Palm Oil Digitalization 4.0 in the New Normal Era

  • English
  • Bahasa Indonesia

Since Indonesia became one of the countries affected by the Covid-19 outbreak, many changes have taken place in daily habits. The implementation of lockdown policies in several countries or the Large Scale Social Restriction (read: Pembatasan Sosial Skala Besar/PSBB) policy carried out in Indonesia in the context of massive preventing of transmission of the Coronavirus, also has implications for changes in consumer behavior in activities. One of the major changes in daily human behavior become “Go Virtual”.

By utilizing technological developments through various digital platforms, people throughout the world can continue to work, study, pray, shop and socialize by just sitting facing the gadget. “Go Virtual” activity has indeed become difficult to separate from human life in this era, but these activity become greatest role in the pandemi and new normal era. Various activities undertaken virtually also become one of the easiest alternatives to minimize contact between humans (social distancing).

All economic and non-economic sectors are required to following digitalization framework to remain productive in the new normal era, including the palm oil industry. In addition to implementing health protocols, operational in oil palm plantation and palm oil milling which has supported by innovation and technology or smart farming are the choices to minimize contact between workers and solutions to achieve efficient use of labor in the upstream palm oil industry.

The concept of digitizing oil palm plantations (including and palm oil milling) in the new normal era, has been actually introduced for a long time by researchers at the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI) namely the Technology Package of Oil Palm 4.0. Just like the Industry 4.0 concept that utilizes Big Data, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Robotic and Sensory, oil palm 4.0 also utilizes these technology in plantation management (fertilization, pest control, harvesting) to processing to optimalization productivity palm oil in palm oil milling.

palm oil
Source: Agrovaria, 2019

Maybe in the next few years, we will see robots that will harvest FFB or drones that will fly on the palm oil fields to fertilize or control pests on palm oil plants. Even though the technology does not really exist, but at present, the application based digitalization technology has begun to be applied in oil palm plantations.

Astra Agro Lestari, as one of the major companies in the national palm oil industry, has begun to utilize digital technology in its plantation and Palm Oil Factory’s operations. The company is developing a digitalization and real-time-based information application system that has been worked on since 2018. These applications are MELLI (Mill Excellent Indicator), DINDA (Daily Indicator of Astra Agro) and AMANDA (Foreman Application/Aplikasi Mandor).

MELLI (Mill Excellent Indicator) application which is useful for supplying fast and accurate data on indicators in the palm oil milling approaching real time. How to use employees in a palm oil milling will input some data to the application using the gadget. The data is needed to conduct analysis and problems in the milling.

DINDA (Daily Indicator of Astra Agro) is one of the smartphone applications that assistants use to report daily achievements. This application makes it easy for assistants to carry out one of their jobdesk, which is to make daily reports related to their duties and responsibilities. This application is also designed to make it easier for companies to monitor plantation operations from maintenance and harvest so they can find out the level of labor productivity.

AMANDA (Foreman Application or Aplikasi Mandor) is used by the foreman on Astra Agro Lestari’s plantation which makes it easy to do its daily work and tasks. One of the functions of this application is a digital-based are attendance feature, a series of Short Interval Control (SIC) and reports from Krani (checker). Besides AMANDA, there are other applications intended for foreman, namely AMANTA and TIKA. AMANTA is intended to simplify the task of the Crop Foreman (Mandor Tanaman), while TIKA is a FFB digital calculator application used by Krani to calculate and grading FFB each harvest.

In line with Astra Agro, PT. OWL Plantation System also developed the Harvest Digitalisation application, an application with the concept of developing digital technology to increase oil palm productivity through harvest control, which has adjusted to the way HR works, speed and accuracy, and to make it easier to see the condition of the fruit to be harvested.

Although there are inhibiting factors such as needs some comprehensive research and relatively large investment costs that cause not many palm oil industry players, both companies and farmers using Oil Palm 4.0 digitization technology. But it is expected that the technology can be implemented in the next few years. This opportunity can also be used by millennials and Z-genes to become Sawitpreneur (Palm Oil Entrepreneur) by starting to develop digital application start-ups in the palm oil industry.

If linked from the current perspective, the technology of Palm Oil 4.0 is a new solution in the new normal era. But with the other perspective, existence of the Covid-19 pandemic can also be a “blessing” for the national palm oil industry to make a revolutionary leap in technological digitalization. In the new normal, encourage palm oil actors (companies and farmers) to start investing in digital technology so they can continue to operating and implementing health protocols, while also carrying out missions in order to achieve the vision of developing a sustainable national oil industry through increased productivity, efficiency, and competitiveness.

Sejak Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena wabah Covid-19, banyak perubahan yang terjadi dalam kebiasaan sehari-hari. Implementasi kebijakan lockdown di beberapa negara atau kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) yang dilakukan di Indonesia dalam rangka pencegahan penularan virus Corona secara masif, juga berimplikasi pada perubahan consumer behavior dalam beraktivitas. Salah satunya perubahan besar dalam perilaku manusia sehari-hari menjadi “Go Virtual”.

Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui berbagai platform digital, masyarakat di seluruh dunia bisa tetap bekerja, belajar, beribadah, belanja dan bersosialisasi dengan hanya duduk menghadap gadget. Aktivitas “Go Virtual” memang telah menjadi hal yang sulit terpisahkan dari kehidupan manusia di era ini, namun peranan menjadi sangat besar di tengah pandemi dan era New Normal. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara virtual juga menjadi salah satu alternatif termudah untuk meminimalisir kontak antar manusia (social distancing).

Seluruh sektor ekonomi maupun non ekonomi dituntut untuk mengikuti pola kerja berbasis digitalisasi agar tetap produktif di era New Normal, termasuk industri sawit. Selain menerapkan protokoler kesehatan, operasional kebun sawit dan PKS yang didukung dengan inovasi dan teknologi atau smart farming menjadi pilihan untuk meminimalkan kontak antar pekerja dan solusi untuk mencapai efisiensi penggunaan tenaga kerja di sektor hulu industri sawit.

Konsep digitalisisasi perkebunan sawit (termasuk PKS) di era New Normal ini, sebenarnya telah sejak lama diperkenalkan oleh para peneliti di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang dinamai dengan Paket Teknologi Sawit 4.0. Sama seperti konsep Industri 4.0 yang memanfaatkan Big Data, Artificial Intelegence (AI), Internet of Things (IoT), Robotic dan Sensory, Sawit 4.0 juga memanfaatkan teknologi digital tersebut dalam pengelolaan kebun (pemupukkan, pengendalian hama, pemanenan) hingga pemrosesan untuk menghasilkan rendemen minyak yang tinggi pada PKS.

palm oil
Source: Agrovaria, 2019

Mungkin beberapa tahun ke depan, kita akan melihat robot yang akan memanen TBS dari perkebunan sawit atau drone yang akan terbang di hamparan kebun sawit untuk melakukan pemupukkan atau pengendalian hama pada tanaman sawit. Meskipun teknologi tersebut belum benar-benar ada di industri sawit, namun saat ini teknologi digitalisasi berbasis aplikasi tersebut sudah mulai diterapkan di perkebunan sawit.

Astra Agro Lestari sebagai salah satu perusahaan besar di bidang industri sawit nasional, sudah mulai memanfaatkan teknologi digital dalam operasional kebun dan PKS-nya. Perusahaan ini mengembangkan sistem aplikasi informasi berbasis digital dan real time yang sudah digarap sejak tahun 2018. Aplikasi tersebut adalah MELLI (Mill Excellent Indicator), DINDA (Daily Indicator of Astra Agro) dsn AMANDA (Aplikasi Mandor).

Aplikasi MELLI (Mill Excellent Indicator) yang berguna untuk memasok data yang cepat dan akurat mengenai indikator-indikator yang ada di pabrik kelapa sawit (PKS) mendekati real time. Cara penggunaannya karyawan di PKS akan menginput sejumlah data pada aplikasi dengan menggunakan gadget. Data tersebut sangat diperlukan untuk melakukan analisa dan permasalahan yang ada di pabrik.

DINDA (Daily Indicator of Astra Agro) adalah salah satu aplikasi smartphone yang digunakan asisten untuk melaporkan capaian harian. Aplikasi ini memudahkan para asisten untuk melaksanakan salah satu jobdesk-nya yaitu membuat laporan harian terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya. Aplikasi ini juga didesign untuk memudahkan perusahaan untuk memantau operasional kebun mulai dari perawatan dan panen sehingga dapat mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja.

Sesuai dengan kepanjanggannya, AMANDA (Aplikasi Mandor) digunakan oleh mandor pada perkebunan milik Astra Agro Lestari yang memudahkan dalam mengerjakan tugas dan pekerjaan hariannya. Salah satu fungsi dari aplikasi ini adalah fitur absensi berbasis digital, rangkaian Short Interval Control (SIC) dan laporan dari krani. Selain AMANDA, terdapat aplikasi lainnya yang diperuntukkan untuk mandor yaitu AMANTA dan TIKA. AMANTA diperuntukkan untuk mempermudah tugas dari Mandor Tanaman, sedangkan TIKA adalah aplikasi kalkultator digital TBS yang digunakan oleh Krani (Checker) untuk melakukan perhitungan dan grading TBS setiap panen.

Sejalan dengan Astra Agro, PT. OWL Plantation System juga mengembangkan aplikasi Digitalisasi Panen yaitu aplikasi dengan konsep pengembangan teknologi digital untuk peningkatan produktivitas sawit melalui pengendalian panen, disesuaikan dengan cara kerja SDM, kecepatan dan akurasi, serta untuk memudahkan melihat kondisi buah yang akan dipanen.

Meskipun terdapat faktor penghambat seperti kebutuhan riset yang komprehensif dan biaya investasi yang relatif besar, sehingga menyebabkan belum banyak kalangan pelaku industri sawit baik perusahaan maupun petani yang menggunakan teknologi digitalisasi Sawit 4.0 tersebut. Namun diharapkan teknologi tersebut dapat segera diimplementasikan beberapa tahun ke depan. Peluang ini juga dapat dimanfaatkan oleh para generasi milineal dan gen-Z menjadi Sawitpreneur dengan mulai mengembangkan start-up aplikasi digital di bidang industri sawit.

Jika dikaitkan dari perspektif saat ini, penggunaan teknologi Sawit 4.0 menjadi solusi di era New Normal. Dilihat dari perspektif yang berbeda, adanya pandemi Covid-19 dan memasuki era baru ini juga menjadi “berkah” bagi industri sawit nasional melakukan loncatan yang revelusioner dalam aplikasi teknologi. Era baru ini mendorong para pelaku sawit untuk mulai berinvestasi dalam teknologi digital sehingga dapat tetap terus beroperasi dan menerapkan protokoler kesehatan, sekaligus juga menjalankan misi dalam rangka mencapai visi pengembangan industri sawit nasional yang berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *