The Role of the Oil Palm Plantation Similar with a Forest

  • English
  • Bahasa Indonesia

Oil palm plantation

Palm oil is a strategic commodity in the Indonesian economy. The development of oil palm has had a big positive impact on the Indonesian economy, but that does not mean that oil palm is inseparable from negative issues from who try to hinder the development of palm oil in the global market. One of the issues that are always aggressively carried out in anti-palm oil campaigns to tarnish the image of palm oil in the global community is environmental issues.

The issue that we always hear in these negative campaigns is the accusation that oil palm is the main cause or actor of deforestation and the loss of biodiversity in Indonesia. Environmental issues are a recurring issue, for example, as stated by Greenpeace in 2017 which stated that the palm oil industry was the main cause of deforestation in Indonesia and the same thing was occured again in 2008, 2015, 2017, 2018 and 2019.

Even though the definitions of deforestation and forests are many, different and ”gray”, however, we as Indonesians, who are gifted by God are a blessing for the existence of oil palm plants that are not owned by other countries, must defend against from black campaign. One idea to defend oil palm plantations is to categorize them as forest plants.

As an ecosystem function, forests have a role as a provider of water sources, producing oxygen, habitat for millions of flora and fauna, balancing the environment, preventing global warming, and others. Oil palm plantations also have the same performance, namely their role as an absorber of carbon dioxide, a harvester of solar energy, and its role in the function of water systems.

The public’s mindset has assumed that if there is forest destruction or forest function change, it is considered that it will reduce nature’s ability to absorb carbon dioxide gas. Whereas every plant, both forest plants and oil palm plants, has the ability to absorb carbon dioxide from the earth’s atmosphere.

When compared between oil palm  and forests, each hectare of oil palm plantations can absorb about 64 tons of carbon dioxide annually and produce about 18 tons of oxygen. Meanwhile, forest in net is only able to absorb about 42 tons of carbon dioxide and produce about 7 tons of oxygen. Thus oil palm plantations are actually superior to forests in terms of carbon dioxide absorption and oxygen production.

Oil palm plantations and forests have a “harvesting tools” for solar energy for life on earth, even based on research showing that oil palm plantations are relatively superior to forests in this function. The photosynthetic efficiency of oil palm plantations reaches 3.18 percent, while forest efficiency is only 1.73 percent. The radiation energy conversion efficiency of oil palm plantations is also higher, namely 1.68 g/mj compared to forests which are only 0.86 g/mh. However, for energy storage (biomass), forests are superior to oil palm plantations.

The role of oil palm plantations is not only in absorbing carbon dioxide and harvesting solar energy, but also in the function of ecosystem water systems that play a role in preserving the water system. When compared between oil palm plantations and forests, in general, oil palm plantations have the same role in conservation and hydrological functions.

The facts above can be used evidence that oil palm plantations also have the same role and contribution as a forests, even relatively superior in several aspects. Therefore, we should be proud that oil palm plantations in addition to having a role in environmental aspects are almost the same as forests, but oil palm plantations are also able to generate various benefits for social and economic life both at the regional and national levels.

Oil palm plantation

Kelapa sawit merupakan komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Perkembangan kelapa sawit telah memberikan dampak positif yang besar bagi perekonomian Indonesia, tetapi bukan berarti kelapa sawit tidak terlepas dari isu-isu negatif dari berbagai pihak yang mencoba menghalangi perkembangan kelapa sawit di pasar global. Salah satu isu yang selalu gencar dilakukan dalam kampanye anti sawit untuk menjatuhkan citra sawit di mata global adalah isu lingkungan.

Isu yang selalu kita dengar dalam kampanye negatif tersebut adalah tuduhan bahwa kelapa sawit merupakan penyebab atau aktor utama terjadinya deforestasi dan hilangnya biodiversitas di Indonesia. Isu lingkungan menjadi isu yang selalu berulang misalnya seperti yang dilontarkan Greenpeace tahun 2017 yang menyebutkan bahwa industri sawit menjadi penyebab utama dari deforestasi di Indonesia dan hal yang sama juga kembali disuarakan pada tahun 2008, 2015, 2017, 2018 dan 2019.

Meskipun definisi dari deforestasi dan hutan begitu banyak, berbeda dan abu-abu, namun, kita sebagai masyarakat Indonesia yang dianugerahi oleh Tuhan YME suatu berkah keberadaan tanaman kelapa sawit yang tidak dimiliki oleh negara lain, wajib melalukan pembelaan terhadap industri sawit naional dari kampanye hitam tersebut. Salah satu gagasan untuk membela perkebunan sawit adalah dengan mengkategorikannya sebagai tanaman hutan.

Sebagai fungsi ekosistem, hutan mempunyai peranan sebagai penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, penyeimbang lingkungan, mencegah timbulnya pemanasan global, dan lainnya. Perkebunan kelapa sawit juga mempunyai kinerja yang sama yakni perannya sebagai penyerap karbon dioksida, pemanen energi surya, dan perannya dalam fungsi tata air.

Pola pikir masyarakat selama ini menganggap apabila terjadi kerusakan hutan atau alih fungsi hutan dianggap akan mengurangi kemampuan alam dalam menyerap gas karbon dioksida. Padahal setiap tumbuhan baik tanaman hutan maupun tanaman kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi.

Jika dibandingkan antara kelapa sawit dan hutan, setiap hektar kebun sawit secara netto mampu menyerap sekitar 64 ton karbon dioksida setiap tahun dan menghasilkan oksigen sekitar 18 ton. Sedangkan hutan secara netto hanya mampu menyerap sekitar 42 ton karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sekitar 7 ton. Dengan demikian perkebunan kelapa sawit justru lebih unggul daripada hutan dalam penyerapan karbon dioksida dan produksi oksigen.

Perkebunan kelapa sawit maupun hutan merupakan “alat pemanen” energi surya bagi kehidupan di bumi, bahkan berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit secara relatif lebih unggul dibanding hutan dalam fungsi tersebut. Efisiensi fotosintesis perkebunan kelapa sawit mencapai 3.18 persen, sedangkan efisiensi hutan hanya sebesar 1.73 persen. Efisiensi konversi energi radiasi perkebunan kelapa sawit juga lebih tinggi yaitu 1.68 g/mj dibanding hutan yang hanya 0.86 g/mj. Namun, untuk penyimpanan energi (biomas) lebih unggul hutan daripada perkebunan kelapa sawit.

Peran perkebunan kelapa sawit tidak hanya dalam penyerapan karbondioksida dan pemanenan energi surya, tetapi juga dalam fungsi tata air ekosistem yang berperan melestarikan tata air. Jika dibandingkan antara perkebunan kelapa sawit dengan hutan, secara umum perkebunan kelapa sawit memiliki peran yang sama dalam fungsi konservasi dan hidrologis.

Fakta-fakta diatas dapat menjadi bukti yang dapat digunakan untuk bahwa perkebunan sawit juga memiliki peran dan kontribusi yang sama dengan hutan, bahkan relatif unggul di beberapa aspek. Oleh karena itu, seharusnya kita dapat berbangga hati dan bersuka cita bahwa perkebunan sawit selain memiliki peran dari aspek lingkungan yang hampir sama dengan hutan, tetapi perkebunan sawit juga mampu menghasil berbagai manfaat bagi kehidupan sosial dan perekonomian baik pada level daerah maupun nasional.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *