Palm O’corner at University of Indonesia: Palm Oil Proven to be A Vitamin and Micronutrient Factory, but……

  • English
  • Bahasa Indonesia

Last Saturday (20/3/21), Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) in collaboration with the Student Executive Board (BEM) of the Faculty of Pharmacy, University of Indonesia, held an online seminar, namely Palm O’Corner. The topic of this online seminar was “Palm Oil in Nutrition and Health Issues”. This is very relevant to the current situation and conditions amid the Covid-19 pandemic. Especially along with the increase in health awareness during the pandemic, making the public pretty concerned about maintaining food and nutrition intake to avoid the Covid-19 virus.

palm oil corner

The Palm O’Corner presented three speakers, namely Dr. Tungkot Sipayung (Executive Director of PASPI), Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si (Dean of the Faculty of Pharmacy, University of Indonesia), and Dr. Arif Havas Oegroseno (Ambassador of the Republic of Indonesia for the Federal Republic of Germany). They have different backgrounds and they are also experts in their fields so that the topic of health and nutrition issues in palm oil can be comprehensively explored from various perspectives.

Dr. Tungkot Sipayung sparked the discussion by explaining the role of palm oil for health in broad aspects, namely environmental health and the health of the human body. The role of oil palm plants to maintain environmental health through its role as the “lungs of the ecosystem“, which in the end also plays a role in improving human health.

Related to this role, the ability of oil palm plants to absorb carbon dioxide from the earth’s atmosphere and produce oxygen is quite large, respectively 64.5 tons CO2/ha/year and 18.7 tons O2/ha/year. The ability of oil palm plantations is greater than the ability of tropical forests to absorb carbon which is only 42.4 tons CO2/ha/year and forest oxygen production of 7.09 tons O2/ha/year.

The contribution of oil palm in maintaining environmental health can also be seen from its role in producing clean energy with low emissions, one of them is palm biodiesel. This role is also expected to greater, along with the development of palm green fuel production (green diesel, green gasoline, and green avtur) which can substitute the use of fossil fuels which are a contributor to carbon emissions. Other palm oil derivative products also contribute to maintaining environmental health, such as oleochemical products such as soap and shampoo, and bioplastics, which more environmentally friendly because they are biodegradable or easily decomposed in nature.

The Economist and Palm Oil Industry Expert who also serves as the Executive Director of PASPI also described the advantages of palm oil in terms of health, such as factory of vitamins A and E, a balanced content of saturated and unsaturated fatty acids, free of trans fatty acids, and contains essential fatty acids. Even during the Covid-19 pandemic, palm oil is increasingly proving its existence which has benefit for human health through its vitamin and phytonutrient content and hygiene products.

From the academic perspective of pharmacy, Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si explained that palm oil is very rich in various vitamins and micronutrients which are beneficial to health and reduce the risk of various chronic diseases. Palm oil contains lots of betacarotene (vitamin A) as well as tocopherols and tocotrienols (vitamin E) which are rich in antioxidants so that they can increase the immune system and prevent cancer. This antioxidant content is also found in other micronutrient components in palm oil such as Lycopene, Lutein, and Ubiquinone 10 (UQ-10). The palmitic acid in palm oil has also been shown to reduce cardiovascular risk.

Closing his presentation, Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si concluded that palm oil has many advantages in the health aspect so that it is very prospective to be developed into preventive health products such as multivitamins. Given that currently the Indonesian pharmaceutical industry still relies heavily on imported raw materials, the development of palm oil-based pharmaceutical products is expected to be a solution to dependence on imports.

However, it faces various obstacles, one of which is the lack of research on the technology of processing palm oil into pharmaceutical products. Therefore, the speaker who also serves as the Dean of the Faculty of Pharmacy of University of Indonesia encourages Pharmacy students to research in this field by utilizing BPDPKS funding support as an effort to succeed in developing innovative palm oil-based pharmaceutical products in Indonesia.

The last speaker, namely Dr. Arif Havas Oegroseno, who currently serves as the Ambassador of the Republic of Indonesia for the Federal Republic of Germany since 2018, said that although palm oil has proven to has advantages in terms of health, until now, the potential for utilization and market access of palm oil and its derivative products is still hampered by various challenges in the global market. These challenges referred to include the increase of the black campaign that attacks palm oil and the importing country’s trade policies that discriminate against palm oil. Even though their motive behind it is protectionism carried out by western countries as vegetable oil producers, which are palm oil competitors.

At the end of his presentation, the Ambassador also advised that we must defend Indonesian palm oil by “flooding” the European Union and the world with information related to the positive campaigns or counter hoaxes based on data and facts from studies/empirical studies, do not use the strategy that has been used which is likened to “Not Evenly Drizzle Rain”.

The common thread of this discussion is there are many research and studies conducted by researchers in Indonesia and abroad that reveal the various contents of palm oil that are beneficial to human health. However, in its development to produce products of high economic value, namely palm oil-based pharmaceutical products (drugs or supplements) in Indonesia, there are still faces many challenges, such as lack of research factors to potential challenges to market obstacles and trade competition faced by the palm oil industry.

Pada hari Sabtu (20/3/21), Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Indonesia menyelenggarakan seminar online Palm O’Corner . Topik yang diangkat pada seminar online tersebut yaitu “Minyak Sawit dalam Isu Gizi dan Kesehatan”. Topik tersebut sangat relate dengan situasi dan kondisi saat ini di tengah pandemi Covid-19. Terlebih seiring dengan meningkatnya health awareness di masa pandemi, membuat masyarakat cukup concern untuk menjaga asupan makanan dan gizi agar terhindar dari virus Covid-19.

palm oil corner

Palm O’Corner juga menghadirkan tiga narasumber yaitu Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI), Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si (Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia) dan Dr. Arif Havas Oegroseno (Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman). Ketiga narasumber tersebut berlatar belakang background yang berbeda dan ahli pada bidangnya masing-masing, sehingga topik isu kesehatan dan gizi pada minyak sawit dapat dikupas secara komprehensif dari berbagai sudut pandang.

Dr. Tungkot Sipayung memantik diskusi dengan memaparkan peran sawit bagi kesehatan dalam aspek yang luas yaitu kesehatan lingkungan maupun kesehatan tubuh manusia. Peran kelapa sawit untuk menjaga kesehatan lingkungan melalui perannya sebagai “paru-paru ekosistem”, juga pada akhirnya berperan untuk meningkatkan kesehatan manusia.

Terkait dengan perannya tersebut, kemampuan tanaman kelapa sawit untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfir bumi dan memproduksi oksigen cukup besar masing-masing sebesar 64.5 ton CO2/ha/tahun dan 18.7 ton O2/ha/tahun. Kemampuan perkebunan sawit tersebut lebih besar dibandingkan dengan kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon yang hanya sebesar 42.4 ton CO2/ha/tahun dan produksi oksigen hutan sebesar 7.09 ton O2/ha/tahun.

Kontribusi sawit dalam menjaga kesehatan lingkungan juga dapat dilihat dari peranannya dalam memproduksi energi bersih yang rendah emisi, salah satunya melalui biodiesel sawit. Peran sawit dalam menyediakan udara bersih juga diperkirakan akan semakin besar, seiring dengan perkembangan produksi greenfuel sawit (green diesel, green gasoline dan green avtur) yang mampu mensubsitusi penggunaan fosil yang menjadi kontributor emisi karbon. Produk turunan minyak sawit lainnya juga kontributor dalam menjaga kesehatan lingkungan, seperti produk turunan oleokimia sawit seperti sabun dan shampo serta bioplastik yang lebih ramah lingkungan karena bidodegrable atau mudah teruraikan di alam.

Ekonom dan Pengamat Industri Sawit yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif PASPI juga menjabarkan keunggulan minyak sawit dalam aspek kesehatan seperti pabrik vitamin A dan E, kandungan asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bebas asam lemak trans dan mengandung asam lemak esensial. Bahkan di masa pandemi Covid-19, sawit semakin membuktikan eksistensi yang bermanfaat bagi kesehatan karena kandungan vitamin dan mikronutrien maupun produk higenitas.

Dari sisi akademisi bidang farmasi, Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si memaparkan bahwa minyak sawit sangat kaya akan kandungan berbagai vitamin dan mikronutrien yang bermanfaat bagi kesehatan dan mengurangi resiko terkena berbagai penyakit yang kronis. Minyak sawit banyak mengandung betacarotene (vitamin A) serta tocopherol dan tocotrienol (vitamin E) yang kaya antioksidan sehingga mampu meningkatkan sistem imun dan mencegah penyakit kanker. Kandungan antioksidan tersebut juga ditemukan pada komponen mikronutrien pada minyak sawit lainnya seperti Likopen, Lutein, dan Ubiquinon 10 (UQ-10). Asam palmitat yang terkandung dalam minyak sawit juga terbukti dapat mengurangi resiko kardiovaskular.

Menutup paparannya, Dr. apt Mahdi Jufri, M.Si menyimpulkan bahwa minyak sawit memiliki banyak keunggulan dalam aspek kesehatan sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan yang sifatnya preventif seperti multivitamin. Mengingat saat ini industri farmasi Indonesia masih sangat bergantung terhadap bahan baku impor, sehingga pengembangan produk farmasi berbasis minyak sawit diharapkan menjadi solusi atas ketergantungan impor.

Namun, pengembangan produk tersebut menghadapi berbagai hambatan salah satunya masih rendahnya riset penelitian teknologi pengolahan minyak sawit menjadi produk farmasi. Oleh karena itu, narasumber yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Farmasi UI juga mendorong mahasiswa Farmasi untuk melakukan penelitian di bidang ini dengan memanfaatkan dukungan pendanaan BPDPKS sebagai upaya untuk menyukseskan pengembangan produk farmasi berbasis minyak sawit di Indonesia.

Narasumber terakhir yaitu Dr. Arif Havas Oegroseno yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman sejak tahun 2018, mengungkapkan meskipun kelapa sawit terbukti memiliki keunggulan dari aspek kesehatan, namun hingga saat ini potensi untuk pemanfaatan dan akses pasar dari minyak sawit maupun produk turunannya masih terganjal berbagai tantangan pasar global. Tantangan yang dimaksud seperti semakin intensifnya black campaign yang menyerang sawit hingga kebijakan perdagangan negara importir yang mendiskriminasi minyak sawit. Padahal motif dibaliknya adalah proteksionisme negara barat sebagai produsen minyak nabati kompetitor minyak sawit.

Di akhir paparannya, Bapak Dubes juga berpesan bahwa kita harus membela sawit Indonesia dengan “membanjiri” Uni Eropa dan dunia dengan informasi terkait promosi sawit atau counter hoax berdasarkan data dan fakta hasil studi/kajian empiris, jangan menggunakan startegi yang selama ini digunakan yang diibaratkan seperti “Hujan Gerimis Tidak Merata”.

Benang merah dari diskusi ini adalah banyak penelitian dan studi baik yang dilakukan oleh para peneliti di Indonesia maupun di luar negeri yang mengungkap berbagai kandungan minyak sawit yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Namun, dalam pengembangannya untuk menghasilkan produk nilai ekonomi tinggi yaitu produk farmasi berbasis sawit (obat atau suplemen) di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan seperti rendahnya riset penelitian hingga potensi tantangan hambatan pasar dan kompetisi dagang yang dihadapi oleh industri sawit.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *