Palm Oil Brown Sugar : “The Sweetener” from Palm Oil Trunk

  • English
  • Bahasa Indonesia

sweetener from palm oil

The involvement of smallholder farmers in cultivating oil palm plantations began around the 1980s with the existence of various partnership patterns implemented by the government. Based on the economic age of oil palm, many of the smallholder oil palm plantations have entered old age and must be replanting. But in reality, there are many farmers who are constrained by the cost of rejuvenation in their oil palm plantations so the current condition is that there are still many smallholder oil palm plantations that are entering old age or even damaged. This condition, if left unchecked continuously, will hamper the national palm oil industry in the future, where demand for palm oil will continue to increase.

 

The government has tried to help the rejuvenation of smallholder oil palm plantations (Peremajaan Sawit Rakyat/PSR) by providing replanting funded by Palm Oil Fund Management Agency (BPDPKS) in the amount of Rp. 25 million. But the realization of this effort is still far from the target of PSR that set by the government of 185 thousan hectares. Meanwhile the realization of PSR only 34.6 thousand hectares in 2018 and 58.1 thousand hectrares in 2019. Therefore, farmers need other funding sources that can fulfill the funding requirements for the process of rejuvenation the oil palm plantation.

The potential funding source to sucesfull replanting of oil palm plantations is produce palm oil brown sugar. The old palm tree trunks that were cut down in the replanting process had the potential to produce roomie juice that could be processed into brown sugar. Oil palm trees that have been cut down can produce roomie juice for 30-40 days with a production of 5-7 liters per day. If the juice is processed into brown sugar, with a sugar yield rate of 20% – 30% so palm oil brown sugar can be produced from 1.2 to 1.75 kg / tree / day during the production phase of the juice.

 

According to Donald Siahaan is one of the scientist in Indonesian Oil Palm Research Institute, the potential for palm palm sugar production is economically able to provide farmers with income of Rp 14.9 million per hectare. This calculation is based on the assumption that the business of producing oil palm sugar is carried out by a group of 10 farmers, each of whom has a 2 hectare plantation with a population of 120 palm trees per hectare. Each palm tree trunk is estimated to produce 5.5 liters of roomie juice for 30 days. So that during the production phase, 228 kg / ha / day of oil palm sugar can be produced.

The advantage of oil palm sugar is that it is healthier than other brown sugars because its constituent composition is sucrose so it does not cause diabetes. But the texture of oil palm sugar is not too hard and it tastes a little less sweet when compared to palm sugar from palm trees. Therefore, these smallholders who have started to cultivate oil palm sugar still mixing roomie juice from palm oil with 25 percent sugar in the production process to match the texture and taste of palm sugar. This is done to adjust to consumer preferences so that oil palm sugar can compete in the market.

With this potential income, smallholder oil palm farmers should see this as a source of funding for the rejuvenation process. This is because roomie juice is obtained from old oil palm trunks that have been cut down, which indeed must be cut down also when rejuvenating oil palm plantations. So it can be said that the process of producing oil palm sugar does not interfere with the technical rejuvenation carried out in the plantation. In fact, the extraction of oil palm roomie juice from trunks reduces attact of the hornbill beetles (Oryctes rhnoceros), which has often attacked rejuvenated oil palm.

The potential of palm sugar production must also be a concern of the government because so far Indonesia is still importing sugar. Oil palm sugar production can be a substitute for importing sugar so that it will save large amount of foreign exchange. If calculated with the rejuvenation assumption at the national oil palm plantations of 4 percent per year of the total area, the production of oil palm sugar can reach 2.5 million tons. With the great potential of oil palm sugar when combined with the production of sugar from other plants, Indonesia in the future can achieve the sugar self-sufficiency target.

sweetener from palm oil

Keterlibatan petani rakyat dalam mengusahakan kebun sawit yang dimulai sekitar tahun 1980-an dengan adanya berbagai pola kemitraan yang diterapkan pemerintah. Berdasarkan umur ekonomis kelapa sawit, banyak perkebunan sawit rakyat tersebut yang sudah memasuki umur tua dan harus diremajakan kembali. Namun pada kenyataannya, banyak petani yang terkendala biaya untuk melakukan proses peremajaan di kebun – kebun sawit miliknya sehingga kondisi saat ini masih banyak kebun – kebun sawit rakyat yang memasuki umur tua atau bahkan rusak. Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus akan menghambat industri sawit nasional di masa depan yang kebutuhan terhadap minyak sawitnya akan terus meningkat.

 

Pemerintah telah berupaya membantu peremajaan kebun sawit rakyat dengan memberikan bantuan biaya peremajaan yang didanai oleh BPDP Kelapa Sawit sebesar Rp. 25 juta per hektar. Namun,  realisasi PSR ini masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 185 ribu hektar.  Sedangkan realisasi PSR hanya sebesar 34.6 ribu hektar tahun 2018 dan 58.1 ribu hektar tahun 2019. Oleh sebab itu, petani butuh sumber pendanaan lain yang dapat memenuhi kebutuhan dana untuk proses peremajaan kebun sawit.

Potensi sumber pendanaan tersebut ternyata berada di kebun sawit rakyat yang akan diremajakan itu sendiri. Ternyata batang pohon sawit tua yang ditebang dalam proses peremajaan memiliki potensi menghasilkan air nira yang  dapat diolah menjadi gula merah sawit. Batang kelapa sawit yang sudah ditebang ini dapat menghasilkan air nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari. Apabila air nira ini diolah menjadi gula merah, dengan tingkat rendemen gula 20% – 30% maka dapat dihasilkan gula merah sawit 1.2 – 1.75 kg/pohon/hari selama fase produksi air nira tersebut.

Menurut Donald Siahaan yang merupakan salah satu peneliti di Pusat Penelitan Kelapa Sawit, potensi produksi gula merah sawit ini secara ekonomi dapat memberikan pendapatan bagi petani sebesar Rp14.9 juta per hektar. Perhitungan ini dilakukan dengan asumsi usaha produksi gula merah sawit dilakukan oleh kelompok petani sebanyak 10 orang  yang masing – masing memiliki kebun 2 hektar dengan populasi 120 pohon sawit per hektar. Setiap batang pohon sawit diperkirakan akan menghasilkan 5,5 liter air nira selama 30 hari. Sehingga selama fase produksi tersebut dapat dihasilkan 228 kg/ha/hari gula merah sawit.

Keunggulan dari gula merah sawit ini yaitu lebih sehat dibandingkan gula merah lainnya karena susunan penyusunnya berupa sukrosa sehingga tidak menyebabkan diabetes. Namun tekstur gula merah sawit tidak terlalu keras dan rasanya sedikit kurang manis apabila dibandingkan gula merah dari pohon aren. Oleh sebab itu, petani – petani sawit rakyat yang sudah mulai mengusahakan gula merah sawit ini masih melakukan pencampuran air nira sawit dengan gula sebanyak 25 persen dalam proses produksi untuk menyamai tekstur dan rasa gula merah aren. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan preferensi konsumen agar gula merah sawit dapat bersaing  di pasaran.

Dengan potensi pendapatan tersebut, petani sawit rakyat harusnya melihat ini sebagai sumber pendanaan untuk proses peremajaan. Hal ini karena air nira diperoleh dari batang sawit tua yang sudah ditebang, yang memang harus ditebang pula saat melakukan peremajaan kebun sawit. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses produksi gula merah sawit ini tidak mengganggu teknis peremajaan yang dilakukan pada kebun tersebut. Justru pengambilan air nira di batang sawit mengurangi serangan hama kumbang tanduk (Oryctes rhynoceros), yang selama ini sering menyerang tanaman sawit yang diremajakan

Potensi produksi gula merah sawit ini juga harus menjadi perhatian pemerintah karena selama ini Indonesia masih melakukan impor gula. Produksi gula merah sawit dapat menjadi substitusi impor gula sehingga akan menghemat devisa dalam jumlah yang besar. Apabila dihitung dengan asumsi peremajaan di perkebunan sawit secara nasional sebesar 4 persen per tahun dari total luas area, maka produksi gula merah sawit dapat mencapai 2,5 juta ton. Dengan potensi gula merah sawit sebesar ini apabila dikombinasikan dengan produksi gula dari tanaman lain, maka Indonesia di masa depan dapat mencapai target swasembada gula.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *