Indonesian Palm Oil Production Predicted to Rise in 2021

  • English
  • Bahasa Indonesia

In 2020, Indonesia’s palm oil production has an increase even though the growth is relatively small. In Togar Sitanggang‘s presentation at Virtual IPOC 2020, it shows that Indonesia’s CPO production in 2020 reached 47.4 million tonnes, or has only increase around 0.47 percent of the production in 2019.

Apart from drought caused by the El Nino, the decline in oil palm productivity is also due to the lack of fertilizer use. The low use of fertilizers on corporate or smallholder plantations is a form of disincentive due to lower palm oil prices was occurred in 2018-2019. The pandemic and region restriction policies have also resulted in limited mobility of the FFB harvesting worker, thus also affecting palm oil production.

Entering this Metal Ox year in Chinese astrology calender, the prediction of Indonesian palm oil production has become a hot topic of discussion. Considering that Indonesia is the largest palm oil producer in the world, thus making it as the biggest supplier to palm oil consumer countries. In addition, the palm oil industry has been recognized as a major contributor to export foreign exchange and the support of the national economy in the midst of the Covid-19 pandemic, so the development of the palm oil industry especially production in 2021 very concerned.

palm oil
Source: infopublik.id
Palm oil production is the result of a combination of complexity factors/variables such as the variety of plant material, technical culture, climate, harvest management, to socio-economic aspects.

 

Climate is given production factor, but become one of the main factors that most influencing palm oil crops and production. One of the climate anomalies, namely La Nina was occurred from September-October 2020 in Indonesia and its predicted peak in the January-March period until ended in May 2021. Then after a wetter rainy season in the first semester of 2021, Indonesia will also is expected will experience a wet-dry period in the second half of this year.

The implication of increased rainfall due to La Nina actually has an impact on increasing palm oil productivity by up to 15 percent. Like other crops, oil palm is a plant that requires a lot of water, especially at certain phases. Rainfall of 490 mm/month with rainy days of 20 days/month until 25 days/month will produce optimal productivity, but it still tolerates minimum rainfall of 40 mm/month with rainy days of at least 3 days/month, which able to generates with normal productivity. Oil palm plants also need sufficient solar radiation to help their photosynthesis process.

The combination of climate with moderate rainfall and still getting solar radiation are are favorable climate for oil palm crops. This will have an impact on the high productivity and production of palm oil. This climate will predicted occur in wet dry season in the second half of 2021. It’s means the higher productivity of plantation and palm oil production will occur in this year or next year.

In the Webinar Bincang Pakar entitled “Projection of Palm Oil Production in 2021 from the Agro-climatological Aspect”, IOPRI using the assumptions of plant composition, Land Suitability Class, climatic conditions, fertilization, and other assumptions (oil extract rate), projection of palm oil production in 2021 will increase to reach 55.69 million tons consisting of 48.40 million tons of CPO and 7.29 million tons of CPKO. The increase in palm oil production in semester II-2021during wet dry season is estimated will be higher by a proportion of 53%, compared than production in semester I-2021.

The increase in palm oil production in 2021 is also predicted by GAPKI. Deputy Chairman III of the Indonesian Palm Oil Association (GAPKI), Togar Sitanggang, predicts that palm oil production will increase by 3.5 percent of  production in 2020. Projection of CPO production in 2021 to reach 49 million, while CPKO production is 4.9 million tons.

However, in the midst of the predicted increase in Indonesia’s palm oil production in 2021, oil palm plantation actors, both companies and farmers, must also face various challenges. Apart from being a favorable climate for oil palm plants, the high rainfall in this year,also has also become risk to able reduce palm oil production. A damaged road infrastructure to connects plantation and palm oil mill, an obstacle on fruit harvesting activities, and floods that occur in plantation are challenges that plantation business actors must face during periods of high rainfall. In addition, it  also takes an appropriate fertilizer application method so that it can mitigate the loss of fertilizer nutrients caused by high rainwater flows.

Higher price of palm oil has been enjoyed by palm oil producers, must also be used to mitigate challenges in production palm oil this year. Mitigate can be done by improving plantation’s infrastructure (roads) that can facilitate the evacuation of FFB to the palm oil mill, and also in the application of technical culture practices such as methods and technology for fertilizing oil palm plants that are appropriate during rainfall high. So that, the projection of higher palm oil production in this year  can be achieved.

Pada tahun 2020, produksi minyak sawit Indonesia mengalami peningkatan meskipun growth-nya relatif kecil. Dalam paparan Togar Sitanggang pada Virtual IPOC 2020 menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia tahun 2020 sebesar 47.4 juta ton, atau meningkat hanya sekitar 0.47 persen dari produksi tahun 2019.

Selain akibat kekeringan yang disebabkan karena anomali iklim El Nino, penurunan produktivitas kebun sawit juga disebabkan karena kurangnya penggunaan pupuk. Rendahnya penggunaan pupuk pada perkebunan milik korporasi atau petani merupakan bentuk disinsentif akibat rendahnya harga minyak sawit yang terjadi tahun 2018-2019. Pandemi dan kebijakan pembatasan wilayah juga berdampak pada terbatasnya mobilitas tenaga kerja pemanenan TBS, sehingga turut mempengaruhi produksi minyak sawit.

Memasuki tahun Kerbau Logam dalam kalender China, prediksi produksi minyak sawit Indonesia menjadi topik yang marak diperbincangkan. Mengingat Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, sehingga menjadikan posisinya sebagai supplier terbesar bagi negara-negara konsumen minyak sawit. Selain itu juga, industri sawit juga telah diakui sebagai kontributor utama devisa ekspor dan penopang ekonomi nasional di tengah masa pandemi Covid-19, sehingga perkembangan industri sawit khususnya produksi di tahun 2021 sangat diperhatikan.

palm oil
Source: infopublik.id

Produksi minyak sawit merupakan hasil kombinasi dari berbagai faktor/variabel yang kompleks menyangkut varietas bahan tanaman, kultur teknis, iklim, manajemen pemanenan hingga aspek sosial ekonomis.

Iklim adalah faktor produksi yang given, namun menjadi salah satu faktor utama yang paling berpengaruh terhadap tanaman dan produksi minyak sawit. Salah satu anomali iklim yaitu La Nina terjadi sejak September-Oktober 2020 di Indonesia dan diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Januari-Maret hingga berakhir pada Mei 2021. Kemudian setelah musim hujan yang lebih basah pada semester awal tahun 2021, selanjutnya Indonesia juga diperkirakan akan memasuki periode kemarau basah pada semester kedua tahun ini.

Implikasi dari peningkatan curah hujan akibat La Nina justru berdampak pada peningkatan produktivitas minyak sawit hingga mencapai 15 persen. Seperti tanaman lain, tanaman kelapa sawit adalah tanaman yang membutuhkan banyak air khususnya pada fase tertentu. Curah hujan sebanyak 490 mm/bulan dengan hari hujan sebanyak 20 hari/bulan hingga 25 hari/bulan akan menghasilkan produktivitas tanaman yang optimal, namun masih mentolerir curah hujan minimal 40 mm/bulan dengan hari hujan minimal 3 hari/bulan untuk masih dapat menghasilkan produktivitas tanaman yang normal. Tanaman kelapa sawit juga membutuhkan radiasi matahari yang cukup untuk membantu proses fotosintesisnya.

Kombinasi iklim dengan curah hujan yang moderate dan masih mendapatkan radiasi matahari merupakan iklim yang favorable bagi tanaman kelapa sawit. Hal ini akan berdampak pada produktivitas tanaman dan produksi minyak sawit yang tinggi. Favourable climate bagi tanaman kelapa sawit berpeluang dapat terjadi pada kemarau basah di semester kedua tahun 2021. Artinya peningkatan produktivitas kebun dan produksi minyak sawit akan terjadi pada tahun ini atau tahun berikutnya.

Dalam Webinar Bincang Pakar yang bertajuk “Proyeksi Produksi Sawit 2021 dari Aspek Agroklimatologi”, PPKS dengan menggunakan asumsi komposisi tanaman, Kelas Kesesuaian Lahan (KKL), kondisi iklim, pemupukan, dan asumsi lainnya (rendemen minyak), memproyeksikan produksi kelapa sawit di tahun 2021 diperkirakan akan meningkat mencapai 55.69 juta ton yang terdiri dari 48.40 juta ton CPO dan 7.29 juta ton CPKO. Peningkatan produksi minyak sawit pada semester II-2021 saat musim kemarau basah diperkirakan lebih tinggi dengan proporsi sebesar 53%, dibandingkan dengan peningkatan produksi pada semester I-2021.

Peningkatan produksi minyak sawit tahun 2021 juga diramalkan oleh GAPKI.  Wakil Ketua Umum III Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang memperkirakan produksi minyak sawit meningkat sebesar 3.5 persen dari produksi tahun 2020. Produksi CPO tahun 2021 diproyeksikan mencapai 49 juta, sedangkan produksi CPKO sebesar 4.9 juta ton.

Namun ditengah ramalan produksi minyak sawit Indonesia yang meningkat tahun 2021, para pelaku perkebunan kelapa sawit baik perusahaan maupun petani juga harus menghadapi berbagai tantangan. Selain menjadi favourable bagi tanaman kelapa sawit, curah hujan yang relatif tinggi pada tahun ini tetapi juga berpotensi menurunkan produksi minyak sawit. Rusaknya infrastruktur jalan yang menghubungkan kebun dan PKS, terhambatnya aktivitas pemanenan buah hingga bencana banjir yang terjadi di kebun menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha perkebunan pada periode waktu curah hujan tinggi. Selain itu, dibutuhkan metode aplikasi pemupukkan yang tepat sehingga mampu memitigasi hilangnya nutrisi pupuk akibat terbawa oleh aliran air hujan yang tinggi.

Tren harga minyak sawit yang berada pada level tertinggi yang telah dinikmati oleh produsen minyak sawit, juga harus digunakan untuk mitigasi tantangan dalam produksi minyak sawit tahun ini. Bentuk mitigasi yang dapat dilakukan dengan cara memperbaiki infrastruktur jalan kebun yang dapat memperlancar aktivitas evakuasi TBS ke PKS, dan juga pada pengaplikasian praktik kultur teknis yang seperti metode dan teknologi pemupukkan tanaman kelapa sawit yang tepat saat curah hujan tinggi. Sehingga perkiraan produksi minyak sawit yang lebih tinggi pada tahun ini dapat tercapai.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *