LOGO PASPI WEB

Palm O’Corner Di Universitas Universitas Gadjah Mada: Sawit Terbukti Berkontribusi Pada Perekonomian Nasional Dan Global

Daftar Isi

PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) kembali menyelenggarakan acara Palm O’Corner di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada hari Sabtu (1/5). Program edukasi dan literasi sawit ini merupakan hasil kolaborasi antara PASPI dengan Keluarga Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (KMSEP) Fakultas Pertanian UGM. Topik yang diangkat pada Palm O’Corner kali ini adalah “Kontribusi Industri Sawit dalam Perekonomian Nasional dan Global”.

Palm O’Corner di Universitas Gadjah Mada menghadirkan narasumber yaitu: Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI); Dr. Jamhari, MP (Dekan Fakultas Pertanian UGM) dan Marina Novira (Atase Perdagangan RI di Beijing).

Dalam menyampaikan paparan pertama, Dr. Jamhari memantik diskusi dengan mengungkapkan hasil penelitian tesis yang dilakukannya pada tahun 1999 terkait bukti ilmiah kontribusi industri sawit dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan Tabel Input-Output tahun berdasarkan data Susenas Pertanian BPS menunjukkan bahwa kelapa sawit adalah sektor unggul karena kemampuannya diatas rata-rata untuk menarik sektor hulunya (industri pupuk, industri alsintan) dan mampu mendorong sektor hilirnya (industri pengolahan). Selain itu, kelapa sawit juga mampu menghasilkan multiplier effect yang besar terhadap peningkatan output GDP, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan nilai tambah.

Hasil penelitian tahun 1999 tersebut juga masih in line dengan kondisi saat ini, dimana komoditas kelapa sawit mampu membantu sektor pertanian untuk tumbuh positif menyelamatkan perekonomian Indonesia dari defisit yang semakin besar di tahun 2020. Peran sawit dalam perekonomian Indonesia juga ditunjukkan juga dengan penyerapan tenaga kerja yang semakin meningkat. Profil industri yang tergolong padat karya mampu menyerap 4.6 juta tenaga kerja langsung yang didalamnya terdapat 2.3 juta petani rakyat dan sekitar 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Selain itu, perkembangan hilirisasi sawit yang semakin dinamis juga mampu berkontribusi terhadap semakin besarnya devisa ekspor yang dihasilkan dan tercapainya ketahanan energi dengan melalui pengembangan biodiesel sawit.

Namun, dibalik besarnya peran dan kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional, masih terdapat beberapa permasalahan seperti rendahnya produktivitas sawit (khususnya sawit rakyat), ketercapaian ISPO yang yang masih rendah, hilirisasi yang belum optimal dan masifnya black campaign. Di akhir pemaparannya, Dekan Fakultas Pertanian UGM ini juga menyebutkan bahwa sawit terbukti sebagai komoditas yang memiliki daya serang yang kuat namun kita harus bangun lini pertahanan pada bagian kelemahannya.

Sementara itu, Dr. Tungkot Sipayung dalam diskusi sawit ini memaparkan peran industri sawit yang tidak hanya berkontribusi pada perekonomian nasional, tetapi juga turut menggerakkan roda perekonomian global, khususnya negara-negara importir minyak sawit. Sebagai juara dunia diantara Top-4 minyak nabati dunia yang berperan sebagai feeding and biofueling the world, kegiatan hilirisasi minyak sawit yang dilakukan oleh negara-negara importir tersebut juga mampu meningkatkan job creation sebanyak 2.7 juta orang dan income generating (GDP) mencapai USD 38 miliar tahun 2020 yang terdistribusi di India, China, Uni Eropa, Pakistan & Bangladesh, Afrika dan negara lainnya.

Selain itu, minyak sawit juga terbukti pro-poor dimana harga minyak sawit yang lebih murah dibandingkan harga minyak nabati lainnya sehingga minyak sawit maupun produk berbasis sawit mudah dijangkau oleh masyarakat miskin dunia. Keunggulan harga minyak sawit yang demikian juga mampu berperan menjadi buffer untuk kenaikan harga berlebihan dari minyak nabati lainnya.

Hal yang menarik dari paparan Direktur Eksekutif PASPI ini adalah simulasi yang menunjukkan sawit adalah minyak nabati yang hemat deforestasi. Phase out minyak sawit dari pasar dunia memicu deforestasi yang lebih besar sebanyak 167 juta hektar untuk ekspansi kebun kedelai, rapeseed dan bunga matahari. Selain itu, budidaya sawit dengan produktivitas yang ditingkatkan dua kali lipat juga dapat memenuhi kebutuhan minyak nabati yang semakin besar sekitar 260 juta ton menuju tahun 2050 dan tanpa memperluas deforestasi dunia (zero deforestation). Artinya jika masyarakat global berkomitmen untuk mengurangi deforestasi dunia, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan tidak memerangi sawit namun harus mendukung sawit yang tergolong minyak sawit yang efisien dan hemat lahan.

Melihat antusiasme yang besar dari para peserta Palm O’Corner yang tidak hanya diikuti oleh mahasiswa UGM tetapi juga diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia menimbulkan optimisme yang tinggi akan terbentuknya citra positif sawit. Hal ini dikarenakan para peserta Palm O’Corner telah teredukasi dengan berbagai fakta dan data yang menunjukkan besarnya peran sawit untuk menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan yang inklusif bagi masyarakat global. Persepsi ini sangat penting untuk dimiliki oleh mahasiswa Indonesia mengingat semakin masifnya black campaign sawit yang menargetkan generasi milenial dan gen-Z Indonesia.

BAGIKAN ARTIKEL INI

0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
MARI BERLANGGANAN PASPI NEWSLETTER