Millennials as the Front Line in Defending Indonesian Palm Oil Industry from Black Campaign

  • English
  • Bahasa Indonesia

The development of oil palm plantations in Indonesia is spread across 255 districts, from Aceh to Papua. Based on the results of reconciliation of oil palm plantation land cover data in 2019 and legalized through the Decree of the Minister of Agriculture Number 833/KPTS/SR. 020/M/12/2019, stated that the area of ​​Indonesian oil palm plantations reached 16.38 million hectares.

The latest Indonesian Palm Oil Statistics data states that the production of palm oil (CPO) in 2018 is 42.88 million tons and is expected to increase to 45.86 million tons in 2019. Meanwhile, Malaysia as a palm oil producer also has oil palm plantations with an area of ​​5.3 million hectares with a production volume CPO amounted to 20.8 million tons in 2018 and decreased to 19.8 million tons in 2019. This shows that Indonesia’s position as the largest palm oil producer in the world has not been replaced since 2006.

Besides being the largest palm oil producer in the world, Indonesia with its palm oil has also succeeded in replacing the dominance of soybean oil in the world vegetable oil market. The dominance of palm oil also triggers competition. Even the trade competition between vegetable oils has driven the development of a negative campaign aimed at inhibiting the trade in palm oil and it’s derivative product on the global market.

This negative campaign is not a new things for the palm oil industry. The negative campaign of anti-palm oil voiced by transnational and national NGOs has been around since the early 1980s and has more intensive in the last decade. Negative campaign themes also vary, ranging from environmental issues, health issues, and even recently using social issues again such as indigenous peoples to the exploitation of children and women. Even though these issues are not prove based on the facts. However, this negative campaign is very detrimental to the palm oil industry because it can lead to wrong perceptions of palm oil in the global consumers and threatens the future sustainability of the palm oil industry.

The negative palm oil campaign does not only come from other countries, the biggest challenge also comes from within our own country. Currently, anti-palm oil NGOs and the press media that have been affiliated with palm oil-producer countries that bring the issue of negative campaigns against palm oil have targeted the millennial generation and Indonesian students. This is because millennials are the largest internet user group in Indonesia, so that they can be easily influenced through photos or videos with negative campaign narratives against palm oil. The millennial generation immediately “consumed” the information without filters and didn’t a check and re-check regarding the truth of the issue.

The millennial generation is an important community group because they become agents of change who will take advantage of opportunities to further contribute to the economy and increase welfare in the Demographic Divendend in 2030. Including in the national palm oil industry, the millennial generation will also be a determinant of the fate of the Indonesian palm oil industry in the future, whether it will succeed in making Indonesia a global player or vice versa, Indonesia’s dominance with palm oil is getting “gloomy” in the global market.

Therefore, it is necessary to provide positive insights related to palm oil to the millennial generation so that there will be a sense of love and willingness to defend the interests of the national palm oil industry from interference and threats.

In line with this, the Indonesian Government through the Palm Oil  Fund Management Agency (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit/BPDPKS) regularly holds a DigiTalk Sawit program specifically made for the Indonesian millennial generation. The program discussed positive topics such as the role of oil palm and its derivative products in everyday human life until the contribution of the palm oil industry to the economy, social welfare, and the environment.

It is hoped that through DigiTalk Sawit, as literacy event that can open the views of the millennial generation so that they do not easily believe hoax news that is deliberately framed to throw down the image of Indonesian palm oil because basically these issues are made as part of a trade war that is disrupted by the presence of palm oil.

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) as a think-tank of the palm oil industry is also doing the same thing by implementing a similar program, namely Palm O’Corner. The program collaborates with Student Associations at various Indonesian universities with the aim of carrying out advocacy (counter issues) and promotions to build a positive image of palm oil which is expected to stimulate the interest of the millennial generation, especially campus communities in the palm oil industry.
palm oil corner
Palm O’Corner PASPI

In addition, PASPI also has a Sawitpreneur program which aims to initiate the development of start-ups that create innovations in the palm oil sector. This program is based on the increasing trend of the millennial generation’s interest in developing start-ups and this interest is used as an effective way to make the millennials participate and as a driving force for the palm oil industry in the future.

It is hoped that with these various programs that involve the participation of the millennial generation can be at the front line as a defender that is capable of maintaining and strengthening Indonesia’s sovereignty as the largest palm oil-producer country in the world amidst various black campaign attacks and trade barriers from importing or other vegetable oils producer-countries (palm oil competitors) that are considered crop-apharteid and discriminate to palm oil.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini telah tersebar di 255 kabupaten, dari Aceh hingga Papua. Berdasarkan Hasil rekonsoliasi data tutupan lahan perkebunan sawit tahun 2019 dan disahkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 833/KPTS/SR.020/M/12/2019, menyebutkan bahwa luas perkebunan sawit Indonesia mencapai 16.38 juta hektar. Data Statistik Kelapa Sawit Indonesia terbaru menyebutkan produksi minyak sawit (CPO) tahun 2018 sebesar 42.88 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 45.86 juta ton tahun 2019. Sementara itu, Malaysia sebagai produsen minyak sawit juga memiliki perkebunan sawit dengan luas sebesar 5.3 juta hektar dengan volume produksi CPO sebesar 20.8 juta ton tahun 2018 dan mengalami penurunan menjadi 19.8 juta ton tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia belum tergantikan sejak tahun 2006.

Selain menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia dengan minyak sawitnya juga berhasil menggeser dominasi minyak kedelai dalam pasar minyak nabati dunia. Dominasi minyak sawit di pasar minyak nabati dunia juga memicu adanya persaingan. Bahkan persaingan dagang antar minyak nabati pun mengarah pada berkembangnya kampanye negatif yang bertujuan untuk menghambat laju perdagangan minyak sawit  dan produk turunannya di pasar global.

Kampanye negatif memang bukan hal yang baru bagi industri kelapa sawit. Kampanye negatif anti sawit yang disuarakan oleh LSM transnasional maupun nasional sudah ada sejak awal tahun 1980-an dan semakin intensif dalam satu dekade terakhir. Tema kampanye negatif yang juga bermacam-macam, mulai dari isu lingkungan, kesehatan, bahkan baru-baru ini kembali menggunakan isu sosial seperti masyarakat adat hingga eksploitasi anak dan wanita. Padahal isu-isu tersebut tidak sesuai dengan fakta dan belum terbukti kebenarannya. Namun, kampanye negatif ini sangat merugikan industri kelapa sawit karena dapat menimbulkan persepsi yang keliru terhadap minyak sawit di mata konsumen global hingga mengancam sustainability industri sawit ke depan.

Kampanye negatif sawit juga tidak hanya berasal dari negara lain, tantangan terbesar juga datang dari dalam negeri sendiri. Saat ini, LSM anti sawit dan media pers yang telah berafiliasi dengan negara-negara produsen kompetitor minyak sawit yang membawa isu kampanye negatif terhadap minyak sawit telah mengincar generasi milineal, pelajar, mahasiswa Indonesia. Hal ini dikarenakan, milenial merupakan kelompok masyarakat pengguna internet terbesar di Indonesia sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi melalui foto atau video dengan narasi kampanye negatif terhadap sawit. Generasi milineal pun langsung “menelan” informasi tersebut tanpa filter dan tidak melakukan check and re-check terkait kebenaran isu tersebut.

Padahal generasi milenial adalah kelompok masyarakat yang penting, karena menjadi agen perubahan yang akan memanfaatkan peluang untuk semakin berkontribusi terhadap perekonomian dan peningakatan kesejahteraan pada Bonus Demografi tahun 2030. Termasuk di industri sawit nasional, generasi milenial juga nantinya menjadi penentu bagaimana nasib industri sawit Indonesia di masa depan, apakah berhasil membuat Indonesia sebagai global player atau sebaliknya dominasi Indonesia dengan minyak sawitnya semakin “redup” di pasar global. Oleh karena itu, diperlukan pembekalan wawasan positif terkait sawit kepada generasi milenial sehingga akan timbul rasa cinta dan rela membela kepentingan industri sawit nasional dari gangguan dan ancaman.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara reguler mengadakan program DigiTalk Sawit yang khusus dibuat untuk generasi milenial Indonesia. Dalam program tersebut dibahas topik positif sawit seperti peran sawit dan produk turunannya dalam kehidupan manusia sehari-hari hingga kontribusi industri sawit terhadap perekonomian, kesejahteraan sosial dan lingkungan. Diharapkan melalui DigiTalk Sawit menjadi ajang literasi yang mampu membuka pandangan generasi milenial sehingga tidak mudah percaya dengan berita-berita hoax yang sengaja di framing untuk menjatuhkan citra sawit Indonesia, karena pada dasarnya isu-isu tersebut dibuat sebagai bagian dari perang dagang yang terganggu dengan kehadiran minyak sawit.

Palm Oil Agribusiness Startegic Policy Institute (PASPI) sebagai think-tank industri sawit juga melakukan hal yang sama dengan melaksanakan program serupa yaitu Palm O’Corner. Program tersebut berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa di berbagai universitas Indonesia dengan tujuan melakukan advokasi (counter issue) dan promosi untuk membangun citra positif sawit yang diharapkan dapat menstimulus minat generasi milenial khususnya masyarakat kampus terhadap industri sawit.

palm oil corner
Palm O’Corner PASPI

Selain itu, PASPI juga memiliki program Sawitpreneur yang bertujuan untuk menginisiasi pengembangan start-up yang menghasilkan inovasi di bidang perkelapasawitan. Program ini berlatar belakang dari meningkatnya tren minat generasi millenial untuk mengembangkan start-up dan minat tersebut dimanfaatkan sebagai cara yang efektif menjadikan generasi milenial untuk ikut serta berpartisipasi dan menjadi penggerak industri sawit kedepan.

Diharapkan dengan berbagai program-program tersebut yang melibatkan partisipasi generasi milenial dapat menjadi garda terdepan sebagai “benteng pertahanan” yang mampu menjaga dan memperkuat kedaulatan Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia ditengah berbagai serangan black campaign maupun hambatan perdagangan dari negara importir atau negara produsen minyak nabati lainnya (kompetitor sawit) yang dinilai crop-aphrateid,  diskriminatif dan merugikan sawit.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *