Innovation of Empty Fruit Bunches Into Components in Electronic Screens

  • English
  • Bahasa Indonesia

Along with the times, technology has also developed. We can find various kinds of electronic equipment with various functions that can help our daily work. These various electronic devices were created to make life easier and more comfortable.

Even since the Covid-19 pandemic and the implementation of social activity restriction policies by the Indonesian government, such as working and studying from home, it also has implications for the increasing demand for gadget devices such as laptops, tablets, or smartphones. Based on the International Data Center (IDC), in the second quarter of 2020 there was an 18.6 percent increase in demand for computers and laptops with 38.6 million units shipped. The increase also occurred in the growth of the tablet device market, which increased by 26 percent. Sales of cheap smartphones in Indonesia have increased as a result of Long-Distance Learning activities carried out by students from kindergarten/early childhood, elementary, junior high, high school to university levels.

Not only during the Covid-19 Pandemic like today, the increase in demand for gadgets and other electronic is estimated to increase every year. Because these products has become a primary need for people, both people who live in urban or rural areas. Therefore, an increase in demand for electronic products will also have implications for an increase in demand for raw materials (derived demand) to produce these products. One component/raw material is the screen.

So far, screens on electronic devices that are commonly found on the market are made of glass so they have a weakness, like easy to crack and break when they fall. In addition, there are also screens which are made from polymer substrates, in which it is more flexible. However, this type of screen still uses ingredients from petrochemicals, so that it cannot be renewed and is not environmentally friendly.

Along with increasing consumer awareness of environmental sustainability, this also has an impact on the increasing demand for products/components in electronic products that have eco-friendly component,  raw materials, for example reused waste or recycled waste.

One of the wastes that can be used as screens on electronic devices is oil palm empty fruit bunches. The latest innovation from the development of this product for electronic screens was discovered by researchers from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), namely Dr. Athanasia Amanda Septevani. In her research, empty fruit bunches were originally only used for the energy sector, but this biomass or waste can also be developed into economic value products for the technology sector into component of electronic screens.

empty fruit bunches
Source: majalah.tempo.co

Dr. Amanda used nanotechnology to extract cellulose from empty fruit bunches waste to be processed into nanocellulose. Besides empty palm fruit bunches, there are also other materials that can be used, such as grass, cotton, wood, or algae, but oil palm empty bunches have their own uniqueness, namely the hemicellulose content which is lower than other materials.

The cellulose fibers can be processed to be used as a matrix for biopolymers in transparent optical products that can be utilized as transparent optoelectronic display devices such as flexible screen products, touch screens and solar energy devices.

In that study, cellulose empty fruit bunches was isolated and chemically processed into nanocellulose which was later converted into a thin transparent sheet known as a nanopaper. The nanopaper based on palm biomass can later be used as an electronic screen, from cellphones, laptop screens to TV screens.

 

When compared to conventional electronic screens, electronic screens made from palm oil-based nanocellulose have many advantages, besides being environmentally friendly as well as being able to answer the challenges of electronic screens that are not easily broken. This shows evidence that oil palm has a million potential to produce high-quality derivative products.

With this innovation research, it is hoped that it can motivate the Indonesian electronic device industry to produce its own electronic screens product that utilizes oil palm empty fruit bunches, which is very widely available domestically at a cheaper price. Thus, Indonesian electronic industry can fulfill global market needs for eco-friendly and sustainable electronic products.

Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi pun ikut berkembang. Kita dapat menjumpai berbagai macam peralatan elektronik dengan berbagai fungsi yang dapat membantu pekerjaan sehari-hari. Berbagai peralatan elektronik tersebut diciptakan dengan satu tujuan, yaitu mempermudah kehidupan serta membuat hidup menjadi lebih nyaman.

Bahkan sejak Pandemi Covid-19 dan diberlakukannya kebijakan pembatasan aktivitas sosial seperti bekerja dan belajar dari rumah oleh Pemerintah Indonesia juga berimplikasi pada meningkatnya permintaan perangkat gadget seperti laptop, tablet atau smartphone. Berdasarkan International Data Center (IDC), pada kuartal II-2020 terjadi kenaikan permintaan komputer dan laptop sebesar 18.6 persen dengan jumlah pengiriman mencapai 38.6 juta unit. Peningkatan juga terjadi pada pertumbuhan pasar perangkat tablet yang mengalami peningkatan sebesar 26 persen. Penjualan smartphone murah di Indonesia mengalami peningkatan sebagai dampak dari aktivitas Pembelajaran Jarah Jauh (PJJ) yang dilakukan oleh siswa-siswa dari mulai tingkat TK/PAUD, SD, SMP, SMA hingga Universitas.

Tidak hanya saat Pandemi Covid-19 seperti saat ini, demand terhadap produk gadget dan elektronik juga diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan produk gadget (elektronik) telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat baik masyarakat yang tinggal di perkotaan atau pedesaan. Oleh karena itu, peningkatan demand produk elektronik tersebut juga akan berimplikasi pada peningkatan permintaan bahan baku (derived demand) untuk memproduksi produk tersebut. Salah satu komponen/bahan baku adalah layar.

Selama ini, layar pada perangkat elektronik yang banyak ditemukan di pasaran berbahan dasar gelas sehingga memiliki kelemahan yaitu mudah retak dan pecah saat jatuh. Selain itu, terdapat juga layar yang berbahan dasar dari substrat polimer, dimana bahan polimer ini lebih fleksibel. Namun, layar jenis ini masih menggunakan bahan-bahan dari petrokimia yang sifatnya sintetis sehingga tidak dapat diperbaharui dan tidak ramah lingkungan.

Seiring dengan meningkatnya awareness konsumen terhadap kelestarian lingkungan, hal ini juga berdampak pada meningkatnya permintaan produk/komponen pada produk elektronik yang berasal dari bahan baku yang ramah lingkungan, misalnya penggunaan sampah/limbah yang didaur ulang.

Salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan menjadi layar pada perangkat elektronik adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Inovasi terbaru dari pengembangan tandan kosong sawit untuk layar elektronik berhasil ditemukan oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) yaitu Dr. Athanasia Amanda Septevani. Dalam penelitiannya, tandan kosong sawit yang semula hanya dimanfaatkan untuk sektor energi, namun biomassa atau limbah ini juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi untuk sektor teknologi untuk menjadi komponen dalam layar elektronik.

empty fruit bunches
Source: majalah.tempo.co

Dr. Amanda memanfaatkan nanoteknologi untuk mengambil kandungan selulosa dari limbah tandan kosong sawit untuk diolah menjadi nanoselulosa. Selain tandan kosong sawit juga ada material lain yang dapat digunakan seperti rumput, kapas, kayu atau alga, namun tandan kosong kelapa sawit memiliki keunikan tersendiri yaitu kandungan hemiselulosa yang lebih rendah dibanding dengan material lain.

Serat selulosa tersebut dapat diolah untuk dapat digunakan sebagai matriks biopolimer pada produk optik transparan yang dapat dimanfaatkan menjadi perangkat layar optoelektronika transparan seperti produk layar fleksibel, layar sentuh dan perangkat energi matahari.

Dalam penelitian tersebut, selulosa dari tandan kosong sawit diisolasi dan diproses secara kimia menjadi nanoselulosa yang nantinya diubah menjadi lembaran tipis transparan yang dikenal sebagai nanopaper. Nanopaper berbasis biomassa sawit tersebut nantinya bisa digunakan sebagai layar elektronik, mulai ponsel, layar laptop hingga layar TV.

Jika dibandingkan dengan layar elektronika konvensional, layar elektronik dari nanoselulosa sawit memiliki banyak keunggulan selain ramah lingkungan juga dapat menjawab tantangan layar elektronik yang tidak mudah pecah. Hal tersebut menunjukan bukti bahwa kelapa sawit memiliki sejuta potensi untuk menghasilkan produk-produk turunan yang berkualitas.

Dengan adanya penelitian inovasi ini diharapkan dapat memotivasi industri perangkat elektronik Indonesia agar bisa memproduksi sendiri layar produk elektronik yang memanfaatkan limbah cangkang sawit yang ketersediaannya sangat besar di dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Dengan demikian, industri produk elektronik Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pasar global untuk produk elektronik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *