The Possibility of Indonesia Become The Largest Biofuel Producer in The World

  • English
  • Bahasa Indonesia

Along with the development of economic growth, energy has become part of basic needs and is even considered as “the oxygen of the economy”. So far, the global community, including Indonesia, has used fossil resources as an energy source. However, the fluctuating price of fossil oil and increasing global awareness of the environment (especially carbon emissions) have led to the growing trend of shifting from non-renewable energy to renewable and sustainable energy sourced from biofuels.

The trend of switching to biofuels also occurs in Indonesia through the development of biodiesel and bioethanol by utilizing local flora resources. For the biodiesel program, after failing with the development of Jatropha biodiesel in 2007, the Government of Indonesia has succeeded in developing palm biodiesel through its mandatory program. Even today, Indonesia has become largest biodiesel producer in the world.

biofuel

In addition to reducing the use of fossil fuels, especially diesel, and reducing carbon emissions, the development of palm oil biodiesel in Indonesia has also contributed to saving foreign exchange imports of up to IDR 120 trillion in the last four years and maintaining the stability of CPO’s prices in the global market. The implementation of B30 in 2020 also has an impact on the positive trend in global CPO prices, even Dorab Mistry (Director of Godrej International) mentions Indonesia with B30 program as a game-changer for the CPO’s global market.

With the achievements made by palm biodiesel, a question arises: can Indonesia become the largest biofuel producer in the world?

 

Dr. Tatang H. Soerawidjaja in the Palm O’Corner Webinar organized by PASPI and HIMATEK ITB answered that question. In his presentation, he stated that the similarity of fatty acid composition in palm oil with hydrocarbons (fossil fuel) is a manifestation of the success of the biodiesel program and the development of green fuels (palm diesel, palm gasoline, and palm avtur) which are currently being developed in Indonesia to improve energy security.

However, if Indonesia wants to become the largest biofuel producer in the world, it is not enough to rely solely on the use of palm oil. Palm-based biofuels (especially the first generation such as biodiesel and green fuel) are only the initial capital due to various limitations such as the increasing imports of petroleum and fuel, the limited production of palm oil and there are many other needs for palm oil-based products and export to earn foreign exchange. Therefore, it is necessary to re-invigorate innovation to utilize plants/other vegetable biomass containing oils-fats and lignocellulose as vegetable resources that store great energy potential.

The lecturer of Chemical Engineering at the Bandung Institute of Technology, who is also the General Chair of the Indonesian Association of Bioenergy Experts (Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia/IKABI), also said that Indonesia has a wealth of other agroforestry plants which are a source of fatty acids for biofuels besides palm oil, such as coconut, moringa, nyamplung, pongam, nutmeg, tengkawang, red taban, and saga utan.

In addition, biofuel innovations can also be developed from lignocellulosic which is another vegetable resource with the most abundant availability and is not utilized for food (non-food) needs. Examples of lignocellulosic resources that can be used as biofuels are empty fruit bunches, straw, sugarcane bagasse, corn cobs and stalks, sago bark, wood, and others. Lignocellulosic fractionation technology not only produces biofuels (bio hydrocarbons, bioethanol, and LPG) but also produces other products with high economic value such as Bio-BTX as well as Ksilitol and Furfural.

The utilization of local resources (contains both of oil-fat and lignocellulosic) in each region into biofuel products is expected to be able to reduce fuel supply and distribution costs so that it can be more affordable both in terms of price and availability by all people in Indonesia, Another benefit of developing local resources-based biofuel is being able to reduce imports of oil and fuel, and become a driver of local economic growth. To achieve that, processing using a mini oil refinery (maximum 20 thousand barrels/day) spread across regions is more suitable because it is closer to consumers and more adaptive to local resources as feedstock (raw materials).

At the end of his presentation, Dr. Tatang, who was one of the recipients of the Indonesian Palm Oil Board award as a form of appreciation for his dedication in developing biodiesel, gave a closing statement to stakeholders such as the government and industry to reduce dependence on palm oil as the feedstock for biofuel production because it shows indicators of the unsustainability of biofuels in Indonesia. Therefore, we must encourage education and training so it may increase the instinct to innovate to create and develop biofuels based on local Indonesian resources to achieve independence and national energy sovereignty.

Seiring dengan berkembangnya pertumbuhan ekonomi, energi telah menjadi bagian dari kebutuhan dasar bahkan sudah dianggap sebagai “oksigennya perekonomian”. Selama ini, masyarakat dunia termasuk Indonesia memanfaatkan sumberdaya fosil sebagai sumber energinya. Namun, harga minyak fosil yang cenderung berfluktuatif dan meningkatnya global awareness terhadap lingkungan (khususnya emisi karbon) menyebabkan berkembangnya tren peralihan dari non-renewable energy menjadi renewable and sustainable energy yang bersumber dari bahan bakar nabati (BBN).

Tren peralihan penggunaan BBN (biofuel) juga terjadi di Indonesia melalui pengembangan biodiesel dan bioethanol yang memanfaatkan sumberdaya flora/tanaman lokal. Untuk program biodiesel, setelah gagal dengan pengembangan biodiesel jarak pagar tahun 2007, Pemerintah Indonesia berhasil mengembangkan biodiesel sawit melalui program mandatorinya. Bahkan saat ini Indonesia telah berhasil menjadi produsen biodiesel nomor satu di dunia.

biofuel

Selain mengurangi penggunaan fossil fuel khususnya solar dan menurunkan emisi karbon, pengembangan biodiesel sawit di Indonesia juga berkontribusi menghemat devisa impor hingga Rp 120 Triliyun selama empat tahun terakhir dan menjaga stabilitas harga minyak sawit (CPO) di pasar dunia. Implementasi B30 pada tahun 2020 juga berdampak pada positifnya tren harga CPO dunia, bahkan Dorab Mistry (Direktur Godrej Internasional) menyebutkan program B30 Indonesia sebagai game changer pasar CPO dunia.

Dengan pencapaian yang ditorehkan oleh biodiesel sawit tersebut, muncul pertanyaan bisakah Indonesia menjadi produsen BBN terbesar di dunia?

Dr. Tatang H. Soerawidjaja dalam Webinar Palm O’Corner yang diselenggarakan oleh PASPI dan HIMATEK ITB menjawab pertanyaan tersebut. Dalam paparannya menyebutkan kemiripan komposisi asam lemak pada kelapa sawit dengan hidrokarbon (fosil fuel) merupakan manifestasi dari kesuksesan program biodiesel dan pengembangan greenfuel (diesel sawit, bensin sawit dan avtur sawit) yang sedang dan akan dikembangkan di Indonesia untuk meningkatkan energy security.

Namun, jika Indonesia ingin menjadi produsen BBN (biofuel) terbesar di dunia, tidaklah cukup jika hanya bertumpu pada pemanfaatkan kelapa sawit. BBN berbasis sawit (khususnya generasi pertama seperti biodiesel dan greenfuel) hanya menjadi modal awal karena adanya berbagai keterbasatan seperti impor minyak bumi dan BBM yang terus meningkat dan produksi minyak sawit yang masih terbatas hingga masih banyak kebutuhan produk lainnya berbasis minyak sawit dan keperluan ekspor untuk mendapatkan devisa. Oleh karena itu, masih perlu digalakan kembali inovasi untuk memanfaatkan tumbuhan/biomassa nabati lainnya yang mengandung minyak-lemak dan lignioselulosa sebagai sumberdaya nabati yang menyimpan potensi energi yang besar.

Dosen Teknik Kimia ITB yang juga menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) tersebut juga menyebutkan Indonesia memiliki kekayaan lain seperti pohon agroforestry yang menjadi sumber asam lemak untuk BBN selain kelapa sawit, seperti kelapa, kelor, nyamplung, pongam, pala, tengkawang, taban merah, dan saga utan.

Selain itu, inovasi BBN juga bisa dikembangkan dari lignoselulosa yang merupakan sumberdaya nabati yang ketersediaannya paling melimpah dan tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan (non-pangan). Contoh sumberdaya lignoselulosa yang dapat dijadikan BBN adalah tandan kosong sawit, jerami, bagas tebu, tongkol dan batang jagung, kulit batang sagu, kayu dan lain-lain. Teknologi fraksionasi lignoselulosa tidak hanya menghasilkan BBN (biohidrokarbon, bioetanol dan LPG) tetapi juga menghasilkan produk lain dengan nilai ekonomi tinggi seperti Bio-BTX serta Ksilitol dan Furfural.

Pemanfaatan sumberdaya lokal (baik pohon sumber minyak-lemak dan lignoselulosa) yang berada di setiap daerah menjadi produk BBN diharapkan mampu mereduksi biaya pasok dan distribusi BBM sehingga dapat lebih terjangkau baik dari segi harga dan ketersediannya oleh seluruh masyarakat di pelosok Indonesia. Manfaat lainnya dari pengembangan BBN berbasis sumberdaya lokal adalah mampu meredam impor minyak bumi dan BBM serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. Untuk mencapai hal tersebut, pengolahan dengan pola kilang minyak mini (maksimum 20 ribu barel/hari) yang tersebar di daerah lebih cocok karena lebih dekat ke konsumen dan lebih adaptif dengan sumberdaya lokal sebagai feedstock (bahan baku).

Di akhir pemaparannya, Dr. Tatang yang juga menjadi salah satu penerima penghargaan Dewan Minyak Sawit Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam pengembangan biodiesel memberikan catatan untuk stakeholder seperti pemerintah dan industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap sawit sebagai pemasok tunggal feedstock untuk produksi BBN karena hal tersebut menunjukkan indikator ketidakberlanjutan bahan bakar nabati di Indonesia. Oleh karena itu, kita harus mendorong pendidikan dan pelatihan sehingga meningkatkan insting berinovasi untuk menciptakan dan mengembangkan BBN berbasis sumberdaya lokal Indonesia demi tercapainya kemandirian dan kedaulatan energi nasional.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *