Potentials of Oil Palm Waste for Future Energy

  • English
  • Bahasa Indonesia

Palm oil provides a real role in economic, social and environmental development in Indonesia. Starting from providing employment, foreign exchange earnings for the country, the use of critical land, a source of oxygen for life and absorb carbon from the air.

As Indonesia’s oil palm plantation’s growth accelerates with an area of ​​16.38 ha, the production and projections of the Indonesian palm oil industry that is promising. Indonesia as one of the biggest palm oil exporting countries certainly has fantastic palm oil production figures.

In the process of processing oil palm into various kinds of needs, it will definitely leave a residue known as palm oil waste. Yes, even oil palm in its processing can also produce waste. However, this waste from palm oil has the potential to be maximized if managed properly.

But unfortunately there are still many who do not know what the potential of palm oil waste and what  the benefits are. Obviously there are so many that some of the waste from oil palm is often used for the purposes of plantations, livestock, even for renewable energy. It is time for us to switch to renewable energy sources.

Oil palm plantations produce oil palm biomass in the form of empty fruit bunches, oil palm fiber and shell, oil palm trunk and oil palm fronds. Foo-Yuen Ng, et al (2011) study results show that for each hectare of oil palm plantations can produce biomass of about 16 tons of dry matter per year. Increased palm oil production is also in line with the increased biomass production.

 

In addition to biomass, oil palm is also potential to produce biogas (bio methane) through the use of POME (palm oil mill waste). This biogas can reduce natural gas consumption. Oil palm biomass can also be processed into bioethanol (substitute for premium/gasoline). According to KL Energy Corporation (2007) each ton of dry biomass can produce 150 liters of ethanol. With this volume of ethanol production from oil palm biomass, isn’t Indonesian oil palm plantations an ethanol mine?

Indonesia needs a commitment to convert palm oil waste into high value-added energy. There needs to be support from various parties for further research and development on the technology.

Indonesia as the leading palm oil producer at this time should be able to optimize technology that can seek the potential of the palm oil waste. Especially if we look at the positive impact that can reduce environmental pollution and renewable energy producers.

Kelapa sawit memberikan peran yang nyata dalam pembangunan perekonomian, sosial, dan lingkungan di Indonesia. Dimulai dari penyediaan lapangan pekerjaan, perolehan devisa bagi negara, pemanfaatan lahan kritis, sumber oksigen bagi kehidupan dan menyerap karbon dari udara.

Seiring pertumbuhan sawit Indonesia yang semakin pesat dengan luas hektar mencapai 16.38 ha dengan produksi dan proyeksi pasar industri sawit Indonesia yang menjanjikan. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar tentu memiliki angka produksi minyak kelapa sawit yang fantastis.

Dalam proses pengolahan kelapa sawit menjadi berbagai macam kebutuhan, maka sudah pasti akan meninggalkan residu yang dikenal dengan limbah sawit. Ya, kelapa sawit pun dalam pengolahannya juga dapat menghasilkan limbah. Namun, limbah hasil pengolahan dari kelapa sawit ini mempunyai potensi untuk dapat dimaksimalkan jika dikelola dengan baik.

Namun sayangnya masih banyak yang tidak mengetahui apa saja sih potensi limbah kelapa sawit dan apa ada manfaatnya? Jelas banyak sekali sehingga beberapa limbah dari kelapa sawit pun sering dimanfaatkan untuk keperluan perkebunan, perternakan, bahkan untuk energi terbarukan. Sudah saatnya kita beralih ke sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable energy)

Kebun sawit menghasilkan biomas sawit berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds). Hasil study Foo-Yuen Ng, et al (2011) menunjukan bahwa untuk setiap hektar kebun sawit dapat menghasilkan biomas sekitar 16 ton bahan kering (dry matter) per tahun. Peningkatan produksi minyak sawit juga sejalan dengan peningkatan produksi biomas.

Selain biomas, sawit juga potensial untuk menghasilkan biogas (bio methane) melalui pemanfaatan POME (limbah PKS). Biogas ini dapat mengurangi konsumsi gas alam. Biomas kebun sawit juga dapat diolah menjadi bioetanol (pengganti premium/gasoline). Menurut KL Energy Corporation (2007) setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol. Dengan volume produksi etanol dari biomas sawit yang demikian, bukankah kebun sawit Indonesia merupakan tambang etanol?

Indonesia perlu adanya komitmen untuk mengkonversi limbah sawit menjadi energi yang bernilai tambah tinggi. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut tentang teknologi tersebut.

Indonesia sebagai rajanya minyak sawit saat ini sudah seharusnya dapat mengoptimalkan teknologi yang bisa mengupayakan potensi dari limbah sawit tersebut. Apalagi jika kita lihat dampak positifnya yang dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan penghasil energi terbarukan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *