Palm Oil-Based Product Innovation for The Batik Industry

  • English
  • Bahasa Indonesia

Batik has become one of the identities that cannot be separated from the history of the Indonesian nation. Batik originated from the era of our ancestors since the seventeenth century which was originally written on palm leaves and the motifs were still dominated by animal and plant forms. Then the development of batik also developed rapidly along with the development of the kingdoms in Indonesia, one of which was Majapahit. During the royal period, batik was used for clothing for the king and his family. Until now, batik has become a traditional Indonesian cloth that has a various motifs that contain rich of meaning and with distinctive colors from each region in Indonesia.

At the international level, batik was first introduced to the world by Mr. Soeharto, the second President of the Republic of Indonesia, at the UN conference. The beauty of batik has also been recognized by world figures such as Nelson Mandela, Barack Obama and Bill Gates. In fact, Nelson Mandela used one of his favorite Indonesian batik when it was buried.

Although batik has been widely recognized as Indonesia’s identity, Malaysia, which is a neighboring country and allied to Indonesia, has made claims that batik is their culture. To avoid this claim, the Indonesian Government has begun registering batik as a Representative List of Intangible Cultural Heritage to the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Then, UNESCO confirmed Indonesian batik as a world cultural heritage on October 2, 2009.

The Government of Indonesia also welcomed UNESCO’s recognition by declaring every October 2 as National Batik Day. The government also urges and invites all Indonesian people to wear batik on National Batik Day.

It has been 11 years since the inauguration, the devotion of the Indonesian people for batik is getting bigger. Now, batik is not only used by parents at formal events such as traditional ceremonies, weddings or meetings. However, currently, the use of batik does not recognize the age of both parents and young people using batik on various occasions. Batik models and motifs also continue to developing in line with the growing market needs and increasingly varied consumer segmentation. This has implications for the national batik industry which continues to grow rapidly.

With the development of the batik industry, it has also increased the need for raw materials needed in the batik process. One of them is batik dye. Batik dye is one of the most important factors in supporting the making of a batik because it determines the quality, attractiveness and direction of the batik color. In making batik, there are various types of dyes that can be used and generally most batik craftsmen use synthetic or artificial dyes.

However, with the development of various environmentally friendly products, currently the use of natural dyes is starting to be in great demand for various needs of the batik industry. Natural dyes are dyes produced from various plants and other natural ingredients. Natural dyes have the advantage are eing an easy extraction process and environmentally friendly. In addition, it is also considered more economical because the available raw materials are very abundant.

Palm kernel shells, which is a waste from palm oil processing which have a lot of potentials to become a high economic value product, one of them are as a raw material and is used in the manufacture of natural dyes that can be used in batik cloth. Palm kernel shells also contain pigments, namely carotenoids, which form an orange color.

Based on research conducted by Pujilestari., Et.al (2016), batik coloring on cotton and silk fabrics that use palm kernel shells produces quality dyes that are fastness to washing and rubbing. Even when compared to cocoa hulls, dyeing using palm kernel shells are superior because of the higher value of fastness to washing and rubbing resistance.

One of the batik motifs that can be produced using dye from palm kernel shells is the “Tingi-Tunjung” motif. The basic color effect that comes from the combination of it and alum which has gone through a long process will produce a beautiful color. The combination of blackish color with white color from processed palm kernel shells, can also be mixed with dyes from cocoa waste that have been mixed with alum and lime, so that it can produce batik motifs that are dark brown and light brown.

Palm oil
Source : hutabayu-raja.blogspot.com

Not only as a dye in batik cloth, the role of oil palm in batik’s industry in Indonesia is also seen as a substitute for the paraffin used in “Malam”. “Malam” is the color blocking between the motifs on batik so far it contains paraffin components derived from fossil oil which are classified as non-renewable and not environmentally friendly resources.

Researchers at the Agency for the Assessment and Application of Technology (read: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT) have innovated by creating bio-paraffin wax as a “Malam” from palm oil. This bio-paraffin can replace the raw material for wax from petroleum. The fraction of palm oil into solid form, known as stearin, can be used as bio paraffin or substitute for fossil paraffin. The stearin also still requires various stages of the molecular structure modification process to be compatible with other components, so that the correct “Malam” formula will be obtained.

The advantages of palm oil bio paraffin will produce high quality wax or “Malam” which is capable of being a good color barrier, sharper and brighter color results, resistant to alkaline and acid solutions, ecofriendly and more economical because it can reduce production costs by up to 20 percent.

palm oil
Source: assets-a1.kompasiana.com
Thus, the potential resulting from the innovation of palm oil products used in the national batik industry, both in the form of dyes and bio paraffin products at “Malam” is expected to increase our devotion as Indonesian to batik which is a national heritage, and as well as to palm oil as Indonesia’s leading commodity which is very versatile and multipurpose.

Batik menjadi salah satu identitas yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Menilik historisnya, batik berasal dari zaman nenek moyang sejak abad XVII yang pada mulanya ditulis di daun lontar dan motifnya masih didominasi bentuk binatang dan tanaman. Kemudian perkembangan perbatikan juga berkembang pesat seiring dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di Indonesia, salah satunya kerajaan Majapahit. Di masa kerajaan tersebut, batik digunakan untuk pakaian untuk raja dan keluarganya. Hingga saat ini, batik menjadi kain tradisional Indonesia yang memiliki kekayaan motif sarat makna dan dengan warna khas dari setiap daerah di Indonesia.

Pada level internasional, batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Bapak Soeharto, Presiden RI kedua di ajang konferensi PBB. Keindahan batik juga telah diakui oleh para tokoh dunia seperti Nelson Mandela, Barack Obama dan Bill Gates, Bahkan, Nelson Mandela menggunakan salah satu batik Indonesia kesayangannya ketika disemayamkan.

Meskipun batik telah banyak diakui dan dikenal sebagai identitas Indonesia, namun Malaysia yang merupakan negara tetangga dan serumpun dengan Indonesia, pernah melakukan klaim bahwa batik merupakan budaya mereka. Untuk menghindari klaim tersebut, Pemerintah Indonesia mulai mendaftarkan batik sebagai jajaran Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia kepada United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). UNESCO kemudian mengukuhkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober 2009.

Pengakuan UNESCO tersebut juga disambut baik oleh Pemerintah Indonesia dengan menetapkan setiap tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Pemerintah juga menghimbau dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia dengan menggunakan batik pada hari Batik Nasional.

Sudah 11 tahun sejak pengukuhan tersebut, rasa cinta masyarakat Indonesia terhadap batik semakin besar. Kini, batik tidak hanya digunakan orang tua di acara-acara resmi seperti upacara adat, pernikahan atau rapat. Namun saat ini, penggunaan batik tidak mengenal umur baik orang tua maupun anak muda menggunakan batik pada berbagai kesempatan. Model dan motif batik juga terus mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan pasar yang semakin besar dan segmentasi konsumen yang semakin bervariasi. Hal tersebut berimplikasi pada industri batik nasional yang terus berkembang dengan pesat.

Dengan berkembangnya industri batik juga meningkatkan kebutuhan bahan baku yang diperlukan dalam proses pembatikan. Salah satunya adalah pewarna batik. Pewarna batik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang pembuatan sebuah batik karena menentukan kualitas, daya tarik, dan arah warna batik. Dalam pembuatan batik ada berbagai macam jenis pewarna yang dapat digunakan dan umumnya sebagian besar pengrajin batik mengunakan zat pewarna sintetis atau buatan.

Namun dengan semakin berkembangnya berbagai produk ramah lingkungan, saat ini penggunaan pewarna alami mulai banyak diminati untuk berbagai keperluan industri pembatikan. Pewarna alami adalah pewarna yang dihasilkan dari berbagai tumbuhan dan bahan-bahan alami lainnya. Pewarna alami memiliki keunggulan yaitu proses ekstraksinya yang mudah  dan ramah lingkungan. Selain itu juga dinilai lebih ekonomis karena bahan baku yang tersedia sangat melimpah.

Cangkang sawit yang merupakan limbah dari pengolahan minyak sawit yang memiliki segudang potensi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, salah satunya menjadi bahan baku dan digunakan dalam pembuatan zat warna alami yang dapat digunakan pada kain batik. Cangkang sawit juga mengandung pigmen yakni karotenoid yang membentuk warna oranye.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pujilestari., et.al (2016), pewarnaan batik pada kain berbahan katun dan sutera yang menggunakan cangkang sawit menghasilkan zat warna yang berkualitas yakni tahan luntur terhadap pencucian dan gosokan. Bahkan jika dibandingkan dengan kulit kakao, pewarnaan dengan menggunakan cangkang sawit lebih unggul karena nilai ketahanan luntur terhadap pencucian dan ketahanan terhadap gosokan yang lebih tinggi.

Salah satu motif batik yang dapat dihasilkan dengan menggunakan zat warna dari cangkang sawit adalah motif Tingi-Tunjung”.  Efek warna dasar yang berasal dari perpaduan cangkang sawit dan tawas yang telah melalui proses panjang akan menghasilkan warna yang indah. Perpaduan antara warna kehitaman dengan warna putih hasil olahan limbah cangkang sawit, juga dapat dicampur dengan pewarna hasil limbah kakao yang telah dicampur juga dengan tawas dan kapur, sehingga dapat menghasilkan batik motif yang berwarna cokelat tua dan cokelat muda.

Palm oil
Source : hutabayu-raja.blogspot.com

Tidak hanya sebagai pewarna pada kain batik, peran kelapa sawit di industri batik nasional juga dapat dilihat sebagai substitusi parafin yang digunakan pada “Malam”. “Malam” adalah pemblok warna antar motif pada batik selama ini mengandung komponen parafin yang berasal dari minyak fosil yang tergolong sumberdaya tidak terbarukan dan tidak ramah lingkungan.

Para peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah berinovasi dengan menciptakan bio-parafin wax sebagai lilin “Malam” dari minyak sawit. Bio- parafin ini dapat menggantikan bahan baku lilin dari minyak bumi. Pemisahan fraksi minyak sawit menjadi bentuk padat atau yang dikenal dengan stearin, dapat dimanfaatkan menjadi bio-parafin atau substitusi parafin fosil. Stearin tersebut juga masih memerlukan berbagai tahapan proses modifikasi struktur molekul untuk dapat kompatibel dengan komponen penyusun formula lainnya, sehingga akan diperoleh formula “Malam” batik yang tepat.

Keunggulan bioparafin sawit akan menghasilkan “Malam”  yang berkualitas tinggi yang mampu menjadi perintang warna yang bagus, hasil warna yang lebih tajam dan cerah, tahan terhadap larutan alkali dan asam, ramah lingkungan serta lebih ekonomis karena mampu menekan biaya produksi hingga 20 persen.

palm oil
Source: assets-a1.kompasiana.com

Dengan demikian, potensi yang dihasilkan dari inovasi produk sawit yang digunakan pada industri batik nasional baik dalam bentuk zat pewarna maupun produk bioparafin pada malam, diharapkan dapat menambah kecintaan kita sebagai masyarakat Indonesia kepada batik yang merupakan warisan bangsa, dan juga kepada kelapa sawit sebagai komoditas unggulan Indonesia yang sangat multiguna dan multimanfaat.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *