La Nina Impact on Increasing Palm Oil Productivity

  • English
  • Bahasa Indonesia

In the early of rainy season in 2020, climate anomaly namely La Nina has occured. In Spanish, La Nina means “the little girl” and represent periods of below-average sea surface temperatures of the Pacific Ocean, so that it has an impact on increasing rainfall in the West Equatorial Pacific, which is Indonesia is included. La Nina causes higher rainfall during rainy season, apart from the monsoon factor. The Meterology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) estimates that La Nina cause increase rainfall up to 40 percent above normal.

Akhmad Faqih as an IPB University lecturer predicts that La Nina which occurs in Indonesia in 2020/2021 ranges from the weak to moderate category. However, the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) predicts that the La Nina phenomenon in Indonesia will occur for several months until March 2021.

La Nina & Palm Oil
Source: Detik News
La Nina causes several region in Indonesia have the potential for heavy rain and followed by thunderbolt and strong winds, so that people must be aware of the hydrometeorological disasters such as floods, tornado, and landslides. Not only has an impact on human life, but La Nina also has an impact on the agricultural sector.

 

By this climate anomaly, the agricultural sector also become affected sector. This is because the weather and climate have important role in influencing the production of agricultural commodities. Increased intensity of prolonged rainfall also causes floods that have the potential to damage crops and affect productivity, such as disruption of rice harvests.

However, it is different from other agricultural commodities which are worried to have the potential to reduce productivity and production, on the other hand,  La Nina has a positive impact on the productivity of palm oil. This was also confirmed according to the analysis from Iput Pradiko as a researcher at the Indonesia Oil Palm Research Institute (Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PPKS) who stated that the 2020 rainfall was higher than in 2018 and 2019 and even the rainfall in some zones are more than the baseline rainfall (1991-2010), where this climate which is so favorable for palm oil. The implication of this conditions will have an impact on increasing palm oil productivity reach of 15 percent.

The increase in palm oil productivity is also affected by the age of plant. If the plant in a productive age, it will be directly proportional to the high rate of increase in productivity.

With the positive impact of this anomaly, IOPRI also suggests things that farmers need to maximize the increase in oil palm productivity. First, do the technical culture measures before the very wet rainy season (more than 300 mm per month), such as seeding according to standards and fertilizing, as well as treatment of ground cover to minimize erosion and implement early warning system for pests and diseases in plant.

Second, optimizing rainwater by collecting and revitalizing drainage channels in plantation to avoid flooding. Third, the infrastructure aspect must be repaired such as main road must be in good condition and not slippery so harvesting activities are not disturbed. And fourth, there must be an adjustment to the harvest rotation because the higher rainfall also coincides with the harvest season.

However, oil palm plantation actors, both companies and farmers, must be aware that floods may occur in oil palm plantation areas due to higher rainfall. The floods in oil palm plantations will disrupt harvesting and collecting of FFB, so that a lot of palm fruit is overripe or become rotten on the trees. This condition will cause losses for plantation companies or farmers.

Memasuki awal musim hujan tahun 2020, terjadi anomali iklim La Nina. Dalam bahasa Spanyol, La Nina yang berarti anak perempuan. Anomali iklim ini dikarenakan turunnya suhu air laut Samudra Pasifik di bawah suhu rata-rata sekitarnya sehingga berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah Pasifik Ekuatorial Barat, dimana Indonesia termasuk didalamnya. Dampak La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan secara signifikan di Indonesia pada periode awal musim hujan, selain akibat faktor monsun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memprediksi terjadi peningkatan curah hujan sebesar 40 persen diatas kondisi normal.

Akhmad Faqih selaku Dosen IPB memprediksi bahwa La Nina yang terjadi di Indonesia tahun 2020/2021 berkisar pada kategori lemah hingga moderat. Namun, BMKG memprediksi bahwa fenomena La Nina di Indonesia akan berlangsung selama beberapa bulan hingga Maret 2021.

La Nina & Palm Oil
Source: Detik News

Adanya fenomena La Nina di Indonesia yang mengakibatkan beberapa wilayah Indonesia berpotensi hujan dengan intensitas lebat yang disertai petir dan angin kencang sehingga masyarakat harus waspada akan bahaya bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan longsor. Tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia, namun La Nina juga berdampak pada sektor pertanian.

Sektor pertanian juga menjadi sektor yang terdampak dari adanya anomali iklim tersebut. Hal ini dikarenakan faktor cuaca menjadi faktor yang berperan penting dalam menentukan produksi komoditas pertanian. Peningkatan intensitas curah hujan berkepanjangan juga menyebabkan bencana banjir yang berpotensi merusak tanaman dan mempengaruhi produktivitas tanaman, seperti gangguan panen beras.

Namun, berbeda dengan komoditas pertanian lain yang dikhawatirkan berpotensi menurunkan produktivitas dan produksi, sebaliknya fenomena La Nina justru berdampak positif pada produktivitas kelapa sawit. Hal tersebut juga terkonfirmasi sesuai analisa Iput Pradiko selaku peneliti di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang menyebutkan bahwa curah hujan tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 dan 2019 bahkan curah hujan pada sebagian zona melebih curah hujan baseline (1991-2010), dimana iklim yang demikian favourable untuk kelapa sawit. Implikasinya dari kondisi iklim tersebut akan berdampak pada peningkatan produktivitas sawit hingga 15 persen.

Kenaikan produktivitas sawit juga salah satunya dipengaruhi oleh faktor umur tanaman sawit. Dalam hal ini jika tanaman kelapa sawit berada pada usia produktif, maka akan berbanding lurus dengan tingginya tingkat kenaikan produktivitas.

Dengan adanya dampak positif dari anomali iklim tersebut, PPKS juga menyarankan hal-hal apa saja yang dapat petani lakukan untuk memaksimalkan kenaikan produktivitas sawit. Pertama, melakukan kultur teknis sebelum musim hujan yang sangat basah (lebih dari 300 mm per bulan), seperti penunasan sesuai dengan standar dan pemupukan serta melakukan perawatan pada tutupan lahan untuk mencegah erosi dan menerapkan early warning system untuk serangan hama dan penyakit pada tanaman.

Kedua, mengoptimalkan air hujan dengan melakukan penampungan dan merevitalisasi saluran drainase pada area yang sering tergenang air agar menghindari banjir. Ketiga, aspek prasarana harus diperbaiki seperti jalan utama harus dalam kondisi baik dan tidak licin sehingga tidak mengganggu kegiatan panen. Dan Keempat, harus ada penyesuaian rotasi panen karena peningkatan curah hujan juga bertepatan dengan musim panen.

Namun, para pelaku perkebunan sawit baik perusahaan perkebunan maupun petani sawit harus waspada terhadap bencana banjir mungkin saja terjadi di areal perkebunan sawit akibat dari meningkatnya curah hujan. Bencana banjir di perkebunan sawit akan mengganggu aktivitas pemananenan dan pengumpulan TBS sehingga banyak buah sawit yang dibiarkan terlalu matang atau busuk di pohon. Kondisi ini akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan perkebunan atau petani sawit.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *