Utilization of Oil Palm Biomass and Waste as Animal Feed

  • English
  • Bahasa Indonesia

Along with the increasing of population and rising into middle-upper (income) class as indicated by higher purchasing power, are the driving factors for increasing the consumption of meat in Indonesia. Based on Pusdatin data, it shows that consumption per capita of beef has increase from 2.36 kg/capita/year in 2017 to 2.56 kg/capita/year in 2019.

However, the demand hasn’t been matching with low domestic production so that the Indonesian government had to open import taps to fulfill the domestic needs. Therefore, the government also has a vision to increase the domestic meat production and even achieve self-sufficiency.

To developing of livestock production require stable availability and quality feed. This shows that feed is one of determining factor for the success and sustainability of the livestock production business. Animal feed is a component that can absorb production costs in this sector, where the feed costs reach 60-80 percent of the total production cost. In addition to consuming a lot proportion of production costs, the availability of feed especially forage, is also a problem, where it is currently difficult to find pasture due to land conversion. Therefore, strategic steps are needed to cost efficiency and increase the availability of animal feed, for example by utilization of agricultural commodities waste.

Oil palm biomass are fronds and leaves, which is consider as waste in plantation, are the potential ingredients to be used as animal feed as a substitute for forage. This is because its crude fiber content is quite high with lignin content of 17.4% in fronds and 27.6% in leaves.  The large potential for animal feed produced at the oil palm plantation is the basis of the government program, namely the oil palm and beef cattle integration system.
Biomass palm oil
Source: babel.litbang.pertanian.go.id

To be used optimally as animal feed, fronds must be processed. One of processed method through the ammoniation process with urea. Based on the research results, oil palm leaves and fronds that have been processed by ammonia and fermentation can be used as 100% substitutes for grass in animal feed. PT. Austasia Stockfeed, which is the only Wagyu beef producer in Indonesia, has also used oil palm biomass as a source of animal feed for the beef cattle fattening process.

Apart from forage feed, oil palm biomass also has the potential to be a source of concentrate feed which cattleman have to buy at a quite expensive price. Oil palm biomass or waste that has the potential to become concentrate feed is palm kernel meal. The utilizaiton of this palm oil by-product which as a feedstuff for concentrate feed has also been widely used by the global feed industry, such as the feed industry in European, which most of sources palm kernel meal come from Indonesia.

Result study from Research Institute for Livestock shows that palm kernel meal contains 10% of water, 14-17% of protein, 9.5-10.5% of fat, and 12-18% of crude fiber. The nutritional content makes its potential to be nutritious feed for both ruminants and non-ruminants. Besides that, the use of palm kernel meal can also replace soybean meal and Distiller’s Dried Grains with Solubles (DDGS) which are widely imported by feed industry in Indonesia as a source of protein for animal feed. It’s implication is to reduce the feed costs borne by cattleman, so that production cost efficiency can be achieved.

Not only palm kernel cake that have a potential to be used as animal feed, in palm oil processing resulting waste namely Spent Bleaching Earth (SBE) which has also same potential. Through SBE processing technology, namely Solvent Extraction, two products can be produced, namely Recovered Oil (R-Oil) and De-oiled Bleaching Earth (De-Obe). De-OBE which is a product with a solid phrase like clay and contains palm oil residue.

The oil content in clay (De-OBE) has nutritional value for livestock and is not harmful if consumed. The clay can also be mixed directly with soybean meal and other ingredients to produce nutritious animal feed. In addition, feed products for pollutry and livestock can also be produced by adding fine particulate lime (Calcium carbonate) to the SBE discharged from the process filters, so the spontaneous combustion can be eliminated.

The utilization of various oil palm product such as by-products and waste into animal feed products are expected to be a solution to fulfillment of the need for nutritious animal feed and at the same time it can reduce production costs so that price of pollutry and livestock products become more competitive. The further implication will be to increase productivity and production of domestic polutry and livestock products so that they can fulfill their domestic needs.

This utilization into animal feed products is also expected to increase the economic value of palm oil by-products and waste, so that producers, especially smallholder farmers, can enjoy additional benefits.

Seiring peningkatan jumlah populasi penduduk Indonesia dari tahun ke tahun dan bertambahnya kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pendapatan yang tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya daya beli, menjadi faktor pendorong meningkatkan konsumsi daging di Indonesia. Berdasarkan data Pusdatin menunjukkan konsumsi per kapita daging sapi Indonesia mengalami peningkatan dari 2.36 kg/kapita/tahun tahun pada 2017 menjadi 2.56 kg/kapita/tahun pada tahun 2019.

Namun, peningkatan permintaan tersebut tidak diimbangi oleh produksi dalam negeri yang rendah sehingga Pemerintah Indonesia harus membuka kran impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia memiliki visi untuk meningkatkan produksi daging dalam negeri bahkan bisa mewujudkan swasembada.

Upaya pengembangan produksi ternak menuntut adanya ketersediaan pakan yang stabil dan berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa pakan merupakan faktor penentu keberhasilan dan kelangsungan usaha produksi. Pakan ternak adalah salah satu komponen yang bisa menyerap biaya produksi dalam sektor peternakan, dimana biaya pakan ternak bisa mencapai 60-80 persen dari total biaya produksi. Selain memakan biaya produksi yang cukup besar, ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan juga menjadi masalah, dimana saat ini sulit menemukan padang rumput akibat alih fungsi lahan. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mengefisiensikan biaya dan meningkatkan ketersediaan pakan ternak ini, misalnya dengan memanfaatkan limbah komoditas pertanian untuk dijadikan pakan ternak.

Biomassa sawit berupa pelepah dan daun kelapa sawit yang sering dianggap sebagai limbah di perkebunan adalah salah satu bahan yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi pengganti hijauan. Hal ini dikarenakan kandungan serat kasar cukup tinggi dengan kadar lignin sebesar 17.4% pada pelepah dan 27.6% pada daun sawit. Besarnya potensi pakan ternak yang dihasilkan di tingkat perkebunan sawit menjadi dasar dari program pemerintah yaitu sistem integrasi sawit-sapi.

Biomass palm oil
Source: babel.litbang.pertanian.go.id

Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak, pelepah sawit harus diolah terlebih dahulu. Salah satu metode pengolahan melalui proses amoniasi dengan urea. Berdasarkan hasil penelitan, daun sawit dan pelepah sawit yang telah diolah secara amoniasi dan fermentasi dapat dijadikan pengganti 100% rumput pada pakan ternak. PT. Austasia Stockfeed yang merupakan satu-satunya produsen daging Wagyu di Indonesia juga telah menggunakan biomassa sawit sebagai salah satu sumber pakan ternaknya untuk proses penggemukan sapi potong.

Selain pakan hijauan, biomassa sawit juga berpotensi menjadi sumber pakan konsentrat yang selama ini harus dibeli peternak dengan harga yang cukup mahal. Biomassa atau limbah sawit yang berpotensi menjadi pakan konsentrat adalah bungkil inti sawit (Palm Kernel Meal). Penggunaan produk sampingan minyak sawit tersebut sebagai sumber pakan konsentrat juga sudah banyak dimanfaatkan oleh industri pakan global, seperti industri pakan Uni Eropa yang memperoleh sebagian besar bungkil inti sawit bersumber dari Indonesia.

Hasil riset Balai Penelitian Ternak menyebutkan bahwa bungkil inti sawit (BIS) ini mengandung 10% air, 14-17% protein, 9.5-10.5% lemak dan 12-18% serat kasar. Kandungan nutrisi tersebut menjadikan BIS ini berpotensi menjadi pakan yang bernutrisi baik untuk ternak ruminansia maupun non ruminansia. Selain itu, pemanfaatan BIS ini juga dapat menggantikan bungkil kedelai dan Distiller’s Dried Grains with Solubles (DDGS) yang banyak diimpor oleh industri pakan Indonesia sebagai sumber protein untuk pakan ternak. Implikasinya dapat menurunkan biaya pakan konsentrat yang ditanggung oleh peternak sehingga efisiensi biaya produksi dapat tercapai.

Tidak hanya bungkil inti sawit yang berpotensi untuk dimanfaatan sebagai pakan ternak, limbah dari hasil pengolahan minyak sawit yaitu Spent Bleaching Earth (SBE) juga memiliki potensi yang serupa. Melalui teknologi pengolahan SBE yaitu Solvent Extraction dapat dihasilkan dua produk yaitu Recovered Oil (R-Oil) dan De-oiled Bleaching Earth (De-Obe). De-OBE yang merupakan produk dengan frasa padat seperti tanah liat yang masih mengandung sisa minyak sawit. Kandungan sisa minyak sawit tersebut memiliki nilai gizi bagi ternak dan tidak berbahaya jika dikonsumsi.

Tanah liat (De-OBE) tersebut dapat langsung dicampurkan dengan bungkil kedelai dan bahan lainnya untuk menghasilkan pakan ternak yang bergizi. Selain itu, produk pakan untuk ternak unggas dan polutry juga dapat dihasilkan dengan menambahkan kapur berpartikel halus (Kalsium karbonat) ke SBE yang dikeluarkan dari proses filter, sehingga spontaneous combustion dapat dihilangkan.

Pemanfaatan produk samping dan limbah industri kelapa sawit dapat menghasilkan produk pakan ternak, yang diharapkan mampu menjadi solusi untuk pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang bergizi dan sekaligus dapat menurunkan biaya produksi sehingga harga produk peternakan menjadi lebih kompetitif. Implikasi lebih lanjutnya akan meningkatkan produktivitas dan produksi hasil sektor peternakan dalam negeri sehingga dapat memenuhi kebutuhan domestiknya.

Pemanfaatan menjadi produk pakan ternak juga diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi dari produk sampingan dan limbah sawit, sehingga produsen khususnya petani sawit rakyat dapat menikmati tambahan keuntungan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *