)

2.        Pembatasan Kuota Ekspor Rusia

Rusia memiliki peran yang cukup besar dalam industri pupuk dunia. Pangsa Rusia dalam pupuk Nitrogen dunia mencapai 15-20 persen, 17 persen dalam pupuk Potashium dunia serta produsen utama untuk Kalium dan Fosfat. Secara keseluruhan, pangsa Rusia pada pupuk dunia mencapai 13-16 persen.

Sama seperti Pemerintah China, Pemerintah Rusia juga menerapkan kebijakan proteksionisme dengan pembatasan kuota ekspor bahan baku pupuk sejak tanggal 1 Desember 2022 hingga 31 Mei 2022. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengatasi kelangkaan pupuk di dalam negeri dan membantu menurunkan kenaikan harga pangan di Rusia di tengah lonjakan harga gas alam.

Kebijakan pembatasan kuota ekspor bahan baku pupuk dan pupuk Rusia tersebut kemudian diperpanjang pada Juli hingga Desember 2022. Perpanjangan kebijakan tersebut bertujuan untuk mengamankan suplai pupuk untuk kebutuhan dalam negeri khususnya selama penaburan biji-bijian untuk musim dingin dan musim semi. Invasi Rusia ke Ukraina yang juga disertai dengan embargo perdagangan Rusia juga menjadi argumen yang menguatkan pemerintah negara tersebut untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri.

3.        Kenaikan Harga Komoditas Global

Pandemi Covid-19 yang terjadi di tahun 2020 telah menimbulkan disrupsi supply chain di pasar dunia. Perubahan skedul produksi, kekurangan peti kemas dan gangguan lalu lintas kapal secara internasional, masalah ketersediaan tenaga kerja, karantina dan lainnya sebagai dampak lanjutan dari Pandemi Covid-19, nampaknya masih mengganggu produksi dan pasokan barang secara internasional hingga saat ini. Disrupsi supply tersebut telah memicu peningkatan biaya produksi dan biaya transportasi logistik sehingga berdampak pada kenaikan harga komoditas global (cost push inflation).

Harga bahan baku pupuk (DAP, Phosphat Rock, Pothasium Chloride, TSP, Urea) dan harga energi seperti harga produk energi (minyak mentah dan gas) diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 33-147 persen pada periode tahun 2020-2022. Kenaikan harga bahan baku pupuk tersebut juga diperparah dengan terjadinya krisis energi di Eropa dan dampak perang Rusia dan Ukraina.

Dampak Mahalnya Harga Pupuk Non-Subsidi terhadap Industri Sawit Nasional

Tingginya ketergantungan industri pupuk Indonesia terhadap bahan baku impor menyebabkan harga pupuk dalam negeri sangat rentan dipengaruhi dinamika harga dunia. Seperti kondisi yang terjadi pada saat ini, dimana harga pupuk mengalami lonjakan harga yang signifikan akibat moratorium ekspor China, pembatasan kuota ekspor Rusia, Pandemi Covid-19, krisis energi Eropa dan Perang Rusia-Ukraina. Harga pupuk semakin mahal turut berdampak pada sektor pertanian Indonesia sebagai end-user produk tersebut, termasuk industri sawit nasional.

Dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha perkebunan sawit, khususnya petani, semakin diperparah dengan dikeluarkannya tanaman kelapa sawit sebagai bagian dari alokasi pupuk subsidi per Juli 2022. Naiknya bahan baku pupuk di pasar global sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina menyebabkan Pemerintah Indonesia melakukan pembatasan alokasi pupuk subsidi hanya untuk komoditas padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, kakao dan tebu rakyat.

Mengingat biaya pupuk merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi minyak sawit dengan proporsi mencapai 40-60 persen, kenaikan harga pupuk non-subsidi ini menyebabkan Harga Pokok Produk (HPP) meningkat tajam. Kondisi ini menyebabkan margin yang diterima pelaku perkebunan sawit semakin tipis. Anjloknya harga TBS yang diterima petani juga semakin merugikan karena biaya produksi lebih tinggi dibandingkan harga jual. Jika kondisi ini terus dibiarkan, banyak perkebunan sawit rakyat di Indonesia yang akan gulung tikar.

Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Prof. Dr. Almasdi Syahza, Ketua LPPM (Universitas Riau) menjelaskan bahwa biaya pupuk berkontribusi besar dalam komponen biaya produksi sawit sehingga jika harga pupuk terus meningkat maka biaya produksi juga ikut tinggi. Hal ini menyebabkan keuntungan petani semakin terpangkas bahkan mengarah minus. Secara makro, kenaikan harga pupuk juga akan mempengaruhi NTP Petani dan berdampak negatif terhadap multiplier effect kelapa sawit.

Selain merugikan para pelaku usaha perkebunan sawit (khususnya petani) dari segi pendapatan, mahalnya pupuk non-subsidi juga berdampak pada penurunan produktivitas sawit. Hal ini dikarenakan pemupukan dilakukan untuk menambahkan unsur hara secara efektif dan berimbang yang diberikan secara langsung ke tanaman maupun tidak langsung ke dalam tanah sehingga meningkatkan produktivitas tanaman. Penggunaan pupuk juga akan mempengaruhi sekitar 50-70 persen produktivitas tanaman.

Dampak Mahalnya Harga Pupuk
Proses Pemupukan di Perkebunan Sawit (Dok: Mertani)

Peningkatan harga pupuk non-subsidi tersebut menjadi disinsentif bagi pelaku usaha perkebunan untuk melakukan budidaya yang optimal. Pelaku usaha perkebunan sawit akan mengurangi penggunaan pupuk untuk tanaman kelapa sawitnya. Implikasinya akan menurunkan produktivitas sehingga menyebabkan penurunan produksi TBS pada pada 6-24 bulan bulan ke depan. Kondisi ini akan merugikan perusahaan perkebunan dan petani sawit. Penurunan produksi tersebut juga berpotensi besar mengancam eksistensi industri sawit Indonesia dan mempengaruhi supply-demand minyak nabati global.

Untuk meminimalisir potensi dampak kerugian industri sawit nasional akibat peningkatan harga pupuk non-subsidi, maka diperlukan langkah strategis untuk meningkatkan inovasi substitusi pupuk anorganik dengan pupuk organik/biofertilizer lokal sehingga akan mengurangi kenaikan biaya produksi perkebunan sawit dan mencegah penurunan produktivitas. Untuk efisiensi biaya produksi, pelaku usaha perkebunan sawit juga dapat memanfaatkan biomassa sawit seperti tandan kosong, daun dan pelepah maupun limbah POME, yang dapat diolah kembali untuk dijadikan pupuk organik.

Selain mencampurkan dengan pupuk organik, strategi lainnya yang dapat dilakukan untuk menyikapi kondisi mahalnya harga pupuk non-subsidi namun dapat tetap meningkatkan produksi adalah perbaikan manajemen panen dan sistem pengangkutan untuk mengurangi loss serta menggunakan sistem manajemen pemupukan yang efisien. Manajemen pupuk yang efisien terkait dengan jenis pupuk atau teknologi pemupukkan tertentu. Misalnya teknik pemupukkan seperti tabur atau pocket, serta mekanisasi yang harus disesuaikan dengan topografi lahan dan iklim atau curah hujan sehingga dengan kuantitas pupuk yang digunakan tetap akan menghasilkan produktivitas yang optimal.

BAGIKAN ARTIKEL INI

5 1 vote
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Sintikhe Lourenza
Sintikhe Lourenza
24/06/2022 9:50 AM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

bagus

ARTIKEL LAINNYA

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
MARI BERLANGGANAN PASPI NEWSLETTER