Palm Kernel Shells is New Primadonna

  • English
  • Bahasa Indonesia

Indonesia is a country that produces the largest palm oil production in the world. Based on GAPKI’s data, palm oil production in Indonesia in 2019 reached 51.8 million tons per year. With an abundant total production, the resulting palm kernel shells also have a large number. From one ton of oil palm, it can produce shell waste of about 6 to 7 percent or around 144 kg. If we converted, the volume of palm kernel shells in 2019 will reached 7.45 million tons.

Palm Kernel Shells
Palm Kernel Shells (Source: gapki.id)

Palm kernel shells are biomass from the processing of Fresh Fruit Bunches (FFB) to produce crude palm oil (CPO) and palm kernel oil (CPKO). The content of them consists are minimal ash content, moisture content, activated carbon around 20-22 percent, and high volatile matter content,reaching 69-70 percent. With this content, they are not only useless waste, but can be processed and used into useful products that even have high economic value.

One of the utilization of palm kernel shells is carried out by Palm Oil Mill as a source of steam power for fuel for broilers which are needed in the palm oil production process. Utilization of palm kernel shells as fuel needed by broilers is very efficient because of its large availability, free and high thermal energy.

This palm kernel shell can also be used as a raw material for high quality charcoal. The advantage of charcoal from palm kernel shells compared to wood or coconut shell charcoal is that the heat energy generated from burning charcoal is greater, reaching 20 thousand Kj/Kg.

In addition being charcoal, product innovation is also produced from processing palm kernel shells into charcoal briquettes. Processing palm kernel shells mixed with adhesive ingredients containing stracth so that it can produce charcoal briquettes that have a function that can replace kerosene or others fossil fuel.

The potential as an alternative energy source that is environmentally friendly is not only limited to being a source of energy in broilers, charcoal and charcoal briquettes, but palm kernel shells can be an alternative sustainable energy substitute for fossil fuels that can be used as fuel in power plants.

Research on this matter has been very much done, one of which is the research of Syafriuddin and Rio (2012) which compared the use of palm shells against coal and diesel in power plants. The results showed that for a power plant per 10 MWh required 1.2 tons of palm kernel shells, which was equivalent to 648.82 liters of diesel or 1.3 tons of coal. Meanwhile, the costs incurred by using palm kernel shells for the power plant were only Rp. 762 thousand, while the cost for using diesel was Rp. 2.92 million and coal of Rp. 1.34 million. This means that palm kernel shells are the cheapest and efficient alternative fuel to produce electrical energy.

The potential for renewable energy alternatives in palm kernel shells has also been attracted by the global market. Japan, as an importer of palm kernel shells, used this biomass to generate electricity with the Feed-in Tariff scheme. Even the Japanese Government through the Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) issued an incentive policy for power plant companies that use palm shells as their raw material.

Apart from being a source of energy, palm kernel shells can also be used as a mixture of animal feed, plant fertilizers (biochar), raw materials for plantations road hardening, coarse aggregates in concrete, organic acids, raw materials for making glue, particle board and handicrafts.

In the midst of the Covid pandemic, palm kernel shells can also be processed into disinfectant products which are much needed as an effort to prevent the transmission of the Covid-19 virus. The use of palm kernel shells which is processed into liquid smoke, which is the raw material for producing disinfectants, is one of the potentials that can be developed and its utilization can be maximized into a product that can be marketed globally.

With the many potential products that can be produced from processing palm kernel shells, this biomass is one of the primadonna that is in demanding in the global market. Japan, as one of the largest importing countries for palm kernel shells, has imported this product with an average volume of 1.2 million tons per year.

Based on IQFAST data, the frequency of shipments of palm kernel shells in 1st Semester-2019 was 67 times with export volume reaching more than 466 thousand tons. Meanwhile, in Semester I-2020, the export frequency increased to 85 times with the volume almost doubling to more than 812 thousand tons. This shows that, despite the pandemic and the threat of a global economic recession, the export performance of oil palm shells has increased by 27 percent. Meanwhile, export destinations for palm kernel shells other than Japan are South Korea, Thailand, Singapore, United Kingdom, and Australia.

With the many and varied product potentials, the potential for export foreign exchange generated and a brilliant market opportunity, making palm kernel shells can not only be considered as biomass or waste, but the prospect of this product is much greater. Therefore, Palm Oil Entrepreneurs (Sawitpreneur) and Indonesian Government must work together to make the most of the existing market opportunities by playing a major role in the use of palm kernel shells as an alternative to environmentally friendly energy or other economic value products.

Indonesia merupakan negara yang menghasilkan produksi sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data GAPKI, produksi kelapa sawit di Indonesia tahun 2019 mencapai 51.8 juta ton per tahun. Dengan total produksi yang melimpah, cangkang sawit yang dihasilkan pun mempunyai jumlah yang banyak. Dari satu ton kelapa sawit, dapat menghasilkan limbah cangkang sekitar 6 sampai 7 persen atau sekitar 144 kg. Jika dikonversi, volume cangkang sawit pada tahun 2019 mencapai 7.45 juta ton.

Palm Kernel Shells
Cangkang Kelapa Sawit (Source: gapki.id)

Cangkang kelapa sawit merupakan biomassa sawit dari proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) untuk menghasilkan minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (CPKO). Kandungan cangkang kelapa sawit yang terdiri dari kandungan ash content yang minim, kadar air yang lembab, karbon aktif sekitar 20-22 persen, kadar penguapan (volatile matter) yang tinggi mencapaoi 69-70 persen. Dengan kandungan tersebut membuat cangkang sawit tidak hanya sekedar menjadi limbah yang tak berguna, namun dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi produk yang berguna bahkan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Salah satu pemanfaatan cangkang sawit yang dilakukan oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sebagai sumber tenaga uap untuk bahan bakar broiler atau ketel uap yang diperlukan pada proses produksi minyak sawit. Pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan bakar yang dibutuhkan oleh broiler sangat efisien karena ketersediaanya yang banyak, gratis dan memiliki energi panas yang besar.

Cangkang sawit ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku arang yang memiliki kualitas tinggi. Keunggulan arang dari cangkang sawit dibandingkan dengan arang kayu atau tempurung kelapa adalah energi panas yang dihasilkan dari pembakaran arang cangkang sawit lebih besar yakni mencapai 20 ribu Kj/Kg.

Selain sebagai arang, inovasi produk juga dihasilkan dari pengolahan cangkang sawit menjadi briket arang. Pengolahan cangkang sawit yang dicampur dengan bahan perekat yang mengandung pati sehingga dapat menghasilkan briket arang yang memiliki fungsi sebagai pengganti minyak tanah atau energi fosil lainnya.

Potensi sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan tidak hanya sebatas menjadi sumber energi pada broiler, arang maupun briket arang, namun cangkang sawit dapat menjadi salah satu alternatif energi berkelanjutan pengganti minyak fosil yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik.

Penelitian mengenai hal tersebut sudah sangat banyak dilakukan, salah satunya penelitian Syafriuddin dan Rio (2012) yang membandingkan penggunaan cangkang sawit terhadap batu bara dan solar pada pembangkit listrik. Hasil penelitian tersebut menunjukkan untuk pembangkit listrik per 10 MWh memerlukan cangkang sawit sebanyak 1.2 ton  yang setara dengan solar sebesar 648.82 liter atau batubara 1.3 ton. Sementara itu, biaya yang dikeluarkan dengan menggunakan cangkang sawit pada pembangkit listrik tersebut hanya sebesar Rp 762 ribu, sedangkan biaya jika menggunakan solar sebesar Rp. 2.92 juta  dan  batu bara sebesar Rp. 1.34 juta. Artinya, cangkang sawit merupakan alternatif bahan bakar yang paling murah dan efisien untuk menghasilkan energi listrik.

Potensi alternatif renewable energy dalam cangkang sawit juga sudah dilirik dan diminati oleh pasar global. Jepang sebagai salah satu negara importir cangkang sawit memanfaatkan biomassa tersebut untuk digunakan sebagai pembangkit listrik dengan skema Feed-in Tariff. Bahkan Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) mengeluarkan kebijakan insentif bagi perusahaan pembangkit listrik yang menggunakan cangkang sawit sebagai bahan bakunya.

Selain sebagai sumber energi, cangkang sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak, pupuk tanaman (biochar), bahan baku pengeras jalan kebun, bahan pengisi agregat kasar pada beton, asam organik, bahan baku untuk membuat lem, papan partikel dan kerajinan tangan.

Di tengah pandemi Covid seperti saat ini, cangkang sawit juga dapat diolah menjadi produk disinfektan yang banyak dibutuhkan sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19. Pemanfaatan cangkang sawit yang terlebih dahulu diolah menjadi asap cair yang merupakan bahan baku untuk menghasilkan disinfektan menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan pemanfaatannya dapat dimaksimalkan menjadi suatu produk yang dapat dipasarkan secara global.

Dengan banyak potensi produk yang dapat dihasilkan dari pengolahan cangkang sawit menjadikan produk biomassa sawit ini menjadi salah satu primadona yang diminati di pasar global. Tercatat, Jepang sebagai salah satu negara importir cangkang sawit terbesar telah mengimpor produk tersebut dengan rata-rata volume per tahun sebesar 1.2 juta ton cangkang sawit.

Berdasarkan data IQFAST, mencatat frekuensi pengiriman cangkang sawit pada Semester I-2019 sebanyak 67 kali dengan volume ekspor mencapai lebih dari 466 ribu ton. Sedangkan pada Semester I-2020, frekuensi ekspor meningkat menjadi 85 kali dengan volume meningkat hampir dua kali lipatnya menjadi lebih dari 812 ribu ton. Hal ini menunjukkan, meskipun ditengah pandemi dan ancaman resesi ekonomi global, namun kinerja ekspor cangkang sawit mengalami peningkatan mencapai 27 persen. Sementara itu, selain Jepang, untuk negara tujuan ekspor cangkang sawit antara lain Korea Selatan, Thailand, Singapore, United Kingdom, dan Australia.

Dengan potensi produk yang banyak dan bervariasi, potensi devisa ekspor yang dihasilkan serta peluang pasar yang cemerlang, menjadikan cangkang sawit tidak bisa hanya dianggap sebagai biomassa atau limbah, namun prospek produk ini jauh lebih besar. Oleh karena itu, para Sawitpreneur dan Pemerintah Indonesia harus bekerjasama untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada dengan maksimal dengan memainkan peran utama dalam pemanfaatan cangkang sawit  baik menjadi alternatif energi yang ramah lingkungan atau produk bernilai ekonomi lainnya.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *