Katalis Merah Putih, New Hope for The National Energy Sector

  • English
  • Bahasa Indonesia

In his state speech in the Indonesian Independence Day on August 14, 2020 at the MPR’s building, President Joko Widodo said that Indonesia was building energy independence through palm oil-based bioenergy. In addition to the mandatory B30 biodiesel which has been in effect since the beginning of the year, biohydrocarbon products as an alternative to other palm-based energy as a substitute for fossil energy have also begun to be developed. The biohydrocarbon products include green diesel (D100) as a substitute for fossil diesel, green gasoline (G100) as a substitute for fossil gasoline, and green avtur (J100) as a substitute for fossil avtur.

In the middle of this year, Pertamina has also started developing the D100, which is diesel fuel which is 100 percent of palm oil, which has entered the performance test stage in July 2020. And the test results show that the D100 has a number of advantages such as high cetane number, lower sulfur content, better oxidation stability and clearer color.

The performance test of the D100 is a ray of hope for the national energy sector. The dream of the Indonesian nation to achieve national energy independence and security by not depending on imported fuel is not only a figment, but the dream will come true. This is inseparable from the results of research with innovation, namely Catalyst.

Catalysts are substances that can accelerate and direct chemical reactions and are able to provide opportunities to carry out reactions in softer conditions (low temperature and pressure) with high rates and selectivity. This material is the key to chemical processes to produce chemical and energy products, including bioenergy. Currently, the use of catalysts by industries in Indonesia mostly comes from other countries (imports). Therefore, domestic catalyst production must be developed more to substitute imported catalysts.

Researchers at ITB have been since 1982 to find a catalyst for producing renewable energy to replace fossil oil. The catalyst is used in the cracking process of stearin, which is the residue from the palm cooking oil industry to creating fuel oil, especially gasoline. However, the development of gasoline from stearin could not be developed because the industry rejected the proposal to manufacture the catalyst because it was considered economically unprofitable.

Then in 1996, PT. PIM (Pupuk Iskandar Muda) and ITB through a cooperation scheme to develop H2S adsorbent in natural gas. Through the research process until 1999, ITB researchers succeeded in obtaining an adsorbent formula that had an adsorption capacity of twice the adsorbent capacity imported by PT. PIM. The adsorbent was then given the name PIMIT-B1, which stands for the first PIM-ITB.

In 2004, Pertamina collaborated with ITB for research and development of the Hydrotreating Naphtha catalyst and the catalyst formula was discovered in 2007. The catalyst test was carried out in 2010 using a pilot scale reactor and the test results showed that the catalyst had a higher activity than the catalyst commercial. This catalyst was then given the name PITN 100-2T, namely the Pertamina-ITB catalyst, and was dubbed the first Katalis Merah Putih in Indonesia. This catalyst also stated to have better performance and are more stable than imported catalysts. So that, Pertamina officially decided to use a catalyst in the Hydrotreating process for both naphtha, kerosene, and diesel in 2012.

Furthermore, ITB researchers have also further developed PITN 100-2T catalysts, such as PITD 120-1.3T for Treating Diesel (PITD) at Pertamina. Other studies have also produced PIDO 130-1.3T catalyst, which is a catalyst that converts vegetable oil into paraffinic hydrocarbons. Currently, various types of catalysts and more than 170 tons have been refined at Pertamina to replace imported catalysts. Starting from the refinary unit (RU) II Dumai, TPPI, RU IV Cilacap, RU VI Balongan to RU V Balikpapan. This shows that the Katalis Merah Putih is increasingly flying in the archipelago.

Katalis Merah Putih are required in chemical processes such as cracking and hydrodeoxygenation (HDO). To produce palm oil diesel, needed palm oil and PIDO 130-1.3 T catalyst in the hydrodeoxygenation (HDO) process. Palm oil and BIPN 308-1T catalyst needed in the cracking process, so can produce palm gasoline. Meanwhile, to produce avtur palm oil, palm kernel oil and 130-1.3 T PIDO catalyst are needed.

katalis merah putih
Catalyst Innovation for Biohydrocarbon Fuel Production
The Katalis Merah Putih was produced by ITB researchers to produce biohydrocarbon products have the advantages sts, namely (1) reliable catalyst performance, conversion and stability beyond standard (2) longer catalyst life (3) competitive prices and (4) catalysts are designed accordingly operating requirements (tailor-made).

 

The catalyst for development biohydrocarbons not only contributes to the achievement of national energy security, but also brings other benefits such as reducing emissions, increasing the price of FFB and CPO so as to improve the welfare of producers (especially smallholders), strengthen smallholder oil palm up to reducing the intensity of competition and trade barriers (including black campaigns) imposed by other vegetable oil producing countries.

Dalam pidato kenegaraan menyambut HUT Kemerdekataan RI tanggal 14 Agustus 2020 di gedung MPR, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa Indonesia sedang membangun kemandirian energi melalui energi berbasis minyak sawit. Selain biodiesel dengan mandatori B30 yang sudah berlaku sejak awal tahun, produk biohidrokarbon sebagai alternatif energi berbasis sawit lainnya sebagai substitusi energi fosil pun mulai dikembangkan. Produk biohidrokarbon yang dimaksud antara lain green diesel atau diesel sawit (D100) sebagai substitusi diesel fosil, green gasoline atau bensin sawit (G100) sebagai substitusi bensin fosil, dan green avtur atau avtur sawit (J100) sebagai substitusi avtur fosil.

Pada pertengahan tahun ini, Pertamina juga sudah mulai mengembangkan D100 yakni bahan bakar diesel yang 100 persen dari minyak sawit yang saat ini telah memasuki tahap uji perfoma pada Juli 2020. Dan hasil pengujian menunjukkan D100 memiliki sejumlah keunggulan seperti cetane number yang tinggi, sulfur content yang lebih rendah, oxidation stability yang juga lebih baik dan warnanya yang lebih jernih.

Uji perfoma D100 tersebut menjadi secercah harapan bagi sektor energi nasional. Mimpi bangsa Indonesia untuk mencapai kemandirian energi nasional dengan tidak bergantung lagi pada BBM impor tidak hanya menjadi isapan jempol belaka bahkan mimpi tersebut sedikit demi sedikit akan segera terwujud. Hal ini tidak terlepas dari hasil penelitian dengan inovasinya yaitu Katalis.

Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia serta mampu memberi peluang untuk menyelenggarakan reaksi pada kondisi yang lebih lunak (temparatur dan tekanan rendah) dengan laju dan selektivitas yang tinggi. Bahan ini merupakan kunci dari proses kimiawi untuk menghasilkan produk kimia maupun energi, termasuk energi berbasis nabati atau bioenergi. Saat ini, pengunaan katalis oleh industri di Indonesia banyak yang bersumber dari negara lain (impor). Oleh karena itu, produksi katalis di dalam negeri harus dikembangkan lebih banyak untuk mensubstitusi katalis impor.

Para peneliti di ITB sudah sejak tahun 1982 untuk menemukan katalis untuk memproduksi energi terbarukan mengganti minyak fosil. Katalis tersebut digunakan didalam proses perengkahan (cracking) stearin yang merupakan sisa pabrik minyak goreng untuk menghasilkan bahan bakar minyak terutama bensin. Namun, pengembangan bensin dari stearin tersebut tidak dapat dikembangkan karena proposal pembuatan katalis tersebut ditolak industri karena dinilai tidak menguntungkan secara ekonomi.

Kemudian pada tahun 1996, PT. PIM (Pupuk Iskandar Muda) dan ITB melalui skema kerjasama untuk mengembangkan adsorben H2S dalam gas bumi. Melalui proses penelitian hingga pada tahun 1999, peneliti ITB berhasil memperoleh formula adsorben yang memiliki kapasitas adsorpsi dua kali lipat kapasitas adsorben yang diimpor oleh PT. PIM.  Adsorben tersebut kemudian diberi nama PIMIT-B1, kepanjangan dari PIM-ITB kesatu.

Pada tahun 2004, Pertamina menjalin kerjasama dengan ITB untuk penelitian dan pengembangan katalis Hydrotreating Nafta dan formula katalis ditemukan pada tahun 2007. Pengujian katalis tersebut dilakukan pada tahun 2010 menggunakan reaktor skala pilot dan hasil dari pengujian tersebut menyatakan bahwa katalis tersebut memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan katalis komersial. Katalis ini kemudian diberi nama PITN 100-2T,  yaitu katalis Pertamina-ITB, dan dijuluki Katalis Merah Putih pertama di Indonesia. Katalis Merah Putih dinyatakan memiliki unjuk kerja lebih baik dan lebih stabil dibandingkan katalis impor. Sehingga Pertamina resmi memutuskan menggunakan katalis pada proses Hydrotreating baik untuk nafta, kerosin, maupun diesel pada tahun 2012.

Selanjutnya, para peneliti ITB juga mengembangkan lebih lanjut katalis PITN 100-2T, seperti PITD 120-1.3T untuk Treating Diesel (PITD) di Pertamina. Penelitian lainnya juga melahirkan katalis PIDO 130-1.3T yaitu katalis yang mengkonversi minyak nabati menjadi hidrokarbon parafinik. Saat ini berbagai jenis katalis dan lebih dari 170 ton telah di kilang di Pertamina untuk menggantikan katalis impor. Mulai refinary unit (RU) II Dumai, TPPI, RU IV Cilacap, RU VI Balongan hingga RU V Balikpapan. Hal ini menunjukkan Katalis Merah Putih semakin berkibar di bumi nusantara.

Katalis Merah Putih dibutuhkan dalam proses kimiawi seperti perengkahan (cracking) dan hidrodeoksigenasi (HDO). Untuk menghasilkan diesel sawit dibutuhkan minyak sawit dan katalis PIDO 130-1.3 T pada proses hidrodeoksigenasi (HDO). Pengolahan minyak sawit  dengan menggunakan katalis BIPN 308-1T pada proses cracking dapat menghasilkan bensin sawit. Sedangkan untuk memproduksi avtur sawit, dibutuhkan minyak inti sawit dan katalis PIDO 130-1.3 T

Inovasi Katalis untuk Produksi Bahan Bakar Biohidrokarbon

Katalis Merah Putih yang dihasilkan oleh para peneliti ITB untuk menghasilkan produk biohidrokarbon memiliki beberapa keunggulan yakni: (1) kinerja katalis handal, konversi dan stabilitas melebihi standal (2) umur katalis lebih panjang (3) harga bersaing dan (4) katalis dirancang sesuai kebutuhan operasi (tailor-made).

Inovasi Katalis Merah Putih yang digunakan untuk mengembangakan produk biohidrokarbon sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam pencapaian ketahanan energi nasional, namun juga membawa manfaat lain seperti penurunan terhadap emisi, peningkatan harga TBS dan CPO sehingga meningkatkan kesejahteraan produsen (khususnya pekebun), menguatkan sawit rakyat hingga menurunkan intensitas kompetisi dan hambatan dagangan (termasuk black campaign) yang diberlakukan oleh negara produsen minyak nabati lain.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *