Palm O’corner at the University of Bengkulu: The Palm Industry Proven Drives Economic Growth in Bengkulu Province

  • English
  • Bahasa Indonesia

The role of the palm oil industry in regional economic growth has been proven by various empirical studies. One of them is the PASPI study (2014), which states the fact that the growth of palm oil (CPO) production has a positive and significant impact on the growth of Gross Regional Domestic Product (GRDP) and reduces poverty in oil palm center areas faster than in non-palm oil center areas. The results of the PASPI study also confirm other studies both on a national and international level regarding the contribution of palm oil to the regional economy.

Although there are many empirical studies and facts that show the role of oil palm in the regional economy, socio-economic issues such as exclusivism and non-inclusiveness in oil palm plantations with the narrative of oil palm plantations do not contribute to the rural and regional economy, which is used by anti-palm NGOs to damage the image of the national palm oil industry. This issue has also spread among Indonesian students, so it has the potential to cause hatred towards palm oil.

palm oil corner

Therefore, as a think tank in the national palm oil industry, PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute), in collaboration with the Development Economics Student Association (HIMEP), organized the event Palm O’Corner at Bengkulu University. The issue raised in the Palm O’Corner is related to the role of the palm oil industry in the regional economy. To discuss this topic, the Palm O’Corner webinar at the University of Balikpapan presents three presenters who are competent in their respective fields, namely: Dr. Tungkot Sipayung (Executive Director of PASPI); Dr. Retno Agustina Ekaputri SE., M.Sc (Dean of FEB UNIB); and Mr. John Irwansyah Siregar (Chairman of GAPKI Bengkulu Province).

 

Bengkulu Province is also one of the oil palm center provinces, with five main oil palm center districts, namely Muko-Muko, North Bengkulu, Seluma, South Bengkulu, and Central Bengkulu. Based on data in the Oil Palm Statistics Book for 2018-2020, it is stated that the oil palm plantation area in this province reached 311.8 thousand hectares in 2018.

Smallholders are the main actors, who own 67% of the area of ​​oil palm plantations and produce a volume of palm oil that reaches 735.77 thousand tons of CPO. Other actors in oil palm plantations in Bengkulu Province are private companies (32.8%) and state companies (0.02%). In addition to oil palm plantations, there are also 30 palm oil mills (with and without plantations) with a capacity of 1280.7 tons/hour.

Mr. John Irwansyah Siregar stated in his presentation that the large number of smallholders in oil palm plantations in Bengkulu Province had an effect on the large economic benefits that were felt directly by the local community. Oil palm plantations are also estimated to directly employ up to 500 thousand people, or more than a quarter of Bengkulu’s population. This shows that the palm oil economy also has a role in the economy of Bengkulu Province.

Oil palm plantations in Bengkulu Province have also been empirically proven to contribute to the Bengkulu economy through their role as an economic locomotive, which has implications for the development of a new economic center through the expansion of the North Bengkulu Regency area into one of Benteng Regency due to the presence of 4 palm oil mills in the region. As well as the provision of business in the livestock sector as an implication of using cows for transporting FFB, which is used by one of the oil palm plantation companies in Bengkulu.

GAPKI’s chairman of the Bengkulu Province for the period 2019-2024 also mentioned the huge potential of the palm oil industry for the Bengkulu economy in the future by utilizing infrastructure facilities that are being developed, such as the toll road from Lubuk Linggau to Bengkulu and an industrial area on Baai Island. The development of a palm oil-based downstream industry in Bengkulu Province must also be encouraged to be carried out immediately, considering that there are currently no downstream activities, so there is no processing of increasing value-added palm oil in Bengkulu. But, currently, the Crashing Plant CPKO is being developed on Baai Island.

Dr. Retno Agustina Ekaputri SE., M.Sc. is also concerned with the growth of the downstream palm oil sector in Bengkulu Province. The Dean of the Faculty of Economics and Business, as well as a lecturer in the Development Economics study program, confirms the previous speaker’s statements by emphasizing the importance of the downstreaming palm oil industry so that it can contribute more to Bengkulu Province’s economy. In addition, it is also hoped that the development of a palm oil-based downstream industry that produces end-products (final products that are directly consumed by consumers) produced by local producers or MSMEs so that the multiplier effect enjoyed directly by the local community will be greater.

In addition to producing palm oil downstream products with added value and high economic value, Dr. Tungkot Sipayung also suggested other strategies in order to enlarge the “economic cake” in Bengkulu Province by carrying out the industrialization of oil palm plantations that are increasingly advanced in class based on capital-driven and innovation-driven, such as implementing Good Agricultural Practices (GAP) and replanting by adopting technology Industry 4.0 (such as Artificial Intelligence, Big Data, sensory, robots) so the productivity will increase and create greater economic, social, and ecological benefits for Bengkulu Province.

Peranan industri sawit terhadap pertumbuhan ekonomi daerah telah banyak dibuktikan oleh berbagai studi empiris. Salah satunya studi PASPI (2014) mengemukakan fakta bahwa pertumbuhan produksi minyak sawit (CPO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta menurunkan kemiskinan di daerah-daerah sentra sawit, dengan laju yang lebih cepat dibandingkan daerah non sentra sawit. Hasil studi PASPI tersebut juga mengkonfirmasi studi/kajian lainnya baik di level nasional maupun internasional terkait kontribusi sawit dalam perekonomian daerah.

Meskipun banyak studi empiris dan fakta di lapangan yang menunjukkan peran sawit dalam perekonomian daerah, namun isu sosial ekonomi seperti eksklusifimisme dan non-inklusif di perkebunan sawit dengan narasi perkebunan sawit tidak berkontribusi terhadap perekonomian pedesaan dan daerah banyak digunakan oleh LSM anti sawit untuk merusak citra industri sawit nasional. Isu tersebut juga menyebar di kalangan mahasiswa Indonesia sehingga berpotensi menimbulkan kebencian terhadap sawit.

palm oil corner

Oleh karena itu, sebagai thinktank dalam industri sawit nasional, PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMEP) menyelenggarakan acara Palm O’Corner di Universitas Bengkulu. Isu yang diangkat dalam Palm O’Corner tersebut terkait peranan industri sawit dalam perekonomian daerah. Untuk membahas topik tersebut, webinar Palm O’Corner di Universitas Balikpapan menghadirkan tiga narasumber yang kompeten dibidangnya masing-masing yaitu: Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI); Dr. Retno Agustina Ekaputri SE., M.Sc (Dekan FEB UNIB); dan Bapak John Irwansyah Siregar (Ketua GAPKI Provinsi Bengkulu).

Provinsi Bengkulu juga merupakan salah satu provinsi sentra sawit, dengan lima kabupaten sentra sawit utamanya adalaha Muko-Muko, Bengkulu Utara, Seluma, Bengkulu Selatan dan Bengkulu Tengah. Berdasarkan data dalam Buku Statistik Kelapa Sawit tahun 2018-2020 menyebutkan bahwa luas perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu mencapai 311.8 ribu hektar pada tahun 2018.

Petani sawit rakyat juga menjadi aktor dengan menguasai 67% dari luas kebun sawit dan menghasilkan volume produksi minyak sawit mencapai 735.77 ribu ton CPO. Aktor lainnya dalam perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu adalah perusahaan swasta (32.8%) dan perusahan negara (0.02%). Selain perkebunan sawit, terdapat juga 30 PKS (dengan kebun dan tanpa kebun) dengan kapasitas sebesar 1280.7 ton/jam.

Dalam paparannya, Bapak John Irwansyah Siregar menyebutkan bahwa besarnya pangsa petani dalam perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu berimplikasi pada besarnya manfaat ekonomi yang langsung dirasakan oleh masyarakat di daerah tersebut. Bahkan diperkirakan sebanyak 500 ribu orang atau lebih dari seperempat penduduk Bengkulu menggantungkan hidupnya secara langsung dari perkebunan sawit. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi sawit juga memiliki peran bagi perekonomian Provinsi Bengkulu.

Perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu juga terbukti secara empiris berkontribusi terhadap perekonomian Bengkulu melalui perannya sebagai lokomotif ekonomi yang berimplikasi pada berkembangnya pusat ekonomi baru melalui pemekaran wilayah Kabupaten Bengkulu Utara menjadi salah satunya Kabupaten Benteng akibat adanya 4 pabrik pengolahan minyak sawit (PKS) diwilayah tersebut. Bukti empiris lainnya dari kontribusi industri sawit terhadap ekonomi dan sosial masyarakat Bengkulu ditunjukkan dengan pembuatan fasilitas umum yang dinikmati masyarakat seperti jalan provinsi dan masjid di Kabupaten Muko-Muko, serta penyediaan usaha di bidang peternakan sebagai implikasi penggunaan sapi sebagai alat transportasi pengangkutan TBS yang digunakan oleh salah satu perusahaan perkebunan sawit.

Ketua GAPKI Provinsi Bengkulu yang menjabat untuk periode tahun 2019-2024 juga menyebutkan besarnya potensi industri sawit bagi perekonomian Bengkulu di masa depan dengan memanfaatkan fasilitas infrastruktur yang sedang dan akan dikembangkan seperti pembangunan tol dari Lubuk Linggau ke Bengkulu hingga pembangunan kawasan industri di Pulau Baai. Pengembangan industri hilir berbasis minyak sawit di Provinsi Bengkulu juga harus didorong untuk segera dilakukan, mengingat saat ini belum ada aktivitas hilirisasi sehingga tidak adanya proses peningkatan nilai tambah minyak sawit di Bengkulu, namun saat ini sedang dibangun Crashing Plant CPKO di Pulau Baai.

Pembangunan industri hilir sawit di Provinsi Bengkulu juga menjadi concern Dr. Retno Agustina Ekaputri SE., M.Sc. Dalam paparannya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekaligus dosen program studi Ilmu Ekonomi Pembangunan, mengkonfirmasi pernyataan narasumber sebelumnya dengan menekankan pentingnya hilirisasi sawit sehingga dapat lebih berkontribusi terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu. Selain itu, diharapkan juga pengembangan industri hilir berbasis sawit yang menghasilkan end-product (produk akhir yang langsung dikonsumsi oleh konsumen) yang diproduksi oleh produsen lokal atau UMKM sehingga multiplier effect yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat lebih besar.

Selain memproduksi produk hilir sawit yang bernilai tambah dan nilai ekonomi tinggi, Dr. Tungkot Sipayung juga menyarankan strategi lain dalam rangka memperbesar “kue ekonomi” di Provinsi Bengkulu dengan melaksanakan industrialisasi perkebunan sawit yang semakin naik kelas dengan berbasis capital driven dan innovation driven seperti melaksanakan Good Agricultural Practices (GAP) dan replanting dengan mengadopsi teknologi Industry 4.0 (seperti Artificial Intelegence, Big Data, sensorik, robot) sehingga produktivitas meningkat yang akan menciptakan manfaat ekonomi, sosial dan ekologi yang lebih besar bagi Provinsi Bengkulu.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *