The Innovation of Portable Harvester

  • English
  • Bahasa Indonesia

Harvesting activity in oil palm plantation including cutting ripe fruit bunches from trees to transportation to mills which includes cutting ripe fruit bunches, extracting loose fruit, cutting fronds, transporting to the colection place and then to palm oil mills. The process also can directly affect the quantity and quality of oil produced. So that in the oil palm harvesting process, there are certain criteria that must be considered. One of the criteria is the level of ripeness. The fruit bunches has become ripe, when it has orange color and if the oil content in the fruit is full or maximal, the fruit will fall that called “membrondol” in bahasa.

innovation harvester
Source: Musim Mas

Apart from the level of fruit ripeness, the important thing in the Fresh Fruit Bunches (FFB) harvesting process is the tool or harvester. Traditional harvester but still widely used today are dodos and egrek. Dodos is a harvester is used for oil palm trees less than 7 years old and the tool has width of 10-72.5 cm and iron pipe handles or wooden sticks. Meanwhile, Egrek is a harvester is used for oil palm trees that are more than 7 years old with a tool connected from aluminum pipe or bamboo.

Both of these harvesters have evolved from manual using human power to mechanical. The use of mechanical dodos and egrek is widely used by plantation companies which have a very large area so that it is more efficient and able to saves the amount of harvesters labour.

Even though it has evolved, these harvesters are considered have several weaknesses such as the blade is not yet effective and efficient because its shape and sharpness, the cutting machine has a short rod, cannot be used for a long time because it will cause fatigue, and the tools is too heavy so it can affects the cutting speed.

Therefore, Andreas Reky and the team are supported by a palm oil research fund managed by BPDPKS to carry out innovative research to develop portable harvester for harvest FFB, which are expected able to increasing the effectiveness and efficiency of harvesting productivity and be more comfortable to use by operator. This inovation harvester was presented at the webinar of Pekan Riset Sawit.

The portable harvester has a total weight of 8 kg consisting of 4 parts, namely a gearbox, four-stroke engine, has type of knife with a sharp tip and a blade width of 2 cm on the cutting side of the knife, and telescopic rod has length of 3-4 cm which can be used for trees that are 5 years old. For trees that have a height of 10 meters, the position of the gearbox must be changed to the bottom position instead of above because it can cause the telescopic rod to warp.

In addition, the portable harvester also has a displacement specification of 25.4 ccs, output power of 0.95 kW/bhp, a stroke rate of 2.6 strokes/sec, a sound pressure level of 90 dB, and an average vibration value of 20 m/s. The advantages of this harvesters are a wider harvesting range with a maximum height of 4 meters of palm trees, a machine that is quite easy to use and fuel-efficient (1.5 – 2.5 liters for 8 hours of use), equipped with a 4 stroke-engine using fuel as a energy, so it is not noisy and has a small vibration, so can achieving for maximum performance.

This harvester has been tested at the Cipta Prima Sejahtera Service Cooperative located in Banjarmasin by two operators. Before and after the test, these operators were checked for health to measure their heart rate and oxygen levels. The test results of using this portable harvester did not cause tremors and there was no matters in the health conditions of these two operators both before and after the test. It’s means that the use of this harvester is relatively safe for operator’s health.

It is expected, that the amount of research that results in product or technology innovation that can be directly applied by palm oil stakeholders, such as this portable harvester, can support the palm oil industry towards more efficient, competitive, and sustainable.

Kegiatan pemanenan di perkebunan sawit meliputi pemotongan tandan buah matang, pengutipan brondolan, pemotongan pelepah,  pengangkutan hasil ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) dan pengangkutan hasil ke PKS. Proses panen dapat berpengaruh secara langsung terhadap kuantitas dan kualitas minyak yang dihasilkan. Sehingga dalam proses pemanenan kelapa sawit, ada beberapa kriteria tertentu yang harus diperhatikan. Salah satu kriteria yang harus diperhatikan adalah tingkat kematangan tandan buah. Tandan buah sawit yang matang dan siap dipanen dapat dilihat dari warna merah jingga dan jika kandungan minyak dalam buah tersebut telah maksimal maka buah akan jatuh atau yang disebut dengan “membrondol”.

innovation harvester
Source: Musim Mas

Selain tingkat kematangan buah, hal yang penting dalam proses pemanenan TBS adalah alat panen. Alat panen sawit yang tradisional namun masih banyak digunakan saat ini adalah dodos dan egrek. Dodos adalah alat panen untuk tanaman sawit yang berumur kurang dari 7 tahun dengan lebar alat sebesar 10-72.5 cm dan memiliki gagang pipa besi atau tongkat kayu. Sementara itu, egrek adalah alat panen untuk tanaman sawit yang berumur lebih dari 7 tahun dengan alat yang disambung dari pipa almunium atau bambu.

Kedua alat panen ini mengalami perkembangan dari manual menggunakan tenaga manusia menjadi mekanis. Penggunaan dodos dan egrek mekanis banyak digunakan oleh perusahaan perkebunan sawit yang memiliki areal yang sanga luas sehingga lebih efisien dan dapat menghemat jumlah penggunaan tenaga pemanen.

Meskipun telah mengalami perkembangan, namun kedua mesin potong sawit tersebut dinilai masih memiliki beberapa kelemahan seperti mata pisau belum efektif dan efisien jika dilihat dari bentuk dan ketajamannya, mesin potong memiliki tangkai yang pendek, tidak dapat digunakan dalam waktu yang lama karena akan menyebabkan cepat lelah, dan mesin potong sawit yang ada terasa berat ketika harus dibawa sehingga mempengaruhi kecepatan pemotongan.

Oleh karena itu, Andreas Reky dan tim didukung oleh dana riset sawit yang dikelola oleh BPDPKS melakukan riset inovasi mengembangkan alat panen sawit portable, yang diharapkan mampu meningkatkan efektifitas dan efesiensi produktivitas pemanenan dan lebih nyaman digunakan oleh operator pengguna. Inovasi alat panen portable tersebut juga dipresentasikan pada webinar Pekan Riset Sawit.

Inovasi alat panen portable sawit memiliki berat total 8 kg yang terdiri dari 4 bagian yaitu gearbox, engine (mesin) 4 tak, dengan jenis pisau dengan ujung yang lancip dan mempunyai lebar pisau 2 cm pada sisi potong pisau, dan batang teleskopik berukuran 3­4 meter yang dapat digunakan untuk pohon yang berumur 5 tahun. Untuk pohon yang mempunyai tinggi 10 meter maka posisi gear box perlu diubah di posisi di bawah bukan diatas karena dapat mengakibatkan batang teleskopik melengkung.

Selain itu, mesin potong sawit portable juga memiliki spesifikasi displacement 25.4 cc, daya output 0.95 Kw/bhp, stroke rate 2.6 stroke/detik, sound pressure level 90 dB dan average vibration value 20 m/s. Kelebihan yang dimiliki dari alat mesin panen portable ini adalah jangkauan panen yang lebih luas yakni dengan ketinggian pohon sawit maksimum 4 meter, mesin yang cukup mudah digunakan dan hemat bahan bakar (1.5 – 2.5 liter  untuk 8 jam penggunaan), dilengkapi mesin-4 tak dengan BBM sebagai sumber energi, sehingga tidak berisik dan memiliki getaran yang kecil sehingga kinerja lebih maksimal.

Alat panen sawit ini telah diuji di Koperasi Jasa Profesi (KJP) Cipta Prima Sejahtera yang berlokasi di Banjarmasin oleh dua orang operator. Sebelum dan setelah melakukan pengujian, para operator diperiksa kondisi kesehatannya untuk mengukur detak jantung dan kadar oksigen. Hasil pengujian penggunaan alat panen sawit portable ini tidak menimbulkan tremor dan tidak ada perubahan kondisi kesehatan pada kedua operator baik sebelum maupun setelah pengujian. Artinya penggunaan alat ini relatif aman bagi kesehatan operatornya.

Diharapkan dengan banyaknya riset yang membuahkan inovasi produk atau teknologi yang dapat langsung diaplikasikan oleh para stakeholder sawit, seperti alat panen portable ini, dapat mendukung industri kelapa sawit menuju pembangunan yang efisien, berdaya saing dan semakin berkelanjutan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *