India has Demanding of Certified Sustainable Palm Oil (CSPO)

  • English
  • Bahasa Indonesia

The large population of India which reaches more than 1.3 billion or occupies the second position in the world as well as the growth of industrial and economic activity in this country, has implications to the high demand and consumption of vegetable oils. One of the vegetable oils that Indian people are interested in is palm oil.

Palm oil has succeeded in shifting the dominance of rapeseed oil and soybean oil in the structure of Indian vegetable oil consumption. In fact, since 2000, palm oil has become a vegetable oil that is widely consumed by Indian consumers with an increasing share of consumption, meaning that India is increasingly dependent on palm oil. Based on USDA data, India is also listed as the country with the second largest palm oil consumption in the world after Indonesia, with an average consumption of 9.4 million tonnes per year.

Most of India’s palm oil consumption is used to fulfill cooking oil needs, both in the form of bulk/unbranded (60 percent) and packaged/branded (30 percent), and the rest is used for industrial needs. The factor driving the high level of palm oil consumption in India is the price which is more competitive than other vegetable oils.

This factor fulfills the preferences of Indian consumers, most of whom belong to the low to middle income economic class. The Indian government has also been importing palm oil in bulk form and processing it into palm cooking oil, then distributing and selling it to low-income people at subsidized prices. So that the consumption of palm oil as a food product (palm cooking oil) can maintain the food security of Indian society as well as the inflation rate.

Although the Indian government through the National Mission on Oilseeds and Oil Palm (NMOOP) scheme, which is a domestic vegetable oil production policy (including palm oil), has not been able to meet the large demand for Indian palm oil. Therefore, most of India’s palm oil needs are still met from imports. India is also listed as the largest importer of palm oil in the world with a share of 20.4 percent during the 2015-2019 period.

CSPO Palm oil
Source: ipqi.org

Besides, being marked by the high import tariffs imposed on oil (CPO and RPO) as a form of protection, currently the import dynamics of the Indian palm oil market are also starting to lead to demands for the fulfillment of Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) for palm oil to be exported to the country. In contrast to the markets of the European Union and the United States, India is the largest importer of palm oil in the world, where so far it is considered that the country’s palm oil import policy has not been linked to environmental issues which are widely blamed as the impact of the development of the palm oil industry.

But now, the certification of palm oil sustainability as an indicator that must be met to export palm oil is actively being discussed in India. The movement was initiated by RSPO India in collaboration with the Center for Responsible Business, Rainforest Alliance and WWF India. In fact, this collaboration has also given birth to the Sustainable Palm Oil Coalition for India in October 2018, which aims to promote and lobby the Indian government to encourage the consumption and trade of sustainable palm oil (CSPO certified) in India.

The CSPO-certified palm oil will trade in the Indian market at a premium price is estimated at around USD 30 per tonne. Indian palm oil consumers feel that this price level will be difficult to fulfill (not affordable) most of whom are low to middle income and tend to be relatively price-sensitive. This means that if there is an increase in the price of palm cooking oil, the decline in demand for this product will be greater, and vice versa. Meanwhile, Indian consumers who have middle to upper income as the right market segment for CSPO palm oil prefer to consume other vegetable oils that are considered healthier such as sunflower oil or rice bran oil than palm oil.

This shows that if the CSPO scheme is implemented, it is feared that the Indian consumers who actually consumes palm oil (low-middle income consumers) will not be able to absorb the CSPO palm oil, because the price more expensive. In addition, the risk of threats to Indian food security and high inflation that could trigger other macroeconomic problems, might occur in India.

Besarnya populasi penduduk India yang mencapai lebih dari 1.3 miliar atau menempati posisi kedua di dunia serta pertumbuhan industri dan aktivitas ekonomi di negara ini, berimplikasi pada tingginya kebutuhan dan konsumsi minyak nabati. Salah satu minyak nabati yang diminati oleh masyarakat India adalah minyak sawit.

Minyak sawit berhasil menggeser dominasi minyak rapeseed dan minyak kedelai dalam struktur konsumsi minyak nabati India. Bahkan sejak tahun 2000, minyak sawit menjadi minyak nabati yang banyak dikonsumsi oleh konsumen India dengan pangsa konsumsi yang semakin meningkat, artinya India semakin bergantung kepada minyak sawit. Berdasarkan data USDA, India juga tercatat sebagai negara dengan tingkat konsumsi minyak sawit kedua terbesar di dunia setelah Indonesia, dengan rata-rata konsumsi sebesar 9.4 juta ton per tahun.

Sebagian besar konsumsi minyak sawit India digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng baik dalam bentuk curah/unbranded (60 persen) maupun kemasan/branded (30 persen), dan sisanya digunakan untuk kebutuhan industri. Faktor yang mendorong tingginya tingkat konsumi minyak sawit di India adalah harganya yang lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Faktor tersebutlah yang sesuai dengan preferensi konsumen India yang sebagian besar tergolong kelas ekonomi dengan pendapatan yang rendah hingga. Pemerintah India juga selama ini mengimpor minyak sawit dalam bentuk bulk dan mengolah menjadi minyak goreng sawit, kemudian mendistribusikan dan menjual kepada masyarakat yang berpendapatan rendah pada tingkat harga subsidi. Sehingga konsumsi minyak sawit sebagai produk pangan (minyak goreng sawit) dapat menjaga ketahanan pangan masyarakat India sekaligus menjaga tingkat inflasi.

Meskipun pemerintah India melalui skema National Mission on Oilseeds and Oil Palm (NMOOP) yang merupakan kebijakan produksi minyak nabati (termasuk minyak sawit) domestik, namun produksi domestik tersebut belum mampu memenuhi besarnya kebutuhan minyak sawit India. Oleh karena itu, sebagian besar kebutuhan minyak sawit India masih dipenuhi dari impor. India juga tercatat sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa mencapai 20.4 persen selama periode 2015-2019.

CSPO Palm oil
Source: ipqi.org

Selain diwarnai oleh tingginya tarif impor yang dikenakan untuk minyak (CPO dan RPO) sebagai bentuk proteksi, saat ini dinamika impor pasar minyak sawit India juga mulai mengarah pada tuntutan terpenuhinya Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) untuk minyak sawit yang akan diekspor ke negara tersebut. Berbeda dengan pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat, India sebagai negara importir minyak sawit terbesar di dunia, dimana selama ini dianggap kebijakan impor minyak sawit negara tersebut belum mengkaitkan dengan isu lingkungan yang banyak ditudingkan oleh negara lain sebagai dampak dari perkembangan industri minyak sawit.

Namun kini, sertifikasi keberlanjutan minyak sawit sebagai indikator yang harus terpenuhi untuk mengekespor minyak sawit mulai aktif dibicarakan di India. Gerakan tersebut digagas oleh RSPO India yang berkolaborasi dengan Centre for Responsible Business, Rainforest Alliance dan WWF India. Bahkan kolaborasi tersebut juga telah melahirkan Sustainable Palm Oil Coalition for India pada Oktober 2018, yang bertujuan untuk mempromosikan dan me-lobby pemerintah India untuk mendorong konsumsi dan perdagangan minyak sawit berkelanjutan (bersertifikat CSPO) di India.

Minyak sawit yang telah bersertfikat CSPO akan diperdagangkan di pasar India dengan harga premium dengan estimasi harga sekitar USD 30 per ton. Tingkat harga tersebut dirasa akan sulit dipenuhi oleh konsumen minyak sawit India yang sebagian besar tergolong berpendapatan rendah hingga menengah dan cenderung relatif price-sensitive. Artinya, jika terjadi peningkatan harga minyak goreng sawit maka penurunan permintaan produk tersebut lebih besar, dan sebaliknya. Sementara, konsumen India yang memiliki pendapatan menengah ke atas sebagai segmen pasar yang tepat untuk minyak sawit ber-CSPO, lebih prefer mengkonsumsi minyak nabati lainnya yang dianggap lebih sehat seperti minyak bunga matahari atau rice bran oil dibandingkan minyak sawit.

Hal ini menunjukkan jika skema CSPO diimplementasikan, konsumen (aktual) India yang mengkonsumsi minyak sawit (low-middle income consumers) dikhawatirkan tidak mampu menyerap minyak sawit ber-CSPO tersebut, karena harganya yang lebih mahal. Selain itu, resiko ancaman terhadap ketahanan pangan masyarakat India dan tingginya inflasi yang bisa memicu permasalahan makroekonomi lainnya, mungkin saja akan terjadi di India.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *