Will Palm Oil’s Prices Sparks Lasts on 2021?

  • English
  • Bahasa Indonesia

In the 2nd semester of 2020, palm oil producers received tremendous blessings during this pandemic, which was shown by the increase in palm oil prices. The MPOB’s data shows the monthly average of CPO CIFF Rotterdam price has increased, from USD 592 per ton in June to USD 954 per ton in December. Even it’s price was the highest since 2015.

palm oil

Similar blessings were also enjoyed by smallholders who received a fairly high FFB price. For example, the average monthly FFB price in Riau, which ranges from IDR 1,500-2,000 per kilogram, even the monthly average price for FFB in that region has reached over IDR 2,000 per kilogram in September 2020. This condition is create more benefits for oil palm farmers, especially when there is an economic downturn due to the pandemic.

The positive trend in palm oil prices in 2020 is beneficial for FFB and palm oil producers, also raises the question are palm oil prices will remain “sparkling” in 2021?

 

Global vegetable oils market analysts in the Virtual Indonesia Palm Oil Conferences 2020 webinar, initiated by GAPKI, said that this high trend of palm oil prices will continue until the second quarter of 2021. Even the prediction of the President Director of ISTA Mielke GmbH, Thomas Mielke, estimates the price of CPO CIFF Rotterdam could reach USD 1,000 per ton by 2021. This is due to the low global palm oil stock which still continues until this year.

The depletion of palm oil stocks as an implication of not optimalized the growth of production as a result of the drought (El Nino) that occurred in 2019 and the lack of fertilizer use due to low palm oil. On the other hand, the implementation of the mandatory biodiesel (B30) in Indonesia and the demand for palm oil which has gradually recovered post-Covid has also causing palm oil stocks more depleted.

Palm oil price trends are expected to remain high in 2021, also influenced by the production of these three other vegetable oils such as soybean oil, rapeseed oil, and sunflower oil which is expected to decline. This was confirmed by James Fry, an analyst from LMC International Ltd UK, who revealed that the declining in production of these other vegetable oils due to low productivity because of bad weather and pests

The CPOPC report also shows that the La Nina climate anomaly in the Pacific Ocean will have an impact on decreasing the production of other vegetable oils. Disruption occurs in the main soybean producer countries in Brazil and Argentina, so that will cause reduce soybean production. Meanwhile, drought has also hit the Black Sea which will result in limited production of sunflowers and rapeseed.

Chairperson of Socio-Techno Economic Research Group in Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI/PPKS), Ratnawati Nurkhoiry M.Sc, in the Webinar Bincang Pakar with the topic about “Assessing the Prospects for the Palm Oil Industry in 2021”, explained that palm oil prices will remain high, especially in the first quarter of 2021. This condition is due to the low supply of palm oil, which is constrained by year-end holidays and high rainfall due to La Nina which hinders the process of harvesting and transporting FFB to the mill.

However, the trend of palm oil prices is expected to decline in the second half of 2021, along with the recovery of it’s production because the climate is already conducive. In her presentation, she also estimates that the range of palm oil prices in 2021 is around USD 750-900 per ton, and transmitted to the FFB price at the farmers level in the range of Rp. 1,600-2,100 per kilogram.

The same thing was also expressed in the Fitch Report which stated that palm oil prices that were already too high would experience a correction in 2021. The price correction was due to the prospect of palm oil output in Indonesia which is expected to improve in 2021. However, Fitch also sees a risk it’s price, because the stock is getting lower due to climate anomalies.

Although palm oil prices that are too high are indeed beneficial for producers, especially smallholder farmers, on the other hand, they have the potential to reduce competitiveness in the global market and the further implications are decreasing demand, especially importing countries that are very price-sensitive such as India and China. The reduced competitiveness of palm oil could also lead to a switch to competitor vegetable oils. That condition will be very detrimental for Indonesia as a producer and exporter of palm oil in the world.

Therefore, palm oil stakeholders in Indonesia need a strategy to regulate palm oil supply so that it can maintain the stability of global palm oil stocks at a certain price level that is still profitable for producers and remains an incentive for consumers to buy. This can be done by optimizing the absorption of palm oil by the domestic processing industry, one of which is by continuing the mandatory B30 policy. Besides, the realization of the replanting programme on smallhodler farmer’s plantation (PSR) is also one of the solutions in order to maintain the balance of supply and demand.

Pada semester 2 tahun 2020, produsen minyak sawit mendapatkan berkah yang luar biasa di masa pandemi ini yang ditunjukkan dengan meningkatnya harga minyak sawit. Data MPOB yang menunjukkan rata-rata bulanan harga CPO CIFF Rotterdam mengalami peningkatan yakni dari USD 592 per ton pada Juni menjadi USD 954 per ton pada Desember. Bahkan harga minyak sawit (CPO CIFF Rotterdam) periode ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015.

palm oil

Berkah serupa juga dirasakan oleh petani sawit yang menerima harga TBS yang cukup tinggi. Misalnya harga rata-rata bulan TBS Riau yang berkisar Rp 1,500-2,000 per kilogram, bahkan harga rata-rata bulanan TBS di wilayah tersebut pernah menyentuh harga lebih dari Rp 2,000 per kilogram pada bulan September 2020. Kondisi ini tentu saja menguntungkan bagi petani sawit, terlebih saat ini sedang terjadi kelesuan ekonomi akibat pandemi.

Tren positif harga minyak sawit di tahun 2020 yang menguntungkan bagi produsen TBS dan minyak sawit, juga memunculkan pertanyaan apakah harga minyak sawit tetap “berkilau” di tahun 2021?

Para analisis minyak nabati global dalam kesempatan webinar Virtual Indonesia Palm Oil Conferences 2020 yang dinisiasi oleh GAPKI, menyampaikan bahwa tren harga minyak sawit yang tinggi ini akan terus berlanjut hingga kuartal kedua tahun 2021. Bahkan prediksi Presiden Direktur ISTA Mielke GmbH, Thomas Mielke, memperkirakan harga CPO CIFF Rotterdam bisa mencapai USD 1000 per ton pada tahun 2021.

Hal ini dikarenakan rendahnya stok minyak sawit global masih terus berlanjut pada tahun ini.  Stok minyak sawit yang menipis sebagai implikasi dari pertumbuhan produksi minyak sawit yang tidak optimal sebagai dampak dari kekeringan (El Nino) yang terjadi tahun 2019 dan kurangnya penggunaan pupuk akibat harga minyak sawit yang rendah. Di sisi lain, implementasi mandatori biodiesel (B30) di Indonesia dan permintaan minyak sawit yang berangsur pulih pasca-Covid juga membuat stok minyak sawit global menipis.

Tren harga minyak sawit yang diperkirakan tetap tinggi di tahun 2021, juga dipengaruhi oleh produksi ketiga minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari yang diperkirakan mengalami penurunan. Hal tersebut terkonfirmasi pada paparan James Fry analis dari LMC International Ltd Inggris yang mengungkapkan bahwa penurunan produksi ketiga minyak nabati lainnya disebabkan karena rendahnya produktivitas akibat cuaca buruk dan hama penyakit.

Laporan CPOPC juga menunjukkan bahwa anomali iklim La Nina di Samudra Pasifik akan berdampak pada penurunan produksi minyak nabati lainnya yang menjadi kompetitor minyak sawit. Disrupsi terjadi pada pusat produksi kedelai sehingga akan menurunkan produksi kedelai di Brazil dan Argentina. Sementara itu, kekeringan juga melanda Laut Hitam yang akan berdampak pada terbatasnya produksi bunga matahari dan rapa (rapeseed).

Ketua Kelompok Peneliti Sosio Tekno Ekonomi PPKS, Ratnawati Nurkhoiry M.Sc dalam Webinar Bincang Pakar yang bertajuk “Menakar Prospek Industri Sawit 2021”, memaparkan bahwa harga minyak sawit akan tetap tinggi khususnya pada kuartal pertama tahun 2021. Kondisi ini disebabkan karena rendahnya pasokan minyak sawit yang terkendala libur akhir tahun serta curah hujan yang tinggi akibat La Nina yang menghambat proses pemanenan dan pengangkutan TBS ke PKS.

Namun tren harga minyak sawit diperkirakan akan mengalami penurunan pada semester kedua tahun 2021, seiring dengan pemulihan produksi minyak sawit karena iklim sudah mulai kondusif. Dalam paparannya tersebut juga memperkirakan kisaran harga minyak sawit yang akan terbentuk pada tahun 2021 sekitar USD 750-900 per ton, dan ditranmisikan kepada harga TBS di tingkat petani berada pada kisaran Rp 1600-2100 per kilogram.

Hal serupa juga diungkapkan dalam Laporan Fitch yang menyebutkan harga minyak sawit yang sudah terlalu tinggi akan mengalami koreksi di tahun 2021. Koreksi harga tersebut disebabkan karena prospek output minyak sawit di Indonesia yang diperkirakan akan membaik di tahun 2021. Namun, Fitch juga melihat adanya resiko harga minyak sawit akan tetap meningkat, dikarenakan stok yang semakin rendah akibat terjadinya anomali iklim.

Meskipun harga minyak sawit yang terlalu tinggi memang menguntungkan bagi produsen khususnya petani sawit rakyat, namun di sisi lain juga berpotensi menurunkan daya saing di pasar global dan implikasi lebih lanjutnya penurunan permintaan khususnya negara importir yang sangat price-sensitive seperti India dan China. Berkurangnya daya saing minyak sawit juga dapat menyebabkan peralihan dari minyak sawit ke minyak nabati kompetitor. Kondisi tersebut tentu saja akan sangat merugikan bagi Indonesia sebagai negara produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia.

Oleh karena itu, stakeholder sawit di Indonesia memerlukan strategi dalam mengatur pasokan minyak sawit sehingga dapat menjaga stabilitas stok minyak sawit global pada tingkat harga tertentu yang masih menguntungkan bagi produsen dan tetap menjadi insentif bagi konsumen untuk membeli. Hal tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi penyerapan minyak sawit oleh industri pengolahan di dalam negeri, salah satunya dengan melanjutkan kebijakan mandatori B30. Selain itu, realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) juga menjadi salah satu solusi dalam rangka menjaga keseimbangan suppply dan demand.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *