Palm O’Corner at Diponegoro University: The Development of Palm Oil Downstream in Indonesia Must Be Optimized

  • English
  • Bahasa Indonesia

Indonesia has been the largest producer of palm oil in the world since 2006. Not only as the largest producer, Indonesia has also succeeded in becoming the largest exporter of palm oil in the world. However, behind this achievement, the structure of Indonesian palm oil exports in the 2000s was dominated by CPO (raw product) with a share of 60 percent.

To get a large export foreign exchange, a large CPO export volume is needed because the CPO price in the global market is lower. Indonesia also has to give up the process of increasing the added value of CPO into a finished product that occurs in the importer country. This condition also has implications for the instability of the national palm oil industry, given the large dependence of Indonesia’s CPO on the global market.

In order to minimize the large dependence on the global CPO market while optimizing the multiplier effect and economic benefits that can be created from the process of increasing the added value of palm oil, the Indonesian government has started to actively implement palm oil downstreaming since 2011. These programs and policies have an impact on the development of the palm oil-based downstream industry in Indonesia. One of the indicators is the change in the structure of palm oil exports, which was initially dominated by CPO but has now changed to where the export share of processed palm oil-based products has reached 80 percent.

Downstreaming of palm oil in Indonesia remains an interesting issue to discuss, especially now that domestic palm oil research is growing and has succeeded in revealing various potentials of palm oil that can be developed into finished products with high added value and high economic value. Therefore, PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) in collaboration with the Department of Agriculture Student Association (HMD Pertanian) held a literacy program about palm oil, namely Palm O’Corner at Diponegoro University on Saturday (24/7). The topic raised at Palm O’Corner this time was “The Development of Palm Oil Downstream in Indonesia”.
palm oil corner
Palm O’Corner at Diponegoro University

To discuss this topic, the Palm O’Corner webinar at Diponegoro University presents four speakers who are competent in their respective fields, namely: Dr. Tungkot Sipayung (Executive Director of PASPI); Prof. Dr. Ir. Anang M. Legowo, Ph.D. (Lecturer at Diponegoro University); Lila H. Bakhtiar, ST, MT (Ministry of Industry of the Republic of Indonesia); and Ir. Sahat M. Sinaga (Executive Director of GIMNI).

As a representative of the Indonesian government, Mr. Lila H. Bakhtiar, ST, MT, who currently serves as the Head of Sub-Directorate for Industry of Plantation-Based Non-Food Products, Directorate General of Agro-Industry, Ministry of Industry, said that the Indonesian government is focused on further developing the palm oil-based downstream industry, which is divided into the four 4-F pathways: Food and Phytonutrient, Fine Chemical, Fuel, and Fiber. The government also has a target for downstreaming the palm oil industry by 2030, which is 200 varieties of downstream products with a volume of domestic consumption of 19.26 million tons, an export ratio of downstream products of 80 percent, and contributing to foreign exchange of USD 43.41 billion.

To achieve this target, the Indonesian government has also implemented policies to support the development of the palm oil-based downstream industry, including export levies, tax incentives for the palm oil-based oleofood and oleochemical industries, and policies to strengthen the competitiveness of the downstream palm oil industry. In addition to the policy package, the Indonesian Ministry of Industry is currently taking the initiative to encourage the segregation of palm oil quality as an industrial raw material to strengthening competitiveness of upstream-downstream industries in the borderless world era.

Agreeing with representatives from the Ministry of Industry, Mr. Dr. Tungkot Sipayung, who is the Executive Director of PASPI, also said that downstreaming is part of the industrialization strategy, both for export promotion so that it can increase foreign exchange and for import substitution in order to reduce import dependence so as to save foreign exchange imports. In addition, the multiplier effect created by the development of the downstream industry is also very large, such as job-creation, increased value-added and output, and increased income. The downstream palm oil industry is also able to increase the bargaining power of the Indonesian palm oil industry in the global market.

One of the downstream palm oil products that has the potential to be developed is modern food products that still retain the phytonutrients contained in palm oil. In his presentation, Prof. Dr. Ir. Anang M. Legowo, Ph.D, who is one of the lecturers in Food Technology at Diponegoro University, revealed that the micronutrient content (phytonutrients) in palm oil such as carotenoids, polyphenols, phytosterols, vitamin A, and vitamin E must be utilized to produce superfoods that are beneficial for human health.

Ir. Sahat Sinaga, Director Excecutive of GIMNI and also received an award as Palm Oil Innovators in 2020, also agreed with Prof. Anang’s statement related to the need to optimize the use of natural nutrients in palm oil to improve community nutrition, especially preventing stunting. To achieve this vision, it is necessary to develop new technology in palm oil processing so that it can be used as a downstream product in the form of healthy edible oil-based on palm oil, which is rich in nutrients as well as Pro-Vitamin A and Vitamin E supplements.

At the end of the discussion, the speakers/panelists agreed that palm oil (oil, biomass, and waste) has millions of potentials to be developed as a finished product with high economic value while creating great economic benefits. To support the development of downstream industries, collaboration and cooperation between stakeholders are needed, both the government, industry players, and researchers/academics/students. In this way, Indonesia’s goal of not only becoming the global “king of CPO” but also becoming the “king of downstream palm-based products” in the world will also be achieved.

Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2006. Tidak hanya sebagai produsen terbesar, Indonesia juga berhasil menjadi eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Namun dibalik predikat yang membanggakan tersebut, struktur ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2000-an masih didominasi oleh CPO (raw product) dengan pangsa ekspor CPO sebesar 60 persen.

Untuk memperoleh devisa ekspor yang banyak, maka diperlukan volume ekspor CPO yang besar karena harga CPO di pasar global lebih rendah. Indonesia juga harus merelakan proses peningkatan nilai tambah CPO menjadi produk akhir (finished product) terjadi di negara importir. Kondisi ini juga berimplikasi pada ketidakstabilan industri minyak sawit nasional, mengingat besarnya ketergantungan CPO Indonesia terhadap pasar global.

Untuk meminimalisir besarnya ketergantungan terhadap pasar CPO global sekaligus mengoptimalkan multiplier effect dan manfaat ekonomi yang dapat diciptakan dari proses peningkatan nilai tambah sawit di dalam negeri, maka Pemerintah Indonesia mulai aktif menggalakkan hilirisasi sawit di dalam negeri sejak tahun 2011. Program dan kebijakan pemerintah tersebut berdampak pada perkembangan industri hilir berbasis sawit di Indonesia. Salah satu indikatornya adalah perubahan struktur ekspor sawit yang awalnya didominasi oleh CPO namun kini berubah dimana pangsa ekspor produk sawit olahan yang telah mencapai 80 persen.

Hilirisasi sawit di Indonesia tetap menjadi isu yang menarik untuk dibahas, terlebih saat ini riset penelitian perkelapasawitan di dalam negeri semakin berkembang yang berhasil mengungkap berbagai potensi sawit yang dapat dikembangkan menjadi finished product yang bernilai tambah tinggi dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Pertanian menyelenggarakan program edukasi dan literasi sawit yaitu Palm O’Corner di Universitas Diponegoro pada hari Sabtu (24/7). Topik yang diangkat pada Palm O’Corner kali ini adalah “Perkembangan Hilirisasi Sawit di Indonesia”.

palm oil corner
Palm O’Corner di Universitas Diponegoro

Untuk membahas topik tersebut, maka webinar Palm O’Corner di Universitas Diponegoro ini menghadirkan empat narasumber yang kompeten dibidangnya masing-masing yaitu: Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI); Prof. Dr. Ir. Anang M. Legowo, Ph.D (Dosen Universitas Diponegoro); Lila H. Bakhtiar, ST, MT (Kementerian Perindustrian RI); dan Ir. Sahat M. Sinaga (Direktur Eksekutif GIMNI).

Sebagai perwakilan pemerintah terkait, Bapak Lila H. Bakhtiar, ST, MT yang saat ini menjabat sebagai Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian RI, menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia fokus untuk semakin mengembangkan industri hilir berbasis sawit yang dibagi menjadi empat jalur 4-F yaitu Food and Fitonutrient, Fine Chemical, Fuel dan Fiber. Pemerintah juga memiliki target hilirisasi industri kelapa sawit tahun 2030 yaitu 200 ragam/jenis produk hilir dengan volume konsumsi domestik mencapai 19.26 juta ton, rasio ekspor produk hilir mencapai 80 persen dan berkontribusi terhadap devisa sebesar USD 43.41 miliar.

Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Indonesia juga mengimplementasikan seperangkat kebijakan yang mendukung berkembangnya industri hilir berbasis sawit diantaranya adalah pungutan ekspor (levy), insentif perpajakkan bagi industri oleopangan dan oleokimia berbasis sawit serta kebijakan penguatan daya saing industri hilir sawit. Selain paket kebijakan tersebut, saat ini Kementerian Perindustrian RI juga sedang menginisiasi segregasi kualitas minyak sawit sebagai bahan baku industri untuk mendorong penguatan daya saing industri hulu-hilir pada era borderless world.

Sepakat dengan Kementerian Perindustrian RI, Bapak Dr. Tungkot Sipayung juga menyebutkan bahwa hilirisasi merupakan bagian dari strategi industrialisasi baik untuk promosi ekspor sehingga dapat semakin meningkatkan devisa maupun untuk substitusi impor dalam rangka mengurangi ketergantungan impor sehingga dapat menghemat devisa impor. Selain itu, multiplier effect yang diciptakan dari perkembangan industri hilir juga sangat besar seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah dan output serta peningkatan pendapatan. Industri hilir sawit juga mampu meningkatkan bargaining power industri sawit Indonesia di pasar global.

Salah satu produk hilir sawit yang sangat berpotensi dikembangkan adalah produk pangan modern yang masih mempertahankan fitonutrien yang terkandung dalam minyak sawit. Dalam paparannya, Prof. Dr. Ir. Anang M. Legowo, Ph.D yang merupakan salah satu dosen Teknologi Pangan Universitas Diponegoro mengungkapkan bahwa kandungan mikronutrien (fitonutrien) dalam minyak sawit seperti Karetonoid, Polifenol, Fitosterol, Vitamin A dan Vitamin E harus dimanfaatkan untuk menghasilkan superfood sebagai pangan berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan.

Ir. Sahat Sinaga yang merupakan Direktur Eksekutif GIMNI yang juga dinobatkan sebagai salah satu Inovator Sawit tahun 2020 juga mengamini pernyataan Prof. Anang terkait perlu adanya optimalisasi pemanfaatan nutrisi alami dalam minyak sawit untuk perbaikan gizi masyarakat maupun secara khusus mencegah stunting. Untuk mencapai visi tersebut, maka perlu dilakukan pengembangan teknologi baru dalam pengolahan minyak sawit sehingga dapat dijadikan produk hilir berupa minyak makan sehat berbasis minyak sawit yang kaya akan nutrisi maupun suplemen Pro-Vitamin A dan Vitamin E.

Di akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa kelapa sawit (minyak, biomassa dan limbahnya) menyimpan jutaan potensi untuk dikembangkan sebagai finished product yang bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang besar Untuk mendukung berkembangnya industri hilir maka dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama antar stakeholder baik pemerintah, pelaku industri maupun peneliti/akademisi/mahasiswa. Dengan demikian, cita-cita Indonesia yang tidak hanya menjadi “raja CPO dunia” tetapi juga menjadi “raja produk hilir berbasis sawit dunia” akan tercapai.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *