Indonesian Palm Oil Needs Promotion to Increase Market Penetration in China

  • English
  • Bahasa Indonesia

One of the speakers in the Palm O’Corner at Gadjah Mada University (UGM) was Marina Novira, who is the Indonesian Trade Attache in Beijing.

palm oil
Palm O’Corner x Universitas Gadjah Mada

In her presentation, Ms. Marina revealed that Indonesia is in the fourth position as China’s trade partner with improved bilateral trade performance after the pandemic, especially in the first quarter of 2021. Indonesia is also the main source of palm oil commodities imported by China with a share in 2020 reaching 58.3 percent. In the January-March of 2021, Indonesia’s share has reached 77.8 percent with the export value of palm oil (HS 1511) reaching USD 902 million, or a significant increase of 128% compared to the same period the previous year.

In the global market, China is the third-largest importer country in the world with an average volume of imports reaching 5.5 million tons per year since 2000. This large volume of imports is due to their increasing consumption. China is also listed as the largest palm oil consumer country in the world after Indonesia, India, and the European Union.

Apart from population growth and urbanization, other factors that have led to increased consumption of palm oil in China are lower price compared to soybean oil or rapeseed oil; increased industrial use as an implication of developing a wide range of application from processed food to the oleochemical industry; limited stock and availability of vegetable oil as an implication of the US-China trade war and other impacts.

Palm oil trade in China is concentrated by vertically integrated agri-food companies, such as COFCO (China National Cereals, Oils, and Foodstuffs Corporation) and Sinograin Oils Corporation. This shows that most of the imported palm oil (around 75 percent) is used by the food industry such as instant noodles and processed food products, followed by the personal care industry (including cosmetics). Although palm oil is widely used by the Chinese industry, their consumers are not very familiar with palm oil because the palm-based products traded are labeled as vegetable oil.

The adaptation of a new normal lifestyle by maintaining personal and environmental hygiene is also a positive sentiment for the increasing demand for palm oil by the Chinese personal care industry to produce various hygienic products such as soap, detergent, hand sanitizer, etc. Although China’s population is estimated to experience a decline due to Covid-19 to below 1.4 billion in 2021, this figure is still very large, reaching 18 percent of the global population.

Its also indicating that China’s food needs are still very large, which has implications to the demand for imported palm oil which is still large. Apart from the need for food products and hygiene products (personal care), the demand for palm oil as a feedstock for Chinese biodiesel is also expected to grow.

 

Regarding the issue of sustainability, even though Chinese companies that are members of the RSPO have experienced rapid growth, namely around 167 members, Chinese consumers are observed that they are still not provoked by black campaigns that use sustainability issues such as in the European Union market, but consumer demand for high-quality products is also starting to grow. This condition shows that China is still a strong market for palm oil and Indonesia will get benefits, given its position as the main source of imported palm oil in the country which has also implemented sustainable and high-quality palm oil at competitive prices.

However, the Indonesian Trade Attache in Beijing said about Malaysia as Indonesia’s competitor in the Chinese palm oil market, through the Malaysia Palm Oil Council (MPOC), which had already established a more intense trade relationship with the Chinese Government (G to G) and among its business actors (B to B) to conduct Research and Development collaborations with leading research institutes and universities in China. Malaysia has also developed the Malaysian Palm Oil WeChat Program as a strategy for the penetration and promotion of Malaysian palm oil among Chinese consumers.

This is homework that the Indonesian government and palm oil business players must work together in cooperation, either G to G or B to B so that market penetration can be more optimal so it can increase the acceptance of Indonesian palm oil in the Chinese market. The Indonesian government can make various efforts to cooperate with the Chinese government, such as bilateral agreements that focus on discussing sustainable palm oil trade (COP15 commitment), investment in educational support, the use of technology transfer, to develop a representative office for the Indonesian palm oil association (B to B approach).

Besides that, efforts are needed to build a positive image of Indonesian palm oil among Chinese consumers who tend to be loyal to group companies (products) by developing R&D collaborations involving research institutions/universities of these two countries. Another important promotion strategy and positive palm oil campaign are through creative content with the Chinese language that is posted on various social media platforms that are widely used here such as TikTok.

From the explanation given by the Indonesian Trade Attache in Beijing, it was shown that China, which is a traditional market for Indonesian palm oil, is still a very large, strong, and very promising market. Therefore, Indonesian palm oil stakeholders must focus on increasing market penetration and competitiveness in the Chinese market by launching various promotional strategies and positive campaigns for sustainable palm oil.

Salah satu narasumber dalam kegiatan edukasi dan literasi sawit Palm O’Corner di Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah Marina Novira yang merupakan Atase Perdagangan RI di Beijing.

palm oil
Palm O’Corner x Universitas Gadjah Mada

Dalam paparannya, Ibu Marina mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi keempat sebagai trade partner China dengan kinerja perdagangan bilateral yang membaik pasca-pandemi khususnya pada kuartal pertama tahun 2021. Indonesia juga menjadi sumber utama komoditas minyak sawit yang diimpor oleh China dengan pangsa pada tahun 2020 mencapai 58.3 persen. Bahkan pangsa Indonesia mencapai 77.8 persen dengan nilai ekspor minyak sawit (HS 1511) mencapai USD 902 juta pada periode Januari-Maret tahun 2021, atau mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebesar 128% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada pasar global, China merupakan negara importir ketiga terbesar di dunia dengan rata-rata volume impornya mencapai 5.5 juta ton per tahun sejak tahun 2000. Besarnya volume impor disebabkan karena konsumsinya yang terus meningkat. China juga tercatat sebagai negara konsumen minyak sawit terbesar di dunia setelah Indonesia, India dan Uni Eropa.

Selain meningkatnya populasi dan urbanisasi, faktor lainnya yang menyebabkan konsumsi minyak sawit China terus meningkat antara lain: harganya yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak kedelai atau minyak rapeseed; peningkatan pemanfaatan industri sebagai implikasi dari berkembangnya berbagai aplikasi dari makanan olahan hingga industri oleokimia; terbatasnya stok dan ketersediaan minyak nabati di RRT sebagai dampak perang dagang AS-China maupun dampak lainnya.

Perdagangan minyak sawit di China terkonsentrasi oleh perusahaan agrifood yang terintegrasi secara vertikal, seperti COFCO (China National Cereals, Oils and Foodstuffs Corporation) dan Sinograin Oils Corporation. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar minyak sawit impor (sekitar 75 persen) digunakan oleh industri pangan seperti mie instan dan produk pangan olahan, kemudian diikuti oleh industri personal care (termasuk kosmetik). Meskipun minyak sawit banyak digunakan oleh industri China, namun konsumen negara tersebut tidak terlalu mengenal minyak sawit karena produk berbasis sawit yang diperdagangkan diberikan label sebagai minyak nabati.

Adaptasi gaya hidup new normal dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan juga menjadi sentimen positif bagi meningkatnya permintaan minyak sawit yang dibutuhkan oleh industri personal care China untuk menghasilkan berbagai produk higenitas seperti sabun, deterjen, handsanitizer dll. Meskipun populasi China yang diperkirakan mengalami penurunan akibat Covid-19 menjadi dibawah 1.4 miliar tahun 2021, namun jumlah tersebut masih sangatlah besar yakni mencapai 18 persen populasi dunia menunjukkan bahwa kebutuhan pangan China juga masih sangat besar yang berimplikasi pada permintaan minyak sawit impor yang juga masih besar.

Selain kebutuhan untuk produk pangan dan produk higenitas (personal care), permintaan minyak sawit sebagai feedstock biodiesel China juga diperkirakan akan tumbuh.

Terkait isu sustainability, meskipun perusahaan China yang menjadi anggota RSPO mengalami pertumbuhan yang cukup pesat yakni sekitar 167 anggota namun konsumen China terpantau masih belum terhasut oleh black campaign yang menggunakan isu sustainability seperti di pasar Uni Eropa tetapi tuntutan konsumen untuk produk berkualitas tinggi juga mulai berkembang. Kondisi ini menunjukkan bahwa China masih menjadi pasar yang kuat untuk minyak sawit dan Indonesia akan mendapatkan banyak manfaat, mengingat posisinya sebagai sumber utama minyak sawit impor di negara tersebut yang juga telah mengimplementasikan minyak sawit yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif.

Namun, Ibu Atase Perdagangan Indonesia di Beijing menyinggung terkait kompetitor Indonesia di pasar minyak sawit China yaitu Malaysia melalui Malaysia Palm Oil Council (MPOC) telah lebih dahulu menjalin hubungan perdagangan yang lebih intense baik dengan Pemerintah China (G to G) maupun antar pelaku bisnisnya (B to B) hingga melakukan kerjasama Research and Development dengan lembaga penelitian dan universitas terkemuka di China. Malaysia juga membangun Malaysian Palm Oil WeChat Programme sebagai strategi penetrasi dan promosi minyak sawit Malaysia di kalangan konsumen China.

Hal ini perlu diperhatikan untuk menjadi catatan bersama bahwa pemerintah dan pelaku bisnis sawit Indonesia harus beriringan dalam melakukan kerjasama baik G to G atau B to B agar penetrasi pasar dapat semakin optimal sehingga dapat meningkatkan keberterimaan minyak sawit Indonesia di pasar China. Pemerintah Indonesia berbagai upaya dalam rangka kerjasama dengan dengan Pemerintah China seperti perjanjian bilateral yang fokusnya membahas perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan (komitmen COP15), investasi dukungan pendidikan, penggunaan alih teknologi hingga membangun kantor perwakilan asosiasi sawit Indonesia sebagai media pendekatan B to B.

Selain itu, dibutuhkan upaya dalam membangun citra positif sawit Indonesia di mata konsumen China yang cenderung loyal terhadap grup perusahaan (produk) dengan pengembangan kerjasama R&D yang melibatkan lembaga penelitian/universitas kedua negara tersebut. Strategi promosi dan kampanye positif sawit yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah melalui konten kreatif berbahasa mandarin yang di-boosting pada berbagai platform sosial media yang banyak digunakan oleh konsumen China sepertik TikTok.

Dari paparan yang telah disampaikan oleh Ibu Atase Perdagangan di Beijing menjukkan bahwa China yang merupakan pasar tradisional bagi sawit Indonesia masih menjadi global player yang sangat besar, kuat dan sangat menjanjikan. Oleh karena itu, stakeholder sawit Indonesia harus fokus untuk meningkatkan akses penetrasi dan daya saing minyak sawitnya di pasar China dengan melancarkan berbagai strategi promosi dan kampanye positif sawit berkelanjutan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *