Livestock Production is Driver of Global Deforestation, Not Palm Oil

  • English
  • Bahasa Indonesia

Deforestation has become a concern of the global community, especially in the last two decades. It causes various environmental problems, such as being a threat to the preservation of natural biodiversity to contributing to global GHG (Greenhouse Gases) emissions thus triggering global warming and global climate change. Although deforestation has existed since civilization began on Earth, this issue is no longer a mere environmental issue because it has been used as the basis for trade policies implemented by developed countries.

Palm oil is one of the agricultural commodities that is subject to trade policies related to the issue of deforestation by developed countries as importers. Some of these trade policies such as the European Green Deal include Renewable Energy Directives, Indirect Land Use Change, and Forest and Ecosystem Risk Commodities (FERC). Because palm oil is often seen as a driver of global deforestation. The perspective of developed countries also reflects that global deforestation that has occurred is palm oil’s “sin” so that their producers must be responsible for that. So, is this perspective true?

livestock driver deforestation
Source: CNN Indonesia

The answer to this question is found in many results of studies, one of which is reports from an international organization such as the European Commission and FAO. The study of European Commission study in 2013, which was a study made by the European Union itself, revealed interesting fact that livestock production was the main driver of global deforestation with a share of 24 percent in the 1990-2008 period. Besides livestock, other drivers of global deforestation are cereal (8 percent) and soy crops (6 percent). Meanwhile, palm oil, which has always been blamed as the driver of global deforestation, has a very small contribution of only around 2 percent.

The results of this study are also confirmed by FAO data related to the distribution of global agricultural land reached ​​4.95 billion hectares, around 69 percent or 3.4 billion hectares are livestock production (cattle) areas. Meanwhile, the global oil palm plantation reaches around 28 million hectares or only about 0.56 percent of global agricultural land. Besides that, the area of ​​global oil palm plantations is still lower than the global soybean plantation area which reaches 120 million hectares (2.4 percent).

The WRI study also shows that during 2001-2015, cattle pasture has converted by far 45.1 million hectares of forest or an area of ​​deforestation size of Sweden. A popular article entitled “When It Comes To Deforestation, Nothing Beats A Hamburger” reveals that forest cleared (deforestation) for livestock/cattle is then held until the values rise before it is sold to soybean producers.

In the article, Rachel Garret, a professor of environmental policy at ETH Zurich, also reveals that cattle are easily move around to obscure their connection to illegal deforestation. Besides, the livestock industry has been insulated from international market pressures related to deforestation because most of the livestock products (meat/milk) are consumed domestically or only a quarter of the livestock products are exported.

These data and facts show that palm oil isn’t a driver commodity of global deforestation. So these accusations which are widely used in black campaigns and trade policies of importing countries that discriminate against palm oil are irrelevant and misleading.

If western countries have been concerned about deforestation and always accused palm oil as drivers of deforestation, the attention of these countries should be diverted to the Top-5 commodities that cause global deforestation, such as by limiting the production of livestock products (meat, milk, cheese) in Europe and Australia or limiting the production of soybeans which is heavily grown in the United States.

 

However, it will not be possible. The European Union through its various trade policies inhibits imports of palm oil on the grounds of deforestation, instead, they import soybeans on large scale from US. Even though soybeans have been proven to be the top-3 drivers of global deforestation. This further shows that the accusation of palm oil as driver of global deforestation is only due to unfair business competition (unfairness) and discrimination (crop apartheid).

Deforestasi telah menjadi perhatian masyarakat dunia khususnya dalam dua dekade terakhir ini. Deforestasi menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti menjadi ancaman bagi kelestarian biodiversity alamiah hingga berkontribusi pada emisi GHG (Greenhouse Gases) global sehingga memicu pemanasan global dan perubahan iklim global. Meskipun deforestasi telah ada sejak peradaban dimulai di planet bumi, namun isu deforestasi kini bukan lagi menjadi isu lingkungan semata karena isu tersebut dijadikan basis kebijakan perdagangan yang banyak diimplementasikan negara maju kepada negara berkembang.

Minyak sawit adalah salah satu komoditas pertanian yang banyak dikenakan kebijakan perdagangan terkait dengan isu deforestasi oleh negara maju sebagai importir. Kebijakan perdagangan tersebut diantaranya European Green Deal yang didalamnya termasuk Renewable Energy Directives, Indirect Land Use Change dan Forest and Ecosystem Risk Commodities (FERC). Hal ini dikarenakan minyak sawit sering dianggap sebagai driver deforestasi global. Perspektif negara maju juga menggambarkan bahwa deforestasi global yang telah terjadi selama ini adalah “dosa” sawit sehingga negara produsen minyak sawit seperti Indonesia harus bertanggung jawab atas dosa deforestasi tersebut. Lantas, apakah benar persepektif tersebut?

livestock driver deforestation
Source: CNN Indonesia

Jawaban atas pertanyaan tersebut ditemukan pada banyak hasil studi, salah satunya laporan dari lembaga internasional seperti European Commission dan FAO. Hasil studi European Commision tahun 2013 yang merupakan kajian yang dibuat oleh Uni Eropa sendiri menampilkan fakta menarik bahwa sub-sektor peternakan (livestock production) merupakan driver utama deforestasi global dengan pangsa sebesar 24 persen pada periode tahun 1990-2008. Selain peternakan, driver deforestasi global lainnya adalah tanaman serelia dan kedelai dengan pangsa berturut-turut sebesar 8 persen dan 6 persen. Sementara itu, kelapa sawit yang selalu dikambinghitamkan sebagai driver deforestasi global ternyata kontribusinya sangat kecil sekitar 2 persen.

Hasil kajian tersebut juga terkonfirmasi dari data FAO terkait distribusi lahan pertanian global  yang menunjukkan bahwa dari luas pertanian global mencapai 4.95 miliar hektar, sekitar 69 persennya atau 3.4 miliar hektar merupakan luas lahan peternakan. Sementara itu, luas kebun sawit global yang mencapai sekitar 28 juta hektar atau hanya sekitar 0,56 persen dari lahan pertanian global. Bahkan luas kebun sawit global tersebut masih lebih rendah dibandingkan luas kebun kedelai global yang mencapai 120 juta hektar (2.4 persen).

Studi WRI juga menunjukkan bahwa selama periode tahun 2001-2015, penggembalaan ternak (cattle pasture) telah mengkonversi 45.1 juta hektar hutan atau luas lahan deforestasinya sebesar luas negara Swedia. Sebuah artikel populer yang berjudul “When It Comes To Deforestation, Nothing Beats A Hamburger” mengungkapkan bahwa pembukaan hutan (deforestasi) untuk ternak akan terus dilakukan hingga nilai lahan tersebut meningkat yang kemudian akan dijual kepada produsen kedelai.

Dalam artikel tersebut, Rachel Garret seorang profesor kebijakan lingkungan di ETH Zurich juga mengungkapkan bahwa peternakan sapi dapat dengan mudah berpindah tempat sebagai upaya untuk menutupi hubungan dengan ilegal deforestasi. Selain itu, industri peternakan cenderung bebas dari tekanan pasar internasional terkait deforestasi karena sebagian besar produk peternakan (daging/susu) dikonsumsi di dalam negeri atau hanya seperempat produk peternakan tersebut yang diekspor.

Data dan fakta diatas menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak termasuk komoditas driver atau penyebab deforestasi global. Sehingga tuduhan minyak sawit sebagai penyebab deforestasi global yang banyak digunakan pada black campaign maupun kebijakan perdagangan negara importir yang mendiskriminasi minyak sawit adalah tuduhan yang tidak relevan dan salah alamat.

Jika negara-negara maju yang selama ini concern dengan deforestasi dan selalu menuding kelapa sawit sebagai penyebab utama deforestasi, seharusnya perhatian negara-negara tersebut dialihkan kepada komoditas penyebab utama deforestasi global seperti dengan membatasi produksi produk peternakan (daging, susu, keju) di Eropa dan Australia atau membatasi produksi kedelai yang banyak di tanam di Amerika Serikat.

Namun, hal tersebut tidak akan mungkin dilakukan. Uni Eropa melalui berbagai kebijakan perdagangannya menghambat impor minyak sawit dengan argumen deforestasi, namun membiarkan kran impor kedelai dari Amerika Serikat semakin terbuka. Padahal kedelai telah terbukti sebagai top-3 penyebab deforestasi global. Hal ini semakin menunjukkan bahwa pengkaitan minyak sawit dengan driver deforestasi global hanyalah bentuk persaingan bisnis yang tidak adil (unfairness) dan diskriminasi (crop apartheid).

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *