Disinfectant from Liquid Smoke of Palm Shell: Innovation in the Pandemic Covid-19

  • English
  • Bahasa Indonesia

Crude Palm Oil (CPO) is currently the largest source of vegetable oil in the world, and Indonesia is the largest palm oil producer country in the world with production of 51.8 million tons in 2019. Along with increasing production and demand market of palm oil and palm kernal oil, oil palm factory (read: Pabrik Kelapa Sawit/PKS) also produce more wastes.

The processing of Fresh Fruit Bunches (FFB) in the palm oil industry in producing crude palm oil (CPO) and palm kernel oil (PKO) produces three kinds of waste namely solid, liquid, and gas waste. Solid waste is the most which is around 35-40% of the total FFB that is processed in the form of empty fruit bunches, fibers, and palm shells. Waste generated from the processing of palm oil is at risk of polluting the environment, so that proper treatment is needed to deal with these wastes while creating innovative high-value economic products.

Palm shells are one of the oil palm solid waste amounts to 6-7 percent or around 144 kg of each ton of processed FFB. Like palm oil which has many benefits, processing palm shells also has the potential of high economic value products. So far, it has been known the use of palm shells as an energy source such as biogas/bio-electricity. Not only that, processing of palm shells into liquid smoke can also be used as industrial raw material.

innovation palm shell

The article written by Fauziati and Haspiadi in the J Jurnal Riset Teknologi Industri explains that the processing of palm shells through the pyrolysis process will produce liquid smoke. Liquid smoke from this palm shell contains carboxylic acid/asrer acid, phenol and carbonyl compounds, all of which as antiseptic agents and can be use as raw material for disinfectant. The use of liquid smoke can reduce the use of chemical compounds such as triclosan/iragasan which has been widely used in various antiseptic products on the market. The use of liquid smoke mixed with alcohol in a ratio of 40:60, has been proven to provide a powerful inhibition of the growth of bacteria such as Stapholoccous Aureus, E.colli and Salmonella.

The potential use of liquid smoke from palm shells as a raw material of disinfectant  becomes an innovative solution that is very useful, especially during the Covid-19 pandemic. The need for disinfectants has increased since the outbreak of the Coronavirus. As a preventive effort to prevent being infected with the Coronavirus, spraying of disinfectants is also rife in public places and locations that are considered vulnerable as covid-19 virus transmission media.

Disinfectants made from liquid smoke frompalm shell has been widely produced and used in various oil palm centers in Indonesia. As happened in South Kalimantan, UPPB Tanjung in Balong Regency has succeeded in producing 20-25 liters of liquid smoke from palm shell every day. The liquid smoke is then mixed with water with a concentration of one percent or one liter of  palm shell liquid smoke mixed with 100 liters of water to produce a disinfectant that can be sprayed immediately.

Source: Beritasatu.com
Innovation of disinfectant products from palm shell liquid smoke as a natural disinfectant has a benefit such as harmless to humans and environmentally friendly and also more economical because it is made from palm oil processing waste. This product is a very useful breakthrough for Indonesian people in the Covid-19 pandemic. It is expected that in the future, this disinfectant production can also be carried out en mass and can be distributed throughout Indonesia as an effort to deal with the Coronavirus.

Minyak kelapa sawit (CPO) saat ini adalah sumber minyak nabati terbesar di dunia, dan Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi 51.8 juta ton pada tahun 2019. Seiring dengan semakin meningkatnya produksi dan permintaan pasar untuk produk minyak sawit dan minyak inti sawit, pabrik kelapa sawit juga menghasilkan limbah yang semakin banyak.

Proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) untuk memproduksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) akan menghasilkan tiga macam limbah yakni limbah padat, cair, dan gas.  Limbah padat merupakan yang paling banyak yakni sekitar 35-40% dari total TBS yang diolah dalam bentuk tandan buah kosong, serat, dan cangkang sawit. Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit berisiko dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan treatment yang tepat untuk menangani limbah tersebut sekaligus menciptakan produk inovatif bernilai ekonomi tinggi.

Cangkang sawit merupakan salah satu limbah padat sawit yang jumlahnya mencapai 6-7persen atau sekitar 144 kg dari  setiap ton TBS yang diolah. Seperti halnya minyak sawit yang memiliki banyak manfaat, pengolahan cangkang sawit juga memiliki potensi produk yang bernilai ekonomi tinggi.  Selama ini telah dikenal pemanfaatan cangkang sawit sebagai sumber energi seperti biogas/biolistrik. Tidak hanya itu, pengolahan cangkang sawit menjadi asap cair juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

Artikel yang ditulis oleh Fauziati dan Haspiadi dalam Jurnal Riset Teknologi Industri menjelaskan bahwa pengolahan cangkang sawit melalui proses pirolisis akan menghasilkan asap cair. Asap cair dari cangkang sawit ini mengandung senyawa asam karboksilat/asam asrer, phenol dan karbonil, dimana ketiga senyawa tersebut merupakan bahan antiseptik yang dapat digunakan untuk bahan baku disinfektan. Penggunaan asap cair ini dapat mengurangi penggunaan senyawa kimia seperti triclosan/iragasan yang selama ini banyak digunakan pada berbagai produk antiseptik di pasaran. Penggunaan asap cair yang dicampurkan alkohol dengan perbandingan 40:60, terbukti memberikan daya hambat kateogi kuat pertumbuhan bakteri seperti Stapholoccous Aureus, E.colli dan Salmonella.

Besarnya potensi pemanfaatan asap cair dari cangkang sawit sebagai bahan baku disinfektan menjadi solusi inovatif yang sangat berguna khususnya pada masa pandemi Covid-19. Kebutuhan disinfektan mengalami peningkatan sejak mewabahnya virus Corona. Sebagai upaya preventif mencegah terinfeksinya virus Corona, penyemprotan disinfektan juga marak dilakukan di tempat-tempat umum dan lokasi yang dianggap rentan sebagai media penularan virus covid-19.

Disinfektan dari asap cair cangkang sawit telah banyak diproduksi dan digunakan di berbagai daerah sentra sawit di Indonesia. Seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan, UPPB Tanjung Kabupaten Balong berhasil menghasilkan 20-25 liter asap cair cangkang sawit setiap hari. Asap cair tersebut kemudian dicampurkan dengan air dengan konsentrasi satu persen atau satu liter asap cair cangkang sawit dicampurkan dengan 100 liter air untuk menghasilkan disenfektan yang langsung bisa disemprotkan.

Source: Beritasatu.com

Inovasi produk disinfektan dari asap cair cangkang sawit sebagai disinfektan alami memiliki keunggulan seperti tidak berbahaya bagi manusia serta ramah lingkungan dan lebih ekonomis karena berbahan baku limbah pengolahan kelapa sawit. Produk ini juga menjadi terobosan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Diharapkan ke depannya, produksi diseinfektan ini juga dapat dilakukan secara masal dan dapat diedarkan di seluruh Indonesia sebagai upaya penanganan virus Corona.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *