Development of Palm Oil-Based Green Fuel Become National Strategic Program

  • English
  • Bahasa Indonesia

President Joko Widodo officially signed Presidential Regulation No. 109/2020 concerning the Acceleration of the Implementation of National Strategic Program. This Presidential Regulation is an amendment of the Presidential Regulation No. 3/2016.

In 2020, the government through the Committee for the Acceleration of the Provision of Priority Infrastructure under the Coordinating Ministry of Economic Affairs will evaluate the proposed national strategic program by considering strategic aspects as well as strategic criterian and operational criteria. Based on these criteria, about 201 projects and 10 programs have been designated as national strategic programs as stipulated in Presidential Regulation No. 109/2020.

green diesel
(Source: Industri-Kontan)
The development of green fuel has become one of the national strategic projects in Presidential Regulation No. 109/2020. To achieve this project, several infrastructures will be built, such as the Green Diesel Bio-Refinery Revampping RU IV Cilacap, Green Refinery of RU III Plaju, CPO Hydrogenation in PT. Pusri Palembang, and Katalis Merah Putih in Pupuk Kujang Cikampek.

 

The inclusion of green fuel as alternative energy development into national strategic projects shows the commitment of the Government of Indonesia in realizing national energy security and independence by reducing dependence on utilizing fossil energy while contributing to reducing global emissions.

Green fuel production (green diesel, green gasoline, and green avtur) utilizes palm oil as a local resource which has abundant availability in Indonesia. This is also in line with the Indonesia Government’s plan to increase the portion of renewable energy by 23 percent in the energy mix by 2025. A further implication of the use of domestic resources in fufilling national energy needs is to reduce imports of fossil energy, so it can strengthen foreign exchange reserves.

Katalis Merah Putih created by researchers from Bandung Institute of Technology succeeded in lifting the energy potential stored in the fatty acid composition of palm oil, which turn out to be very similar characteristics to the hydrocarbon chains in fossil oil. In addition that low emissions, palm oil-based green fuel also has several advantages compared to fossil energy, such as the high cetane number and lower sulfur content in green diesel; high octane number in green gasoline; and also better thermal stability and lower freezing points on green avtur.

The Indonesian government assigned Pertamina to develop and produce palm oil-based green fuel products. The palm oil used by Pertamina as raw material (feedstock) for green diesel and green gasoline is RBDPO (Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil), which is palm oil that has been refined to remove free fatty acids and purification to remove color and odor. Meanwhile, green avtur is produced from processing using RBD of palm kernel oil.

Pertamina has also successfully carried out trials throughout 2020 such as the green diesel (D100) trial at the Dumai Refinery, green gasoline (G20) trials at the Plaju Refinery, and (G13) at the Cilacap Refinery, and also green avtur trials which were also carried out at the Cilacap Refinery.

To support the development of palm oil-based green fuel production, Pertamina will modify one unit of Cilacap refinery, so that the refinery can be used to process pure palm oil. In accordance with Presidential Regulation 109/2020, Pertamina will also build a new refinery for green fuel or bio-refinery with a capacity of 20 thousand bph of palm oil at the Plaju Refinery, South Sumatra. The development of bio-refinery is also carried out at the Cilacap Refinery with a target capacity of 3 thousand BPD of palm oil or the equivalent of 150 thousand tons of palm oil in phase 1 and 6 thousand BPD of CPO or the equivalent of 300 thousand tons of palm oil in phase 2.

With the inclusion of palm oil-based green fuel in national strategic projects, it is hoped that the development of these products can be accelerated immediately. This is due to the large economic benefits and multiplier effects that can be felt by the Indonesian people.

The development of palm oil-based green fuel is also to be a downstreaming program that is able to absorb palm oil domestically, so its stocks are relatively stable which will also have an impact on the stability of prices. The mandatory B30 policy that is implemented in Indonesia has also received praise from global vegetable oil market experts for being able to become a global buffer stock and game-changer of demand. If the palm oil-based green fuel program has been implemented, its conceivable that Indonesia could play a greater role in maintaining the stability of global palm oil prices.

Besides that, the development of palm oil-based green fuel products is also a way to strengthen farmer’s plantation. The palm oil as raw materials (feedstock) used by Pertamina are directed to come from farmers plantations. BPDPKS is also ready to support funding and facilitate the development of palm oil produced by farmers for green fuel products.

Presiden Joko Widodo resmi meneken Peraturan Presiden No. 109/2020 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Perpres ini merupakan perubahan dari Perpres No. 3/2016.

Pada tahun 2020, Pemerintah melalui Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas yang berada dibawah Kemenko Perekonomian melakukan evaluasi atas usulan Program Strategis Nasional (PSN) dengan mepertimbangkan aspek serta kriteria startegis dan kriteria operasional. Berdasarkan kriteria tersebut, sebanyak 201 proyek dan 10 program telah ditetapkan sebagai daftar PSN yang tertuang dalam Perpres 109/2020.

green diesel
(Source: Industri-Kontan)

Pengembangan bahan bakar hijau (green fuel) mejadi salah satu proyek startegis nasional dalam Perpres 109/2020. Untuk mewujudkan proyek tersebut, maka akan dibangun beberapa infrastruktur seperti Green Diesel Bio Refinery Revampping RU IV Cilacap, RU III Plaju Green Refinery, Hidrogenasi CPO PT. Pusri Palembang dan Katalis Merah Putih Pupuk Kujang Cikampek.

Dengan dimasukkannya pengembangan energi alternatif green fuel kedalam proyek strategis nasional menunjukkan kuatnya komitmen Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional dengan mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi global.

Produksi green fuel (green diesel, green gasoline dan green avtur) dengan memanfaatkan minyak sawit sebagai sumberdaya lokal yang ketersediaannya melimpah di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan rencana Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen dalam bauran energy mix tahun 2025. Implikasi lebih lanjutnya dari pemanfaatan sumberdaya domestik dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional adalah dapat mengurangi impor energi fosil sehingga dapat memperkuat cadangan devisa negara.

Katalis Merah Putih yang diciptakan oleh para peneliti dari ITB berhasil mengangkat potensi energi yang tersimpan dalam susunan asam lemak minyak sawit yang ternyata memiliki karakter sangat mirip dengan rantai hidrokarbon pada minyak fosil. Selain rendah emisi, produk green fuel sawit ini juga memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan energi fosil, seperti tingginya cetane number dan sulfur content lebih rendah pada green diesel; octane number yang tinggi pada green gasoline; serta thermal stability yang lebih baik dan freezing point yang lebih rendah pada green avtur.

Pemerintah Indonesia menugaskan BUMN Pertamina untuk mengembangkan dan memproduksi produk green fuel berbasis minyak sawit. Minyak sawit yang digunakan oleh Pertamina sebagai bahan baku green diesel dan green gasoline adalah RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil) yaitu minyak sawit yang sudah melalui proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan untuk menghilangkan warna dan bau. Sementara itu, green avtur dihasilkan dari pengolahan menggunakan RBD dari minyak inti sawit.

Pertamina juga sudah berhasil melakukan uji coba sepanjang tahun 2020 seperti uji coba green diesel (D100) di Kilang Dumai, uji coba green gasoline (G20) di Kilang Plaju dan (G13) di Kilang Cilacap, serta uji coba green avtur yang juga dilakukan di Kilang Cilacap.

Untuk mendukung pengembangan produksi green fuel sawit, Pertamina akan memodifikasi salah satu unit Kilang Cilacap sehingga kilang tersebut dapat digunakan untuk mengolah minyak sawit murni. Sesuai dengan Perpres 109/2020, Pertamina juga akan membangun kilang baru untuk green fuel atau bio-refenery dengan kapasitas sebesar 20 ribu bph minyak sawit di Kilang Plaju Sumatera Selatan. Pembangun bio-refenery juga dilakukan di Kilang Cilacap dengan target kapasitas sebesar 3 ribu bph minyak sawit atau setara 150 ribu ton minyak sawit pada fase 1 dan 6 ribu bph CPO atau setara 300 ribu ton minyak sawit pada fase 2.

Dengan dimasukkannya green fuel berbasis sawit dalam proyek strategis nasional, diharapkan pengembangan produk tersebut dapat segera dipercepat. Hal ini dikarenakan besarnya manfaat ekonomi dan multiplier effect yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Pengembangan green fuel sawit ini juga menjadi program hilirisasi yang mampu menyerap minyak sawit di dalam negeri sehingga stok minyak sawit global relatif stabil yang juga akan berdampak pada stabilitas harga minyak sawit dunia. Kebijakan mandatori B30 yang diimplementasikan di Indonesia juga telah mendapat pujian dari para pakar pasar minyak nabati global karena telah mampu menjadi buffer stock dan game changer demand global. Jika program green fuel sawit ini sudah diimplementasikan, dapat dibayangkan bahwa Indonesia bisa lebih berperan dalam menjaga stabilitas harga minyak sawit dunia karena stok lebih terkontrol.

Tidak hanya itu, pengembangan produk green fuel sawit ini juga menjadi jalan dalam rangka penguatan sawit rakyat. Bahan baku yang digunakan oleh Pertamina diarahkan bersumber dari minyak sawit hasil perkebunan sawit rakyat. BPDPKS juga sudah siap pasang badan untuk mendukung terkait pendanaan dan memfasilitasi pengembangan greenfuel berbasis sawit rakyat.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *