Palm Oil Exports and B30 Policy Books Record Highest Trade Surplus in 2020

  • English
  • Bahasa Indonesia

The Central Bureau of Statistics (BPS) has released data about Indonesia’s economic growth in 2020 which contracted by -2.07 percent compared previous year (c to c). This condition is result of the Covid-19 pandemic that has hit the entire world, including Indonesia.

The impact of pandemic also cause perfomance of international trade (export-import) has decreased. Export decreased by 7.7 percent, meanwhile the decline in imports was larger reaching 14.7 percent. Even though the export-import performance has contraction, Indonesia could still enjoy a trade balance surplus of USD 21.74 billion. Even this surplus trade in 2020 succeeded to booked a record as highest trade surplus. Previously, the largest trade surplus value occurred in 2011 amounting to USD 26.06 billion.

palm oil; b30

The large value of Indonesia’s trade surplus in 2020 cannot be separated from the role of the palm oil industry through the foreign exchange of palm oil product exports and the mandatory B30 policy.

 

First, foreign exchange from exports of palm oil products (including CPO and RPO, Crude and Refined PKO, and oleochemicals) throughout 2020 of USD 22.9 billion. Their foreign exchange has contributed about 83 percent of the exports of non-oil and gas sector. This shows that their foreign exchange made surplus trade of non-oil and gas sector getting bigger to reaching USD 27.7 billion. If palm oil products are not taken into account in the non-oil and gas sector balance, the surplus trade will be lower only around USD 4.7 billion.

Not only being the main contributor to the export of the non-oil and gas sector, but palm oil products also as the main contributor to the total foreign in 2020. Palm oil products have also succeeded in beating fuel oil products as the defending champion which always produces the largest export foreign exchange every year. This is indicated by the total foreign exchange reached USD 163.3 billion, the share of palm oil’s foreign exchange reached 14 percent or greater than share of fuel products was only around 11 percent.

Second, Indonesia’s trade surplus in 2020 is also an implication of saving foreign exchange imports due to the implementation of the mandatory B30 policy. Referring to APROBI data, the volume of biodiesel absorbed for the B30 program in 2020 reaches 8.4 million kiloliters. This volume is equivalent to the foreign exchange savings of fossil diesel imports of USD 2.66 billion, using an average MOPS diesel price of USD 50 per BBL and an exchange rate of IDR 14,400/USD. Saving foreign exchange as an implication of the B30 made the oil and gas sector trade balance deficit smaller to minus USD 5.9 billion. If there is no B30 program, it’s sector deficit will be higher around USD 8.6 billion.

If Indonesia does not export palm oil products and implements the mandatory B30 policy, it will cause a total deficit in  trade balance of USD 3.88 billion. This shows that the role of the palm oil industry through the export of palm products and biodiesel production (B30) is able to save Indonesia’s trade balance and even enjoy an enourmous surplus trade.

Once again, the palm oil industry has consistently contributed to improving Indonesia’s trade balance. As the Indonesian nation, we should be grateful to it’s industry, because not many sectors of the national economy are able to play a role like a palm oil industry, especially in the pandemic situation and the sluggish global economy due to Covid-19.

Besides the large contribution in creating a surplus trade in 2020, the foreign exchange generated by export of palm oil products is also has a higher quality from a development point of view. This is because palm oil foreign exchange is generated comes from exports of processed products with a share of 78 percent, while the contribution of exports of raw materials (crude palm oil and crude palm kernel oil) is only 18 percent. This means that their foreign exchange shows success story of downstreaming in this country due to the collaboration and synergy between 3 million farmers and plantation companies and the downstream industries.

Palm oil foreign exchange is also generated from utilization of domestic resources through oil palm plantations are spread across 235 districts in 25 provinces in Indonesia. Then, their plantation also generated multiplier effect such as income generation at these regions and has the potential to prevent re-poverty due to the Covid-19 pandemic.

In addition, the productivity of the palm oil industry in generating foreign exchange also does not burden the government budget. On the contrary, it’s plays a role in creating state revenues both tax and non-tax, whose value is estimated at IDR 14-20 trillion per year.

We hope that in the future, the palm oil industry will again booked a new record for this country. The combination of policies and innovations have implications for increasing plantation productivity and downstream development for both export promotion and import substitution will generate a new leap of achievement in the sustainable national palm oil industry.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia  tahun 2020 yang mengalami kontraksi sebesar -2.07 persen dibandingkan tahun sebelumnya (c to c) . Negatifnya pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dampak dari pandemi ini juga berimplikasi pada penurunan aktivitas perdagangan internasional (ekspor-impor) Indonesia yang mengalami penurunan. Kinerja ekspor menurun sebesar 7.7 persen, sementara itu penurunan impor lebih besar yang mencapai 14.7 persen. Meskipun kinerja ekspor-impor mengalami kontraksi, namun Indonesia masih bisa menikmati surplus neraca perdagangan dengan nilai mencapai USD 21.74 miliar. Bahkan nilai surplus tahun 2020 berhasil mencetak rekor sebagai surplus perdagangan tertinggi. Sebelumnya nilai surplus perdagangan yang terbesar terjadi pada tahun 2011 yakni sebesar USD 26.06 miliar.

palm oil; b30

Besarnya nilai surplus neraca perdagangan Indonesia tahun 2020 tidak terlepas dari peran industri sawit melalui devisa ekspor produk sawit dan kebijakan mandatori B30.

Pertama, devisa yang dihasilkan dari ekspor produk sawit (mencakup CPO dan RPO, Crude dan Refined  PKO dan oleokimia) sepanjang tahun 2020 mencapai USD 22.9 miliar. Devisa ekspor produk sawit tersebut telah berkontribusi sekitar 83 persen terhadap ekspor sektor non migas. Hal ini menunjukkan bahwa devisa produk sawit membuat surplus neraca non migas semakin besar hingga mencapai USD 27.7 miliar. Jika produk sawit tidak diperhitungkan dalam neraca sektor non migas, maka nilai surplusnya akan lebih rendah yakni hanya sekitar USD 4.7 miliar.

Tidak hanya menjadi kontributor utama dalam ekspor sektor non migas, produk sawit juga menyandang predikat sebagai kontributor utama yang menghasil devisa terbesar dalam struktur total ekspor produk Indonesia tahun 2020. Produk sawit juga berhasil mengalahkan produk BBM sebagai juara bertahan yang selalu menghasilkan devisa ekspor terbesar setiap tahun. Hal tersebut ditunjukkan dari total devisa ekspor produk Indonesia yang mencapai USD 163.3 miliar, pangsa ekspor sawit mencapai 14 persen atau lebih besar dari pangsa ekspor produk BBM yang hanya sekitar 11 persen.

Kedua, surplus neraca perdagangan Indonesia tahun 2020 juga merupakan implikasi dari penghematan devisa impor akibat implementasi kebijakan mandatori B30. Merujuk data APROBI, volume biodiesel yang terserap untuk program B30 tahun 2020 mencapai sebesar 8.4 juta kiloliter. Volume biodiesel tersebut setara dengan penghematan devisa impor solar fosil sebesar USD 2.66 miliar, dengan menggunakan harga rata-rata MOPS solar sebesar USD 50 per BBL dan kurs Rp 14,400/USD. Penghematan devisa impor sebagai implikasi dari B30 tersebut membuat defisit neraca perdagangan sektor migas mengecil menjadi minus USD 5.9 miliar. Jika tidak ada program B30, defisit sektor migas akan lebih tinggi yakni sekitar USD 8.6 miliar.

Jika Indonesia tidak mengekspor produk sawit dan mengimplementasi kebijakan mandatori B30 akan menyebabkan defisit total neraca perdagangan sebesar USD 3.88 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa peran industri sawit melalui ekspor produk sawit dan produksi biodiesel (B30) mampu menyelamatkan neraca perdagangan Indonesia bahkan berhasil menikmati surplus dengan nilai yang sangat besar.

Sekali lagi, industri sawit secara konsisten memberikan sumbangsihnya pada penyehatan neraca perdagangan Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia patut berterimakasih kepada industri sawit, karena tidak banyak sektor ekonomi nasional yang mampu berperan seperti industri sawit ini, terlebih di tengah situasi pandemi dan lesunya perekonomian global akibat Covid-19.

Selain besarnya kontribusi dalam penciptaan surplus neraca perdagangan Indonesia tahun 2020, devisa yang dihasilkan oleh produk sawit juga lebih berkualitas dilihat dari sudut pembangunan. Hal ini dikarenakan devisa produk sawit dihasilkan berasal dari ekspor produk olahan dengan pangsa sebesar 78 persen, sedangkan kontribusi ekspor bahan mentah (crude palm oil dan crude palm kernel oil ) hanya 18 persen. Artinya devisa sawit tersebut menunjukkan keberhasilan hilirisasi sawit di dalam negeri yang diciptakan berkat kolaborasi dan sinergitas antara 3 juta petani sawit dan perusahaan perkebunan serta industri hilir.

Devisa sawit tersebut juga dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya domestik melalui perkebunan sawit yang tersebar pada 235 kabupaten di 25 provinsi yang ada di Indonesia. Selanjutnya, perkebunan sawit tersebut juga menciptkan multiplier effect seperti penciptaan pendapatan (income generating) pada sentra sentra kebun sawit tersebut dan berpotensi mencegah ­re-poverty yaitu masyarakat yang sudah keluar dari garis kemiskinan kembali menjadi miskin akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, produktivitas industri sawit dalam menghasilkan devisa sawit juga tidak membebani anggaran pemerintah. Justru sebaliknya berperan dalam menciptakan pendapatan negara baik berupa pajak maupun non pajak yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 14-20 triliun per tahun.

Kita berharap pada masa yang akan datang, industri sawit kembali mencatat rekor baru yang lebih baik untuk Indonesia. Kombinasi antara kebijakan dan inovasi yang berimplikasi pada peningkatan produktivitas kebun dan perkembangan hilirisasi baik untuk promosi ekspor maupun subsitusi impor akan melahirkan lompatan prestasi baru pada industri sawit nasional yang berkelanjutan.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *