“Palm Oil Free” Causes Global Deforestation is Getting Bigger

  • English
  • Bahasa Indonesia
In the last twenty years, anti-palm oil NGOs have become more active in spreading the “Palm Oil Free” campaign against palm oil. Various issues such as the environment, health, and social are used to makes the image of palm oil will sink in the global consumers.

Palm oil free

Not only conducting campaigns, for example, anti-palm oil NGOs in Europe also force and put pressure on global manufacturing industries that produce food products (biscuits, chocolate, jam, instant noodles), cosmetics (makeup, shampoo, soap) to animal feed to put labels on Palm Oil Free on product packaging. This movement is also prevalent in products that are marketed in Indonesia. This shows that the Palm Oil Free movement is more massive and it’s spreading systematically to influence global consumers not to consume palm oil-based products.

The anti-palm oil NGO and its networks around the world argue that one of the goals behind the Palm Oil Free campaign is to protect the global forests and reduce global deforestation. Whereas in various discussions has been explained that their real purpose is to inhibit the palm oil in the global market (crop-apartheid) and also as a form of protectionism against this vegetable oil’s competitors, namely soybean oil, rapeseed oil, and sunflower seed oil.

Again, deforestation has become an issue linked with palm oil. Anti-palm oil NGOs are screams every day saying that oil palm plantations are the cause of global deforestation. This issue has also inspired trade policy in importing countries to inhibit palm oil, such as the European Union’s policy namely European Green Deal which includes Renewable Energy Directives, Indirect Land Use Change, and Forest and Ecosystem Risk Commodities.

The alleged issue is very contradictory to empirical data and facts that show the livestock sector is the main driver of global deforestation, not oil palm plantations. Although this issue has been resolved, it has not been able to dispel the massive of the “Palm Oil Free” campaign. In fact, this campaign has targeted all age groups from children to adults. This raises the question of what happens if the global community supports NGOs for the “Palm Oil Free” campaign and is it true that global deforestation will stop if palm oil consumption is reduced or stopped?

Before answering this question, first, we must find out which of among the top-4 vegetable oils are the most land-efficient and land-intensive to produce one ton of oil. Based on data from Oil World (2018), the productivity of palm oil (CPO + CPKO) reaches 4.3 tons per hectare. Meanwhile, the productivity of rapeseed oil, sunflower seed oil, and soybean oil were 0.7 tons per hectare, 0.52 tons per hectare, and 0.45 tons per hectare, respectively.

This shows that the productivity of palm oil is almost 6-10 times higher than the productivity of other vegetable oils. This means that oil palm is classified as a land-saving vegetable oil crop. Meanwhile, the lowest soybean oil productivity implies that a large land is needed to produce the same volume of vegetable oil, so soybean is a land-waste vegetable oil crop that potentially caused deforestation. This is confirmed by a European Commission study (2013) which says that soybeans are one of the main drivers of global deforestation, contributing 6 percent to deforestation in 1990-2008.

Based on USDA data (2021), due to high palm oil productivity, it makes a global palm oil plantation area only of ​​24 million hectares able to produce palm oil with a volume of 83.5 million tons. When compared with the area of ​​soybean which reached 127 million hectares and the volume of soybean oil produced is only 58.7 million tons. Likewise, the rapeseed crops with a crops area of ​​35.5 million hectares are only able to produce a volume of 27.3 million tons of rapeseed oil. The same thing also happened to sunflower with a plantation area of ​​27.6 million hectares are only capable of producing 21.5 million tons of sunflower seed oil.

Next, let’s answer the question if the Palm Oil Free movement is supported by the global community to reduce palm oil consumption and its impact on deforestation. It is also assumed that the decline in palm oil consumption occurs in extreme conditions, in which the global community chooses not to consume palm oil. So that the needs of the community for palm oil must be shifted to other vegetable oils are soybean oil, rapeseed oil, and sunflower seed oil. The implication is increase in the production of three vegetable oils to meet the demand so that the additional land is also needed.

A recent study from PASPI showing that replacing 83.5 million tons of palm oil results in an additional 112 million hectares of soybean crops, 30 million hectares of rapeseed crops, and 25 million hectares of sunflower crops. This means that there will be about 167 million hectares of new vegetable oil plantations resulting from deforestation.

This shows that supporting the Palm Oil Free campaign will cause deforestation in the Amazon forest in Brazil, forests in America, forests in EU countries, and forests in Ukraine is getting bigger and will continue to increase. Therefore, do not let the anti-palm oil party selfishness cause greater environmental damage.

Dalam dua puluh tahun terakhir, NGO anti sawit semakin gencar dalam menyebarkan kampanye “Palm Oil Free” yang menyudutkan minyak sawit. Berbagai isu seperti lingkungan, kesehatan, sosial digunakan agar citra minyak sawit terpuruk di mata konsumen dunia.

Palm oil free

Tidak hanya melakukan kampanye, misalnya NGO anti sawit di Eropa juga memaksa dan memberi tekanan kepada industri manufaktur dunia yang memproduksi produk pangan (biskuit, cokelat, selai, mie instan), kosmetik (make up, shampoo, sabun) hingga pakan ternak untuk mencantumkan label Palm Oil Free pada kemasan produk. Gerakan labelisasi tersebut juga marak ditemukan pada produk-produk yang dipasarkan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan Palm Oil Free tersebut semakin masif dan sistematis penyebarannya untuk mempengaruhi konsumen dunia untuk tidak mengkonsumsi produk berbasis minya sawit.

NGO anti sawit dan jaringannya di seluruh dunia berargumen bahwa tujuan dibalik kampanye Palm Oil Free salah satunya adalah untuk melindungi hutan dunia dan mencegah semakin luasnya deforestasi dunia. Padahal berbagai diskusi/pembahasan telah menjelaskan bahwa tujuan sebenarnya dari kampanye yang dilakukan NGO anti sawit adalah untuk menghambat laju minyak sawit di pasar dunia (crop-apharteid) dan juga sebagai bentuk proteksionisme terhadap minyak nabati kompetitornya yaitu minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak biji bunga matahari.

Deforestasi lagi-lagi menjadi isu yang dikaitkan dengan minyak sawit. NGO anti sawit setiap hari semakin vokal meneriakkan bahwa perkebunan sawit merupakan penyebab deforestasi global. Isu yang digunakan pada black campaign tersebut juga mengilhami kebijakan perdagangan di negara importir untuk menghambat minyak sawit seperti kebijakan Uni Eropa yaitu European Green Deal yang didalamnya termasuk Renewable Energy Directives, Indirect Land Use Change, dan Forest and Ecosystem Risk Commodities.

Isu yang dituduhkan tersebut sangatlah kontradiktif dengan data empiris dan fakta di lapangan yang menunjukkan sektor peternakan yang merupakan driver utama deforestasi dunia, bukan perkebunan sawit. Meskipun isu tersebut berhasil dipatahkan, namun namun belum mampu menghalau masifnya kampanye “Palm Oil Free”. Bahkan kampanye tersebut menargetkan seluruh kelompok usia dari anak-anak hingga dewasa. Hal ini memunculkan pertanyaan yaitu apa yang terjadi jika masyarakat dunia mendukung NGO untuk kampanye “Palm Oil Free” dan benarkah deforestasi dunia terhenti jika konsumsi minyak sawit berkurang atau berhenti?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui diantara top-4 minyak nabati dunia mana yang paling hemat lahan dan boros lahan untuk menghasilkan satu ton minyak. Berdasarkan data Oil World (2018) menyebutkan bahwa produktivitas minyak sawit (CPO+CPKO) mencapai 4.3 ton per hektar. Sementara produktivitas minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari dan minyak kedelai berturut-turut sebesar 0.7 ton per hektar, 0.52 ton per hektar dan 0.45 ton per hektar.

Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas kelapa sawit hampir 6-10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan produktivitas minyak nabati lainnya yang berarti menjadi minyak nabati paling hemat lahan. Sementara itu, produktivitas minyak kedelai yang paling rendah berimplikasi dibutuhkan lahan yang besar untuk menghasilkan volume minyak nabati yang sama sehingga kedelai adalah tanaman minyak nabati yang boros dalam penggunaan lahan dan berpotensi menyebabkan deforestasi. Hal tersebut terkonfirmasi dari studi European Commision (2013) yang menyebutkan bahwa kedelai merupakan salah satu driver utama deforestasi global dengan berkontribusi sebesar 6 persen pada deforestasi tahun 1990-2008.

Berdasarkan data USDA (2021), dengan produktivitas minyak sawit yang tinggi menyebabkan luas perkebunan sawit global tahun 2020 hanya sebesar 24 juta hektar, mampu memproduksi minyak sawit dengan volume sebesar 83.5 juta ton. Jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian kedelai tahun 2020 yang mencapai 127 juta hektar dengan volume produksi minyak kedelai yang dihasilkan hanya sebesar 58.7 juta ton. Begitu juga tanaman rapeseed, dengan luas lahan pertanian yang mencapai 35.5 juta hektar tahun 2020 hanya mampu menghasilkan volume minyak rapeseed sebesar 27.3 juta ton. Hal yang sama juga terjadi pada minyak bunga matahari dengan luas perkebunannya mencapai 27.6 juta hektar tahun 2020 mampu menghasilkan minyak sebesar 21.5 juta ton.

Selanjutnya mari kita jawab pertanyaan terkait gerakan Palm Oil Free yang di dukung oleh masyarakat sehingga menurunkan konsumsi minyak sawit dan dampaknya terhadap deforestasi dunia. Diasumsikan juga penurunan konsumsi minyak sawit terjadi kondisi ekstrim yakni masyarakat dunia memilih untuk tidak mengkonsumsi minyak sawit. Sehingga kebutuhan masyarakat dunia atas minyak sawit harus dialihkan kepada tiga minyak nabati lainnya yaitu minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak biji bunga matahari. Implikasinya adalah bertambahnya produksi ketiga minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan sehingga diperlukan tambahan luas areal.

PASPI melakukan simulasi studi terbaru yang menunjukkan bahwa penggantiaan 83.5 juta ton minyak sawit akan menyebabkan bertambahnya 112 juta hektar ladang kedelai baru, 30 juta hektar kebun rapeseed baru dan 25 juta hektar perkebunan bunga matahari baru. Artinya akan ada sekitar 167 juta hektar lahan tanaman minyak nabati baru yang dihasilkan dari deforestasi.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan mendukung kampanye Palm Oil Free akan menyebabkan deforestasi yang terjadi di hutan Amazon di Brazil, hutan di Amerika, hutan di negara-negara Uni Eropa dan hutan yang ada di Ukraina semakin luas dan akan terus meningkat. Oleh karena itu, jangan sampai keegoisan pihak anti sawit yang berupaya keras untuk menghambat minyak sawit, justru membawa kerusakkan lingkungan yang lebih besar.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *