Development of Palm Oil Derivative Products for MSMEs

  • English
  • Bahasa Indonesia

The trend of becoming an entrepreneur is currently something that attracts attention, especially for the millennial generation. There are so many reasons that support becoming an entrepreneur, with technological advances that are currently completely digital-based, many people dive into the scope of Micro, Small and Medium Enterprises or more familiarly known as MSMEs.

In Indonesia, MSMEs continue to grow rapidly and the number of MSMEs continues growth each year. Based on data from the Ministry of Cooperatives and MSMEs, in 2010, it was noted that there were 52.7 million MSME business units and continued to grow until 2018, it is estimated that there were 62.9 million MSMEs in Indonesia.

The existence of this very large number of MSMEs spread throughout the country, which has a major contribution. The MSMEs sector also contributes to building the Indonesian economy with a contribution of 60.34 percent to Indonesia’s GDP. Not only that, MSMEs also contribute to the expansion and absorption of the workforce, which up to now has recorded around 116.4 million people or 89.2 percent of the total workforce and this number is greater than the absorption of labor for large businesses.

In line with this, the MSMEs sector needs to be encouraged to continue to grow. Especially during a pandemic like this, contribution and innovation is needed from MSME actors as one of the sectors that are expected to be the spearhead of the Indonesian economy so that it can continue to growth.

Palm oil is a commodity with a million benefits, can also be used to produce derivative products and of course can continue to be developed for the MSME sector. In this case, as said by Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali, M.Si, who is a Professor of IPB in the TIN Online Seminar Series 2020, stated that all parts of palm oil have value and can be used to increase their added value. MSMEs players can use palm oil to create or develop products becomes downstream product, where the product is always needed for daily needs at the global level.

According to Prof. Erliza, SMEM’s product development can use methyl esters from palm oil to synthesize various types of surfactants. As we know that surfactants have an important role in various industries and in our daily basic needs. From waking up in the morning, washing your face, brushing your teeth, to other industries using products made from surfactants. This potential creates opportunities for MSMEs to be able to develop downstream palm oil products.

Methyl esters include basic oleo-chemicals, derivatives of triglycerides that can be produced through esterification and trans-esterification processes. Methyl ester can be converted into methyl ester sulfonate which can be widely applied in the detergent and cleaning industry, cosmetics and skincare, pharmaceuticals, food, mining (oil), paints and coatings, paper and textiles. Methyl Ester Sulfonate (MES) has good disperse characteristics, good lathering properties, especially in water with high hardness, and is easily degraded. In addition, methyl ester has the advantage of being environmentally friendly, gentle and doesn’t irritate the skin.

In addition, MSMEs player can develop oil palm liquid smoke. Solid waste namely oil palm empty bunches, can be used as raw material for making liquid smoke. Liquid smoke contains components such as phenols, organic acids and carbonyls which function as antibacterial and antifungal. One of the uses of liquid smoke is that it can be used as a raw material for making disinfectants. In a pandemic like now, disinfectants are a necessity in the new normal era, so the opportunities for MSMEs are very large.

Palm oil MSMEs
Liquid Smoke of Palm Oil (Source: babel.litbang.pertanian.go.id)

The development of Vape (cigarettes electric) can also be maximized, in the liquid ape about 80 percent is glycerol which comes from plants, one of which is from oil palm. The market potential for this product is very large considering trend that a lot of millennial uses vape as a substitute for conventional cigarettes. This can also be a business opportunity for MSMEs who want to develop palm oil-based derivative products.

It turns out that there are so many downstream products that can be developed by utilizing palm oil both as a raw material and as a mixture, this also has an impact on increasing domestic absorption so that it will strengthen the national palm oil industry. Another implication of the development of product innovations that can be produced by MSMEs is expected to advance this sector so that it can continue to provide greater contributions to the Indonesian economy.

Tren menjadi entrepreneur saat ini menjadi hal yang menarik perhatian khususnya bagi generasi millenial. Banyak sekali alasan yang mendukung untuk menjadi entrepreneur, ditambah dengan kemajuan teknologi yang saat ini serba berbasis digital pun menjadikan banyak orang terjun ke dalam lingkup Usaha Mikro Kecil Menengah atau yang lebih familiar dikenal sebagai UMKM.

Di indonesia sendiri, pelaku UMKM terus berkembang pesat dan jumlah UMKM terus mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, tahun 2010 tercatat bahwa unit usaha UMKM sebanyak 52.7 juta unit usaha dan terus berkembang hingga 2018 diperkirakan UMKM di Indonesia sebanyak 62.9 juta unit usaha.

Keberadaan UMKM dengan jumlah yang sangat besar tersebut dan tersebar di seluruh penjuru negeri, juga memiliki kontribusi yang besar. Sektor UMKM turut ikut membangun perekonomian Indonesia dengan kontribusi yakni 60.34 persen terhadap PDB Indonesia. Tidak hanya itu, UMKM juga turut berkontribusi dalam perluasan dan penyerapan tenaga kerja yang sampai saat ini tercatat ada sekitar 116.4 juta orang atau 89.2 persen dari total tenaga kerja dan jumlah tersebut lebih besar dibanding penyerapan tenaga kerja usaha besar.

Sejalan dengan hal tersebut, maka sektor UMKM perlu didorong untuk terus tumbuh. Apalagi di masa pandemi seperti ini, kontribusi dan inovasi sangat diperlukan dari para pelaku UMKM sebagai salah satu sektor yang diharapkan menjadi ujung tombak perekonomian Indonesia agar bisa terus bertumbuh.

Kelapa sawit yang merupakan komoditas dengan sejuta manfaat juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk turunan dari sawit yang tentunya dapat terus dikembangkan untuk sektor UMKM. Dalam hal ini, seperti yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali, M.Si yang merupakan Guru Besar IPB dalam TIN Seminar Online Series 2020 menyatakan bahwa semua bagian dari sawit mempunyai nilai dan dapat dimanfaatkan sehingga meningkatkan nilai tambahnya. Para pelaku UMKM dapat memanfaatkan kelapa sawit untuk menciptakan atau mengembangkan produk sehingga menjadi produk hilir primadonia dunia, dimana produk tersebut selalu dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari di tingkat global.

Menurut Prof. Erliza pengembangan produk UKM berbahan sawit bisa dengan memanfaatkan metil ester dari minyak sawit untuk mensintesis berbagai jenis surfaktan. Seperti yang kita ketahui bahwa surfaktan memiliki peranan penting pada berbagai industri dan di dalam kehidupan kita sehari-hari juga tidak jauh dari surfaktan. Dari mulai bangun pagi, cuci muka, sikat gigi, hingga industri lainnya menggunakan produk yang dibuat dari surfaktan. Potensi tersebut menjadikan peluang bagi UMKM untuk dapat mengembangkan produk hilir sawit.

Metil ester termasuk bahan oleokimia dasar, turunan dari trigliserida yang dapat dihasilkan melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi. Metil ester dapat dikonversi menjadi metil ester sulfonate yang dapat diaplikasikan secara luas pada industi deterjen dan pembersih, kosmetik dan skincare, farmasi, pangan, pertambangan (minyak), cat dan coating, kertas dan tekstil. Metil Ester Sulfonate (MES) memiliki karakteristik disperse yang baik, sifat penyabunan yang baik terutama pada air dengan tingkat kesadahan yang tinggi, serta bersifat mudah didegradasi. Selain itu metil ester memiliki keunggulan yakni ramah lingkungan, lembut dan tidak membuat kulit iritasi.

Selain itu, pelaku UMKM dapat mengembangkan asap cair (liquid smoke) kelapa sawit. Limbah padat yakni tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan asap cair. Asap cair  mengandung komponen-komponen seperti fenol, asam organik dan karbonil yang berfungsi sebagai antibakterial dan antijamur. Salah satu pemanfaatan asap cair yaitu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan disinfektan. Di masa pandemi seperti sekarang disinfektan menjadi kebutuhan di era new normal sehingga peluang bagi pelaku UMKM pun sangat besar.

Palm Oil
Asap Cair Kelapa Sawit (Source: babel.litbang.pertanian.go.id)

Pengembangan Vape (rokok elektrik) juga dapat dimaksimalkan, dalam cairan vape tersebut sekitar 80 persen adalah gliserol yang berasal dari tanaman yang salah satunya dari sawit. Potensi pasar untuk produk ini sangat besar mengingat trend millenial yang banyak menggunakan Vape sebagai pengganti rokok konvensional. Hal ini juga dapat menjadi peluang bisnis bagi UMKM yang mau mengembangkan produk turunan berbasis minyak sawit.

Ternyata begitu banyak produk hilir yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kelapa sawit baik sebagai bahan baku maupun sebagai campuran, hal tersebut juga berdampak pada peningkatan penyerapan domestik sehingga akan menguatkan industri sawit nasional. Implikasi lainnya dari berkembangnya inovasi produk yang dapat dihasilkan oleh pelaku UMKM diharapkan dapat memajukan sektor UMKM sehingga dapat terus memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian Indonesia.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *