Palm O’corner at University of Riau: Palm Oil is Economic Locomotive for Riau

  • English
  • Bahasa Indonesia

PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) held the Palm O’Corner at the University of Riau in collaboration with the Student Executive Board (BEM) of the Faculty of Agriculture and the Student Association (HMJ) of Economics Department on Saturday (24/4). The topic that was raised at Palm O’Corner was “The Contribution of the Palm Oil Industry to the Riau Economy”. This topic is very interesting to discuss, considering that Riau is the main center for palm oil with plantations area reaching 3.39 million hectares or about 21 percent of the total area of ​​oil palm plantations in Indonesia. Apart from being an oil palm center province, around 64 percent of oil palm plantations in Riau belong to smallholders.

palm oil corner at unri

Palm O’Corner at the University of Riau presented speakers, namely: Dr. Tungkot Sipayung (Executive Director of PASPI); Ando Fahda Aulia, Ph.D. (Lecturer at the Faculty of Business Economics, University of Riau); Hotmatua Hasibuan (GAPKI Riau); Dr. Cn. Ir. Gulat Manurung, MP, C.APO (Chairperson of the DPP APKASINDO) and Dr. Mulono Apriyanto (Expert Council of DPW APKASINDO Riau).

Dr. Tungkot Sipayung mentioned again that Riau has the largest palm oil plantation area in Indonesia with a production proportion of 20 percent of the national palm oil production. This shows that Riau has a quite large role in the national palm oil industry. With the significant development of palm oil, it shows that Riau has succeeded in making a rapid “gear swap” from unsustainable oil mines (oil and gas) below to more renewable oil mines (palm oil) at the top.

 

The development of oil palm centers in Riau has succeeded in attracting other economic sectors so that it has resulted in the development of new economic centers such as in Pasir Pengaraian, Bangkinang, Siak Sri Indrapura, Rengat, Tembilahan, Bengkalis, and others.

The Executive Director of PASPI who is also known as an economic observer again explained the PASPI study (2014) which states that the contribution of the palm oil industry provides other economic benefits such as poverty alleviation, increasing GRDP, and absorbing labor. A large number of transactions between plantation communities in Riau and communities in other areas also shows the role of Riau’s oil palm plantations which can become an economic locomotive for other regions. Apart from economic benefits, oil palm plantations in Riau also provide ecological benefits that are not widely seen by the community, namely the role of oil palm as the “lung” of the ecosystem.

Presentation from Ando Fahda Aulia, Ph.D. proves the results of the PASPI study (2014) which shows that the contribution of the palm oil industry and its derivatives supports 39.3 percent of Riau’s GRDP, where its contribution is greater than the mining and quarrying sector. In addition, the palm oil industry is also able to absorb labor, as shown by as much as 46.09 percent of Riau’s workforce concentrated in the agricultural, plantation, and forestry sectors, especially in the oil palm plantation. For oil palm farmers, their income is around 1.6 times greater than the income of coconut farmers and almost 2 times greater than rubber farmers.

However, what must be considered is that the income of oil palm farmers in Riau, they have very high-income dependence on oil palm so that if there is a fluctuation in the price of palm oil, it will cause a shock to their economic households. Therefore, a lecturer from the University of Riau who is also a Doctoral graduate from Flinders University Australia suggested that the oil palm farmers need to diversify in agricultural activities.

Continuing the findings of the lecturer at the Faculty of Business Economics, University of Riau, Dr. Mulono from APKASINDO explained the results of his analysis which showed that the household expenditure of oil palm farmers in Riau for both food and non-food products was higher compared to non-palm oil farmers. This level of consumption expenditure is the approach used to measure the level of welfare between oil palm and non-oil palm farmers in Riau. The results of the analysis show that oil palm farmers are more prosperous than non-palm oil farmers as seen from the proportion of oil palm farmers with a sufficient and decent living status is higher than non-oil palm farmers, and vice versa.

On the other hand, smallholder farmers in Riau are currently still facing various problems, one of which is low productivity due to to the use of ilegitim seeds is not superior and the technical culture is not optimal. To maintain the sustainability of smallholder oil palm plantations which have proven to be contributing to Riau’s economy, the existence of oil palm plantation companies helps independent smallholders to replanting their plantation and facilitate the procurement of superior oil palm seedlings.

GAPKI Riau representative, Mr. Hotmatua Hasibuan, explained that oil palm plantation companies in Riau would also help independent oil palm farmers to carry out sustainable cultivation so that they can have sustainability certificates such as ISPO / RSPO / ISCC, in addition to assisting oil palm farmers in replanting and receiving harvest yields. With this sustainability certification, the FFB harvested from smallholder plantations will receive a higher price and wider market access so that it has an impact on increasing their income and welfare.

Thus, the income of farmers and workers in oil palm plantation companies will move the wheels of other economic sectors so that Riau’s economy can continue to grow. Not only growing but the economy that palm oil-based in Riau has also proven to have high immunity, especially during the Covid pandemic. This is shown from the contraction of Riau’s GRDP in 2020 which is not as deep as the economic contraction in Sumatra or the national region. This means that the people of Riau should be grateful for the area of ​​palm oil that can thrive in Bumi Lancang Kuning.

PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) kembali menyelenggarakan acara Palm O’Corner di Universitas Riau yang bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Ekonomi pada hari Sabtu (24/4). Topik yang diangkat pada Palm O’Corner kali ini adalah “Kontribusi Industri Sawit dalam Perekonomian Riau”. Topik tersebut sangat menarik untuk didiskusikan, mengingat Riau adalah sentra utama minyak sawit dengan luas perkebunan sawit mencapai 3.39 juta hektar atau sekitar 21 persen dari total luas perkebunan sawit di Indonesia. Selain sebagai provinsi sentra sawit, sebagian besar atau sekitar 64 persen perkebunan sawit di Riau merupakan milik petani rakyat.

palm oil corner at unri

Palm O’Corner di Universitas Riau menghadirkan narasumber yaitu: Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI); Ando Fahda Aulia, Ph.D (Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Riau); Hotmatua Hasibuan (Pengurus GAPKI Riau); serta Dr. Cn. Ir. Gulat Manurung, MP, C.APO (Ketua Umum DPP APKASINDO) dan Dr. Mulono Apriyanto (Dewan Pakar DPW APKASINDO Riau).

Dr. Tungkot Sipayung menyinggung kembali bahwa Riau memiliki luas kebun sawit terbesar di Indonesia dengan proporsi produksi sebesar 20 persen dari produksi minyak sawit nasional. Hal ini menunjukkan bahwa Riau memiliki peran yang cukup besar bagi industri sawit nasional. Dengan perkembangan sawit yang signifikan menunjukkan bahwa Riau telah berhasil melakukan “tukar gigi” yang cepat dari tambang minyak dibawah yang tidak berkelanjutan (migas) ke tambang minyak diatas yang lebih renewable (minyak sawit).

Perkembangan sentra sawit di Riau berhasil menarik sektor ekonomi lain sehingga berdampak pada berkembangnya pusat-pusat perekonomian baru seperti di Pasir Pengaraian, Bangkinang, Siak Sri Indrapura, Rengat, Tembilahan, Bengkalis dan lain-lain.

Direktur Eksekutif PASPI yang juga dikenal sebagai pengamat ekonomi kembali memaparkan studi PASPI (2014) yang menyebutkan kontribusi industri sawit memberikan manfaat ekonomi lainnya seperti penurunan kemiskinan, peningkatan PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Besarnya transaksi antara masyarakat perkebunan di Riau dengan masyarakat daerah lain juga menunjukkan peran perkebunan sawit Riau yang mampu menjadi lokomotif ekonomi bagi daerah lain. Selain manfaat ekonomi, perkebunan sawit di Riau juga memberikan manfaat ekologis yang selama ini belum banyak dilihat oleh banyak orang yaitu peran sawit sebagai “paru-paru” ekosistem.

Paparan Ando Fahda Aulia, Ph.D kembali membuktikan hasil studi PASPI (2014) yang menunjukkan bahwa kontribusi industri kelapa sawit dan turunannya menopang sebesar 39.3 persen dari PDRB Riau, dimana kontribusinya lebih besar dibandingkan dengan sektor pertambangan dan penggalian. Selain itu, industri sawit juga mampu menyerap tenaga kerja yang ditunjukkan dengan sebanyak 46.09 persen tenaga kerja Riau terkonsentrasi pada sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan, khususnya sub sektor perkebunan kelapa sawit.

Bagi petani sawit, pendapatan yang diterima dari budidaya kelapa sawit juga lebih besar sekitar 1.6 kali lipat dari pendapatan petani kelapa dan hampir 2 kali lipat dari pendapatan petani karet. Namun, hal yang harus diperhatikan adalah pendapatan petani sawit Riau memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kelapa sawit sehingga jika terjadi gejolak harga sawit akan menimbulkan shock pada kehidupan ekonomi rumahtangga petani sawit Riau. Oleh karena itu, dosen Unri yang juga merupakan lulusan Doktoral dari Universitas Flinders Australia menyarankan bahwa perlu adanya diversifikasi dalam aktivitas pertanian.

Menyambung hasil temuan dari Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Riau tersebut, Dr. Mulono dari APKASINDO memaparkan hasil analisisnya yang menunjukkan pengeluaran rumahtangga petani sawit Riau baik untuk produk pangan maupun non pangannya lebih tinggi dibandingkan petani non-sawit. Tingkat pengeluaran untuk konsumsi ini menjadi pendekatan yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan antara petani sawit dan non-sawit di Riau. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa petani sawit lebih sejahtera dibandingkan petani non sawit yang dilihat dari proporsi petani sawit yang berstatus hidup cukup dan layak lebih tinggi dibandingkan dengan petani non-sawit, begitupun sebaliknya.

Di sisi lain, perkebunan sawit rakyat di Riau saat ini juga masih menghadapi berbagai masalah salah satunya produktivitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena penggunaan benih ilegitim yang tidak unggul dan kultur teknis yang dilakukan oleh petani kurang optimal. Untuk menjaga sustainable perkebunan sawit rakyat yang terbukti berkontribusi pada perekonomian Riau, maka perusahaan perkebunan sawit hadir untuk membantu petani sawit rakyat swadaya untuk melakukan peremajaan sekaligus memfasilitasi pengadaan bibit sawit unggul.

Perwakilan GAPKI Riau, Bapak Hotmatua Hasibuan memaparkan perusahaan perkebunan sawit di Riau juga akan membantu petani sawit swadaya untuk melakukan budidaya yang berkelanjutan sehingga dapat memiliki sertifikat keberlanjutan seperti ISPO/RSPO/ISCC, selain membantu petani sawit dalam peremajaan dan menerima hasil panen. Dengan sertifikasi keberlanjutan tersebut, TBS hasil panen perkebunan rakyat akan menerima harga yang lebih tinggi dan akses pasar yang lebih luas sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani sawit.

Dengan demikian, pendapatan petani sawit maupun pekerja di perusahaan perkebunan sawit akan menggerakkan roda sektor-sektor ekonomi lain sehingga perekonomian Riau dapat terus tumbuh. Tidak hanya tumbuh, perekonomian Riau berbasis sawit juga terbukti memiliki imunitas yang tinggi terutama di masa pandemi Covid. Hal tersebut ditunjukkan dari kontraksi PDRB Riau di tahun 2020 tidak sedalam kontraksi perekonomian wilayah Sumatera ataupun Nasional. Artinya masyarakat Riau patut bersyukur atas augerah minyak sawit yang dapat tumbuh subur berkembang di Bumi Lancang Kuning tersebut.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *