Palm Oil Has a Natural “Bio Pores” System

  • English
  • Bahasa Indonesia

The myth built by anti-palm oil non-governmental organizations (NGOs) in the community says that oil palm plantation causes drought and flooding in the central areas of oil palm plantation. The NGO’s view is just an attempt to discredit oil palm plantations and are not supported by facts and results of empirical studies.

Actually, either on the global or national level, our society has denied this propaganda of the anti-palm oil NGO. Data show that extreme floods and droughts occur in almost all countries and are not related to oil palm plantations. In many European countries, North America, the Soviet Union, China, Australia and other countries, there are also frequent droughts and floods yet these countries do not have oil palm plantations. Similarly in Indonesia, floods and drought occurred in the Provinces of DKI Jakarta, West Java, Central Java and East Java. These provinces also do not have oil palm plantations.

 

International Agencies reported that global floods and droughts are caused by global climate change that is triggered by global warming and there is no link to the presence or absence of oil palm plantations. For those who want to know more about the relation between global warming and drought and flood can access www.3epa.gov.

On the domestic / local level, planting trees especially annual plants with a long life cycle, is suggested as an effort to reduce frequent droughts and floods. The purpose of this is that water can be hold in the ground and does not directly flow into the river, causing  floods and erosion.

Oil palms as annual crops (replanted after 25 years old) have the function of soil and air conservation. Results of research by Prof. Dr. Ir. Erwin M. Harahap entitled: The Development of Oil Palm Roots in Degraded Land in Sosa Regency South Tapanuli Regency, North Sumatra, have proved that the system and activities of oil palm roots can improve the ability of oil palm plantation land in holding water flow (water run-off) and increase the capacity of water holding (water holding capacity). Both of these things increase the expanse of oil palm plantations (water catchment areas).

A study, which is a doctoral dissertation in 1999, has proved that the massive fibrous roots system of oil palm, with a radius of 4.5 meters from the tree base and a depth of up to 5 meters below the surface can create more and more macro and micro pores (natural biopores ) as the age of oil palm itself gets older.

With the pores, it increases the infiltration of water into the soil and the water absorbed by the soil is stored in the pores of the soil. Water stored in the pores of the soil in which oil palm is grown on, creates considerably huge water reserves. When dry season comes, water reserve is released evenly for the needs of oil palm plant itself, other plants, and  for the needs of soil microorganisms. When it comes to the wet season, rainwater that falls into the oil palm plantation is absorbed to fill the water “reservoir” through the pores of the soil.

The system and characteristics of natural palm oil biopores also make the ability of oil palm plantation to hold the water in the soil improve better. This natural biopore system makes the oil palm plantation as the most important part of soil and water conservation. Thus propaganda that was built by NGOs that claimed the existence of oil palm plantation will cause droughts and floods is absolutely groundless. On the contrary, the  results of empirical studies have proved that oil palm plantations have a natural biopore  system in their soil that functions as soil and water conservation.

Mitos yang dibangun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anti sawit di masyarakat selama ini bahwa kebun sawit menyebabkan terjadinya kekeringan dan banjir di daerah sentra sawit. Pandangan LSM tersebut selain hanya upaya memojokkan kebun sawit juga tidak didukung fakta dan hasil-hasil studi emperis.

Sesungguhnya pada level global maupun level nasional masyarakat sudah membantah sendiri propaganda LSM tersebut. Data-data menunjukkan bahwa secara internasional banjir dan kekeringan ekstrim terjadi pada hampir semua negara dan tidak behubungan dengan kebun sawit. Di berbagai negara Eropa, Amerika Utara, Uni Soviet, China, Australia dan negara-negara lain, juga sering tejadi kekeringan dan banjir padahal negera-negara tersebut tidak memiliki kebun sawit. Demikian juga di Indonesia. Banjir dan kekeringan yang paling sering terjadi justru di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Provinsi tersebut juga tidak memiliki kebun sawit.

 

Sebagaimana laporan Badan-badan internasional bahwa banjir dan kekeringan global disebabkan oleh perubahan iklim global (global climate change) yang dipicu pemanasan global (global warming). Dan tidak ada kaitanya dengan ada tidaknya kebun sawit. Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh kaitan pemanasan global dengan kekeringan dan banjir dapat mengakses www.3epa.gov.

Pada level wilayah/lokal, upaya mengurangi masalah kekeringan dan banjir sering dianjurkan untuk menanam tanaman khususnya tanaman tahunan yang berumur panjang. Maksudnya adalah agar sebagian air hujan dapat ditahan dalam tanah sehingga tidak langsung mengalir ke sungai-sungai, banjir dan menimbulkan erosi tanah.

Kebun sawit sebagai tanaman tahunan (diremajakan setelah umur 25 tahun atau lebih) ternyata memiliki fungsi konservasi tanah dan air sehingga bagian penting dari upaya pengendalian banjir dan kekeringan. Hasil penelitian Prof. Dr. Ir. Erwin M. Harahap yang berjudul : “Perkembangan Akar Tanaman Kelapa Sawit pada Tanah Terdegradasi di Sosa Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara” membuktikan bahwa sistem dan aktifitas perakaran tanaman kelapa sawit ternyata meningkatkan kemampuan lahan kebun sawit dalam menahan aliran air permukaan (water runoff) dan meningkatkan kapasitas tanah menyimpan air (water holding capacity). Kedua hal tersebut meningkatkan hamparan kebun sawit menangkap air (water catchment area).

Penelitian tersebut yang merupakan disertasi doktor pada Jurusan Ilmu Konservasi Tanah dan Air, Pasca Sarjana di IPB tahun 1999, membuktikan bahwa aktifitas sistem perakaran serabut kelapa sawit yang masif, luas sampai radius 4.5 meter dari pangkal pohon sawit dan kedalaman sampai 5 meter dibawah permukaan tanah. Sistem perakaran yang demikian menciptakan pori-pori tanah mikro dan makro (biopori alamiah) yang makin banyak dengan semakin dewasanya umur kelapa sawit.

Dengan adanya pori-pori tanah yang demikian, memperbesar infiltrasi (penerusan) air permukaan (misalnya ketika hujan datang) ke dalam tanah. Dan air yang diserap tanah tersebut tersimpan dalam pori-pori tanah.

Air yang tersimpan dalam pori-pori tanah dimana kelapa sawit ditanam, menciptakan cadangan air yang cukup besar. Ketika musim kering tiba, cadangan air tersebut dilepas secara perlahan baik untuk kebutuhan tanaman kelapa sawit itu sendiri, untuk kebutuhan tanaman lain disekitarnya maupun untuk kebutuhan mikroorganisme tanah. Sebaliknya ketika musim hujan, air hujan yang jatuh ke lahan sawit terserap untuk mengisi “waduk” pori-pori tanah sebagai cadangan air.

Sistem dan mekanisme biopori alamiah kelapa sawit yang demikian menyebabkan kemampuan lahan kelapa sawit dalam menahan air didalam tanah cukup bagus. Sistem biopori alamiah yang demikian menjadikan kebun sawit bagian penting dari konservasi tanah dan air.

Dengan demikian propaganda LSM bahwa kehadiran kebun sawit akan membuat lahan kekeringan dan banjir adalah tidak berdasar. Hasil studi empiris justru membuktikan bahwa kebun sawit memiliki sistem biopori alamiah didalam tanah yang berfungsi sebagai konservasi tanah dan air.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *