History of Palm Cooking Oil in Indonesia

  • English
  • Bahasa Indonesia

Cooking oil is one of nine basic necessities (Sembako) that has extremely important role to the people of Indonesia. This is because cooking oil has become an important part of the Indonesian cuisine. Apart from the increase in population and purchasing power, the eating habit of the Indonesians, who prefer deep-fried food is the driving factor behind the large cooking oil market in Indonesia.

Besides being important for Indonesians, cooking oil is also important for macroeconomic stability conditions. This is shown by the phenomenon of the scarcity of cooking oil, which can have an impact on the social, economic, and political conditions of the nation. This condition causes increased prices, which has an impact on inflation.

This shows that the role of cooking oil is very important for people’s lives, especially in Indonesia. But do you know the history of cooking oil?

The origin of the use of cooking oil in the world begins with the ancient Chinese, who started frying with oil from meat fat and then turned it into sesame oil in the San Guo era. The use of vegetable oils was also more varied, such as soybean oil in the Song Dynasty and peanut oil in the Qing Dynasty. Meanwhile, the history of the use of cooking oil in western countries started with cottonseed oil and then turned it into soybean oil.

Unlike other countries in the world, the history of cooking oil in Indonesia begins with the use of coconut oil. Indonesia, which has favorable geographical with a long coastline and with the potential of coconut trees. Therefore, the ancestors of the Indonesian people have always used coconut oil or kelentik oil as a cooking oil.

However, since the 90s, coconut cooking oil has begun to disappear from the market. This is due to the trade war with western countries as producers of other vegetable oils, such as soybean oil, corn oil, canola oil. Competitors use tricks to spread negative rumors that coconut oil is the source of all diseases. Because Indonesian nutritionists and other coconut oil producer countries can’t argue with this issue, coconut oil is avouded and feared by consumers.

Apart from the black campaign, cooking oil from coconut oil is also considered less competitive in price or less economical. The selling price of raw materials (raw coconut) is relatively high, so it is more profitable to sell raw coconut than to process and sell coconut cooking oil.

palm cooking oil

The same thing was also conveyed by Sahat Sinaga in a Webinar initiated by Majalah Sawit Indonesia on Wednesday (23/6). The Executive Director of GIMNI said that until before 1978, the cooking oil consumed by the Indonesian people and Southeast Asia was coconut oil. However, the war and the policy of controlling crop commodities in the Philippines for coconut caused a decline in production and soaring price. Since then, other alternative vegetable oils have been sought as raw materials for cooking oil.

Palm oil has emerged as an alternative raw material for cooking oil, especially in Southeast Asia, such as Indonesia and Malaysia. Historical records of De Oliepalm and Investigations on Oilpalms mention that the introduction of oil palm to Indonesia for the first time occurred in 1848, until commercial plantations were developed in Pulo Raja (Asahan) and Sungai Liput (Aceh) in 1911. The initial goal of developing oil palm plantations in Indonesia was to produce palm oil, which was then exported to meet the needs of Europeans during the Industrial Revolution.

 

However, along with the discovery of palm oil separation technology in 1974, and began to be applied in Indonesia in 1978. This technology produces a liquid fraction or palm olein and a solid fraction or palm stearine. The liquid phase of palm olein is the raw material for making palm cooking oil.

Palm cooking oil has several advantages, such as stability at high temperatures during frying (heat resistance) both against oxidation or other degradation processes, so that palm cooking oil has a longer service life. In addition, palm cooking oil is also odorless, tasteless and can produce tastier and more crispy food (if fried using the deep-frying technique). With these advantages and characteristics, palm cooking oil can be used in cooking practices ranging from shallow frying, frying, and deep frying. Meanwhile, coconut cooking oil cannot be used at high temperatures or can only be used at a medium heat of around 185 degrees Celsius because it will ignite.

The high content of vitamin A (beta carotene) in palm oil also makes palm cooking oil very special. However, the industry produces palm cooking oil with a clear golden yellow color due to due the preferences of Indonesian consumers who are familiar with the clear and transparent coconut cooking oil and unaware of the culture of eating red palm oil from African. To increase the preference of Indonesian consumers for palm cooking oil at that time, a campaign and promotion of palm oil was carried out as a golden oil, that has a clear golden yellow color. This has implications for the removal of beta carotene, which causes the reddish-orange pigment.

On the other hand, through SNI Minyak Goreng (SNI 7709:2019), the Indonesian government requires industry to fortify vitamin A and/or pro-vitamin A in palm cooking oil, where vitamin A is a synthetic vitamin which is mostly sourced from imports.

These two things are very contradictory, on the one hand, eliminating beta carotene as a vitamin A precursor is due to consumer preference, while on the other hand, there is a mandatory policy to fortify vitamin A into cooking oil. Besides that, palm oil stakeholders have begun campaigning for the consumption of red palm oil, which is expected to raise the awareness of Indonesian consumers to consume processed food products (cooking oil and others) that can benefit the body.

Minyak goreng adalah salah satu dari sembilan bahan pokok (Sembako) yang peranannya cukup penting bagi masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena minyak goreng telah menjadi bagian penting dalam kuliner masyarakat Indonesia. Eating habit masyarakat Indonesia yang lebih menyukai makanan yang digoreng (deep fried) menjadi faktor pendorong besarnya pasar minyak goreng Indonesia selain karena peningkatan populasi penduduk dan daya beli.

Selain penting bagi masyarakat Indonesia, minyak goreng juga penting bagi kondisi stabilitas makroekonomi. Hal tersebut ditunjukkan dari fenomena kelangkaan minyak goreng dapat menimbulkan dampak bagi kondisi sosial, ekonomi dan politik bangsa Indonesia. Kondisi ini menyebabkan melonjaknya harga yang berimbas pada inflasi.

Hal ini menunjukkan bahwa peranan minyak goreng sangat besar bagi kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia. Tapi tahukah kamu sejarah minyak goreng?

Asal usul penggunaan minyak goreng di dunia diawali oleh orang Tiongkok kuno yang mulai menggoreng dengan minyak yang keluar dari lemak daging kemudian beralih menjadi minyak wijen pada zaman San Guo. Penggunaan minyak nabati juga semakin bervariasi seperti minyak kedelai pada zaman Dinasti Song dan minyak kacang tanah pada Dinasti Qing. Sementara itu, sejarah penggunaan minyak goreng di negara barat berawal dari minyak biji kapas kemudian beralih menjadi minyak kedelai.

Berbeda dengan negara lain di dunia, sejarah minyak goreng di Indonesia diawali dengan penggunaan minyak kelapa. Indonesia yang dianugerahi kondisi geografis dengan garis pantai yang sangat panjang menyimpan potensi tumbuhanya pohon kelapa. Oleh karena itu, sejak jaman nenek moyang bangsa Indonesia sudah menggunakan minyak kelapa atau yang dikenal sebagai minyak kelentik untuk dijadikan sebagai minyak goreng.

Namun, sejak dekade 90-an minyak goreng dari minyak kelapa semakin hilang dipasaran. Hal ini disebabkan karena perang dagang dengan negara barat sebagai produsen minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak jagung, minyak kanola. Pihak kompetitor menggunakan trik menyebarkan isu negatif bahwa minyak kelapa menjadi sumber dari segala penyakit. Ahli gizi di Indonesia maupun negara produsen minyak kelapa lainnya tidak mampu membantah isu tersebut sehingga minyak kelapa dijauhi dan ditakuti oleh konsumen.

Selain karena black campaign, minyak goreng dari minyak kelapa juga dianggap kurang kompetitif harganya atau kurang ekonomis. Harga jual bahan baku yaitu kelapa mentah relatif tinggi sehingga lebih menguntungkan menjual kelapa mentah dibandingkan mengolah dan menjual minyak goreng kelapa.

palm cooking oil

Sahat Sinaga juga memaparkan hal yang sama dalam Webinar yang diinisiasi oleh Majalah Sawit Indonesia pada Rabu (23/6). Direktur Eksekutif GIMNI ini menyebutkan hingga sebelum tahun 1978, minyak goreng yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara adalah minyak kelapa. Namun, adanya perang dan kebijakan pembatasan/kontrol komoditas tanaman di Filipina untuk tanaman kelapa menyebabkan produksinya menurun dan harganya melonjak tinggi. Sejak saat itu, dicari alternatif minyak nabati lain sebagai bahan baku minyak goreng.

Minyak sawit muncul sebagai salah satu alternatif bahan baku minyak goreng khususnya di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Catatan sejarah De Oliepalm dan Investigations on Oilpalms menyebutkan introduksi kelapa sawit ke Indonesia untuk pertama kali terjadi tahun 1848 hingga dikembangkan perkebunan komersial di Pulo Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh) tahun 1911. Tujuan awal dari pengembangan perkebunan sawit di Indonesia adalah untuk menghasilkan minyak sawit yang kemudian diekspor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Eropa di masa Revolusi Industri.

Namun, seiring dengan ditemukannya teknologi pemisahaan minyak sawit pada tahun 1974 dan mulai diterapkan di Indonesia tahun 1978. Teknologi pemisahaan minyak sawit menghasilkan liquid fraction atau palm olein dan solid fraction atau palm stearine. Fase cair pada palm olein merupakan bahan baku pembuatan minyak goreng sawit.

Minyak goreng sawit memiliki beberapa keunggulan seperti stabilitas pada suhu tinggi selama penggorengan (tahan panas) baik terhadap oksidasi atau proses degradasi lainnya sehingga menjadinya minyak goreng sawit mempunyai umur pakai yang lebih lama. Selain itu, minyak goreng sawit juga tidak berbau, tidak ada rasanya dan dapat menghasilkan makanan lebih enak dan lebih crispy (jika digoreng dengan teknik deep frying). Dengan keunggulan dan karakteristik demikian, minyak goreng sawit dapat digunakan pada praktik memasak dari mulai menumis (shallow frying), menggoreng (frying) dan menggoreng pada suhu tinggi (deep frying). Sedangkan minyak goreng kelapa tidak dapat dipakai pada suhu tinggi atau hanya bisa dipakai pada api sedang sekitar 185 derajat celcius karena akan menyala.

Kandungan vitamin A (beta carotene) yang sangat tinggi pada minyak sawit juga membuat minyak goreng sawit sangat spesial. Namun, karena preferensi konsumen Indonesia yang lebih dahulu mengenal minyak goreng kelapa yang jernih dan bening serta ketidaktahuan budaya makan minyak sawit merah dari bangsa Afrika membuat industri memproduksi minyak goreng sawit dengan warna jernih kuning keemasan. Untuk meningkatkan preferensi konsumen Indonesia terhadap minyak goreng sawit pada masa itu hingga dibuat kampanye dan promosi minyak sawit sebagai golden oil yang berwarna jernih kuning keemasan. Hal ini berimplikasi pada dihilangkannya kandungan beta carotene yang menyebabkan pigmen warna orange kemerahan.

Di sisi lain melalui SNI Minyak Goreng (SNI 7709:2019), Pemerintah Indonesia mewajibkan industri untuk melakukan fortifikasi vitamin A dan atau pro-vitamin A pada minyak goreng sawit, dimana vitamin A merupakan vitamin sintesis yang sebagian besar bersumber dari impor.

Kedua hal ini sangatlah kontradiksi, satu sisi menghilangkan beta carotene sebagai prekusor vitamin A karena masalah preferensi konsumen dan di sisi lain ada kebijakan mandatori untuk menambahkan (fortifikasi) vitamin A pada minyak goreng. Di lain pihak, stakeholder sawit juga sudah mulai mengkampanyekan konsumsi minyak sawit merah sehingga diharapkan meningkatkan awareness konsumen Indonesia untuk mengkonsumsi produk pangan olahan (minyak goreng maupun lainnya) yang bernutrisi sehingga dapat bermanfaat bagi tubuh.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *