Sebuah akun Twitter memposting sebuah video yang berjudul Why Palm Oil So Cheap?” berdurasi lebih dari 7 menit. Video tersebut telah ditonton oleh 2.2 juta viewer hanya dalam kurun waktu 5 hari dan cukup mendapatkan perhatian para twitter yang dapat dilihat dari jumlah like, retweet dan comment. Dalam video tersebut, menunjukkan bahwa minyak sawit ditemukan dalam komposisi hampir seluruh consumer goods yang dikonsumsi oleh masyarakat global, dari mulai produk makanan, toiletries hingga energi dengan rata-rata konsumsi minyak sawit juga mencapai 8 kilogram/tahun/kapita.

Minyak sawit memiliki banyak keunggulan, salah satu keunggulan minyak sawit yang sulit dikalahkan oleh kompetitor adalah efisien. Hal ini dikarenakan produktivitas minyak sawit 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya dan produksinya sepanjang tahun sehingga ketersediaan dan supply nya relatif stabil. Implikasi dari kedua keunggulan tersebut adalah harga minyak sawit lebih murah dibandingkan minyak nabati lainnya.

Setelah menyampaikan keunggulan yang terkandung dalam minyak sawit, video tersebut juga turut menginformasikan terkait dampak buruk yang ditimbulkan dari produksi minyak sawit terhadap lingkungan seperti deforestasi hingga peningkatan emisi. Oleh karena itu, NGO dan perusahaan di seluruh dunia yang berada dibawah payung organisasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) menyusun kriteria dan sistem sertifikasi budidaya sawit yang berkelanjutan, salah satunya menggunakan pendekatan High Carbon Stock.

Namun, implementasi sertifikasi RSPO mengalami hambatan karena sebagian besar pasar (konsumen) minyak sawit adalah negara berkembang seperti China dan India lebih menekankan pada harga (murah) dibandingkan dengan aspek keberlanjutan. Sebaliknya, konsumen negara barat (seperti Uni Eropa dan USA) yang memiliki preferensi terhadap aspek keberlanjutan memiliki pengaruh yang kecil untuk mendorong produsen dalam memproduksi minyak sawit yang deforestation-free, karena produsen memiliki pasar alternatif untuk menjual produknya.

Namun, dari unggahan video tersebut menyampaikan beberapa informasi yang kurang tepat sehingga perlu diluruskan untuk meminimalisir misleading information yang akan berdampak pada buruknya citra sawit.

Dalam video tersebut menyebutkan bahwa untuk memenuhi permintaan minyak sawit yang semakin meningkat maka produsen melakukan ekspansi lahan perkebunan sawit sehingga berdampak pada peningkatan laju deforestasi. Meskipun dalam video tersebut juga menyebutkan bahwa minyak sawit bukan menjadi satu-satunya driver deforestasi. Namun, dalam artikel ini akan kembali menegaskan fakta tersebut dengan menggunakan data yang akurat. Berdasarkan data dan fakta empiris yang dipublikasikan oleh European Commission tahun 2013, proporsi perkebunan sawit terhadap deforestasi global sangatlah kecil yakni hanya sebesar 2 persen. Bahkan pangsa tanaman serealia (padi, jagung, gandum) dan kedelai terhadap deforestasi global juga lebih besar dibandingkan kelapa sawit, yakni masing-masing sebesar 8 persen dan 6 persen. Driver deforestasi global terbesar berasal dari sektor peternakan dengan pangsa sebesar 24 persen.

Fakta empiris juga menunjukkan sebagian besar perkebunan sawit di Indonesia berasal dari agroforestri dan lahan semak belukar. Lahan semak belukar yang menjadi lahan terlantar semula merupakan hutan dengan aktivitas logging yang masif di masa Orde Baru, yang banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Kemudian perkebunan sawit datang dan berkembang untuk memanfaatkan lahan terlantar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sawit bukan pemicu utama (driver) deforestasi, justru menjadi driver reforestasi yang menghijaukan kembali ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah yang rusak akibat logging pada masa sebelumnya.

Selain menjadi driver deforestasi global, video tersebut juga mengkaitkan sawit yang turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi yang semakin memperparah terjadinya global warming. Padahal semua aktivitas manusia termasuk pernapasan (mengeluarkan karbon dioksida) yang dilakukan oleh manusia juga turut menyumbang emisi karbon. Studi Olivier et al., (2020) menyebutkan bahwa komponen utama emisi GRK adalah sebagian besar emisi karbon berasal dari pembakaran energi fosil yang dilakukan pada sektor industri, listrik dan transportasi. Hasil penelitian tersebut juga sejalan dengan data IEA yang menyebutkan bahwa sektor energi fosil global (batu bara, gas dan minyak fosil) baik pada proses produksi maupun konsumsi berkontribusi sebesar 68 persen terhadap emisi GRK global.

Sebaliknya bukan menjadi aktor utama, industri sawit justru menghadirkan solusi untuk mengurangi emisi GRK sehingga dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global dan perubahan iklim global. Industri sawit juga mampu berkontribusi untuk menurunkan atau menghemat emisi melalui penyediaan biofuel sawit sebagai energi berkelanjutan dan rendah emisi karbon seperti energi biofuel generasi pertama (biodiesel dan green fuel), energi biofuel generasi kedua (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dan energi biofuel generasi ketiga (biogas/biolistrik dan biodiesel algae).

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa isu sawit sebagai penyebab utama dari deforestasi dan emisi merupakan bentuk dari black campaign yang dilakukan oleh para LSM anti sawit dan bagian dari persaingan dagang antar produsen minyak nabati lainnya. Meskipun telah menjadi korban crop-apartheid dan diskriminasi, namun produsen minyak sawit tetap berusaha untuk memenuhi standar keberlanjutan yang diinginkan oleh konsumen negara barat dengan mengikuti sertifikasi RSPO. Berdasarkan data update RSPO, luas perkebunan sawit global yang telah tersertifikasi RSPO mencapai 4.13 juta hektar dengan volume CPO sebesar 15 juta ton.

Minyak sawit juga menjadi minyak nabati global yang pertama dan satu-satunya memiliki sistem tata kelola dan sertifikasi keberlanjutan. Minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai dan minyak rapeseed yang banyak diproduksi oleh negara yang sering mendiskriminasi sawit (UE dan USA), bahkan belum memiliki sistem tata kelola berkelanjutan dan tidak ada sertifikasi keberlanjutannya.

Untuk menghasilkan CPO bersertifikat RSPO, dibutuhkan tambahan biaya produksi yang cukup besar yang dibebankan kepada produsen baik perusahaan perkebunan maupun petani. Tambahan biaya produksi yang dibebankan kepada produsen juga tidak disertai dengan terbentuknya harga premium untuk CPO bersertifikat berkelanjutan (Certified Sustainable Palm Oil/CSPO). Artinya tidak ada insentif dan nilai tambah yang dapat dinikmati oleh produsen atas usahanya untuk memproduksi minyak sawit yang telah memenuhi tuntutan konsumen negara barat.

Tidak terciptanya premium price sebagai implikasi dari rendahnya penyerapan pasar global untuk minyak sawit yang telah bersertifikat berkelanjutan. Setiap tahun penjualan CSPO dibawah 50 persen, bahkan tiga tahun terakhir tidak sampai 30 persen. Hal ini berakibat pada oversupply CSPO setiap tahunnya. Negara-negara barat yang selama ini berteriak dan menuntut produsen untuk memproduksi minyak sawit yang bersertifikat berkelanjutan, namun setelah dipenuhi tuntutannya, negara-negara tersebut juga ternyata belum mampu untuk menyerap CSPO dan memberikan harga premium. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?

Kondisi tersebut juga mengundang rasa ingin tahu dan penasaran, apakah sistem sertifikasi berkelanjutan benar-benar berniat untuk melindungi lingkungan dan mengurangi emisi, atau hanya untuk “mengerjai” industri sawit. Fakta menarik dari jurnal “The Burden of RSPO Certification Costs on Malaysian Palm Oil Industry and National Economy” yang dipublikasikan Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyatakan bahwa aktivitas dan perjalanan dalam rangka sertifikasi RSPO tersebut akan menambah emisi karbon minyak sawit.

Jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa carbon footprint minyak sawit bersertifikat lebih tinggi dibandingkan minyak sawit yang tidak bersertifikat. Tim penulis jurnal juga menyarankan jika ingin berkontribusi terhadap penurunan emisi, lebih baik anggaran biaya sertifikasi tersebut dialihkan aktivitas yang signifikan dalam menurunkan carbon footprint di perusahaan perkebunan sawit, seperti melalui penggunaan capture methane untuk pengelolaan POME di PKS.

0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments